
“Hai Luna, ini Kean. I called you two times, but you didn’t answer. Apakah sedang sibuk? Bisa kita bicara sebentar.”
Luna langsung menepuk jidatnya. Kebiasaannya menghindari panggilan telfon atau pesan dari laki-laki yang dianggap punya interest padanya, membuat Luna sering mengabaikan telfon dari nomor yang tidak ia kenal. Dan sialnya ternyata salah satu dari mereka adalah nomor handphone Kean. Pria itu sudah menelfon Luna dua kali namun tidak ada jawaban.
“Mas Kean. Maaf ya aku fikir nomor yang suka menawarkan pinjaman online. Hehe…”
“Boleh. Tapi tidak sekarang ya. Kebetulan aku sedang di angkot. Bising.”
“Bisa kirim pesan dulu?”
Luna tersenyum mengetik pesan itu. Entah ide dari mana dia menyebutkan pinjam online, tapi cara ini pernah efektif sebagai alasan. Dulu Luna pernah menggunakan alasan ini saat pertama kali mengabaikan telfon Pak Cipto, dan berhasil meyakinkan sang dosen.
“Haha I see. Harusnya saya text kamu dulu ya. Biar tidak disangka penjaman online.”
“Fine… Aku langsung pada intinya saja ya. How? Sudah punya keputusan? Will you join us?”
Luna mendesah. Satu minggu waktu yang diberikan Pacific Exporia untuk dirinya berfikir, tapi belum genap satu minggu, Kean sudah menagih keputusannya.
Belum sempat Luna menjawab pesan Kean, ponselnya sudah mati kehabisan daya. Ponsel yang sudah empat tahun ia gunakan memang sudah rusak batrainya. Untunglah bangunan Elios hotel sudah terlihat dari jauh.
“Kiri Mang.” Setelah turun dari angkot, Luna langsung bergegas masuk ke Elios hotel.
Sudah pukul 5 sore, berarti total tiga jam ia meninggalkan Elios hotel. Padahal tadi Luna hanya pamit pada Elio untuk membeli kabel USB di indoalfa seberang jalan.
“Kamu… huft…”
Elio langsung berdengus, tidak mempedulikan beberapa staff yang memperhatikannya duduk gelisah di sofa lobby dari tadi. Meskipun Elio bisa melacak dimana keberadaan Luna, tapi tetap saja tindakan suka-suka pergi tanpa pamit.
Bukannya menghampiri Elio, gadis itu malah berbelok menuju arah lift. Sepertinya Luna takut interaksi mereka berdua diketahui orang. Tapi belum sampai masuk ke lift tangannya di cekal oleh Elio.
“Kak…” Luna mencoba menarik tangannya agar terlepas, namun ia kesulitan karena genggaman El semakin kuat.
“Dari mana saja kamu…?”
“Aku habis beli ini.” Luna mengangkat paper bag yang dia bawa. Ada beberapa buku dan alat kosmetik di dalamnya. Elio hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Ayo…!” Ditariknya tangan Luna menuju resepsionis.
“Mau kemana..?” Bisik Luna panik.
“Kita pesan kamar yang lebih nyaman.” Elio menyeringai, sedangkan Luna langsung terbelalak.
“Tapi aku udah pesan kamar sampai besok.” Ucap Luna namun tidak diindahkan oleh Elio. Pria itu tetap menarik tangan Luna sampai di depan meja resepsionis.
“Tolong reservasikan saya dua president suite dengan connecting room.” Ucapnya pada resepsionis.
“Ba… Baik Pak. Ini saya resevasi atas nama siapa?” Sang resepsionis langsung gelagapan. Diliriknya Luna yang terlihat bersembunyi di belakang tubuh Elio.
“Saya sendiri.” Jawab Elio singkat.
“Baik Pak.” Tidak ada prosedur rumit pengisian data dan lain-lain, sang resepsionis langsung menyerahkan kunci kamar.
“Silakan…. Ini kuncinya. 1211 dan 1212 ya Pak.” Tangan sang resepsionis terlihat tremor menyerakan kunci pada sang pemilik hotel.
