My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Berburu Maaf dari Istri



Tok… Tok… Tok…


“Sayang… Buka pintunya… Kamu tidur ya…?”


Sudah lebih dari sepuluh kali Elio mengetuk pintu connecting room yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Luna, tapi tidak ada sahutan sama sekali yang bisa ia dengar. Pria itu kembali melirik ponselnya berharap ada jawaban dari sang istri, namun nihil semua panggilan telfonnya seperti terabaikan begitu saja.


Elio kembali menarik nafas panjang seraya memijat kepalanya yang terasa pening. Meskipun Luna tampak ceria saat terakhir kali bersamanya, tapi entah kenapa Elio yakin Luna masih memendam kekecewaan dalam hatinya. Tiba-tiba terbesit pikiran apakah Luna sedang menghindar saat ini.


Tok… Tok… Tok…


“Luna… Kamu tidur ya…? Kalau kamu mengantuk, ya udah nggak apa-apa tidur aja. Tapi kalau kamu marah sama aku, maafin aku ya.”


“Tadi aku bodoh banget. Kamu pasti kecewa sama aku kan…?” Ucap Elio sambil duduk berselonjor di sebelah pintu connecting room.


Masih belum ada jawaban dari Luna membuat hati Elio merasa tidak tenang. Rasanya ia ingin nekat menerobos pintu kamar Luna dengan meminta kunci cadangan pada resepsionis, tapi niat itu ia urungkan mengingat sifat Luna yang selalu menyendiri saat punya masalah.


“Saat ini mungkin kamu butuh waktu sendiri makanya belum mau buka pintu, ya udah nggak apa-apa aku tunggu di sini.” Elio menarik nafasnya dalam-dalam.


“Tapi kalau boleh aku minta, Aku lebih memilih kamu teriak-teriak atau nyubit aku seperti biasanya, dari pada mendiamkan aku seperti ini. Aku nggak tenang, Sayang.”


Panjang lebar Elio mencoba berbicara dengan suara keras berharap suaranya sampai di kamar sebelah tapi masih saja tidak ada respons dari Luna. Elio akhirnya melepaskan satu kancing kemeja yang paling atas dan mulai memejamkan matanya.


Dua setengah jam berlalu, ternyata gadis yang dari tadi namanya di sebut-sebut oleh sang suami terbangun. Niat hati yang awalnya sekedar ingin menumpahkan rasa kecewanya dengan menangis, malah membuatnya tertidur dengan posisi meringkuk di lantai.


“Hemmp… Kenapa aku ketiduran di lantai begini..?” Luna mengerjapkan matanya sambil merogoh ponsel dari dalam tasnya.


“Jam setengah dua belas.” Mata Luna langsung membola.


“Kakak… Aduh gimana ini… Aku lupa bukain pintu.”


Tidak peduli dengan mata sembabnya, Luna langsung bergegas menuju pintu connecting room.


Baru saja Luna membuka pintu, ia sudah disuguhi pemandangan suami tampannya yang tertidur berselonjor di lantai dengan pakaian masih lengkap namun sedikit berantakan.


“Astagfirullah … Kenapa tidur di sini…”


“Kaaak… Bangun…” Luna langsung berjongkok membangunkan Elio.


“Hemmm…” Leguh Elio yang merasa tidurnya terganggu. Tanpa Luna sadari bibirnya tersenyum melihat wajah polos Elio yang tengah tertidur nyenyak. Tangannya pun terangkat untuk menyibakkan rambut yang berantakan menutupi dahi suaminya.


“Kaaak… Ayo tidur di kasur…!” Luna kembali menggoyang-goyangkan tubuh Elio agar pria itu bangun. Butuh satu menit lebih membangunkan Elio sampai pria itu membuka matanya.


“Sayang…” Elio langsung merengkuh Luna dalam pelukannya.


“Maafin… Tadi aku ketiduran. Lupa buka kunci connecting room.” Ucap Luna penuh sesal mengurai pelukan mereka.


“Kakak kenapa tidur di bawah? Nanti badannya sakit-sakit semua. Untung aku kebangun, kalau nggak mungkin sampai pagi tidur di lantai begini.” Ucap Luna seakan lupa dirinya juga tidur di lantai tadi.


Elio tersenyum, ternyata Luna hanya tertidur tadi terbukti dari rambutnya yang kusut berantakan. Tapi rasa senangnya tiba-tiba sirna saat ia melihat mata sembab sang istri, belum lagi hidung luna pun terlihat merah seperti habis menangis.


“Sini…” Elio langsung menarik tangan Luna hingga perempuan itu kembali jatuh dalam pelukannya.


