My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Ketoprak Yang Tidak Jadi Enak



Sudah jam tiga sore, Luna mulai menghitung-hitung total kalori yang masuk dalam tubuhnya sepanjang hari ini. Burger daging dipagi hari, satu gelas jahe madu dan terakhir satu gelas es lemon tea. Pantas saja perutnya sudah berorkestra di dalam sana.


“Kakak masih lama ya?” Luna duduk di vespanya yang baru saja ia parkirkan bersusah payah karena kaki kanannya cenat cenut.


Luna merongoh ponselnya yang ternyata mati kehabisan batrai. Lalu ia lihat dompet yang berisi satu lembar uang seratus ribu. Hanya itu uang yang tersisa dalam dompetnya.


“Kaak maafin ya. Aku nggak bisa nunggu kakak lagi. Aku bisa pingsan kalau nggak makan.” Gumamnya, lalu langsung mengarahkan vespanya kembali keluar parkiran hotel menuju gerobak ketoprak di depan hotel.


Luna tau Elio pasti belum makan sama seperti dirinya. Jadi kalau bersama Elio pasti free makan di restoran hotel. Cerdik sekali. Eh tapi nggak juga sih, jauh di dalam hatinya ada terbesit rasa khawatir. Takut Elio lapor pada orang tua mereka lalu berdampak pada pernikahannya dan berakhir pada penyeretan Luna ke Aussie.


“Bang… Ketoprak spesial ya.”


“Ketoprak saya pasti spesial, Neng. Tanya aja sama mas yang baju item tuh.”


“Bener Neng, ketoprak terenak disepanjang jalan ini.” Si mas baju hitam ikut bersuara. Paling juga temen yang dagang.


Luna melirik sepanjang jalan, hanya ada satu yang dagang ketoprak, pantas aja meng-claim miliknya paling enak. Luna masih dalam posisi lapar, dan memilih menipiskan bibir saja.


“Pake telor Bang. Dua… Pedes pake banget.” Ucapnya tak peduli dengan tanggapan orang-orang yang menganggapnya gadis rakus.


Luna makan dengan khusuk, sepertinya benar ini masuk dalam kategori ketoprak enak dan sesuai dengan lidahnya. Saat tengah asik menyantap ketoprak, tiba-tiba suara Elio terdengar memanggilnya.


“Luna…”


“Kakak…” Luna semringah. Iron man nya datang. Ada kemungkinan ditraktir.


“Kenapa makan disini?”


“Emang kenapa? Nggak salah kan?”


Elio menggeleng. Tidak ada yang salah. “Harusnya tadi kita makan dulu ya. Kamu laper banget?”


“Iya lah… Orang aku cuma makan burger, minum air jahe sama lemon tea doang tadi. Kakak pasti belum makan juga kan?” Ucapnya setengah mengomel.


“Belum.”


“Sini… Cobain ketoprak enak.”


Luna menggeser duduknya agar Elio kebagian tempat duduk di kursi panjang itu. Sebagai pebisnis tentu Elio tidak mau kehilangan kesempatan, ia langsung duduk di sebelah Luna. Berharap si calon istri menyuapi barang satu atau dua suap. Kalau itu terjadi mungkin ia akan langsung sujud syukur.


“Bang mau sendok lagi.” Ucap Luna sambil menunjuk kumpulan sendok.


“Elah Neng… Pesan satu lagi napa? Pelit amat.” Protes si penjual.


“Bener juga. Kakak mau?”


“Aa… Aku coba punya kamu aja.”


Si penjual berdecih dalam hati. Ia kesal bukan main. Elio kan masuk daftar pelanggan ketopraknya bareng si Herman. Pasti sudah tau rasa ketopraknya enak. Tapi berhubung Elio biasa membayar tiga kali lipat dari harga asli, si penjual akhirnya bungkam.


Akhirnya Elio dan Luna makan dalam satu piring yang sama. Sendok mereka saling bertemu, rebutan tahu, rebutan telor dan rebutan lontong. Hari ini sendoknya dulu, mungkin nanti yang lain.


Ternyata makan sama calon istri memang beda. Baru calon saja Elio sudah bisa merasakan keseruannya, apalagi sudah sah secara hukum dan agama. Disaat fikirannya mulai liar, tiba-tiba Herman si resepsionis datang.


“Mas, Pak Rian nungguin dari tadi. Kayanya penting banget sampai nelfon berkali-kali.” Ucap Herman mulai khawatir.


