My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Nothing’s Gonna Change Us



Makan nasi Kuning Bu Jum yang terkenal di daerah sini, ternyata terasa hambar di lidah Elio. Pertanyaan menohok dari Mama tadi cuma bisa dijawab dengan senyuman saja olehanya. Tentu saja jawaban itu membuat Renata dan Gilang mengerutkan dahi. Apa separah itu anak-anaknya bertengkar?


“Curhat sama calon mertua juga boleh loh El. Mana tau kami bisa bantu.” Renata melirik ke arah Elio yang tampak kehilangan nafsuu makan.


Elio menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan. “Maafin El, Ma. Kemaren kondisi El dan Luna sama-sama kecapekan. Jadi sama-sama emosi. Semua jadi nggak terlendali.”


“Masalah apa sih sebenarnya?”


“Kemaren kami fitting baju nikah, lalu…..” Elio akhirnya menceritakan bagaimana permasalahan mereka berawal.


Renata dan Gilang saling berpandangan kemudian tersenyum mengejek. Mamanya selalu saja pintar dalam membully. “Cukup spele tapi bisa membuat mereka bertengkar hebat.” Gumam Gilang.


“Kemaren Mama sempat insecure loh karena kamu lebih banyak tau tentang Luna dari pada Mama. Tapi ternyata Mama salah, masih banyak yang tidak kamu tahu tentang anak itu.” Renata melirik ke arah Elio yang tertunduk. Pasti calon menantunya itu semakin merasa bersalah.


“El… Mungkin sudah saatnya Mama cerita sama kamu. Ini bisa jadi akan merubah cara pandang kamu teradap anak Mama, semoga kedepannya lebih mudah meluluhkan hati anak itu.”


Elio yang tadinya lesu langsung bersemangat, layaknya akan mengetahui rahasia besar tentang Luna, terutama tips and trick mendapatkan cinta adik kesayangannya itu.


“Dari kecil Luna sudah biasa hidup sederhana bukan semata-mata karena Mama ingin menerapkan nilai itu pada Luna, tapi ada kalanya Mama terpaksa karena memang kondisi keuangan Mama dan Papa sedang sulit. Jadi mau nggak mau menuntut Luna untuk bersabar dengan keinginannya.”


Elio yang tadinya antusias langsung merasa bersalah. Pasti biaya sekolahnya selama ini menyulitkan Renata dan Gilang.


“Maa…”


“Kamu tenang dulu. Bukan gara-gara kamu.” Selak Renata, takut Elio semakin merasa bersalah.


“Selama ini mungkin kamu cuma tau Alea sebagai anak Mama yang lain, tapi sebenarnya masih ada Keanu, Sagara dan Bintang. Mereka juga tidak tinggal di sini seperti Alea. Tapi Mama tidak membeda-bedakan kalian satu sama lainnya.”


Renata memperlihatkan foto-foto ketiga anak asuh lainnya pada sebuah album. Ternyata sudah besar mungkin hampir seusianya, Bahkan yang bernama Keanu terlihat lebih tua dari Elio.


“Kalian lah alasan Mama selama ini tidak ikut Papa ke Aussie. Mama tetap butuh income tambahan untuk biaya sekalolah kalian, jadi Mama tetap harus bekerja di tiga rumah sakit biar keuangan kita stabil. Tapi lebih penting dari itu, kalian butuh sosok Mama tidak hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai psikiater.” Renata melirik ke arah suaminya yang ikut mengangguk.


“Keanu dan Sagara itu kakak beradik dan punya masalah yang sama seperti kamu, ditinggal orang tua lalu depresi. Tapi sekarang mereka sudah bekerja di perusahaan almarhum kakeknya dengan tenang.” Ucap Renata.


“Kalau yang ini, si cantik Bintang dulu korban kekerasan ayah tirinya, sekarang sudah menjadi dokter di salah satu rumah sakit Jogja, dan sebentar lagi menikah.” Ada kebanggan di wajah Renata saat menceritakan anak-anak asuhnya itu.


“Berarti sekarang tinggal Alea dan Luna yang harus Mama jaga. Itu pun kalau Luna jadi menikah sama kamu, berarti tanggung jawabnya lebih ringan lagi. Makanya Mama bisa lebih tenang untuk pindah ke Aussie tahun ini.” Tutupnya.


“Luna tau Mama punya anak angkat selain aku dan Lea?”


Renata mengangguk. “Luna tau karena dengan cara itu dia bisa menahan semua keinginannya dan alhamdulillah dia pintar mengatur keuangannya sendiri.”


“Luna pernah bertemu mereka?” Tanya Elio lagi.


