
“Gimana…?” Tanya Elio penasaran. Elio yang menunggu Luna di depan pintu kamar mandi terlihat tidak sabar dengan hasil tes kehamilan Luna.
Luna menggeleng. “Aku nggak tau ini benar apa nggak, tapi garisnya satu. Tandanya aku memang nggak hamil.” Jawab Luna.
“Tes lagi ya. Aku tadi beli sepuluh tespeck berbeda merek.” Dari sikap Elio, jelas pria itu sangat mengharapkan kehadiran bayi di tengah keluarga kecilnya.
“Ha…?” Luna terbelalak.
Sebagai mantan siswi jurusan IPA saat SMA, sebenarnya Luna sudah menduga probability kehamilannya sangat rendah. Jika menurut siklus menstruasi dan ovulasi, harusnya saat ini Luna dalam periode subur atau ovulation phase. Sangat kecil kemungkinan terjadi kehamilan. Apalagi selama ini siklus mestruasi Luna cukup teratur dengan periode siklus 28 hari. Tapi demi meyakinkan Elio, Luna pasrah mencoba menggunakan semua alat itu.
“Kakak kecewa ya?” Tanya Luna saat alat ke sepuluh tetap memperlihatkan tanda negatif.
“Nggak. Aku orang yang percaya dengan intervensi Allah. Jadi kalau belum, tandanya memang kita harus mempersiapkan diri dulu dengan matang.” Jawab Elio mengusap lembut rambut sang istri.
Luna mengangguk tapi raut wajahnya nampak masih belum berubah. Meskipun sempat tidak menginginkan kehamilan di usia sekarang, tapi terbesit kecewa dengan hasil yang ia dapat pagi ini. Luna merasa sudah berharap karena sepanjang malam dia dan Elio sampai membicarakan banyak hal tentang anak mereka kelak.
“Kenapa lagi sih istri aku?” Elio memeluk Luna lalu membawanya menuju kasur dan membaringkan Luna di lengannya.
“Aku ngeflek, Kak. Lumayan banyak. Udah dua kali seperti ini. Aku jadi takut sistem reproduksiku bermasalah. Aku belum pernah seperti ini sebelumnya.” Lirih Luna.
“Coba tanya Mama ya. Takutnya memang normal untuk orang yang sudah menikah.” Saran Elio.
Akhirnya siang itu pasangan pengantin baru ini menelfon sang Mama. Meskipun Luna yakin Renata bukan dokter yang tepat menangani permasalahannya, setidaknya Sang Mama mungkin bisa melakukan diagnosa awal.
“Sejak kapan?” Raut wajah Renata tampak khawatir.
“Mual muntahnya sih sebenarnya tiga hari ini. Tapi fleknya baru dua hari.” Jawab Luna.
“Yakin kamu tanggal hari pertama menstruasi terakhir kamu tanggal 10…?” Tanya Renata agar Luna memastikan kembali.
“Yakin Mama. Aku udah tulis di aplikasi nih.”
“Harusnya sih memang bukan kehamilan. Hormon LH kamu justru sedang tinggi tiga hari ini. Diagnosa Mama sih kamu kurang cocok sama pil penunda kehamilannya. Tapi dipastikan ke Tante Nita ya.”
“Yaaah Mam… Aku malu banget ke dokter obgyn. Nanti disangka hamil.” Luna merajuk mendapatkan saran itu dari Renata. Sikap manjanya memang selalu saja keluar jika sudah bersama orang tua.
“Nggak semua orang yang ke dokter kandungan itu sedang hamil, Luna. Banyak kok remaja yang datang. Kesehatan reproduksi bukan cuma untuk orang yang berumah tangga tapi untuk semua perempuan.” Jelas Renata.
“Lagi pula, udah berani enak-enak masa nggak berani hamil.” Renata sudah kembali pada mode isengnya.
“Mamaaaaa… Kakak tuh yang maksa terus.” Pekik Luna melirik tajam pada Elio.
“Kok akuuuu? Kamu juga kalau udah dikasih bilang ‘Terusin Kak’, ya kan?” Jawab Elio tanpa rasa malu pada Renata. Semakin malu saja Luna dibully dua orang yang menyebalkan sekaligus ia sayang dalam hidupnya.
