
“Kamu masih belum selesai belajarnya?” Tanya Elio yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Luna.
“Sebentar lagi, Kak. Aku sedang install beberapa aplikasi desain di laptop aku.”
“Kakak udah ngantuk ya?” Elio mengangguk seperti balita yang sedang ditanya orang tuanya.
“Ya udah tidur duluan aja ya.” Luna akhirnya bangkit merapikan kasur yang masih bertebaran beberapa manual book di atas kasurnya, lalu memindahkannya ke meja belajar.
“Siiip beres… Kakak udah bisa tidur sekarang.”
Elio langsung masuk tapi justru menuju meja belajar Luna. Fokusnya langsung tertuju pada macbook baru yang sedang menyala. Bahkan di lantai juga masih berserakan kardus barunya. Macbook ini memiliki spec khusus desain grafis keluaran terbaru.
“Kamu beli macbook baru?”
“Hemmm” Luna mengangguk.
“Kapan?” Selidiknya.
“Hehe tadi siang waktu Kakak tidur. Aku udah izin ya, tapi Kakak hemm hemm aja jawabnya. Yaudah aku tinggal deh.”
“Lagian cuma di mall depan, aku berangkat juga cuma jalan kaki tadi.”
“Ish… Kamu tuh ngobrol sama orang tidur. Mana sadar aku.” Elio berdengus kesal.
Luna hanya terkekeh tanpa merasa bersalah. Justru Luna sengaja mencari momen agar Elio tidak ikut dengannya.
“Kok nggak ada notifikasi ke handphone aku ya kalau kamu narik uang sebanyak ini?” Tanya Elio heran.
“Biasanya kalau tarik uang lebih dari satu juta ada pemberitahuan masuk ke handphone aku.” Elio langsung mengecek pesan pada ponselnya, dan benar saja tidak ada pesan dari aplikasi mobile banking.
“Hehe… Aku nggak pakai uang Kakak soalnya.” Jawab Luna dengan senyum penuh perdamaian.
“Loh? Kenapa? Kamu tadi minta Papa?” Tuding Elio.
“Ih udah dibilangin, aku nggak pernah minta Papa lagi sekarang. Ini uang aku sendiri. Aku kan kerja Kakak.” Jawab Luna sewot.
“Tapi ini mahal, Dek.” Tukas Elio.
“Sekali perform kan cuma tiga sampai lima ratus ribu paling banyak, itu pun harus kasih fee ke Alea kan? Kamu jangan-jangan ngutang atau nyicil lagi?”
“Ish… Ngeremehin aku banget sih. Kesel.” Luna langsung manyun.
“Aku tu habis menang event ini.” Luna memperlihatkan iklan sayembara start up yang dia ikuti dan menjelaskan tentang hadiah yang ia terima dalam jumlah besar.
“Pinter kamu… Bangga deh aku punya istri sepinter ini. Moga anak kita nanti juga pinter ya nanti. Aamiin.” Satu kecupan mendarat di pucuk kepala Luna. Luna hanya menyeringit saat Elio membicarakan anak. Terlalu jauh, fikirnya.
“Tapi lain kali untuk kebutuhan kamu bisa ambil dari sini. Uang kamu ditabung aja buat yang lain.”
“Hemmm…”
“Masih lama nggak? Ngantuk nih…!” Pertanyaan ini seperti perintah karena Elio sudah menarik tangan sang istri untuk berpindah ke kasur.
“Kaaak… Ish aku belum beres.” Protes Luna tapi tetap mengikuti langkah suaminya untuk mendarat di tempat tidur.
“Lagi installing kan? Nunggunya sambil bobo aja yuk. Aku ngantuk, pengen ditemanin tidurnya.” Tangan kekar Elio sudah menarik pinggang Luna sambil memeluknya erat.
“Beraaaat Kakaaak…” Kaki Luna meronta-ronta minta dilepaskan, tapi justru kaki Elio malah ikut menindih kakinya
“Aku kangen. Please…” Bisiknya tepat tengkuk Luna, tubuh Luna langsung meremang.
“Katanya ngantuk kenapa jadi beginiiii…”
“Aku geli beneran…!” Luna menggerak-gerakkan kepalanya karena merasakan hembusan nafas Elio ditengkuknya.
“Aku kangen sama kamu.” Suara Elio sudah terdengar serak dengan nafas mulai memburu seperti tidak terkontrol. Ini bisa bahaya kalau diteruskan.
“Iya lepas dulu. Aku janji nggak pergi.” Luna masih berusaha bernegosiasi. Akhirnya Elio mengendurkan pelukannya tapi secepat kilat memutar tubuh Luna agar bisa berhadapan dengannya. Perlahan wajahnya ia dekatkan pada wajah Luna.
“Kak maaf… Aku belum siap…” Ucap Luna lirih.
“Iya aku tau. Pelan-pelan aja. Aku ngerti kamu belum jatuh cinta kan sama aku?”
