My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Striker Pemula



Elio POV


Mendapatkan maaf dari Luna adalah sebuah kelegaan dalam hatiku. She is such a kind person. Dia memang mudah sekali memaafkan orang lain meskipun aku yakin dia tidak mudah melupakan kesalahanku.


Tidak pernah terlintas dalam fikiranku kesalahpahaman pertama di antara kami setelah tiga minggu menikah dikarenakan masalah orang ketiga. Huft… Damn… Ini benar-benar merusak moodku sepanjang malam ini.


Sampai sekarang aku mengetahui dasar pernikahan kami sebagai sepasang suami istri belum kuat. Selain sampai saat ini aku belum memiliki Luna seutuhnya, pernikahan ini seperti pernikahan mainan, disembunyikan dari semua orang. Dengan seperti ini, aku tidak punya bargaining power untuk menjaga keutuhan rumah tanggaku.


“Aku akan sama Kakak terus, insyaallah.”


Luna, istri kecilku memelukku seperti memeluk karung beras berukuran besar lalu mengusap punggung belakangku.


Kata-katanya itu berhasil menepis kekhawatiranku. Seketika aku ingat semua yang sudah dia lakukan hari ini untukku. Dengan dia datang ke Bandung penuh perjuangan, mau tampil pantas di acara kantor, sampai hal terkecil menyiapkan kebutuhanku. Oh My God, I am so lucky to have her by my side. May I wish to feel more happiness than just this?


Tuhan memang baik, baru saja aku berdoa meminta agar lebih bahagia dari ini, langsung dikabulkan dengan kata-kata Luna berikutnya.


“Udah atuh… Jangan sedih lagi, nanti aku hibur seperti waktu itu.”


Hahaha… Berarti kegiatan malam yang tadinya aku rindukan akan terjadi malam ini. Wah… Sekarang saja, kenapa harus menunggu nanti. Tapi langsung ditolak Luna mentah-mentah oleh Luna.


“Nanti aja setelah sholat isya. Aku malas mandi malam-malam. Dingin…”


Wait… Wait… Apa ini maksudnya dia sudah menyerahkan dirinya sepenuhnya untukku?


What a surprise…!


Aku benar-benar tidak menyangkan akan terjadi secepat ini. Seketika lututku jadi bergetar. Kenapa justru aku yang gugup sedangkan dia malah jalan santai ke kamar mandi.


“KAKAK AYOOO IIIHHHH….! Malah melamun, ini udah jam 12, belum sholat isya loh kita.”


Aku langsung tersenyum meliriknya keluar dengan wajah yang masih basah. Luna memang berbeda, dia tidak suka pakai piyama seperti orang-orang pada umumnya, pakaian rumahnya adalah baju kaos oversize dengan celana panjang mirip training, entah apa namanya. Aku sudah sering melihatnya seperti ini. Tapi baru kali ini aku merasa pakaian ini berhasil membuat darahku panas. Oh Tuhan, tolong waraskan aku karena aku belum sholat isya.


Malam itu, aku sholat isya berjamaah kembali bersama Luna. Aku menjadi imam perempuan yang entah kenapa semakin hari membuat kewarasanku berkurang. Aku raih ponselku, membuka gallery HP untuk membaca doa yang sempat aku foto dari buku. Sudah satu bulan ini aku hafalkan, tapi malam ini aku ingin membacanya di depan Luna, aku ingin tuntun istriku nanti membacanya sebelum benar-benar menyentuhnya nanti.


“Kak… Habis sholat tuh do’a… Malah main HP.” Tegurnya sambal mengulurkan tangan untuk bersalaman.


“Kamu su’uzon banget sama suami. Aku lagi doa tau.” Aku arahkan ponselku yang memperlihatkan tulisan arab.


“Hehe maaf…” Dia langsung cengengesan, merasa bersalah. Aku sambut tangannya, seperti biasa dia pasti langsung ia tempelkan pada dahinya kemudian mengecupnya. Manis sekali jika sedang patuh seperti ini. Sebelum tangannya terlepas, aku tarik tubuhnya agar bisa lebih dekat.


“Sekarang malam Jumat. Hari yang baik. Malam ini kita ibadah suami istri ya. Mau kan?” Bisikku.


Blussshhh, wajahnya memerah, Haha. Lucu sekali. Meskipun tidak menjawab, sikap diamnya aku anggap sebagai persetujuan.


Kami berbaring di kasur sambil saling berhadapan. Sekarang aku tau yang gugup bukan hanya aku, tapi juga Luna. Matanya liar berusaha menghindar dari tatapan mataku. Kalau sudah begini tidak mungkin langsung dimulai kegiatan foreplay, bisa-bisa bola yang aku lempar mental entah kemana. Mau tidak mau harus pre-heating dulu biar terbiasa.


“Kamu ngantuk nggak?” Aku putuskan untuk bertanya kesiapannya dulu. Anggap saja bagian dari pillow talk.


