
Elio POV
“Brrrrr…. Dingiiin…” Ternyata meskipun mandi dengan air hangat, tetap saja mandi pagi di Bandung terasa dingin. Sepertinya setelah menikah, mandi besar menjadi aktivitas yang akan sering aku lakukan nantinya, buktinya belum jam 8 pagi, sudah dua kali aku mengguyur kepala dengan air.
Kalau begini ceritanya, perlu strategi khusus untuk mencari waktu yang tepat agar tidak mandi berulang kali. Bukan karena aku malas mandi setelah menuntaskan keinginan, hanya saja jika dipikir-pikir, kasihan Luna harus kedinginan sampai masuk angin seperti tadi subuh.
Aku keluar dari kamar mandi bertelanjang dada dengan melilitkan handuk di pinggang, rambut pun masih basah dan harus dikeringkan dengan handuk kecil.
Hemmm… Jika di novel-novel istri akan mematung dengan tatapan kagum melihat prianya beradegan sepertiku, ternyata itu tidak berlaku untuk Luna. Istriku menatap sekilas lalu kembali serius dengan MacBooknya sambil bersandar di kepala ranjang.
Luna… Aku tahu semua terasa tidak adil untuknya. Kesepakatan yang aku sanggupi di awal pernikahan semua berhasil aku negosiasi ulang dengan sedikit pemaksaan. Sudah pasti dia kecewa dan merasa terjebak dengan keputusanku. Jadi wajar saja dia jadi bersikap dingin saat ini.
Aku tahu betul idealnya menikah harusnya dikabarkan pada semua orang, makanya dalam agama mengadakan pesta pernikahan itu disunnahkan. Tapi prinsip ini seperti tidak berlaku untuk Luna. Umurnya masih 19 tahun, statusnya juga masih mahasiswi semester tiga di kampus besar di Indonesia dengan modern culture. Sudah pasti gender stereotyping issue berkembang cukup baik di sana.
Ya… Bagiku pribadi, meskipun pernikahan ini bukan sebuah aib, tapi rasanya ada norma kepantasan yang sedang kami langgar. Meskipun negara memperbolehkan pernikahan untuk perempuan berusia 19 tahun, tapi usai minimal yang dikatakan cukup menikah adalah 21 tahun. Pada poin inilah akhirnya aku mempertimbangkan untuk mengikuti keinginan Luna untuk backstreet hingga ia cukup umur.
“Mama rasa ada benarnya juga kalian merahasiakan pernikahan untuk sementara waktu. Minimal memberikan kenyamanan untuk Luna menyelesaikan studinya, El.”
Aku masih mengingat pesan Mama sehari sebelum pernikahan kami. Tepatnya saat Luna meminta mengganti tempat pernikahan dari Ballroom Elios Hotel ke room meeting apartemen karena tidak mau pernikahan ini diketahui orang lain selain keluarga.
“Mama tahu betul, Luna punya ambisi yang besar dengan pendidikannya. Tugas kita memberikan dukungan penuh untuk itu.”
“Selain itu, secara psikologis, penderita OCD seperti Luna punya kecenderungan overthinking dan mengejar kesempurnaan dalam capaian, Mama khawatir jika dia menghadapi social judgment terlalu keras, secara psikis Luna akan mengalami tekanan.”
“Bagaimana pun kita makhluk sosial yang hidup di tengah masyarakat, social judgment itu pasti ada. Apalagi di lingkungannya saat ini, menikah muda masih dianggap sesuatu yang tidak biasa.”
Aku setuju dengan pandangan Mama, karena aku pernah berada pada posisi depresi karena tekanan lingkungan dan itu sangat menyakitkan. But once again, back to the case, aku mulai terusik dengan kehadiran orang ke tiga dalam hubungan kami. Jadi untuk win win solution aku meminta Luna memberi tahu kabar penikahan ini untuk mereka yang berpotensi mengusik saja.
“Sayang… Kamu mau sarapan di restoran atau di kamar saja...?” Sengaja aku pancing bertanya agar dia menatapku.
Lagi-lagi dia melihat sekilas, tatapannya masih sama seperti tadi, dingin dan penuh kekecewaan.
“Di kamar aja.”
Jawabnya singkat sambil turun dari kasur menuju lemari pakaianku. Ternyata meskipun marah, dia tidak melupakan tugasnya melayaniku. Aku tersenyum tipis, melihat tingkahnya seperti anak kecil yang merengut minta dibelikan mainan.
