My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Video Call with Beloved One



Sudah tiga malam Elio di Bali. Urusan bisnisnya dengan Hendy Wicjaksono sudah selesai. Semua data dan analisis sudah ia kumpulkan. Tinggal menyampaikan rencananya nanti di rapat pemegang saham bulan depan.


“Kakak kapan ke Bandung?” Tanya Luna melalui video call malam itu.


“Besok pagi. Aku ikut penerbangan paling pagi dari Bandara Ngurah Rai.” Jawab Elio.


“Kangan ya sama aku?” Elio menyeringai menampakkan wajah tampannya.


“Ish… Suka GeEr gitu sih Kakak. Mana mungkin aku kangen.” Tepisnya.


“Yang ada Kakak tuh yang kangen. Tiap hari pertanyaan selalu aja sama. Nggak bosan ya?” Luna menatap Elio dengan tatapan heran.


“Sayang kamu dimana? Lagi ngapain? Bisa angkat telfon nggak? Nanti malam video call ya.” Luna menirukan suaranya ala nada mencemooh.


“Haha… Kamu paling juga senang dapat pesan dari aku. Iya kan?” Tuduh Elio.


“Enggak lah.” Luna masih saja berkilah, tapi wajahnya sudah merah.


“Alah… Ngaku aja looo… Kemaren nggak video call sama Kak El, liatin Hp mulu.” Tiba-tiba Alea langsung menimbrung percakapan mereka.


“Dia nungguin telfon Kak El sampai begadang tau Kak.” Imbuh Alea dari jauh.


“Heeeh…” Luna melempar bantal spongebobnya pada Alea.


“Tuh kaaaan… Nggak mau ngaku coba…” Elio semakin menjadi-jadi.


“Terus dia bilang apa lagi Lea?” Tanya Elio penasaran.


“Banyak Kak.”


“Bilang, ini gue nikah sama lo apa sama Kakak sih. Tiap malam lo terus yang meluk gue. Sementara suami sendiri kerjaannya jalan-jalan terus. Gitu katanya.”


“Kayanya Luna udah kangen banget dipeluk Kakak.” Ucap Alea setengah berteriak. Luna langsung melotot pada Alea.


“Wah terus… terus..?” Elio masih saja bertanya pada Alea meskipun dia tidak bisa melihat Alea di layar ponselnya.


“Dia bilang, Kalau nanti Kakak pulang hmmmmph hmmppp….” Mulut Alea sudah dibekap oleh Luna.


“UDAH AH… AKU NGGAK MAU VIDEO CALL LAGI...!” Teriak Luna.


“Entar dulu… Aku masih pengen lihat wajah kamu.” Ucap Elio memohon.


“Baru juga empat menit video callnya. Kangennya belum terobati.”


Tiga hari ini Elio tidak banyak memegang HP karena membuat analisis rencana akuisisi hotel, sehingga rasa rindunya pada Luna sudah di ubun-ubun.


“Ya udah kita video call di kamar Kakak aja. Malas nih ada perusuh gangguin orang aja.”


“Pas banget… Aku mau ngomong privasi sama kamu.” Ucap Elio tiba-tiba ia teringat menceritakan kesalahpahaman tentang dia dan Ayya yang terjadi di Jogja. Luna langsung mengkerutkan dahi. Privasi apa?


Luna akhirnya melepaskan tangannya dari mulut Alea dan bergegas mengambil HP dah headset-nya lalu berlari menuju kamar Elio.


“Huuuu… siyal… Giliran udah pada bucin gue ditinggal.” Rutuk Alea. Tapi dia tersenyum melihat perubahan sikap Luna akhir-akhir ini. Jelas sekali Luna sudah mulai jatuh cinta pada suaminya.


“Hemm… Kamar Kakak berdebu dan lembab. Aku belum sempat bersihin. Nanti deh habis ujian aku bersihkan ya.” Ucap Luna merasakan aroma kamar tidak enak. Dia langsung menyalakan AC agar udara bisa segar.


“Kamar kalau nggak dipakai-pakai ya begitu. Makanya nanti kalau aku pulang, kita pindah-pindah aja tidurnya. Semalam di kamar kamu, semalam di kamar aku.” Ucap Elio.


“Jadi habis atraksi di kamar kamu, besoknya atraksi di kamar aku. Hehe… Biar nggak bosan.” Elio menahan tawanya.


“Atraksi? Maksudnya?”


“Ya itu… Kegiatan menghibur kaya kaya yang waktu itu. Kan aku mau tiap malam minta dihibur sama istri.” Luna langsung melotot.


“Udah ah. Kakak mah ngomong itu terus…!” Ucap Luna kesal.


