My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Akad Nikah Elio & Luna



“Masyaallah… Gue terharu gini. Lo cantik banget Lunaaaa…” Alea yang baru melihat sahabatnya dirias bak ratu sejagat versi syariah langsung memeluk erat sampai sesak.


“Gue sampai nggak ngenalin elo loh.” Tidak terasa air matanya menetes haru menucapkan itu.


“Kok lo nangis sih? Lo lagi takjub apa ketakutan sih?” Seloroh Luna.


“Ih gue serius, Luna. Baru kemaren kita masuk SMA bareng. Sekarang udah mau nikah aja lo. Gue pasti kehilangan teman terbaik.” Isak Alea.


“Apa sih… Lo jangan bikin gue nangis dong. Ntar make up gue hancur. Gagal jadi ratu.” Luna mengurai pelukannya sambil tersenyum sendu.


Tias yang baru masuk lagi ke dalam kamar langsung terperanjat melihat Luna yang ternyata sudah selesai disulap sama mbak MUA.


“Ya Alaah Gusti… Meni geulis pisan ponakan aku.”Tias yang heboh di kamar Luna membuat semua orang mengintip ke dalam.


“Eh tapi lipstiknya kurang cetar itu. Merahin lagi bisa nggak?” Beberapa orang mengomentari make up Luna yang katanya pucat.


“NGGAK MAU…! Ntar ketuker sama ondel-ondel merah Bang Jali.” Pekik Luna. Dan langsung mendapat gelak tawa dari keluarga besarnya.


Para laki-laki yang baru pulang melaksanakan sholat Jumat di masjid depan akhirnya kembali ke apartemen dengan berjalan kaki.


“Ya Allah… Anak Papa… Jadi sedih gini harus ngasih ke orang lain. Ya walaupun ke anak sendiri sih.” Gilang masih menggelang-geleng tidak percaya hari ini dia akan menikahkan putri satu-satunya.


“Papa…” Rengek Luna langsung menghambur ke pelukan Papanya.


“Udah-udah… Nanti aja nangisnya. Sekarang Papa siap-siap gih. Elio katanya habis sholat jumat langsung ke tempat.” Ucap Renata.


“Iya… Papa mau ganti pakaian dulu.”


Gilang akhirnya masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian, sedangkan beberapa orang keluarga ada yang sudah berangkat duluan.


“Ini kenapa bisa pindah sih lokasi nikahnya, Teh? Katanya kemaren di Elios Hotel.” Tanya Tias penasaran.


Renata mengedikkan bahunya. “Nggak tau tuh… Urusan anak-anak. Mau nikah backstreet kaya di novel-novel ceunah.” Jawab Renata sambil melirik Luna penuh arti.


“Hadeuuuh… Ada-ada aja.”


“Udah siap semua kan? Yuk berangkat…” Ajak Gilang yang sudah gagah dengan beskapnya.


Ahirnya mereka turun ke lantai satu. Elio sudah menyewa satu room meeting yang cukup luas di aparartemen itu. Ruangan itu biasanya disewakan pengelola untuk private meeting bagi penghuni apartemen. Tapi khusus hari ini ruangan dengan tampilan cozy modern itu telah disulap oleh WO menjadi home party view dengan konsep simple wedding decoration khusus untuk pernikahan Elio dan Luna.


Tamu undangan yang memang tidak banyak dan di dominasi keluarga besar Luna tentu sangat cukup ditempung di rungan itu. Semua kebagian tempat duduk. Makanan juga sangat berlimpah dan enak.



“El… Kamu sendiri?” Om Teguh melihat seluruh ruangan hanya diisi oleh team WO saja.


“Keluargamu mana? Belum datang ya?” Tanyanya kebingungan. Selama ini ia tidak tahu kalau hubungan Elio dengan keluarganya tidak baik.


El hanya tersenyum pias dan melirik ke arah Renata dan Gilang. “Maaf Pa…”


“Udah… Kan kita keluarga kamu El. Jangan sedih lagi.” Elio mengangguk.


