My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Aku Kenapa…?



“Halo… Mas Kean sudah bisa dengar suara aku..?” Luna yang sudah sampai di balkon cafe, kembali mencoba berbicara dengan Kean.


“Yes… Sekarang lebih clear.” Jawab Kean.


“Sykurlah.. Maaf ya Mas. Sore tadi HP aku mati kehabisan baterai, jadi belum sempat membalas pesan Mas Kean yang terakhir.” Ucap Luna.


“No matter.”


“Saya fikir kamu nggak bersedia menerima telfon dari saya karena berfikir telfon ini dari pinjaman online lagi. Haha…” Kelakar Kean.


“Haha… Nomor Mas Kean memang belum aku save, karena HP aku keburu mati tadi.”


“Tapi aku sudah tau ini nomor Mas Kean. Tadi sempat dihafalkan sama aku.”


“Oh ya..? Kamu hafal nomor handphone saya..?” Tanya Kean terdengar tidak percaya.


“Belakangnya 074 kan…?” Ucap Luna.


“Haha Luna… Luna… Saya fikir kamu menghafalkan nomor saya seluruhnnya. Ternyata digit di belakangnya saja.”


“Daya ingat aku belum secanggih itu, Mas. Tapi setelah ini pasti aku save. Maaf ya sekali lagi komunikasinya slow respons dari aku.” Ucap Luna Ramah.


“Bisa saya maklumi. Mahasiswa memang lebih baik tidak terlalu sering bermain HP. Bisa-bisa lupa waktu, malah semakin lama lulusnya.”


“Oh ya… Saya minta maaf ya… Saya menagih decision-mu sebelum due date yang kita agreed pekan lalu. Karena kebetulan jam 10 besok saya dan Elen ada meeting dengan vendor yang akan mengerjakan project ini.” Terang Kean.


“Jadi bagaimana sudah punya jawaban..?” Tanya Kean.


“Hemmm… Sejujurnya belum Mas. Aku belum bisa memberi jawaban. Aku harus berdiskusi dulu dengan keluarga.”


“Bagaimana pun aku masih sekolah dan menjadi tanggung jawab keluarga.” Ucap Luna menjelaskan.


Sudah bisa Luna tebak Kean akan menanyakan ini. Tapi jika Kean tetap memaksa untuk memberi jawaban sekarang, otomatis jawabannya dia akan menolak.


“Jadi kamu belum berdiskusi dengan keluarga..?” Kean agak terkejut karena harusnya sudah nyaris satu minggu sejak pertemuan mereka terakhir, Luna belum mem-follow up keputusannya pada keluarga.


“Iya belum. Aku baru hari ini ketemu dengan Kakakku, Mas.”


“Kakak?” Kean memastikan dia tidak salah dengar.


“Hemm Iya. Aku tinggal di Indonesia dengan Kakak. Orang tua kami stay di luar negeri. Kebetulan satu minggu ini Kakak ada perjalanan dinas ke luar kota. Jadi kami baru bertemu hari ini.” Jelas Luna.


“Tapi… Tapi kalau misalnya memang harus diputuskan sekarang berarti memang aku tidak bisa join, Mas.”


Luna menarik nafas panjang setelah mengucapkan kalimat tersebut. Entah kenapa ada perasaan sedih saat mengorbankan salah satu mimpinya.


“Hei… Jangan terburu-buru. Masih ada waktu sampai pagi besok.”


“Kamu bicara dulu saja dengan Kakakmu.” Balas Kean.


“Baik Mas. Terima kasih sudah mau menunggu.” Luna menghela nafasnya. Semoga memang masih terbuka kesempatan itu untuknya.


“Ya sudah kalau begitu. Selamat istirahat ya. Jangan terlalu malam pulangnya. Semoga kita memang berjodoh.” Akhirnya sambungan telfon mereka diakhiri. Luna menyeringit melihat ponselnya. Kata-kata Kean terasa aneh, tapi tidak ia ambil pusing.


“Siapa dia..?” Baru saja telfon itu tertutup. Suara bariton Elio sudah terdengar dari belakang.


“Kakak… Sudah lama di sini…?” Tanya Luna.


“Terus Kak Ayya mana…?” Luna celingukan melihat ke arah teble 9 yang sudah bersih. Kondisi resto juga mulai sepi.


“JAWAB…! SIAPA DIA..?” Sentak Elio.


“Ya Allah Kakak… Jangan teriak-teriak. Nanti di dengarkan staffnya loh.” Ucap Luna setengah berbisik. Ia raih tangan Elio untuk digandeng berjalan keluar dari resto hotel.


Menyusuri lorong demi lorong hotel dengan jalan bergandengan tangan seperti ini, membuat perasaan Elio lebih tenang. Fikiran buruk yang tadi sempat berputar-putar di kepalanya mulai menguap hilang. Beruntung resto hotel tepat berada satu lantai di atas executive floor. Sehingga keduanya memilih turun menggunakan anak tangga dari pada lift.


