
Elio POV
“Udah belum…?” Teriakku gusar.
Huuuuft… Aku fikir aku akan mendapatkan durian runtuh sore ini. Tapi ternayata dia memintaku untuk menemaninya mandi sambil mengikat sapu tangan di mataku.
“Sebentar lagi. Aku pakai baju dulu…”
“Jangan lama-lama. Nanti aku buka penutup matanya nih…” Ancamku.
Duh… Gemercik air dan aroma sabun saja sudah membuatku on begini, bagaimana kalau sapu tangan sialan ini aku lepas saja? Huuft aku hanya bisa menghebuskan nafas kasar.
“JANGAAN…!”
“Kalau Kakak buka aku nggak mau ikut Kakak nanti malam. Aku mau jalan-jalan aja ke Mall.” Ancamnya.
Hadeuuuh… Kalau begini ceritanya aku yang sial. Semacam ujian iman padahal sudah halal. Boro-boro bisa disentuh, dilihat saja tidak bisa.
Setelah dia menyelesaikan mandinya, barulah aku bergantian mandi. Saat aku selesai mengganti pakaian, aku langsung menuju ruang utama. Aku lihat Luna sudah rapi menggunakan dress milik Bunda. Untuk kedua kalinya aku tercenung seperti terbawa ke belasan tahun silam.
“Bunda…” Lirihku nyaris tidak terdengar. Luna langsung berbalik badan. Ia seperti salah tingkah karena melhatku menatapnya sendu.
“Kamu cantik mirip Bunda dulu.” Aku akhirnya tersenyum memecah canggung di antara kami.
Midi dress selutut berlengan panjang ini terlihat old school tapi sangat pas ditubuh Luna. Jika biasanya dia terlihat seperti anak SMA jika menggunakan rok, tapi kali ini berbeda. Luna seperti gadis dewasa yang feminin, anggun dan berkarakter.
“Kamu mau pakai sneakers?” Tanyaku heran saat dia berjongkok mengambil sepatu putihnya
“Aku cuma bawa sneakers ke sini.” Jawabnya sambil berjongkok memasang simpul tali sepatu kanan dan kiri bergantian.
“Lagian sepatu aku warnanya putih. Jadi pasti OOTD aku kece banget nanti.” Dia semringah seperti membayangkan sesuatu.
Anak ini benar-benar suka menabrak pakem yang ada. Tapi setelah semua terpasang ternyata fashionnya jauh dari kata jadul. Tas rajut kecil berwana putih tulang yang ia selempangkan menyilang ditubuhnya, berhasil membuat otfitnya kesan santai. Belum lagi make up flawless dengan blush on dominan peach membuat tampilannya stay straight pada karakternya yang cheerfull.
“Udah mau berangkat belum Kak?” Tanyanya.
“Aku sholat maghrib dulu.” Sholat tidak boleh ditinggalkan. Apalagi dalam masa menguji iman dan imun seperti ini aku harus tetap waras. Minimal sampai malam nanti saat semua hasrat bisa aku tuntaskan.
“Aduuh… Ngapain aja Kakak dari tadi lama banget di kamar mandi. Aku keringatan lagi nih cuma nungguin Kakak siap-siap dari tadi.” Amuknya.
“Aku mandi lah. Ngapain lagi.” Pakai ditanya lagi ngapain di kamar mandi.
Berbicara dengan Luna memang tidak ada habisnya. Kami bisa membicarakan dan berdebat tentang apa saja bahkan sampai lupa waktu. Bersama Luna aku tidak pernah merasa malas bicara. Malah justru sebaliknya, aku terbawa menjadi sosok sanguinis yang suka bercerita.
Tapi entah kenapa aku tidak punya keberanian memulai cerita tentang Kahanayya. Aku tidak sanggup mengatakan betapa rumitnya semua ini karena gosip yang terlanjur berkembang tanpa berhasil aku redam. Aku merasa belum bertemu waktu yang pas untuk menjelaskan pada perempuan yang sudah menjadi istriku ini. Hanya karena satu hal, aku takut Luna kecewa dan memilih menjauh. I just wanna be her Iron Man until forever.
Malam itu aku membawa Luna ke resto hotel. Malam ini ada penutupan audit. Semua staff yang terlihat sudah berkumpul. Terdengar bisik-bisik staff yang membicarakan sosok Luna yang cantik dan memukau. Bahkan staff pria tampak tidak lepas menatap istriku. Sialan… Apa mata mereka tidak disekolahkan? Tidak bisa menahan mata sedikit saja.
“Adik kamu El…?” Farel, manager HR menyapaku.
Aku mengangguk tanpa suara, aku lihat Luna tersenyum lega melihat jawabanku. Sepertinya semua sudah tahu Luna adalah adikku tanpa aku jelaskan. Mungkin karena kejadian di lobby siang tadi membuat mereka cukup yakin Luna memang lah adikku.
“Duduk di sofa itu aja ya Kak.” Tunjuknya, dia sengaja memilih kursi di sofa di sisi samping cafe agak kebelakang. Area dekat sana memang dibatasi dinding kaca sehingga bisa melihat ke arah luar.
“Hemmm boleh. Tapi nanti aku tinggal sebentar untuk memberi sambutan. Nggak masalah kan?” Harus ditanyakan agar tidak merasa diabaikan.
