
Keesokan harinya Luna sudah pulang ke rumah, meskipun pihak rumah sakit belum mengizinkannya meninggalkan rumah sakit. Namun berbekal tanda tangan keluarga terutama Renata, Luna bisa pulang sesuai keinginannya.
“Sini biar Mama yang menyapi Luna, El. Nanti kamu terlambat ke kantor.” Ucap Renata mengambil alih piring makan Luna. Sudah lewat pukul delapan, Elio sudah ditunggu rapat di kantornya.
“Kamu nggak apa-apa aku tinggal..?” Elio bertanya pada Luna sambil menyisir lambut Luna dengan jemari tangannya.
“Iya… Aku sama Mama aja.” Luna tersenyum tipis sedikit dipaksakan.
“Ya udah aku pamit ya.” Elio menjulurkan tangan agar Luna menyalaminya.
“Kamu istirahat biar cepat pulih.” Luna mengangguk dengan wajah menunduk.
Elio yang melihat Luna masih dingin padanya, akhirnya merangkum wajah Luna, membuat mata mereka saling bertatapan.
“Cepat sembuh ya, Sayang. Aku janji pulang tepat waktu hari ini.” Ditariknya Luna kepelukannya lalu mengecup dahi Luna sekilas. Luna yang terkejut menarik dirinya dengan cepat. Luna merasa belum terlalu nyaman berkontak fisik dengan Elio. Tapi di lain sisi dia tidak mau Renata curiga.
Elio menarik nafas panjang sambil berusaha tersenyum. Hanya di depan Renata Elio bisa seperti ini dengan Luna, fikirnya. Karena selama di rumah sakit Luna terus saja menghindar bahkan seperti orang ketakutan.
Hari itu Elio berangkat ke Elios hotel. Ada rapat penting yang harus dia hadiri. Sedangkan Luna lebih banyak menghabiskan waktu dengan Renata. Ibu dan anak itu tidur berpelukan melepas rindu setelah lebih dari satu bulan tidak bertemu.
“Kamu ada masalah apa sebenarnya sama El? Coba cerita sama Mama. Mana tau Mama bisa bantu kalian.” Tanya Renata penuh selidik.
“Kami nggak ada masalah kok, Mam.” Sangkal Luna sambil mempererat pelukannya di tubuh Renata. Aroma tubuh Renata membuat Luna merasa tenang.
“Ya udah kalau memang nggak mau cerita. Tapi Mama harap sebesar apa pun masalah kalian, bicarakan baik-baik. Jangan sampai kamu dan El sama-sama menyimpulkan sendiri lalu menjadi masalah yang terus berlanjut.” Ucap Renata mengusap rambut Luna.
“Kamu dan El itu punya kepribadian sedikit berbeda. Kalau kamu butuh waktu untuk memutuskan sesuatu agar dapat mengambil keputusan secara matang, Elio butuh waktu yang cepat karena harus segera mengambil tindakan. Tidak ada yang salah, tapi biasanya kalau kurang komunikasi ya seperti ini, bisa salah faham.” Ucap Renata.
“Mama kurang tau apa yang membuat Elio bisa sekacau ini. Tapi mungkin itu yang membuat dia merasa tidak nyaman sampai melampiaskannya pada orang terdekat. Sebagai istri, kamu harus lebih banyak belajar. Kira-kira apa yang Elio suka, apa yang Elio tidak suka. Makanya kenapa komunikasi itu penting.” Luna hanya mengangguk.
“Aku merasa insecure tidak bisa mendampingi Kakak.” Akhirnya Luna bersuara.
“Kenapa…? Ada yang mengusik kalian..?”
Renata takut jika keluarga Elio menyerang Luna. Terutama Ardi yang teang-terangan dari dulu membenci keluarganya. Luna menggeleng tanda menyangkal.
“Kakak lagi banyak masalah di kantor. Om Rian resign dan setahu aku Om Ardi mengancam Kakak.” Jelas Luna. Renata akhirnya paham Elio saat ini dalam kondisi tertekan. Apalagi dia sempat melihat pesan Ardi pada Elio saat di rumah sakit.