“Yuk… Itu penghulunya sudah datang.” Gilang merangkul anak laki-lakinya itu untuk duduk di meja akad nikah.


“Nah… itu Luna udah datang.” Salah seorang kerabat bersuara. Sontak Elio langsung memalingkan wajah ke arah pintu melihat sang calon istri. Perasaan sendunya langsung menghangat. Masyaallah cantik sekali gadis bakal istrinya itu. Lelahnya dua minggu ini terbayar melihat senyum Luna dari kejauhan.


Luna yang masuk ke dalam ruangan langsung terkejut, meskipun serba dadakan semua terlihat seperti penuh perisapan. Bahkan sesekali ia mendongak memperhatikan dekorasi yang indah dipandang mata.


Ia melirik ke arah meja akad yang sudah duduk seorang penghulu, dua orang saksi yang ternyata adalah Langit, dan yang satu lagi Om Teguh serta sang Papa sebagai wali. Tiba-tiba saja detak jantung Luna bergemuruh. Perniakahan sudah di depan mata.


“Duduk di sebelah pengantin pria atau disini sama Mamanya Mbak?” Ucap seorang staff WO.


“Disini aja. Nanti setelah akad ke depan.” Ucap Luna, yang sebenarnya gugup jika harus duduk bersama para laki-laki di depan.


“Bagaimana? Apa akad nikahnya sudah bisa kita mulai?” Tanya Pak Saleh, yang menjadi penghulu nikah hari ini. Elio, Gilang, Langit dan Om Teguh serentak mengangguk siap.


“Sekarang, mohon di cek sekali lagi data saksi ya. Apa sudah benar?” Penghulu mengulurkan kertas ke hadapan Langit dan Om Teguh, dan dijawab anggukan oleh keduanya tanda semua data mereka sudah benar.


“Jika sudah, silahkan tanda tangan di bagian sini.” Pak Saleh memberikan arahan.


“Sebelum acara inti, nanti saya bacakan ayat suci Al-Quran, dilanjut khotbah singkat dari saya, barulah ijab qabul atau akad nikah dan terakhir pembacaan Sighat Ta’liq jika pengantin berkenan, setelah itu baru saya serahkan acara pada panitia acara. Begitu ya?” Lagi-lagi Elio menagngguk.


Jantungnya sudah berasa akan copot saat itu juga. Kenapa rangkaian itu seperti akan berjalan lebih dari satu hari rasanya.


Setelah mendapat persetujuan, Penghulu mengucapkan basamallah lalu mulai melantunkan ayat suci al-quran surat Ar-Rum ayat 21 dengan suara merdunya.


“Artinya Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. Maha Benar Allah dengan segala isinya.”


Pak Saleh menutup mushaf Al-Quran dan mulai mengkat kembali kepalanya.


“Nak Elio dan Nak Luna, izinkan saya memberikan sebuah kado pernikahan di awal dalam bentuk tausiyah. Beberapa hal yang harus ananda perhatikan setelah menikah antara lain sebagai berikut. Pertama, pernikahan adalah ibadah, bukan hanya perayaan cinta saja. Oleh karena itu menjadi sangat penting bahwa sejak dari niatnya Ananda berdua harus selalu meletakkan peristiwa ini sebagai wujud pelaksanaan ketaatan kalian kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Jadi di dalam pernikahan ini ada sebuah amanah, langsung dari Allah dan Rasul-Nya.”


“Tekadkanlah dalam hati Ananda berdua, sejak dari awalnya, untuk menjaga amanah ini hingga akhir hayatmu nanti. Ini menjadi amat penting dalam proses kehidupan Ananda berdua selanjutnya. Karena dengan menempatkan niat dan tekad itu, semoga kiranya Allah SWT selalu berkenan hadir dalam kehidupan Ananda selanjutnya, baik dikala gembira maupun di saat duka.”