“Cuma Alea dan Bintang. Mama sengaja nggak kasih ketemu sama Keanu dan Sagara.”


Elio mengerutkan dahinya. “Kenapa?”


“Oooh jangan sampai itu terjadi. Mama takut dia nempel juga kaya ke kamu. Jadi Mama pisahkan dari awal.” Renata terkekeh.


Elio tersenyum penuh rasa syukur. Sejujurnya dia merasa tidak percaya diri saat melihat foto Keanu dan Sagara yang terlihat seperti bule dari negeri Pamansam. Bisa kalah saing dia.


“Jadi Mama bisa mengerti kenapa Luna marah saat kamu tiba-tiba menyewa tambahan baju. Meskipun sebenarnya sangat spele dan tidak ada yang salah. Kalian cuma kurang komunikasi dan terlalu emosi aja. Eee malah kemana-mana sampai cemburu gitu kamunya.” Bela Renata.


“Sebagai laki-laki, Papa tau pasti kamu ingin membahagiakan Luna kan?”


Elio mengangguk. Dari dulu ia ingin memberikan berbagai barang pada Luna. Seperti gitar akustik, skuter baru, handphone dan camera tapi selalu dilarang oleh Ranata dan Gilang.


“Luna sama persis dengan Mamamu. Mereka menganggap materi bukan segalanya, El. Kebahagiaan mereka ada pada dirinya sendiri, dan tugas kita mendung itu. Bukan malah mematahkannya. Kalau kamu sudah bisa ada pada posisi itu, kamu akan dia anggap sebagai pahlawan untuknya.” Ucap Gilang sambil menepuk lemput pundak anak angkatnya.


“Pahlawan? Iron Man? Luna sudah aku menganggap itu. Tapi aku merusaknya…” Ucap Elio dalam hati.


“Kalau kamu ingin membahagiakan Luna, kasih dia kesempatan untuk berkembang. Kebahagiaan Luna hanya dua, keberadaan kamu sebagai keluarganya dan kebebasan mengekspresikan dirinya dengan melakukan apa yang dia mau bersama teman-temannya.” Renata kembali tersenyum.


“Bagi Luna, materi hanya salah satu bentuk support saja, karena dari dulu anak itu kalau ingin sesuatu, dia akan menabung dari hasil manggungnya. Sekarang tugas kamu cuma menjaga agar dia tidak kelewat bandel. Hadeuuuh….” Tiba-tiba bayangan Luna tertangkap satpol PP karena ngamen di jalan kembali hadir.


“Sekarang El paham, Ma. Makasih ya Ma, Pa.”


“Eleh eleh… Yang jatuh cinta… Galau pisan euy…” Renata kembali pada mode usil.


“Jadi gimana? Kalian jadi nikah apa nggak?” Tanya Renata senyum-senyum.


“Harus jadi, Ma…” Jawab Elio cepat dengan wajah tanpa ekspresi


“Emang Luna masih mau nikah sama kamu? Tanya Renata menggoda.


“Nanti El bujuk, Ma. Luna pasti bisa luluh dengar rayuan aku.” Jawabnya yakin sedikit senyuman memabukkan.


“Riyanaaaa… Anak kamu udah gede nih. Udah pinter godain anak aku.” Terak Renata.


“Jangan panggil-panggil Bunda, Ma… Nanti datang loh..!”


“Eh kok merinding…”


...***...


Kurang lebih tiga puluh menit Elio menunggu di depan gedung laboratorium praktikum kampus tempat Luna berkuliah, akhirnya adik kesayangannya keluar dari gedung itu bersama beberapa orang teman-temanya.


Hari ini wajah Luna sangat ceria, berbeda dengan kemaren yang memang tampak lebih pucat.


“Luna…”


Mendengar namanya dipanggil, Luna langsung menoleh ke arah sumber suara. Sejurus kemudian wajahnya berubah tidak enak ketika sadar orang yang memanggilnya adalah Elio.


“Kamu udah selesai?”


“Udah. Tapi aku belum mau pulang.” Jawab Luna minim ekspresi.


“Kenapa?”


“Masih mau main sama teman-teman.” Luna melirik teman-temannya yang justru malah fokus melihat pada Elio. Siyalll


Luna melirik kembali teman-temannya yang makin rusuh karena terkesima dengan ketampanan Kakaknya. Bahkan ada yang sampai menjerit dari kejauhan. Astagfirullaaah…


“Yaudah pulang aja.”


Elio tersenyum kemenangan. Sudah ia tebak Luna pasti mau ikut dengannya. Entah apa alasannya, dia tidak peduli.


Selama di mobil Luna lebih banyak diam, sedangkan Elio fokus menyetir sambil sesekali melirik gadis yang beberapa hari ini mengisi hatinya.


