
Hari demi hari berlalu, kehidupan Luna dan Elio memasuki babak baru. Jika dulu mereka seperti memeliki magnet untuk saling menempel, maka beberapa hari ini Elio disibukkan urusan pekerjaan dan hampir sulit bertemu dengan Luna.
“Luna, seperti biasa aku pulang malam. Kamu order makan sendiri ya. Habis itu istirahat aja. Tidak usah menunggu aku pulang.”
Luna menarik nafas panjang. Jika dulu sebelum menikah dengan Elio, Luna sempat merasa insecure karena takut tidak bisa mendampingi Elio dengan baik, maka semua itu seperti terbantahkan karena mereka bisa menjalankan pernikahan dengan baik. Namun akhir-akhir ini Luna kembali khawatir karena
dia tidak bisa men-support Elio secara langsung. Andai Luna memilih mengambil jurusan ekonomi dulu, mungkin saat ini dia bisa membantu suaminya melalui masa-masa yang berat. Bukan malah membantu bisnis orang lain seperti saat ini.
“Iya Kak. Nggak usah khawatir sama aku…!”
“Hati-hati nanti pulangnya. Kalau terlelu larut, mending nginap di hotel aja.”
“Nggak lah. Aku kangen sama kamu. Lagi pula besok wiken, aku mau istirahat.”
Luna tersenyum membaca pesan itu. Sering kali saat Elio pulang larut, pria itu bukan menemuinya tapi langsung masuk ke kamar untuk menyambung pekerjaan dan meminta Luna tidur duluan. Namun saat ia terbangun di pagi hari, dia sudah berada dalam dekapan Elio.
“Wah senyum-senyum. WA dari pacar ya?” Tanya Gara. Siang ini Elen dan Kean lunch meeting dengan calon investor yang akan berinvestasi di perusahaan mereka. Sehingga hanya Luna dan Gara yang ada dalam ruangan tersebut.
“Eh… Maaf, Mas Gara.” Luna langsung meletakkan ponselnya ke dalam laci
“Santai aja. Masih jam makan siang.” Jawab Gara tersenyum. Luna mengangguk.
“Arbi bilang kamu udah menikah. Emang kamu udah nikah beneran apa kayak si Elen yang suka boongin cowok soal status pernikahannya?” Tanya Gara.
“Aku… Aku udah menikah beneran, Mas.” Jawab Luna cepat.
Gara langsung terperangah, tidak menyangka perempuan muda yang ada di depannya berstatus ‘married woman’. Tapi yang paling membuat dia tidak kalah terkejut adalah bagaimana perasaan sang kakak jika mengetahui kebenaran itu. Sudah pasti sangat kecewa apalagi Kean hampir tertutup soal wanita.
“Kamu kan belum genap 20 tahun..? Kenapa menikah semuda itu? Kamu nggak married by accident kan…?” Tuding Gara.
“Kalau aku MBA, pasti aku sudah hamil sekarang.” Jawab Luna ketus. Ini yang Luna takutkan jika pernikahannya terbongkar. Social Judgment yang dia terima, pasti akan menyakitkan hatinya.
“Sorry… Sorry… Aku nggak bermaksud menyinggung kamu. Tapi jujur aku masih heran kenapa perempuan modern dan cerdas seperti kamu mau menikah muda yang notabenenya pemikiran seperti itu sangat kolot menurutku. Asal kamu tau, di luar negeri sana, perempuan belum akan menikah kalau dia belum sukses dan selesai dengan mimpinya.” Ucap Gara menatap Luna heran.
“Harusnya diusia sekarang kamu sibuk memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, memperluas pergaulan, berorganisasi. Ya ibarat kata, ini waktunya kamu fokus menggapai mimpi. Bukan malah pusing memikirkan rumah tangga.” Sambungnya.
Luna tersenyum sinis. “Aku rasa umur bukan suatu alasan menjustifikasi seseorang sudah bersikap dewasa atau belum. Buktinya saat ini Mas Gara yang berusia lebih tua dari aku, malah bersikap childish dengan tidak menghormati keputusan hidup seseorang. Padahal secara usia harusnya Mas Gara memiliki lebih banyak psicologic experience, sehingga lebih wise dalam bersikap dari pada aku.” Gara langsung melongo mendengar jawaban Luna.