Luna hanya diam tidak mau menjawab. Lagi-lagi Elio hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam lalu merubah posisinya menjadi terlentang mengahdap langit-langit kamar. Setidaknya ini menetralisir perasaan malam ini.
Elio akhirnya tersenyum, setidaknya Luna sudah mau berusaha. Itu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.
“Aku bakal berusaha terus bikin kamu jatuh cinta sama aku, asal kamu tetap menutup diri untuk orang lain. Jadi cuma aku yang bisa masuk ke hati kamu.” Luna mengangguk membuat Elio kembali mempererat pelukannya.
“Wangi banget kamu. Jadi pingin cium terus gini.” Puji Elio sambil menghujami kecupan pada rambut Luna.
“Kakak emang udah jatuh cinta sama aku?”
“Haha pakai ditanya. Aku udah nggak mau anggap kamu adik aku lagi. Rugi banget tau nggak..?”
“Kamu tu kalau jadi adik nyebelin, manja plus ngeselin. Kalau jadi istri kan aku bisa dapat peluk cium kayak gini.” Elio terkekeh lalu kembali menghujami wajah Luna dengan kecuapannya.
“Kak… Aku mau tanya boleh nggak?”
“Hemmm…”
“Kenapa Bang Langit yang jadi saksi waktu nikah kita? Kenapa bukan Om Ardi?” Tanya Luna.
Elio kembali menarik nafas panjang. “Hari itu aku kalut banget. Om Ardi marah besar sampai ancam semua anggota keluarga supaya nggak datang di nikahan kita. Satu-satunya orang yang udah aku anggap sebagai keluarga selain kalian, ya Langit.” Mata Elio terlihat menerawang jauh.
“Tapi kamu tenang aja, Langit pasti bisa dipercaya. Sekarang cafe juga udah aku percayakan sama dia.” Jelas Elio. Luna akhirnya mengangguk pasrah. Setelah Om Rian, Langit lalu siapa lagi yang tahu pernikahan mereka setelah ini?
“Keluarga Kakak nggak suka ya sama aku?” Tanya Luna.
“Mereka nggak suka sama aku, bukan sama kamu. Tapi karena kamu sudah jadi istri aku, jadi terbawa masalah. Jangan kecewa ya?” Elio berusaha memberi pengertian pada Luna.
“Oh iya… Oma, Opa kasih hadiah buat kamu. Sebentar aku ambil.” Elio kemudian bergegas ke kamarnya lalu kembali membawa pouch kain berwarna merah.
“Apa ini?”
“Aku juga belum cek. Buka aja…!”
Luna kemudian membuka pouch tersebut, ternyata isinya sebuah gelang berlian dengan dengan kombinasi warna putih dan gold dengan lima permata membentuk bunga di tengahnya. Jika diuangkan mungkin bernilai ratusan juta.
“Kaak… Aku nggak bisa terima ini.” Luna kembali memasukkan gelang itu ke dalam tempat semula dan mengembalikan pada Elio.
“Oma akan kecewa kalau kamu tolak. Simpan ya…!” Elio mengembalikan lagi ke tangan Luna.
“Kalau kita ketemu beliau, kamu harus pakai. Jangan pernah mengecewakan Oma.”
Luna terdiam cukup lama, barulah akhirnya dia mengangguk setuju. Ada sedikit kekhawatiran di hati Luna menerima pemberian ini, karena rasanya dengan mahar 7% saham Elios Hotel saja sudah berlebihan. Pasti keluarga besar Elio sudah murka karena itu.
Sekilas ia melihat Elio tampak murung seperti memikirkan sesuatu. Pasti tentang keluarganya yang cukup complicated.
Luna mengambil ponselnya di atas nakes, membuka mesin pencarian dan mengetik “Cara menghibur suami yang sedih.” sebagai key word pencarian, sampai keluarlah beberapa artikel tips and trick menghibur suami. Luna tersenyum mengangguk-angguk saat membaca artikerl itu.
“Kamu ngapain?”
“Eh nggak…!” Luna langsung menyembunyikan handphonenya.
“Ayo ngapain?” Elio merebut benda pipih itu tapi kalah cepat dengan Luna yang langsung menyembunyikan di balik tubuhnya.
“Enggak… Enggak ngapa-ngapain…”
“Wah udah berani macam-macam sama aku ya?” Elio mulai menggelitik Luna sampai Luna menjerit kegelian karena ulahnya.
“Aaaak…. Kakaaak”
“Ampun nggak?” Ancam pria itu semakin menggencarkan aksinya.
“Ampuuuun Kakaaaak..!” Pekik Luna setelah Elio mulai mengukung sang istri di bawah tubuhnya.
“Iya… Iya… Nyeraaah aku…!” Akhirnya Luna membiarkan Elio memeriksa ponselnya. Pria itu langsung menyeringai.
“Hemm… Mau tau cara menghibur suami?” Bisik Elio. Sontak Luna menggeleng cepat.
...🤭-[Bersambung]-🤭...
Trimikisih intik kimin bib sibilimnyi yiiiii 🤣