Dari sekian banyak pilihan yang tersedia, matanya hanya tertuju pada kemeja light blue, celana bahan denim bermotif kotak-kotak. Style andalan pria untuk terlihat formal casual varsatile. Not Bad, but honestly aku lelah harus memakai pakaian seperti ini. Come on, I am on my day off, Honey.
“Aku hari ini cuti. Pakai kaos dan celana jeans aja ya.”
Aku menunjuk tumpukan baju sebelah kanan, ada t-shirt hitam dan di sebelahnya ada celana blue jeans. Lebih santai dan nyaman untuk digunakan.
“Aku keluar cuma menyerahkan dokumen pada Om Rian dan Tante Viara dibagian keuangan sebelum mereka pulang ke Jakarta.” Alasanku.
“Udah pakai itu aja. Om Rian nanti protes melihat GM hotel berpakian seperti gembel.” Jawabnya ketus. Haha…
Oh akhirnya…. Ini kalimat terpanjang yang aku dengar dari Luna semenjak tadi dia menelfon perempuan bernama Elen. Kalau aku tidak salah dengar, dia adalah co-founder Pasific Exporia. Entah alasan apa Luna lebih memilih menelfon perempuan itu dari pada laki-laki yang menelfonnya semalam. Yang jelas Luna akhirnya memilih menyetujui tawaran mereka, dan perempuan itu terlihat senang.
“Good… You’ve made right decision. Mas Kean pasti senang sekali tahu kamu akan join bersama kita.”
Huft… Jawaban perempuan itu semakin memperkuat dugaanku tentang sosok Kean yang tertarik pada Luna. Tapi ya sudahlah, yang penting jika laki-laki itu mulai menunjukkan perasaannya, Luna harus siap mengaku sudah menikah denganku.
Aku berusaha mengembangkan senyuman, tapi Luna masih membuang muka dan beralih menatap kembali MacBooknya yang masih menyala di atas Kasur. Kalau sudah begini harus pakai jurus meluluhkan hati istri.
“Udah dong, Sayang… Jangan marah sama aku. Aku melakukan ini demi kebaikan kita.” Aku peluk dia dari belakang, sedangkan yang dipeluk tampak tidak bereaksi. Masih marah rupanya.
“Aku tidak meminta kamu untuk memberi tahu semua orang. Hanya orang-orang tertentu saja.” Bisikku, nada bicara dibuat serendah mungkin agar tidak menyulut emosi.
“Ya udah, Kan aku sudah mengikuti maunya Kakak. Apa lagi sekarang…?” Dia menghela nafas sambil mengurai pelukanku.
Mau tidak mau akhirnya aku membiarkan Luna kembali menuju kasur. Perempuan jika sudah dalam mode dingin ternyata lebih menyeramkan dari pada mengeluarkan capit untuk mencubit atau memukul.
“Kamu mau pesan apa? Biar aku pesankan.” Aku berjalan ke nakas mengbil buku menu.
“Menu breakfast hotel yang recommended menuruku, ada chicken porridge, Avocado tuna sandwich, cream soup with whole wheat bread atau….”
Aku sudah lama tidak sarapan di hotel, tapi beberapa menu itu menjadi pilihanku jika tidak sempat makan nasi uduk Mbok Jum di rumah.
Tadi saja minta sarapan di kamar, sekarang minta kupat tahu Cimahi lagi. Perjalanan Dago ke Cimahi saja bisa sampai sebelum makan siang nanti. Perempuan kalau marah suka tidak konsisten.
“Ya udah. Demi istri tercinta sealam semesta, kita cari kupat tahu Cimahi hari ini ya.”
Aku leparkan handuk asal-asalan ke sofa lalu merapikan rambut dengan jemari tangan saja. Seperti biasa aku cukup masa bodoh dengan penampilan. Wajah dan pakaian sudah menunjang, jadi tidak masalah jika harus sedikit tampil urakan.
“Iiiih…. Itu handuknya… Sembarangan deh naronya.” Dia menatap tajam, memberikan instruksi dengan mata agar aku segera menyampirkan handuk pada gantungan di walk in closet.
“Rambutnya juga disisir yang rapi...!”
“Hehe iya, Sayang. Galak banget.”
Oh Lord… Istriku kenapa berubah menjadi monster seketika. Sebagai suami idaman akhirnya aku patuh menggantungkan handuk dengan benar. Lalu menyisir rambut dan memberi pomade agar terlihat lebih klimis. Jika Luna saja bisa berubah banyak untukku, kenapa aku harus keberatan mengubah sedikit kebiasaan buruk ini.
“Kamu siap-siap dulu ya. Aku ke office menyerahkan dokumen ini.” Bukannya menjawab dia menatapku, kali ini tatapannya lebih teduh.