“Jika menurut Mas Gara western view menjadi patokan kemajuan cara berpikir seseorang, harusnya Mas Gara juga mengadopsi pemikiran democratic dan induvidualism, bukan berfikir holistic dengan menyeragamkan standar modern untuk menjustifikasi keputusan hidup orang lain. Itu baru adil. Tidak menggunakan standar ganda.”
“Giliran menyangkut marriage ege dianggap menikah muda kolot, tapi disaat ada orang lain yang tidak sependapat dengan pandangan pribadi, memilih menghakimi. Tidak demokratis juga termasuk kolot menurutku.” Entah kemana Luna yang biasa ramah. Luna menyerang Gara dengan kalimat yang berhasil membuat Gara bungkam.
“Lagi pula, dengan aku berada di sini sekarang, sudah cukup membuktikan aku bisa terus mengembangkan diri meskipun berstatus menikah. Aku dan suami cukup demokratis untuk setiap pilihan hidup masing-masing, asal kami bisa bertanggung jawab dengan pernikahan kami.” Nafas Luna terasa sesak saat mengucapkan kalimat panjang itu.
“Hai… Be calm, Luna… Aku benar-benar nggak berniat menyakiti kamu. Case closed ya… Aku yang salah.” Gara bangkit mendekati Luna berusaha menenangkan. Meskipun tidak merasa sepenuhnya setuju dengan pendapat Luna, Gara akhirnya tau bahwa Luna memang sangat matang dalam berfikir.
“It’s okey. Sorry aku terbawa emosi.” Ucap Luna berusaha mengatur nafasnya. Luna meninggalkan Gara, mungkin membasuh muka membuat emosinya lebih stabil.
Seharian mood Luna buruk. Perempuan itu memilih diam tidak banyak bicara. Sesekali Kean dan Elen mengajaknya bergurau namun hanya ditanggapi dingin dan senyum tipis oleh Luna. Saat jam pulang, Luna langsung pamit meninggalkan kantor, padahal biasanya Luna akan memanfaatkan waktu itu untuk berinteraksi dengan teman-temannya di front offiice.
“Lo apain dia tadi?” Tukas Kean pada sang adik.
Gara menghela nafasnya. “Biasalah beda pendapat. Bukan hal besar.” Ucapnya.
“Nggak mungkin. Dia sering digangguin Arbi tapi nggak pernah mood-nya seburuk tadi.” Kean yang merasa tidak puas dengan jawaban Gara sampai bangkit mendekati meja sang kerja sang adik.
“Lo berhenti belain dia, Mas. Asal lo tau, perempuan itu sudah menikah. Gue sudah memastikan berita itu langsung ke orangnya.” Ucapan Gara berhasil membuat Kean tersentak. Pria itu seketika seperti kehabisan kata-kata.
“Mau dia udah menikah atau belum, lo nggak berhak menyakiti dia. Kalau sampai ada apa-apa sama dia, lo berurusan sama gue.”
Kean akhirnya mengambil kunci mobil dan memilih pulang lebih awal. Elen yang menyaksikan perdebatan kakak beradik itu memilih tidak mau ikut campur. Inilah yang membuat dia malas memikirkan pernikahan. Terlalu rumit dan memusingkan. Tapi dia cukup terkejut mengetahui Luna sudah menikah diusia muda. Pilihan yang cukup berani, menurutnya.
“Luna… Ayo pindah ke kamar. Jangan di sini tidurnya. Nanti badan kamu sakit semua.” Elio menggerakkan tubuh Luna membangunkan sang istri.
Saat matanya terbuka lagi-lagi rasa pusing dan mual melanda. Luna langsung berlari ke kamar mandi dan memintahkan isi perutnya.
“Hueeek…”
“Luna… Buka pintunya, Sayang.” Elio menggedor pintu kamar mandi. Elio tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang semakin panik saat Luna terus saja berusaha memuntahkan isi perutnya.