“Kedua, pernikahan adalah jalinan kasih-sayang dua insan yang dengan ketulusan hati berkeinginan untuk saling memberikan yang terbaik untuk kebahagian bersama. Al-Qur’an mengajarkan kepada kita semua bahwa melalui pernikahan seharusnyalah terwujud suasana kasih sayang, sebuah kebahagiaan, sebuah oase surgawi di dunia.”


“Ingatlah selalu bahwa salah satu fungsi pasangan suami-isteri menurut al-Qur’an QS al-Baqarah ayat 187 adalah seperti pakaian. Fungsi pakaian selain untuk mewujudkan keindahan adalah juga untuk menutupi aurat, maka suami isteri harus saling menutupi kelemahan pasangannya. Seandainya kalian melihat kelemahan pada pasangan kalian, maka berdo’alah agar di balik kelemahan itu terdapat kebaikan yang tidak terduga.”


“Terakhir dari saya, hal ini teramat penting untuk selalu diingat, karena kalian memunyai karakteristik sendiri-sendiri yang unik, lengkap dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing yang melalui pernikahan ini hendak dipersatukan dalam sebuah rumah tangga. Konsekuensinya adalah bahwa kesalahpahaman adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena itu membuka pintu kemaafan adalah salah satu resep abadi dan ampuh dalam membangun rumah tangga bahagia. Lebih dari itu, kemaafan adalah jalan menuju taqwa, dan kemaafan itu lebih dekat kepada taqwa. Sampai disini mengerti ya Nak Elio” Tanya Pak Saleh.


“Mengerti Pak Insyaallah. Terima kasih tausiahnya.”


“Nak Luna?”


Luna hanya mengangguk dengan senyum tipis yang dipaksakan. Rasa gugupnya terlalu besar dan tidak bisa ia sembunyikan


“Kalau begitu, sekian khutbah dari saya, kita akan lanjutkan pada acara inti.” Ucap Pak Saleh memandang ke arah Elio.


“Acara yang ditunggu-tunggu Nak Elio. Karena sepertinya tangannya sudah mulai tremor.” Selorohnya, langsung mengundang gelak tawa semua orang.


“Sebelum akad nikah kita langsungkan, izinkan saya bertanya pada Nak Luna, Apakah Saudari Athanya Luna Gemilang iklhas dinikahkan dengan Saudara Elio Ukasyah Akandra?” Pak Saleh melirik ke arah Luna yang terlihat gugup meremas gaun nikahnya.


“Insyaalah.” Jawab Luna lirih.


“Baik, silakan Bapak Gilang membaca ijab qabul, langsung dijawab oleh mempelai pria tanpa ada jeda dan dalam satu tarikan nafas.”


Gilang yang tadi santai mulai terasa gugup, dengan satu tarikan nafas panjang, ia mulai menjabat tangan anak angkat yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.


“Bismillahirahmanirrahim. Anakku Elio Ukasyah Akandra bin Givan Akandra, aku nikah dan kawinkan engkau dengan putri kandungku Athanya Luna Gemilang binti Gilang Aditiayudha dengan mas kawin 7% saham Elios Group, satu set perhiasan emas seberat 77 gram, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Athanya Luna Gemilang binti Gilang Aditiayudha dengan maskawin tersebut dibayar tunai.”


Semua terbelalak, bahkan saat penghulu bertanya “Bagaimana saksi? Sah?” Om Rian dan Langit sepontan menjawab Sah dengan cepat dan berulang. Saham Elios Grup 7%? Apa tidak salah? Bagaimana cara menghitungnya saja mereka tidak tahu.


“Alhamdulillahiranbil’alamiin. Baarakallahu lakuma wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir. Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”


“Sekarang ananda berdua duah resmi menjadi sepasang suami istri. Alhamdulillah barakallah…” Simpul Pak Saleh.


“Silakan Nak Elio, bawa istrinya kesini.” Elio bangkit dari duduknya dan menjemput Luna di belakang.