“Aku baru sadar Kakak ternyata mesum banget ya.” Luna menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Enak aja… Menurut pakar dating itu, idealnya pasangan suami istri itu melakukan hubungan 3 sampai 4 kali seminggu tau.” Ucap Elio.


“Lah ini… Kita nikah udah dua minggu lebih, aku cuma dikasih kesempatan flattering sekali.” Protes Elio.


“Masa sih sebanyak itu?” Luna bergedik ngeri.


“Terus gimana kalau belum menikah?” Tanya Luna heran.


“Ya ditahanlah.”


“Emang bisa ditahan begitu?”


“Bisa. Makanya dalam agama kalau belum mampu untuk menikah di suruh menahan dengan berpuasa.” Jelas Elio.


“Ini aja aku rencana puasa nih besok. Biar bisa semakin kuat imannya. Hahaha.” Elio tergelak.


Bukannya menanggapi, Luna hanya malah memalingkan wajahnya. Apa kemaren dia keterlaluan menolak Elio.


“Kamu tau nggak, kadang siang-siang kalau lagi kerja aku jadi nggak fokus. Kebayang-bayang yang malam itu. haha…” Elio tertawa.


“Pengen… Tapi mau gimana lagi.” Keluh Elio sambil menarik nafas dalam-dalam.


Luna masih saja diam. Elio siang-siang membayangakan kegiatan panas. Apa jangan-jangan selama di Bali, suaminya itu menyempatkan untuk jalan-jalan kepantai untuk melihat yang segar-segar makanya tidak sempat menghubunginya. Huaaa…


“Kok diam sih?” Luna terlihanya melamun.


“Sayang… Hoi…. Lunaaaaa….”


“Eh iya… Apa?”


“Dari tadi aku ngomong, kamu diam aja.”


“Lagi mikirin apa hayooo? Jangan-jangan kamu yang mesum sebenarnya. Ya kan?” Tuding Elio sambil menahan tawanya.


“Terus sekarang aku harus gimana?” Tanya Luna lirih. Dia tidak berani menatap Elio.


“Maksudnya?”


“Maksudnya aku bisa bantu Kakak apa sekarang? Kan lagi jarak jauh gini. Kita nggak bisa kaya waktu itu.” Tanya Luna.


“Beneran kamu mau bantu nih?”


“Ya mau aja, tapi kan jauh.” Jawab Luna sekali lagi.


“Kata siapa nggak bisa. Bisa kok. Ada caranya.” Ucap Elio semangat. Sedangkan Luna tampak bingung.


“Kunci pintu sekarang…! Kita VCS.” Titah Elio.


“Apa tuh VCS?” Tanya Luna sambil berjalan ke arah pintu lalu menguncinya sesuai perintah Elio.


“Coba cari di google.” Luna akhirnya mengetik tiga huruf itu di google. Matanya langsung terbelalak. Ternyata ada aktiftas itu dalam berhubungan.


“Ayooooo…! Aku semangat nih. Katanya kamu mau bantu…”


“Aku… Aku….” Luna terlihat ragu.


Elio langsung mendesah. “Kamu mah PHP-in aku. Udah semangat banget padahal.”


“Tau gitu nggak usah bilang mau bantu segala. Aku udah kadung on gini.” Desis Elio tampak kecewa.


“Ya udah ayuk…!” Jawab Luna pasrah.


Jadilah malam ini Luna kembali bisa menghibur sang suami dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Tapi jauh dari pada itu, akhirnya dia tau hatinya sudah jatuh untuk suaminya. Tidak mungkin dia menyerahkan dirinya seperti ini kalau bukan karena sudah jatuh cinta.


“Makasih Sayang….” Ucap Elio dengan nafas tersengal-sengal.


“I love you…!” Dikecupnya layar ponsel yang menampakkan wajah Luna yang merah karena malu.


“Kalau aku udah di Jakarta, harus berani lebih dari ini ya.” Luna langsung memelingkan wajahnya.


Sebenarnya Luna ingin sekali bercerita tentang tawaran Pacific Exporia untuk part time satu bulan di perusahaan mereka. Tapi waktunya masih belum tepat. Mungkin setelah Elio pulang dari Bandung nanti, mereka bisa berdiskusi dengan suasana lebih kondusif.


Sedangkan Elio, pria itu pun juga sebenarnya ingin bercerita tentang gosip yang beredar tentang dia dan Ayya agar suatu saat Luna tidak salah paham. Namun ternyata gejolak yang sudah di ubun-ubun telah mengacaukan segala hal.


...🌝-[Bersambung]-🌝...


Jangan lupa jejak guys 😂