“Haha… Ya udah. Mumpung wiken, kalian ke Abrar Hospital gih…! Biar jelas kamu itu kenapa, dan kalau ada sesuatu bisa ditangani dengan cepat.”
Akhirnya hari itu Luna dan Elio berkunjung ke Abrar Hospital. Rumah sakit ini adalah rumah sakit tempat Renata bekerja dulu. Luna dan Elio sudah biasa ke sana.
“Lunaaa…” Seorang dokter yang tengah menyampirkan snelli dokternya di lengan kiri berjalan mendekati Luna.
“Ya ampun… Tante Ayrin. Apa kabar..?”
Dokter perempuan bernama Ayrin itu adalah rekan kerja Renata. Mereka berdua sama-sama psikiater di Abrar Hospotal. Namun Ayrin berusia jauh lebih muda dari Renata. Dulu saat pulang sekolah Luna sering di ajak ke rumah sakit untuk menunggu sampai Renata selesai praktik, sehingga hampir semua dokter yang praktik disini tahu siapa Luna. Luna pun memanggil mereka dengan panggilan akrab Om dan Tante.
“Aku baik. Duh pengantin cilik nih udah ke obgyn aja.” Seloroh Ayrin.
“Kamu sama siapa ke sini, Sayang…?” Tanya Ayrin ramah.
“Sama Kakak, Tan. Tuh orangnya.” Luna melirik Elio yang beru kembali dari meja pendaftaran.
“Hai El. Gimana kabar kalian..?”
“Kami baik, Teh.” Jawab Elio yang lebih biasa memanggil Teteh pada Ayrin karena usia mereka hanya terpaut empat tahun.
“Tante periksa kandungan ya?” Tanya Luna, dan dijawab dengan anggukan ramah oleh Ayrin.
“Sendiri aja?” Tanya Luna kembali.
“Nggak. Om kamu masih praktik. Mungkin sebentar lagi menyusul.”
“Tuh Mas Ibra.” Ucap Elio melihat dokter pria yang berjalan cepat masih menggunakan snelli lengkap.
“Hai El… Waduuh… Penganten baru.” Ibra menepuk punggung kekar Elio.
“Baik Om Ib. Aku cuma kontrol biasa aja, belum hamil.” Jawab Luna meluruskan.
“Aku masih nggak nyangka loh kalian berdua menikah. Perasaan tahun lalu kamu masih bikin nangis adik kamu karena mencoret-coret buku dia sama tanda tangan GM hotel kamu itu, El.” Ucap Ayrin mengingat betapa jahilnya Elio pada Luna.
“Iya ya, Teh. Dulu kalau nggak ngejahilin Luna sehari aja nggak tenang hidup aku.” Jawab Elio sambil terkekeh.
“Tau tuh. Nyebelin banget emang Kakak.” Sungut Luna seperti tengah mengadu pada Ibra dan Ayrin.
“Aku lebih nggak percaya. Dulu waktu kecilnya, Mereka masih main petak umpet di rumah sakit. Luna kalau sembunyi pasti di kolong meja aku. Terus ngasih permen buat sogokan tutup mulut biar gak ketahuan si El.” Ibra menerawang kelucuan Luna kecil.
“Tapi aku nyogok Mas Ibra pakai cokelat. Jadi Mas Ibra langsung kasih kode kalau Luna ada di kolong meja.” Ucap Elio.
“Terus kalau Elio sembunyi bisa sampai rooftop rumah sakit. Ujung-ujungnya Luna nangis karena nggak ketemu sama Kakaknya.” Sambung Ibra tidak kuasa menyembunyikan tawanya. Akhirnya mereka berempat tertawa renyah.
“Ayo Sayang, Mbak Nita sudah menunggu.” Ibra merangkul tubuh Ayrin dan akhirnya mereka berpamitan pada Luna dan Elio. Elio yang merasa ada yang aneh menyeringitkan dahinya.
“Kenapa Kak?” Tanya Luna
“Kok mereka masuk duluan ya? Kan yang duluan antri kita.”
“Yaa… Mungkin udah ambil nomor antrian duluan. Lagi pula kan Om Ibra yang punya rumah sakit.”