“Aku nggak bisa membantu banyak Mam. Bahkan kalau Kakak pulang aja aku nggak bisa masak makan malam. Aku bingung harus melayani Kakak seperti apa.” Luna menarik nafas panjang.
“Mungkin memang Kakak cocoknya menikah dengan Chef Ayya.” Luna tersenyum pias. Renata langsung memberi jarak pada tubuh mereka agar bisa melihat wajah Luna secara utuh.
“Oh kamu cemburu toh.” Ucap Renata dengan nada menggoda.
“Ya wajar aja kan Mam. Aku hanya berfikir realistis aja. Kalau Kakak menikah dengan Chef Ayya, pasti lebih terlayani. Om Rian juga pasti lebih membantu Kakak untuk urusan kantor. Tidak seperti kita. Bisa mendoakan saja. Bahkan aku masih aja bikin masalah dari dulu.” Renata tersenyum.
Bosan di dalam kamar, Luna menghampiri Sang Papa yang asik menonton televisi di ruang keluarga.
“Papa… Luna kangen…” Luna memeluk Gilang bersandar pada lengan laki-laki yang mungkin dalam hidupnya hanya bisa ia temui sekali dalam sebulan.
“Papa juga. Beberapa hari ini Papa selalu mimpi kamu terus. Perasaan Papa jadi nggak enak, ternyata—“ Gilang menarik nafas panjang.
“Aku nggak kenapa-napa. Cuma malas makan terus kurang tidur eee malah ketemu petir.” Ucap Luna.
“Gimana Papa bisa percaya kamu baik-baik aja. Kamu fikir Papa bodoh nggak bisa membaca situasi. Lihat pakaian kamu rusak berserakan di lantai kamar terus kamu ketakutan sama Elio. Papa cukup pintar mengerti semua itu, Luna.” Rahang Gilang mengeras.
“Ish… Papa seperti nggak pernah muda aja. Kakak itu terlalu bersemangat. Gimana sih…? Suka menyimpulkan sendiri deh.” Luna mencubit tangan Gilang sampai Gilang mengaduh kesakitan. Renata yang melihat interkasi suami dan anaknya hanya tersenyum.
“Segitunya kamu belain El.”
“Aku nggak belain. Memang begitu kok. Kakak kalau main mah penuh damba.” Luna menggigit lidahnya merasa malu mengucapkan kalimat mesum seperti itu di depan orang tuanya.
“Luna ngomongnya…” Tegur Renata.
“Udah ih, Papa. Jangan marah sama Kakak. Kakak baik sama aku. Kalau pun kami punya masalah, bukan masalah yang besar. Aku aja yang ngehalu karena anemia jadi takut-takutan sama orang.” Gilang melirik anak perempuannya yang mati-matian membela Elio.
“Aku pingin kalau Papa pulang ke Indonesia, kita seperti dulu lagi. Kita jalan-jalan berempat kemana gitu mumpung aku libur. Eee malah begini, gara-gara aku sakit.” Lirih Luna.
“Iya… Nanti kalau kamu sembuh kalian liburan aja berdua. Ajak Elio bisa refreshing, biar nggak gampang kesulut emosi.” Sindir Gilang, Luna tersenyum.
“Papa ganteng, maafin Kakak kan…?”
“Hemmm…” Gilang hanya berdehem. m
“Pleaseee….” Bujuk Luna.
“Iya… Asal kamu janji kalau dia seperti itu lagi, kamu lapor kami. Meskipun sudah punya rumah tangga sendiri, kalian berudua tetap anak kami.” Titah Gilang.
“Iyaaa, Papa aku paling ganteng sedunia.” Luna kembali melingkarkan tangannya di lengan Sang Papa. Terasa hangat dan nyaman.
Elio yang melihat Luna dan Gilang dari CCTV langsung tersenyum. Ternyata semarah apa pun Luna padanya, Luna selalu menjaga harga dirinya. Penyelasan memang selalu datang diakhir. Kalau di awal namanya pendaftaran.
...-[Bersambung]-...
Kasih bonus update karena Senin bolos.
Kalau suka jangan lupa vote. Ramaikan dengan comment.
Lihat kalender udah hampir tanggal 27 aja. Siap2 10 hari kedepan aku hilang dari peredaran. Jangan rindu. Karena rindu itu berat. 😂