Tangan Elio terulur tepat di depan Luna, tapi Luna justru ragu memegangnya. Gadis itu tertunduk malu. Ah… dari kapan dia malu-malu dengan Elio? Tidak menyangka ternyata menikah membuatnya merasa canggung seperti ini.


Mereka akhirnya duduk bersebelahan dan mulai menandatangani buku nikah dan dokumen pernikahan lainnya.


“Selanjutnya adalah pembacaan Sighat Ta’liq. Ini bukan bagian dari rukun nikah, jadi kami serahkan pada pengantin wanita, apakah mau mendengarkan suaminya mengikrarkan secara lisan?”


Luna mengangguk. Elio mengambil buku nikahnya dan membalik ke halaman belakang. Ia genggam tangan Luna dengan tangan kirinya yang ternyata sudah berkeringat dingin.


“Bismillahirrahmanirrahim. Saya Elio Ukasyah Akandra bin Givan Akandra berjanji dengan sesungguh hati bahwa saya akan mempergauli istri saya yang bernama Athanya Luna Gemilang binti Gilang Aditiayudha dengan baik atau mu’asyarah bil ma’ruf menurut ajaran Islam.”


“Kepada istri saya tersebut, saya menyatakan sighat ta’lik sebagai berikut. Apabila saya, meninggalkan istri saya selama dua tahun berturut-turut, tidak memberi nafkah wajib kepadanya tiga bulan lamanya Menyakiti badan atau jasmani istri saya, dan membiarkan atau tidak memperdulikan istri saya selama 6 enam bulan atau lebih, dan karena perbuatan saya tersebut, istri saya tidak ridho dan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama, maka apabila gugatannya diterima oleh Pengadilan tersebut kemudian istri saya membayar uang sebesar Rp. 10,000,- sebagai ‘iwadl atau pengganti kepada saya, maka jatuhlah talak saya satu kepadanya.”


“Kepada Pengadilan Agama saya memberikan kuasa untuk menerima uang ‘iwadl atau pengganti tersebut dan menyerahkannya kepada Badan Amil Zakat Nasional setempat untuk keperluan ibadah sosial.”


“Jakarta, 21 Desember 2018, tertanda Elio Ukasyah Akandra.”


Luna meneteskan air matanya. Ternayata menjalani akad nikah seperti ini membuat perasaannya haru tidak terkendali.


Ia meraup tangan kanan Elio meletakkan pada keningnya, lalu berganti mencium punggung tangan pria yang sudah sah menjadi suaminya. Disaat Luna ingin mengangkat kepalanya, tangan kiri Elio terulur memegang pucuk kepala Luna, sedangkan yang satunya terangkat untuk berdoa.


“Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih. Amiin.”


Elio merangkum wajah cantik Luna untuk mengecup pucuk kepala gadis itu.


Cup…!


Ruangan langsung bergemuruh. Apalagi saat foto grafer mengarahkan mereka untuk diam dalam posisi itu beberapa detik.


“Tahan… Yak…” Salah seorang fotografer mengarahkan.


“Satu… Dua… Tiga…” Kilatan kamera hadir dimana-mana.


“Sekali lagi… Satu… dua… tiga…” Kembali kilatan muncul bahkan kali ini lebih banyak dan sering.


Luna yang takut dengan takut dengan kilatan yang begitu terang langsung memejamkan matanya kuat-kuat lalu menunduk ketakutan.


“It’s okey my wifey.” Bisiknya merengkuh tubuh Luna mencari kesempatan.


Pinter banget sih kamu.


...🥲-[Bersambung]-🥲...


Nitizen : Alhamdulillaaaah saaaah….


Author : Percayalah aku sampai baca lagi buku rukun nikah. Jadilah sepanjang ini. Aku ngantuk butuh kopi. *kode keras


Elio & Luna : Bilangin nitijen dong thor. Jangan ganggu kami… Mau bobo… Ngantuks…


Typo entaran lah ya di revisi.