“Sedikit. Tapi akhir-akhir ini jadwal tidurku kacau karena sering begadang persiapan ujian kemaren Kak.” Jawabnya. She really deserves to be a sanguine person, ditanya satu jawabnya bisa sepanjang itu.


“Hemmm… Kalau capek?” Dia langsung menggeleng.


“Lebih capek praktikum.”


Haha menjadi mahasiswi program studi arsitektur interior memang membuat Luna sering pulang dalam keadaan lelah. Biasanya kalau sudah pulang menggunakan wearpack kuning milik kampusnya, berarti dia hari itu menghabiskan banyak tenaga untuk praktikum fisik hari itu.


“Sayang, boleh tanya sesuatu?”


“Lah dari tadi Kakak kan tanya terus.” Dia mengerutkan dahi. Aku jadi merasa bodoh seketika. Iya juga dari tadi sudah bertanya dan dia menjawab panjang kali lebar.


“Kali ini lebih pribadi.” Aku mendekatkan tubuhku. Dia malah semakin menjauh.


“Eh sini…! Jangan menjauh.” Aku menepuk bantal yang aku gunakan mengajaknya tidur dengan bantal yang sama.


“Kenapa harus dekat-dekat sih. Aku bisa dengar kok.” Meskipun protes dan terlihat ragu, tapi dia menurut patuh.


“Ya biar bisa pelukan lah. Kan kita mau ibadah suami istri.” Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Nafasnya langsung seperti tertahan. Kalau seperti ini jadi semakin menggemaskan saja.


“Mau tanya apa Kakak?” Dia penasaran juga akhirnya.


“Kenapa akhirnya kamu memutuskan mau menjalani kewajiban kamu?” Dia tampak menarik nafas panjang. Sepertinya jawabannya akan lebih panjang dari jawaban yang sudah-sudah. Mari kita dengarkan.


“Jadi semalam aku membersihkan kamar Kakak. Aku lihat dimeja kerja ada buku judulnya Kado Pernikahan, Cover bukunya warna pink ada ukiran goldnya. Aku sempat baca beberapa chapter awal tapi bikin aku sadar.” Jawabnya.


Aku langsung mengingat buku dengan sampul merah muda dengan ornament gold yang Luna maksud. Oh aku sudah tahu buku yang mana.


“Aku jadi berfikir, untuk apa menunda-nunda toh akan dilakukan juga suatu hari nanti. Meskipun aku belum tau apa jenis perasaan aku sama Kakak sekarang. Aku cuma berharap Allah kasih secepatnya perasaan cinta dalam hati aku untuk kita.” Aku kecup keningnya. Istri kecilku sudah semakin dewasa.


“Itu hadiah dari Mama dan Papa satu minggu sebelum kita menikah. Karangan Syeikh Mahmud Mahdi Al-Istambuli. Aku sudah tamatkan itu sebelum ijab kabul. Beberapa yang aku anggap penting aku foto.” Jelasku.


“Itu yang tadi aku perlihatkan ke kamu setelah sholat, adalah salah satu doa yang ada pada buku itu.”


“Yaaa… Kalau sempat nanti cari pdf booknya.” Mungkin kalau sudah punya pdf book lebih enak bisa dibaca dari HP.


“Mungkin biar aku yang mengajarkan sama kamu nanti.” Jawabku.


“Terus kenapa nggak diajarin ke aku?” Tanynya. Anak ini benar-benar nggak bisa diberhentikan kalau sudah mngobrol. Kapan mulai ibadahnya kalau begini?


“Kan kita baru ketemu lagi sekarang. Aku mau ajarin sekalian praktik.” Aku tertawa.


Aku semakin merapatkan tubuhku. Menyapu wajahnya dengan wajahku lalu berpindah menyusuri ceruk lehernya, yang entah kenapa ini menjadi candu baru. Aku lihat dia menggeliat seperti kegelian. Look at that, she is so hot. Huuufh


“Ish… Tetap aja seseorang butuh teori dulu sebelum dia praktik. Learning by doing itu bukan berarti langsung terjun ke lapangan tanpa bekal.” Dia mendengus kesal lalu kembali memeberi jarak.


“Tadi saking penasarannya aku beli lagi bukunya. Tadi di GM aku udah tamatkan meskipun pakai pointer method alias membaca cepat.”


Aku langsung melirik plastic bag putih dengan logo huruf G berwarna orange di atas nakas. Ternyata dia ke Gramedia tadi siang untuk beli buku itu. Haha


“Berarti sudah siap dong ya? Perbekalannya sudah lengkap.”


Aku menaikkan tanganku, meraih sesuatu yang baru sempat aku lihat saat video call panas kami, tapi belum pernah aku sentuh sama sekali. Ya Tuhan rasanya… Ini baru dipegang belum digunakan untuk yang lain-lain.


“Kak…”


Eiiits… Tangannnya malah menahanku agar tidak berbuat lebih jauh. Padahal aku baru saja berencana skin to skin pada area itu.