“Iya santai udah biasa… Aku tau Kakak aku orang sibuk, jadi maklum kalau suka ditinggal-tinggal.” Jawabnya. Aku terkekeh. Apa itu jeritan hati istri yang sering ditinggal dinas suami.
Beberapa staff ada yang membawa keluarganya. It’s okey free of charge untuk menikmati hidangan disni. Ini wujud terima kasih karena telah berdedikasi pada perusahaan. Karena di dalam perjuangan mereka ada keluarga yang mendukung agar mereka bisa bekerja prima.
“Sekarang mari kita dengarkan sambutan Bapak Elio Ukasyah Akandra, selaku GM Elio Hotel.” Ucap MC yang memang sengaja didatangkan dari ibukota. Aku bangkit dari duduk dan berjalan ke arah panggung depan.
“Selamat malam. Assalamu’alaikum…”
“Malam hari ini saya bisa melihat kelegaan dari wajah teman-teman semua. Begitu pun saya. Rasanya lelah dan penat yang kita pikul selama tiga minggu ini, telah terbayar dengan hasil yang memuaskan.”
“Singkatnya. Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk waktu, tenaga dan pengorbanan kalian semua untuk perusahaan ini.”
“Saya harap Elios Hotel bukan hanya menjadi tempat bekerja mencari nafkah, tapi tempat yang menyenangkan bagi kita semua. Seperti visi perusahaan ini, provide the most comfortable and memorable place for you.”
Semua bertepuk tangan. Kemampuan kata-kata memang luar biasa. Aku lihat semua mengangguk dan tersenyum. Aku ingat betul ayah pernah mengatakan penghargaan seseorang tidak cukup dibayar dengan materi, tapi yang diutamakan adalah ucapan terima kasih dan pujian.
Sesuai dengan rencanaku malam ini, akan ada pemotongan tumpeng. Ini seperti syukuran setelah perjuangan di medan perang. Tim koki tampak sibuk di kiri panggung, hingga akhirnya Ayya datang bersama seorang koki yang mendorong service cart trolley yang sudah tersedia tumpeng besar di atasnya.
Di luar dugaanku, semua langsung riuh bahkan memberikan suitan dari jauh.
“Cieee Mas El dan Chef Hana… Pasangan baru kita.” Farel, yang merupakan temanku dulu di Aussie, tiba-tiba bersuara. Dia memang suka asal-asalan kalau bicara.
“Ternyata acara ini adalah acara syukuran audit sekali gus syukuran jadiannya Chef Hana dengan Mas Elio ya..?” Disusul beberapa kalimat senada membuatku semakin panik.
“Tepuk tangan untuk pasangan baru.” Bahkan MC pun terpancing. Semua tampak berdiri dan bertepuk tangan.
“Semoga langgeng sampai pelaminan. Sudah ada tanggal acaranya belum…?” Tanya MC pada Ayya. Aku lihat Ayya tersenyum menggeleng. Sedangkan hanya bisa mngepalkan tangan berusaha tidak terpancing.
Aku lihat Luna ikut berdiri seperti yang lain, tapi wajahnya tampak bingung melirik orang-orang di sekitarnya. Bahkan untuk mehilangkan rasa canggung, Luna ikut bertepuk tangan diiringi senyum yang dipaksakan.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan acara ini. Bahkan saat MC mempersilakanku untuk memotong tumpeng, aku justru melangkah meninggalkan panggung tapi tanganku dicekal oleh Ayya.
“Lepas Ya…!”
“Potong dulu tumpengnya El…! Semua nungguin kamu.” Bisiknya.
Aku lihat semua seperti antusias menungguku memotong tumpeng. Akhirnya mau tidak mau aku lanjutkan dengan memotong tumpeng dan meletakkan potongan pertama ke piring kecil.
“Yeeee…. Tumpeng pertama untuk siapa kah kira-kira?” Tanya MC pada audience.
“Hana… Hana… Hana… Hana…” Semua bersorak menyebut nama Ayya.
Sial… Situasi seperti ini aku harus apa? Kenapa terasa seperti perangkap yang siap menjeratku kapan saja.
Aku lihat Luna, istriku. Dia mengangguk lemah mengisyaratkan aku boleh melakukan itu. Tapi aku tau, mata sendunya berkata lain. Hingga akhirnya aku lihat Om Rian menghampiri Luna dan mengajaknya duduk.
“Ini..” Aku kasih piring itu ke Ayya.
Barulah keriuhan diakhiri dengan tepuk tangan para staff. Potongan tumpeng selanjutnya aku berikan pada beberapa staff senior yang sudah berkontribusi belasan tahun di hotel ini.
Dan selama proses pemotongan tumpeng ini, jangan tanya perasaanku. Untuk pertama kali ya dalam hidup aku merasa menjadi manusia bodoh.
Apa saja yang aku lakukan dengan Luna dari tadi? Kenapa waktu yang ada tidak aku pergunakan untuk menjelaskan padanya situasi yang rumit ini. Sekarang aku harus bagaimana? Menunggu Luna berkata kecewa padaku? Dia tidak harus mengatakannya karena aku tau dalam hatinya sudah tidak ada lagi rasa percaya padaku.
...🤧-[Bersambung]-🤧...