“Kamu habis menangis ya?” Tanya Elio.


Luna berusaha melepaskan diri karena baru sadar pasti saat ini matanya terlihat bengkak. Tapi bukannya terlepas, justru pelukan Elio semakin erat.


“Apa sih…? Aku nggak nangis. Ngapain aku nangis.” Sanggah Luna. Ia masih saja enggan mengaku.


“Ayo pindah…! Dingin duduk di lantai begini.” Luna bangkit sambil memalingkan wajahnya lalu bergegas kembali ke kamarnya meninggalkan Elio yang mencoba menatap lekat wajahnya.


“Kakak… Sana bersihkan dulu badannya sekalian wudhu sebelum tidur biar nyaman nanti tidurnya.” Luna berjalan ke lemari mengambil pakaian tidur Elio.


“Ini bajunya aku letakkan di sini ya. Handuk kering masih di walk in closet. Sebentar aku ambilkan.” Selang hitungan detik Luna kembali dengan handuk di tangannya. Elio hanya mematung melihat Luna yang lincahnya menyiapkan semua keperluannya. Pria itu kemudian menunduk dengan perasaan bersalah.


“Eleuuh… Kenapa masih berdiri di sana?” Luna mengerutkan dahi.


Pertanyaan Luna seperti menyadarkan Elio dari semua pikirannya. Elio berjalan ke arah Luna dan tiba-tiba memeluk erat tubuh Luna dari belakang. Luna langsung tersentak keget tidak menyangka Elio yang seperti belum 100% terbangun dari tidurnya malah punya tenaga sekuat ini mendekapnya.


“Kak…” Luna berusaha melepaskan diri dari pelukan Elio.


“Please kasih waktu aku memeluk kamu sebentar aja.” Ucap Elio lirih.


“Maaf... Maaf… Maaf… Pasti kamu kecewa kan sama Kakak.” Diciumnya rambut Luna beberapa kali.


“Aku bodoh… Harusnya aku bisa menjelaskan sama kamu dari kemaren-kemaren. Bodoh memang suami kamu.”


Tidak ada jawaban dari Luna, tapi sayup-sayup terdengar isakan tangis Luna yang tertahan.


Sekali Gerakan Elio berhasil mengubah posisi Luna menjadi menghadap ke tubuhnya. Membiarkan istrinya menangis menumpahkan semua kekecewaannya. Setidaknya seperti ini lebih baik dari pada Luna memendamnya seperti tidak ada masalah di antara mereka.


Elio langsung menarik tangan Luna mengikutinya ke kasur sampai posisi ke duanya duduk berhadapan.


“Kata orang, meminta maaf itu tidak perlu disertai alasan karena seperti membela diri. Tapi menurut aku, ini perlu diluruskan biar kita tidak salah faham lagi.” diraihnya pundak Luna untuk mendekat.


“Aku memang minta maaf karena membuat kamu kecewa dan tidak nyaman selama makan malam tadi. Aku juga aku minta maaf karena terlambat menjelaskan kekacauan yang terjadi selama satu minggu ini.” Elio menarik nafas panjang, saat mengingat kejadian di Jogja pekan lalu.


“Semua berawal dari Ayya yang datang menemui aku di hallway hotel dan entah dari mana semua orang menyimpulkan kami punya hubungan spesial.” Luna yang tadinya sudah berani mentap Elio, kembali memalingkan wajahnya. Kenapa hatinya seperti diperas mendengarkan kalimat itu.


“Tapi aku pastikan itu hanya gosip, dan jangan pernah berpikir aku minta maaf karena aku karena mengkhianati kamu. Aku tidak pernah melakukan hal keji seperti itu, jadi aku tidak akan minta maaf untuk itu.” Ucapan Elio terdengar tegas, namun seperti tidak berarti apa-apa bagi Luna. Perempuan itu masih enggan menatap suaminya.


Elio meraih kedua tangan Luna dengan tangannya. Digenggamnya jari-jari kecil itu dengan kuat.


“Sayang… Dengar aku..! Sejak kalimat ijab kabul aku ikrarkan di depan Papa, aku sudah bertekad akan membahagiakan kamu seumur hidup aku. Jadi nggak mungkin aku menyakiti kamu dengan hal sehina itu.” Ungkap Elio sambil menatap manik mata Luna lekat.


Ungkapan Elio berhasil membuat Luna menatap kembali mata Elio, terliebih Elio mengangkat kedua tangan itu untuk ia kecup. Hati Luna langsung bergetar.


