My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Paket Komplit



Ini adalah hari ketiga Luna mengendarai Bee ke Pasific Exporia. Semenjak Elio meminta haknya pagi itu, Luna mendapatkan surat izin mengemudi Bee melintasi batas provinsi Jakarta dari Elio.


“Aaaaaaa… aku nggak enak banget sama mereka kalau terlambat seperti ini.” Luna melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit.


“Kakak sih… Dibilang udahan juga, masih aja minta lagi. Padahal janjinya cuma satu kali, ini sampai mau tiga kali.” Luna merajuk pagi itu. Semalam saja Elio nyaris pingsan karena sakit, tapi pagi harinya sudah meminta haknya berkali-kali.


“Ya udah kamu bilang aja macet nanti.”


“Nggak bisa gitu Kakak. Musti profesional. Mas Kean aja berangkat pagi banget dari Tomang ke Bekasi demi menghindari macet dan datang ontime.” Keluh Luna menyisir rambut basahnya secera cepat.


“Yaudah maunya gimana sekarang? Aku anter?” Elio jadi ikutan panik melihat Luna yang hilir mudik mengambil perkakasnya sambil terus mengomel.


“Aku mau berangkat pakai Bee. Pokoknya nggak boleh bilang nggak. Ini salah Kakak.” Desak Luna.


Elio menarik napas panjang. Salah dia memang tidak bisa manahan diri. Diliriknya Luna beberapa kali seperti mencoba yakin Luna bisa berkendara dengan aman selama di jalan.


“Yaudah… Jangan ngebut.”


“Yeees…” Luna berhambur mengecup punggung tangan lalu beralih ke pipinya.


“Daaah… Aku pamit ya. Assalamu’alaikum.”


“Hemmm Wa’alaikumussam.” Elio menggelengkan kepala melihat tingkah Luna yang bisa kembali pada mode bocah. Jadilah setelah hari itu Luna bisa dengan bebas pulang pergi dengan skuter kuning kesayangannya itu.


Perjalanan dari Kelapa Gading ke Harapan Indah dengan Bee hanya butuh 25 sampai 30 menit. Macet separah apa pun tidak berpengaruh besar karena Bee bisa menyalip dengan handal.


“Loh ini punya kamu toh? Aku fikir punya Gebby anak finance. Dia juga punya sticker club seperti ini.” Tanya Elen yang baru datang bersama Gara dan Kean.


“Haha Iya Mba Elen. Bee punya aku. Aku dan Mbak Gebby memang satu club skuter. Tapi punya Mbak Gebby jenis skuternya lebih classic.” Luna mengusap bangga Bee miliknya.


“Bee..? Lebah…?” Tanya Gara dengan dahi berkerut.


“Nama skuter aku Bumblebee, Mas Gara.” Gara tersenyum. Perempuan ini memang out of the box memang.


“Kamu keeatif juga ya. Saya baru tau Bumblebee sekarang bisa bertranformasi jadi Vespa macam ini.” Ucap Kean memperhatikan bagian body skuter.


“Kreatif?” Luna sedikit berfikir. Sampai di sadar yang Kean maksud adalah sticker robot dalam serial transformers yang menjadi inspirasi nama skuternya.


“Sepertinya kalau Marvel Comics tau ada skuter keren seperti ini, mereka akan buatkan cerita versi kamu dan Bee. Pasti menarik…” Ucap Kean. Luna terterkekeh mengingat hayalan Kean terlalu tinggi.


“Uhuk…Uhuk…”


Gara terbatuk mendengar gurauan sang Kakak. Sedangkan Elen meninggikan sebelah alisnya. Semakin kesini Kean semakin menunjukkan ketertarikannya pada Luna. Menyadari Gara dan Elen menatap aneh padanya, Kean langsung mengalihkan pembicaraan.


“Ehm… Pagi ini kamu jadi presentasi project charter kan, Luna?” Tanya Kean.


“Jadi Mas. Aku minta waktunya 1 jam ya Mba Elen dan Mas Gara. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan.” Elen mengangguk cepat sambil tersenyum menggandeng Luna ke dalam ruang meeting. Perempuan itu tidak sabar melihat rancangan Luna dalam 3D version yang sempat ia intip beberapa hari yang lalu.


“Berikut previewnya, sedikit berbeda dari proposal awal saat sayembara karena kali ini secara dimensi lebih akurat.” Luna menampilkan design yang dibuat dengan aplikasi Planner 5D MOD.


“Huuu… Keren banget.” Elen berteriak sambil bertepuk tangan.


“Sumpah gue suka banget. Ini persis kaya kantor-kantor futuristik yang instgramable itu loh.” Sambung Elen. Sebegai satu-satunya perempuan diantara mereka bertiga, Elen memang paling antusias jika sudah membicarakan desain kantor.


“Cuma aku harus memberikan opsi pada proposal kali ini. Ada tiga opsi yang erat kaitannya dengan budget structure.” Jelas Luna.