“Kamu udah bilang dua kali kalau yang nelfon itu founder pasifik pasifikan itu.”


“Pasific Exporia, Kakak…!” Koreksi Luna.


“Jangan ditukar-tukar atuh namanya. Kasihan masih start up company. Mereka lagi sibuk membuat company branding. Sama Kakak ditukar-tukar wae namanya.” Gadis itu menyerocos membuat Elio tersenyum.


“Jadi siapa dia…?” Tanya Elio kesal karena Luna tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


“Maksudnya siapa dia? Namanya..?”


“Hemmm…” Elio mengangguk.


“Atuhlah yang jelas kalau bertanya biar aku nggak bingung.” Sekali lagi Luna protes.


“Luna… Siapa nama orang yang menelfon kamu barusan..? Harusnya begitu cara bertanyanya.” Luna mencontohkan tanpa peduli wajah kesal Elio.


“Ini malah teriak-teriak JAWAB..! SIAPA DIA..!” Luna kembali mencontohkan cara Elio yang tadi meneriakinya. Elio akhirnya tidak tahan untuk tertawa. Istrinya itu memang pintar meluluhkan hatinya.


“Nah gitu dong. Senyum… Selain bernilai ibadah, senyum bikin Aa El jadi kasep maksimuuul. Dari tadi cemberut aja. Menakutkan tau nggak.” Luna menyeringai.


“Kamu sengaja ya muter-muter jawabnya biar aku lupa. Aku tanya sekali lagi siapa nama orang yang tadi nelfon kamu…? Jawab yang benar..!”


“Ahahaaa… Nah… Begiitu baru benar pertanyaannya.” Luna mengacungkan jempolnya.


“Namanya Mas Kean. Aku juga kurang tau nama panjangnya.” Luna mengangkat kedua pundaknya.


“Bisa gitu ya… Baru kenal sudah akrab banget. Sampai nggak sadar loh aku berdiri di samping kamu nungguin kamu nelfon sama orang itu.” Dengus Elio kesal.


“Belum akrab lah itu. Kalau akrab mah kaya aku sama Kakak begini… Tiap hari ribut tapi tiba-tiba nyosor minta makan lolipop.” Celetuk Luna.


“HEH….! Nggak ada yang boleh menyamai keakraban kita ya…! AWAS KAMU MAIN API DI BELAKANG AKU.” Sentak Elio.


“Iya… Iya… Jangan teriak-teriak ih….!”


“Mentang-mentang yang punya hotel. Jadi merasa bebas gini berteriak dimana pun.” Luna mencubit kecil lengan Elio sampai yang punya lengan mengaduh kesakitan.


“Pedih bangeet..” Elio meringis.


“Makanya jangan marah-marah terus. Heran aku, belajar dari mana sih Kakak suka marah-marah sekarang? Dulu aja sok kalem dekat Mama Papa.. Aslinya mah galak kaya satpam komplek.” Ada saja cara Luna membuat Elio tersenyum.


Tidak terasa mereka berdua sudah sampai di depan kamar. “Kakak… Masuk kamar masing-masing dulu ya…” Bisik Luna saat melihat tim house keeping menyambut mereka.


“Hemm…” Elio mengangguk.


“Jangan lupa segera buka kunci connecting room.” Titahnya. Luna mengangguk paham.


Setelah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu, Luna langsung bersandar ke daun pintu sambil memegang dadanya. Ada perasaan sakit yang dari tadi ia tahan. Rasanya ingin sekali menangis, marah, kesal semua bercampur menjadi satu. Andai saja dia tau kejadiannya akan seperti tadi, pasti gadis itu memlih berdiam diri di kamar atau jalan-jalan di mall.


“Aku tuh kenapa sih…? Kan aku yang minta Kakak merahasiakan pernikahan ini. Tapi kenapa hati aku sakit lihat Kakak berdua sama Kak Ayya di panggung tadi. Huuuft…” Luna mengehembuskan nafasnya tidak terasa air matanya menetes.


“Tapi Kakak kan yang bilang sendiri Kak Ayya akan menjadi urusan dia… Tapi kenapa semua orang malah bilang mereka pacaran sekarang. Mereka tu sebenarnya apa sih selama ini. Sahabat rasa pacar begitu…?” Lirihnya sambil terisak-isak.


“Aku… Aku…. Kenapa hati aku sakit banget. Tau jatuh cinta bikin pusing begini. Mending aku nggak usah belajar cinta -cintaan segala sama Kakak.”


Akhirnya tubuh Luna luruh. Gadis itu duduk sambil memagut lututnya. Membenamkan kepalanya yang terasa berdenyut karena menahan tangis dari tadi.


...🤧-[Bersambung]-🤧...


Monday is vote day. 🤣 Eh…