“Aku nggak apa-apa. Kakak pakai kamar mandi lain aja.” Teriak Luna dari dalam.
“Aku bukan lagi kebelet. Aku mau ngecek kondisi kamu.” Jawab Elio.
Perlahan pintu kamar mandi terbuka. Elio yang tidak sabar langsung mendorong pintu agar terbuka seluruhnya.
“Aaak… Kakaaaak.” Luna yang terbentur pintu kamar mandi langsung berjongkok memegang kepalanya.
“Sial banget sih aku hari ini.” Perempuan itu langsung menangis. Mood-nya semakin buruk mengingat semua kesialannya hari ini.
“Ya Allah… Aku nggak sengaja. Kamu nggak apa-apa kan?”
“Mana mungkin aku nggak apa-apa. Lihat berdarah nih.” Sentak Luna melihat pelipisnya berdarah.
“Astagfirullah sampai berdarah. Maaf ya… Aku terlalu panik tadi.” Elio mengambil tisu menempelkan agar darahnya bisa berhenti mengalir.
“Ya udah ayo ke luar biar aku bantu obati luka kamu.” Elio merangkul tubuh Luna dan membantunya ke luar dari dalam kamar mandi.
Malam itu keduanya terlihat bingung. Semua gejala yang dialami Luna seperti wanita hamil. Tapi seingat Luna, dirinya tidak pernah lupa mengonsumsi morning pills setiap hari. Lagi pula Luna baru satu minggu bersih dari menstruasi, dan dia baru dua kali berhubungan dengan Elio.
“Tespack ya…?” Bujuk Elio. Luna menggelengkan kepalanya dan memilih menangis.
Elio merapatkan tubuh mereka, mendekap Luna dalam pelukannnya.
“Jangan gitu. Kalau pun hamil, tandanya Allah sudah percaya sama kita. Kita nggak boleh menolak rejeki kan…?”
“Aku belum siap hamil.” Lirih Luna menenggelamkan wajahnya pada tubuh Elio.
“Tapi kalau Allah bilang kita sudah siap, gimana?” Tanya Elio. Entah kenapa perasaannya justru senang membayangkan jika Luna benar-benar hamil.
“Allah tidak akan kasih kepercayaan pada kita kalau memang kitanya belum siap. Jadi harus bijak menerima amanah.”
Luna menarik nafasnya dalam-dalam. Semua yang dikatakan Elio memang benar, tapi dimana-mana praktek tidak akan semudah teori.
“Memangnya kenapa kamu belum siap?”
“Tadi aja Mas Gara sampai merendahkan aku karena menurut dia menikah muda itu kolot.” Lirih Luna.
“Oh ya? Terus kamu jawab apa?” Sambil mengembangkan senyum, diusapnya air mata Luna dengan ibu jarinya.
“Aku jawab aja dia yang kolot karena cuma mengambil western view dari marriege ege, tapi tidak mampu bersikap demokratis dalam berpikir. Wajah aja yang bule, tapi cara berpikir sempit.” Masih dengan emosi yang membuncah, Luna menjawab berapi-api.
“Nah itu pinter.” Elio terbahak. Luna dilawan. Soal berdebat, mantan adik yang sudah berstatus istrinya itu memang jago. Luna suka membaca buku. Bahkan perempuan itu bisa menamatkan buku apa saja di luar bidang yang dia tekuni.
Jika dipikir-pikir saat sedang berdebat seperti ini, Luna memang titisan Renata. Seketika mereka bisa berubah menjadi ‘singa buas’ jika merasa kelangsungan hidupnya terancam. Elio suka bahkan memandang sang istri penuh kekaguman.
“Bundamu pintar ya, Nak.” Elio mengusap lembut perut Luna. Meskipun belum terbukti hamil, Elio menjalanlan peran bak calon ayah sungguhan.
...😊-[Bersambung]-😊...
Voteeeeee jangan lupa. Ramaikan dengan komen ☺️☺️☺️