Tuhan memang sangat baik mau menjaga Elio dari fikiran kotor dengan mengirim Herman dan Om Rian dalam hidupnya hari ini.


“Ya… Bentar ya… Lagi makan… Nanggung.” Elio masih mencoba bernegosiasi.


“Yuk Luna. Makannya nanti di restoran hotel saja.” Ajak Elio menarik tangan Luna.


Ini yang Luna tunggu-tunggu. Makan di restoran hotel. Tidak munafik, dia pasti tergiur dengan makanan khas hotel bintang empat di dalam sana.


“Berapa Bang?” Tanya Luna sambil meletakkan piringnya di atas gerobak.


“Nanti yang bayar Herman aja.” Titah Elio membuat Herman melongo. Ya meski pun diganti dengan nominal berkali-kali lipat tetap saja dia harus punya modal dulu untuk bayar ketoprak yang dimakan bosnya.


“Ish… Nggak usah ih. Kita yang makan kenapa Kang Herman yang bayar.” Luna akhirnya menyerahkan satu-satunya uang yang ada di dompetnya pada penjual ketoprak.


“Yah Neng… Belum ada kembalian.” Ucap si penjual berpura-pura panik. Tapi tidak dengan Luna, ia malah mencibir. Gimana bisa belum ada kembalian, dari tadi yang makan sudah banyak sebelum dia.


“Nggak usah dikembaliin, Bang.” Ucap Elio tiba-tiba.


“WHAAAT…?”


Apa ini balasan Tuhan karena Luna telah menzolimi Elio. Gadis itu miskin dalam sekejap. Seratus ribu melayang begitu saja untuk sebuah ketoprak yang tidak jadi enak.


“Mana kunci?” Elio meminta kunci Bumblebee pada Luna. Lalu menyerahkannya pada Herman. “Tolong parkirin ya Her.”


“Kakak… Vespa aku…”


“Udah serahin ke Herman. Dia juga pakai vespa ke kantor… Lagian kaki kamu masih sakit.” Ucap Elio sambil berjongkok di hadapan Luna


“Ayo naik.”


Luna naik kepunggung Elio, menopangkan dagunya di pundak kekar Elio dan melingkarkan tangan pada leher pria itu. Mereka berjalan memecah udara sore memasuki gedung hotel.


“Kakak maafin ya tadi aku ninggalin kakak.” Ucap Luna tulus. Ia bisa merasakan basahnya baju Elio karena keringat. Pasti karena berjalan jauh tadi.


“Hemmm… Jangan ulangi ya.”


“Iya…”


“Janji?”


Luna menyeringitkan keningnya. Terlalu berlebihan sampai harus berjanji.


“Kenapa harus janji?”


“Karena aku nggak akan bisa jauh dari kamu. Cukup enam tahun kita jauh-jauhan.”


Luna terkekeh. Elio punya kemampuan baru rupanya, menggombal. Dan anehnya ia masuk dalam gombalan itu.


“Mungkin buat kamu kehadiran sahabat-sahabat bisa mengatasi kesepian setelah aku pergi. Tapi enggak buat aku Luna. Aku kesepian disana, aku selalu nungguin telfon dari kamu tiap malam. Makanya aku bisa ngerti kenapa Papa sama Mama pingin hidup bareng. Mereka kesepian.”


Luna melihat wajah Elio yang hanya tampak sebagian. Ia hanya diam menunggu kalimat selanjutnya.


“Tolong jalanin pernikahan kita dengan cinta ya. Aku nggak pernah main-main soal ini. Kamu boleh punya ambisi lain, tapi tolong serius menata hidup sama aku. Kita jalanin semua untuk ibadah. Kamu mau kan?”


Luna mengangguk. Meskipun tidak bersuara, Elio bisa merasakan anggukan kepala Luna di pundaknya. Pria itu tersenyum. Mungkin dalam hati Luna belum ada namanya, tapi setidaknya Luna sudah mengizinkannya masuk ke dalam sana.


Sore itu, di depan Elios Hotel. Luna bisa mengerti Elio sudah benar-benar jatuh cinta padanya. Jika seorang Luna akan menghindar jika tahu ada pria yang jatuh cinta padanya seperti Aries dan beberapa pria lain, maka tidak dengan Elio. Luna berjanji dalam hatinya untuk tidak pernah pergi, sesuai dengan permintaan Elio padanya.


...🌝-[Bersambung]-🌝...


Harusnya aku bikin presentasi buat meeting besok. Tapi kenapa Elio dan Luna njerit-jerit minta ditulis. Yang sebelah besok deh ya….