“Dek… Mau jalan-jalan dulu nggak? Ke pantai misal.”


“Nggak deh. Aku mau ketemu Mama aja.”


“Kalau makan dulu boleh kan? Aku belum makan siang.”


Luna mengangguk. Minim bicara mungkin lebih baik untuk menghindari cekcok seperti kemaren.


“Okey… Kita drive thru lalu makan di parkiran aja.” Akhirnya Elio melajukan mobil ke restoran burger di dekat kampus dan memilih beberapa makanan untuk mereka makan dalam mobil.


“Dek…”


“Maafin aku ya. Aku salah. Kemaren terlalu emosi mungkin karena capek dan ngantuk.” Ucap Elio penuh penyesalan.


“Mungkin lain kali aku nggak akan maksain lagi kalau memang kondisi kita nggak sempat dan sama-sama capek.” Sambungnya.


“Hemmm…”


“Kamu lagi sariawan ya? Diam-diam aja.” Tanya Elio sambil senyum membuat Luna menyeringit bingung.


“Kalau iya. Aku punya vitamin C. Mau?” Tawarnya.


Luna yang merasa tubuhnya kelelahan memang merasa butuh dopping hari ini. “Boleh… Mana?”


“Ini…” Elio membuat tanda finger heart dari jarinya.


“Vitamin C… Cinta… I love you, calon istriku.”.


“Iiih.. Kakak…” Luna langsung mendaratkan puluhan capitan ditangan Elio.


“Ampuuun…”


“Biarin. Ngeselin dari kemaren. Aku kesel sama Kakak. Kesel banget.” Ucap Luna masih mendaratkan capitan di tangan Elio.


“Eh stop dong KDRT nya.” Keluh Elio.


“Biarin… Mumpung belum nikah, belum kena pasal KDRT.” Jawab Luna.


“Belum nikah? Berarti tetap jadi nikah kan kita?” Elio cekikikan.


“Nggak…!”


“Yakin nggak mau nikah sama aku?”


“Yakinlah…” Jawab Luna cepat.


“Oooh… Jadi Mama sama Papa pulang ke Indo itu karena mau jemput kamu ya? Kapan kalian berangkat ke Aussie…?” Kali ini Elio berekting sok polos.


“Visanya belum diuruskan? Kalau gitu aku anterin ngurus visa di Keduatan Australia sekarang ya?” Tanya Elio memasang wajah serius.


“Mana dokumen pengajuan visanya? Sini aku cek… Kalau Visa Aussie aku udah handal lah…” Sombongnya.


“Kakaaaaaaaak….” Pekik Luna sambil memukul lengan Elio.


“Hahahha”


Haaap…


Elio langsung menangkap kedua tangan Luna dan menatap Luna wajah serius.


“Luna denger aku…” Kali ini ia menarik tangan Luna agar mereka bicara berhadapan dengan jarak dekat.


“Apa pun status kita, aku akan tetap jadi Iron Man kamu, dan kamu akan tetap jadi Luna yang manja sama aku. Nothing’s gonna change us.” Ia tatap mata Luna dalam.


“Kita hanya akan berubah menjadi saling mencintai, saling menyatangi dan saling melindungi.” Ucap Elio terhenti.


Luna yang mendapatkan serangan ungkapan cinta dari Elio langsung terdiam dan ikut menatap lekat wajah sang calon suami.


“Mau kan nikah sama aku?” Tanya Elio dengan tatapan mautnya.


Luna terdiam dengan napas tertahan. Lidahnya tiba-tiba kelu. Apa yang harus dia jawab?


“Kamu mau kan jadi pendamping aku? Kamu masih mau kan bahagia sampai ke surga sama aku?”


Luna mengangguk dan menarik diri menjauh karena wajah Elio yang semakin dekat dengan wajahnya.


Elio langsung tersenyum bahagia bukan main. Hampir saja ia lepas kendali memeluk Luna atau mungkin lebih.


“Aarrrgghh… Kapan sih hari Jumat? Aku nggak tahan….” Gumam Elio sambil mengusap kasar wajahnya. Sedangkan Luna langsung melemparkan pandangan ke luar jendela. Godaan setan emang luar biasa.


...🤣-[Bersambung]-🤣...


Author : (Lihat kelender) Kalau di cerita sekarang hari Rabu. Dua hari lagi El.


Elio yang diwakilin Nitizen : Telp KUA deh… Majuin lagi jadi hari Kamis.


Author : Eh… Jangan….! Jumat aja biar lebih berkah kata Luna.


Elio yang diwakilin Nitizen : ^%{^+{^]*]+*]%*