Jika Gara dan Elen fokus pada bahan presentasi Luna, tidak dengan Kean. Pria itu terpukau dengan kecerdasan sekaligus kecantikan Luna. Kean semakin yakin usia memang bukan alasan membuat seseorang terlihat matang. Jadi jika dia punya kesempatan menjadikan Luna pendamping hidupnya tidak akan membuat komunikasi mereka terhambat usia.


“Gue sih oke dengan opsi tiga. Empat belas juta tapi worth it.” Elen memberikan pendapat. Gambar ke tiga yang disajikan Luna memang terlihat lebih futuristik.


“Eeeh… Jangan buru-buru gitu. Gue harus hitung-hitungan dulu. Mau empat belas juta atau empat ratus juta tetap duit, Elen.” Gara langsung protes karena Elen terkesan gegabah dalam mengambil keputusan.


“Hemmm… Yaudah… Hitung aja dulu. Sambil kita dengar pendapatan Mas Boss.” Elen melempar pandangannya ke Kean. Ternyata pria itu justru fokus melihat Luna yang menunggu keputusan mereka.


“Mas…” Elen menggerakkan tangannya agar sikunya bisa menyentuh lengan Kean. Kean langsung tersadar.


“Eeh… Gue setuju.”


“APANYAAA?” Tanya Gara dan Elen serentak sedikit kesal karena Kean terlihat kurang fokus.


“Pilihan kalian. Gue ikut saja. Secara konsep gue suka ketiga opsi. Lagi pula Luna dan Arbi pasti sudah memilihkan the best three choices untuk kita. Tinggal keputusannya ada pada kita.” Meskipun tergagap Kean bisa tetap terlihat berwibawa.


“But for helicopter view, gue butuh financial consideration. Lo coba hitung lagi, Gar?”


“Udah nih. Masih masuk budget. Kita masih kasih allowance 7% dari total cost untuk office construction.” Jawab Gara sambil mengotak-atik excel pada laptopnya.


“Good… Cost of change acceptable berarti ya..?” Tanya Kean. Gara mengangguk membenarkan.


“Ya sudah kalau gitu gue pilih opsi tiga… Bungkus nih?” Tawar Kean.


“BUNGKUS DOOONG…” Elen tersenyum puas. Dia bangkit dan memeluk Luna.


“Thank you… You make one of my dream comes true, Luna.” Elen tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Bisnis kecil yang ia dirikan bersama Kean dan Gara sedikit demi sedikit memberikan hasil. Mereka segera akan memiliki kantor yang layak dan juga nyaman.


Sejak hari itu Luna menjadi lebih sibuk di Pasific Exporia. Setiap kali ke kantor dia akan lebih banyak bertemu dengan Arbi dan juga pekerja dari Arbista. Dari mulai mengunjungi furniture marketplace di Alam Sutera untuk memilih furniture yang akan mereka gunakan, hingga mengontrol pekerja yang mulai menggarap pekerjaan di ruko berlantai empat itu.


“Kamu tau nggak, aku mengajukan proposal sampai 3 kali nggak satu pun di approved sama mereka. Eh malah buka sayembara untuk desain.” Keluh Arbis saat mereka mengontrol pekerja di lantai empat.


“Oh ya? Tiga kali?” Luna sedikit tidak percaya.


“Nyaris empat kali malah. Dari yang paling ekonomis sampai yang nilainya em-eman, semua ditolak mentah-mentah. Ternyata cocoknya sama desain level mahasiswa dengan budget seharga renovasi kamar buatan kamu.” Arbi terkekeh merasa kalah saing dengan Luna.


“Honestly, awalnya aku sempat underestimate kemampuan kamu, Luna. Tapi semakin kesini aku semakin yakin kamu ternyata kompeten dan luar biasa malah. Ibarat makanan, kamu itu paket komplit.”


Luna mengerutkan dahi. “Paket komplit gimana? Aku cuma ditunjuk menjadi project designer. Mas Arbi dan tim Arbista sebagai architect execusion-nya. Ibarat kata aku hanya orang yang menjembatani Mas Arbi dengan Pasific Exporia.”


“Bukan itu. Kamu ibarat nasi goreng itu paket spesial pakai telor ceplok, ayam goreng, acar plus bawang goreng. Udah lah pintar, humble, pekerja keras, cantik lagi.” Puji Arbi.


“Btw udah punya pacar belum, Luna?” Tanya Arbi. Luna terbelalak mendapatkan pertanyaan seperti itu.


“Aku sudah menikah, Mas Arbi.” Luna menunjukkan tangan kanan kanannya yang telah melingkar cincin pada jari manisnya.


“Uhuk… Uhuk….” Terdengar suara batuk dari ambang pintu. Keduanya menoleh bersamaan. Siapakah gerangan.


...🙃-[Bersambung]-🙃...


Nah siapa kang nguping?


Btw yang masih tersedia vote juga boleh lempar ke Luna.