“KAKAK… Overprotective banget sih sama adik sendiri. Aku kan cuma main sebentar ke Mall tadi.” Luna merenggut tangannya dengan kasar.
“Aku mau ngadu sama MAMA. Kakak udah bikin aku kesal hari ini.” Pekik Luna tiba-tiba sambil melirik sekilas pada sang resepsionis.
Elio terlihat bingung mendengar suara Luna yang terkesan dramatis saat mengucapkan kata Kakak dan Mama. Sampai akhirnya ia sadar Luna sedang memeainkan perannya.
“Huft…” Elio dibuat menghela nafas melihat tingkah Luna.
“Kamu tu ADIK aku. Gimana aku bisa jaga kamu kalau kamu di lantai tiga aku di lantai dua belas. Nurut sama Kakak ya, Dek…!” Elio mencoba menunjukkan rasa sayangnya sebagai Kakak.
“Nanti Mama marah sama aku kalau terjadi sesuatu sama kamu.” Elio pun akhirnya ikut bermain peran. Tangannya terulur mengusap rambut Luna dengan tulus.
Luna mengangguk dengan wajah cemberut. Dilihatnya sang resepsionis tersenyum.
“Maaf ya adik saya masih suka ngambeg kalau dimarahi.” Ucapnya pada resepsionis.
“Oh iya. Terima kasih tadi sudah meminjamkan dia kabel USB.” Sambung Elio ramah.
“Tidak masalah Pak. Saya senang membantu adik Bapak. Kalau masih butuh, nanti bisa dipinjam kembali.”
Elio mengangguk sekilas lalu menarik tangan Luna menuju lift. Setelah lift tertutup, mereka berdua menghela nafas lalu tertawa terbahak-bahal
“Pintar juga kamu actingnya. Haha…” Puji Elio
“Eh yang lebih pintar aku sih. Pintar baca kode dari kamu.” Koreksinya. Luna hanya mencebik kesal. Bisa-bisanya Elio bertindak sesuka hatinya tanpa kompromi terlebih dahulu.
Setelah memindahkan barang-barang ke kamar baru. Luna segera merebahkan tubuhnya di kasur.
“Emang beda banget ya rasanya. Ini kasurnya lebih empuk. Interiornya juga mewah. Aku suka banget.”
Luna terlihat menggoyang-goyangkan badannya membuktikan bahwa kasur ini terasa lebih nyaman dari yang sebelumnya. Belum lagi interior kamar yang mewah membuat Luna semakin berdecak kagum sampai merabanya satu persatu. Elio hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
“Kamu ngapain tadi ke Braga City Walk?” Selidik Elio.
“Aku niatnya mau cari buku. Tapi sekalian tadi beli make up.” Jawab Luna sambil mengeluarkan isi paperbag yang tadi ia bawa.
“Tumben kamu mau beli make up segala. Biasanya juga make up an kalau mau perform aja.” Tanya Elio tidak puas dengan jawaban Luna.
“Kamu udah cantik kok. Sekarang aja kucel bengini tetap cantik menurut aku.” Puji Elio.
“Nah ini… Laki-laki emang aneh ya. Giliran ditanya kriteria wanita idaman dijawabnya yang natural, tapi kalau ngelihat artis tetap aja lupa cara berkedip.” Luna mengerlingkan wajahnya.
“Kalau mau yang natural itu coba lihat ibu-ibu dasteran tuh. Natural banget.” Luna berdengus kesal. Elio langsung terbahak.
“Kamu tuh cari contoh apple to apple lah. Haha.” Sanggah Elio sambil tergelak.
“Maksud aku, aku lebih suka kamu apa adanya.” Elio mencoba meluruskan maksudnya.
“Yaaa… Karena apa adanya aku itu bisa menempatkan diri dengan baik, makanya Kakak suka.” Jawab Luna cepat.
“Menurut aku, kecantikan wanita itu bisa dilihat dari the way she puts herself.” Luna berucap dengan wajah serius.
“Seperti sekarang Kakak mengajak aku ke acara formal, aku harus bisa meyakinkan orang lain bahwa aku pantas ada di acara itu. Itu yang dinamakan berkelas.” Ucap Luna memberi contoh.