“Boleh ya?” Tanyaku dengan nafas yang entah kenapa menjadi sesak tiba-tiba.


“Doa dulu.” Titahnya.


Ternyata aku benar-benar kehilangan kewarasan. Tadi niatnya mau mengajarkan istri berdoa, sendirinya lupa.


“Hehe iya. Kamu udah siap banget ya. Bismillah. Ikutin aku ya.” Akhirnya aku bacakan juga doa ini Bersama Luna. Doa yang mungkin akan menjadi doa rutin kami pada hari-hari berikutnya.


“Kamu takut?” Dia langsung mengangguk, matanya menatap langit-langit kamar.


“Sedikit. Mungkin karena belum biasa.” Aku raih tangan kanannya lalu aku kecup beberapa kali, barulah dia menatap wajahku.


“Aku juga takut.” Ucapku tetap menatap lekat manik matanya.


“Kenapa Kakak yang takut…?”


“Bukannya Kakak harusnya nanti enak, aku yang sakit? Ini kan pertama buat aku.” Wajahnya bingung sekaligus tidak terima aku mengclaim diri juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dia rasakan.


“Hehe kamu lupa ya…? Ini kan juga yang pertama untukku, Sayang.”


“Jadi aku juga takut menyakiti kamu nanti waktu melakukannya.” Aku raih anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya dan menyelipkannya di telinga berharap sentuhan ini sedikit memberikan kenyamanan untuknya.


“Apa pun yang nanti aku lakukan mungkin naluriah aja sebagai laki-laki. Kalau kamu nggak suka langsung bilang ya.” Luna mengangguk, bibirnya tersenyum. Cantik sekali istriku.


“Kita mulai boleh…?” Dia lagi-lagi mengangguk pelan. Kemudian menutup matanya seperti memasrahkan diri sepenuhnya.


Kalau sudah begini, lampu hijau benar-benar sudah menyala. Tidak ada yang perlu ditunggu lagi. Aku mulai melakukan penyerangan. Jika area wajah sudah biasa aku hujami kecupan, kali ini aku bisa menyicipi area lain. Ternyata ini yang disebut surga dunia. Oh Elio kemana saja kau tiga minggu ini?


“Luna aku haus.” Ucapanku membuat dia mendorong tubuh menjauh.


“Tu… Tunggu… Tunggu disini aku ambilkan a..” Aku kembali menuntun tubuhnya untuk berbaring.


“Aku butuh ini.”


Suaraku sudah berubah parau, nafas juga sudah tidak bisa dikendalikan. Aku bisa merasakan tubuhnya sudah kaku dan tegang. Tapi aku biarkan sampai akhirnya dia kembali berada pada mode pasrah seperti sedia kala.


Selanjutnya jadi sulit untuk diceritakan. Kadang ada kebanggaan tersendiri bagiku tidak suka menonton film dewasa di internet seperti teman-teman kuliahku lakukan dulu, tapi siyalnya ternyata usaha menerobos pertahanan Luna tidak semudah yang aku bayangkan. Nilaiku nol besar untuk praktik pembobolan gawang. Air mata Luna sudah banjir meninggalkan bekas basah di kasur, tapi gawang belum berhasil aku bobol.


“Sakit?” Dia mengangguk.


Aku jadi tidak tega meneruskannya, padahal aku lihat sudah ada sedikit bercak darah di kasur. Akhirnya aku putuskan menarik diri. Tapi langsung tubuhku ditahan Luna agar tidak menjauh.


“Nggak apa-apa. Kakak usaha lagi aja, aku coba tahan. Kakak belum puas kan?”


“Aku pakai cara lain aja kalau begitu. Boleh ya? Kamu bantu aku.” Dia mengangguk.


Hahaha. Dengan wajah bingung sekaligus malu, akhirnya Luna bisa membantuku menyelesaikannya. Meskipun sempat ada protes kecil karena posisi yang menurutnya aneh, tetap saja dia mau membantuku.


Setelah akhirnya badai usai, barulah tarik dia ke pelukanku membiarkan tubuh kami menempel tanpa pembatas dan bergulung dalam selimut.


“I love you. Makasih Sayang.” Bisikku sambil terus mengecup rambutnya. Dia sudah banyak bekerja hari ini terutama untuk yang terakhir. Hehe


Malam itu, meskipun belum bisa dilakukan secara sempurna tapi aku merasa sangat puas. Sebagai seorang striker pemula, aku harus banyak belajar strategi penyerangan. Baiklah… setelah ini aku bertekad mencari tutorial melakukan shooting yang tepat dan benar agar berhasil mencetak goal sebanyak-banyaknya. Haha


...😝-[Bersambung]-😝...


Haha maaf ya guys. Delay sampai tiga hari karena kemaren nggak tau kenapa otak aku mentok. Kebanyakan ngerjain angka di dunia nyata pas bikin cerita kok nggak dapat feelnya. Jadi nggak pede buat nerbitin. Semoga tetap suka ya.