“Hati-hati..! Jangan lama-lama...! Aku laper banget soalnya.” Hahaha ternyata oh ternyata kehadiranku sudah menjadi candu. Buktinya dia tidak mau aku tinggal. Bolehlah percaya diri sedikit saja.
“Iya, istriku sayang. Sini aku peluk.” Aku merentangkan tangan memberikan tatapan penuh damba dan berhasil. Yesss… Dia menahan senyum membuat hidungnya kembang kempis. Haha lucu sekali.
Setelah sesi berpelukan dengan hujaman kecupan, akhirnya aku meninggalkan kamar melalui pintu kamarku membawa sejumlah dokumen ke lantai atas khusus office. Ada beberapa dokumen yang harus diserah terimakan ke Om Rian dan Tante Viara sebelum rombongan kembali ke Jakarta.
“Wah… Ternyata sudah diperiksa semua. Om pikir approval menunggu kamu selesai cuti honey moon.”
“Iya Om. Selagi masih bisa dikerjakan. Aku kerjakan sekarang. Takut menjadi pending task pada masing-masing department kalau aku serahkan hari Senin.”
Aku tetap mencoba bekerja profesional tapi setelah kejadian semalam aku tidak enak hati karena sudah berlaku tidak adil pada putrinya.
“Eh ini dokumen untuk Viara, Bukan?” Fokusnya tertuju pada map Approval Purchase Order item karpet VIP Room.
“Iya… Aku titip Om saja. Tolong dikembalikan pada dia. Aku sudah cek quotation ke website serta agreed MoU-nya. Tidak ada transaksi mencurigakan sejauh ini.” Om Rian mengangguk.
“Masih belum mau ketemu sama tantemu itu…?” Om Rian melirikku sekilas.
“Hemmm… Nanti saja setelah semua kondusif. Teringat soal tikus di hotel membuatku muak melihat mereka.” Jawabku.
“Haha ya sudah. Sekarang sudah punya keluarga sendiri. Harusnya kamu bisa lebih legowo dengan masalah keluarga orang tuamu.” Om Rian menasehatiku.
“Eh itu pun kalau kamu nggak berantem juga sama istri ya. Kalau berantem ya sama saja toh. Bikin mumet.” Nada bicara Om Rian terdengar menyindirku. Aku hanya tersenyum kecut.
“Om… Aku dan Luna sudah memutuskan memberi tahu Ayya soal pernikahan kami.” Segera saja aku potong. Basa basi is not my style.
“Baguslah… Lebih cepat lebih baik. Om tahu cepat atau lambat istrimu pasti akan setuju. Semalam saja dia sudah menahan tangis melihat kalian dipanggung.”
“Istri mana tidak kecewa melihat suaminya dijodohkan dengan perempuan lain. Ya kan…?” Om Rian menarik nafas panjang. Dia ternyata juga ikut memikirkan kerumitan ini.
“Ya… Meskipun berat untuk Ayya, lebih baik dia segera diberi tahu.” Ada guratan kesedihan di matanya. Aku jadi merasa bersalah.
“Ya udah… Nikmati honey moon kalian. Jangan lupa kasih jeda. Istrimu masih butuh penyesuaian. Haha…”
“Pasti Om. Baru sekali. Itu pun tempo lambat. Sakit katanya.” Jawabku sedikit malu.
“Haha… Nanti juga nagih.” Dia langsung terbahak menertawakan kepolosanku. Kelebihan Om Rian adalah pembawaan yang santai dan tenang. Setidaknya kalimatnya selalu mampu memecah rasa bersalahku padanya.
Setengah jam berbicara sama Om Rian aku kembali ke kamar. Sampai di dalam kamar, ternyata Luna sudah meringkuk tidur dalam selimut. Padahal pakainya sudah rapi dengan rambut masih lembab sperti habis keramas.
I love you, istriku. Semoga kamu mimpi makan kupat tahu Cimahi sampai kenyang ya, biar kita nggak repot beli sarapan jauh-jauh.
Cup…!
...😝-[Bersambung]-😝...
Hemm maaf banget baru up. Ternyata new normal membuat aku harus banyak menyesuaikan diri lagi. Transisi dari bekerja di rumah dan ke kantor semua jadi serba gradak gruduk. Sudah disempatkan menulis tapi hasilnya masih belum memuaskan. Semoga masih tetap ada yang baca ya. Kalau misal nya antusiasnya memang berkurang mungkin aku akan rubah outline ceritanya agar lebih singkat. Jadi bisa segera tamat.
Jangan lupa like comment & vote ya.