“Aku rasa kita punya rule models di sekitar kita. Kita bisa belajar setia sehidup semati dari Ayah dan Bunda. Kita juga bisa saling percaya dan setia seperti Mama dan Papa meskipun hidup berjauhan.” Luna mengangguk menampakkan senyum tipisnya.


“Gitu dong senyum.” Elio bernafas lega.


“Jangan lama-lama kalau marah. Aku kan kangen sama ini.” Ditunjuknya bibir Luna yang entah kenapa menjadi sedikit membengkak karena menangis.


“Boleh ya… Sebentar aja aku kangen.”


Akhirnya permintaan itu kembali datang. Permintaan yang entah kenapa Luna seperti terhipnotis dan tidak pernah bisa menolak. Elio dari dulu memang ahli dalam membujuknya. Kemampuannya dalam urusan bujuk-membujuk bahkan mengalahkan orang tua kandung Luna sekali pun.


“Hemmpph…” Luna memukul-mukul lengan Elio karena sudah kehabisan nafas. Apalagi sehabis menangis hidungnya tersumbat.


“Hehe… Maaf… Susah nafas yak karena ingusan. Persis anak kecil ingusan kamu tuh.” Elio terkekeh. Luna langsung melotot kesal.


“Iiih udah jangan marah lagi.” Elio mencubit pipi Luna gemas.


“Kakak tuh baru minta maaf udah ngeselin.” Protesnya.


“Ngeselin tapi kamu cinta kan…?” Jawab Elio cepat. Luna langsung melayangkan bantal tapi berhasil ditangkis Elio dengan lengannya.


“Siapa yang jatuh cinta…? Nggak lah. Biasa aja.” Sangkal Luna.


“Buktinya kamu cemburu sama aku. Jadi senang gini aku berhasil bikin kamu jatuh cinta sama aku dalam waktu tiga minggu.” Luna langsung mendelik kesal.


“Aku nggak cemburu. Aku kecewa sama Kakak. Puas…?” Sentak Luna. Elio malah menyeringai.


“Kakak senang banget kayaknya. Kalau memang senang bikin aku seperti ini, lanjutkan aja. Toh Kak Ayya menikmati, tinggal Kakak aja kasih bumbu-bumbu sedikit, lansung jadi tuh. Aku mah tinggal nunggu masanya aja dibuang sama Kakak.” Ternyata meskipun sudah memaafkan tidak membuatnya mudah melupakan.


“Sayang…. Udah dong marahnya.” Elio kembali merapat pada tubuh Luna.


“Huuuft… Kamu harus tau, rasa senang aku tidak akan sebanding sama rasa takut aku. Aku justru takut kamu kecewa dan memilih pergi dari aku.” Elio tertunduk.


“Apa lagi aku merasa ikatan pernikahan kita belum kuat. Aku belum memiliki kamu seutuhnya. Pernikahan kita juga tidak dipublikasi. Jadi kalau kamu pergi mungkin tidak ada ruginya untuk kamu. Tapi aku sudah dipastikan hancur sehancur-hancurnya. Aku kehilangan kamu sekaligus kehilangan satu-satunya keluarga yang aku punya.”


Mata Elio terlihat menerawang, ada rasa pilu yang tergambar dari sorot matanya. Ternyata pembahasan keluarga memang topik yang berat untuk seorang Elio.


“Aku akan sama Kakak terus. Insyaallah.” Ucap Luna, kali ini justru Luna yang merentangkan tangan memeluk Elio.


“Udah atuh… Jangan sedih lagi. Nanti aku hibur. Hehe…”


Elio langsung menegakkan tubuhnya. Pipinyamengembang mengingat aktivitas menghibur yang sudah lama tidak ia dapatkan.


“Sekarang aja, please.”


Elio siap menarik Luna dalam selimut karena sudah mendapat lampu hajau.


“Enggak… Nanti aja setelah sholat isya.” Tolak Luna menahan tubuhnya


“Aku nggak mau mandi malam-malam. Dingin…”


Mata Elio langsung membola. “Mandi…? Berarti kamu udah mau…”


“Udah… Nggak usah frontal ngomongnya.” Ucap Luna menahan senyum.


“Ayo buruan wudhu kita sholat berjamaah. Berdoa sama Allah biar dilancarkan.” Ucap gadis itu sambil melenggang kamar mandi meninggalkan sang suami yang dilanda rasa gugup secara tiba-tiba.


...🌝-[Beraambung]-🌝...


Ehehe… Sebelum ditanya kenapa lama nggak update, jawabannya selalu sama. Jangan tunggu aku dari tanggal 27 s/d tanggal 7.