“Meskipun aku yang punya hotel, tapi aku nggak pernah tuh nyelak antrian customer. Apalagi rebutan kamar.” Luna terbahak. Elio yang aneh.
“Biarin aja. Namanya juga dokter, nungkin setelah ini Om Ibra atau Tante Ayrin ada jadwal praktik.”
“Kalau aku yang ada jadwal meeting gimana? Boleh nyelak antrian nggak?” Ucapnya, dan fokus pada ponselnya kembali.
“Ikhlasin atuh Aa kasep. Biar lega hatinya.” Luna mengelus dada Elio.
“Tangannya tolong dikondisikan, Neng geulis. Aa jadi horney nih.” Luna langsung menarik tangannya. Elio selalu tidak tau tempat kalau bercanda.
Setengah jam menunggu, akhirnya Luna dan Elio sudah dipersilakan masuk menemui dokter Nita.
“Langsung kita periksa aja ya.”
Luna terkejut saat di suruh membuka bawahannya. Ternyata pemeriksaan kali ini menggunakan metode USG transvaginal.
“Rahimnya bagus. Indung telur juga. Kamu lagi masa subur nih, Sayang.” Dokter Nita mencoba melihat kondisi Luna secara menyeluruh.
“Sesuai dugaan Mama kamu, kemungkinan besar pil kontrasepsi yang kamu konsumsi tidak cocok di tubuh kamu, Luna. Jadi efek sampingnya menimbulkan gejala seperti kehamilan.” Dokter Nita mencoba menjelaskan secara medis kenapa hal tersebut dapat terjadi.
“Terus aku harus gimana sekarang, Tante?”
“Harus mencari alternatif lain. Sebenarnya bisa juga mencoba injeksi, implan, ortho evra dan beberapa pilihan lain, namun semua tetap berpengaruh secara hormonal. Kalau saran tante pakai IUD saja ya.” Akhirnya dokter Nita menjelaskan alat kontrasepsi yang disarankannya pada Luna.
“Jadi alat itu harus dimasukkan ke rahim Luna, Tan?” Tanya Elio. dokter Nita mengangguk.
“Aman kok, El. Asal ukurannya dan pemasangannya tepat. Tidak menibulkan banyak efek samping harusnya.” Elio melirik Luna yang tampak ketakutan.
“Ada cara lain nggak ya, Tan? Sepertinya Luna butuh waktu. Dia suka baca-baca referensi dulu baru yakin.” Elio paham betul sifat Luna yang tidak mudah percaya perkataan orang lain begitu saja.
“Tentu. Kalian harus menghindari berhubungan saat masa ovulasi dan yang pasti gunakan pengaman. Hanya saja tingkat perlindungannya kecil, 85% saja. Apa lagi jika cara pemakaian kurang disiplin, perlindungannya akan semakin kecil.”
Setelah berbagai pertimbangan Elio dan Luna akhirnya memilih opsi terakhir. Elio lebih rela dia menggunakan pengaman dari pada Luna yang kesakitan karena alat kontrasepsi yang akan mereka gunakan.
Selama di mobil Luna hanya mematung, tidak mau banyak bicara. Elio yang hafal sifat Luna yang selalu overthinking akhirnya meraih tangan sang istri.
“Kamu kenapa, Sayang…? Cerita sama aku biar lega.” Luna menggeleng.
“Tuh kan kebiasaan… Nggak mau cerita sama suami sendiri.” Ucap Elio.
“Nggak apa-apa. Cuma bingung aja. Allah gampang banget membolak-balik hati aku ya, Kak. Semalam sedih karena takut hamil, sekarang sedih nggak jadi hamil.” Elio tersenyum mendengarkan ucapan Luna.
“Terus sekarang gimana? Kamu mau hamil aja? Kalau aku mah di suruh bikin dedek bayi sekarang mau banget ya. Enak soalnya.” Elio tergelak saat melihat wajah Luna yang semakin masam.
...🙃-[Bersambung]-🙃...
Eh Luna sama Elio ketemu sama pasangan dokter. Tolong jangan teror aku bonchap di sebelah ya. Gak kuaaaat 🤣🤣🤣