Elio merasa apa yang Luna ucapkan ada benarnya karena kelebihan terbesar Luna ada pada sikap dan pembawaannya. Itulah yang membuat orang lain banyak tertarik pada istrinya itu. Ya walau tidak bisa dipingkiri, Elio sebanarnya takut jika Luna menjadi pusat perhatian nantinya jika sudah mulai berdandan.
“Hemmm….” Akhirnya Elio mengangguk-angguk setuju.
“Girls are always right.” Celetuk Luna karena merasa Elio telah kalah dalam berdebat dengannya.
Elio kembali menghela nafas.
“Oh iya… Hampir aja lupa ambil baju Bunda. Tunggu sebentar ya.” Elio bergegas kembali ke ruang officenya. Disana ada lemari khusus tempat ia menyimpan pakaian Riyana. Setelah memilih beberapa pakaian yang ia anggap cocok, pria itu kembali ke kamar hotel.
“Ini aku bawakan beberapa pakaian Bunda.”
“Aku nggak tau mana yang menurut kamu tepat untuk acara malam ini. Pilih sendiri aja ya..!”
Luna hanya menatap tanpa berkomentar. Ini kali kedua ia memakai pakaian milik almarhum mertuanya. Ada perasaan sungkan dalam dirinya. Apakah Riyana mengizinkannya memakai pakaian itu?
“Bunda pasti senang lihat kamu pakai baju dia.” Ucap Elio seperti memahami keraguan istrinya itu. Akhirnya Luna mengangguk.
Dari beberapa helai pakaian yang dibawa Elio, Luna hanya mengambil satu midi dress berwana hitam dengan bahan chiffon bermotif floral.
“Bunda… Luna pinjam dress Bunda ya.” Ucap Luna pelan.
“Yaaa… Pakai aja menantukuuuu.” Jawab Elio dengan suara dibuat seseram mungkin.
“KAKAAAAAK…” Luna langsung bergelayut di tangan Elio. Pria itu langsung tertawa terbahak-bahak.
“Sana mandi…! Bentar lagi maghrib.” Titah Elio.
“Aku nggak mandi ah. Takut…” Tolak luna
“Takut sama apa sih…? Takut sama Bunda..?” Tanya Elio.
“Enggak lah. Aku takut dengar suara Kakak barusan. Aku merinding nih. Iiih aku ngeri banget.” Luna bergedik ngeri.
“Terus nggak mau mandi..?”
“Enggak usah lah..! Aku udah cantik meskipun nggak mandi”
“Hemmm… You have to put your self well loh. Apalagi kamu harus membuktikan kamu memang pantas menjadi adik seorang GM hotel ini nanti.” Ucap Elio dengan nada menyindir. Pria itu menahan senyum karena berhasil membalikkan ucapan Luna tadi.
“Tapi aku takut di kamar mandi sendiri.” Jawab Luna.
“Aku temenin.”
“NGGAAAK MAU…!”
“Yakin…?” Elio tersenyum.
“Yakin 1000%.” Jawab Luna dengan suara lantang lalu langsung menyambar handuk yang sudah disediakan.
“Berani emang…?”
“Berani…!” Jawab Luna penuh percaya diri.
“Oke… Let’s see…” Gumam Elio lirih.
“Lunaaaa… Hi… Hi… Hi…” Elio kembali bersuara aneh. Bahkan kali ini lebih menakutkan dari yang sebelumnya.
“AAAAAK….” Pekik Lune sambil berlari ke arah suaminya. Kali ini malah disertai pelukan erat.
“Plis plis… Temenin aku mandi…” Pinta Luna dengan nada memohon.
“Hemmm gimana ya?” Elio sok jual mahal.
“Plis Kakak… Aku takut banget.” Luna kembali memohon.
“Yaudah deh.” Ucapnya seolah-olan terpaksa.
“Yes…!” Elio bersorak dalam hati. Senyumnya mengembang.
“Girls are always right, but do not always win.” Gumamnya sambil berjalan masuk ke kamar mandi mengikuti Luna.
...😉-[Bersambung]-😉...