
“Pilih yang mana ya, Ma?” Tanya Luna mengarahkan polselnya pada beberapa patung menakin yang terpasang gaun nikah. Hampir semua terlihat cantik dan mewah.
“Yang kanan lucu tuh. Tertutup. Warnanya juga putih tulang. Kelihatan mewah…”
“Coba aja. Nanti minta pendapat Elio.”
“Jangan lupa fotoin ke mama ya..!” Titah Renata yang sedang melakukan sambungan video call dengan Luna.
Meskipun posisinya masih berada di Aussie, dan baru tiba di Indonesia besok pagi, ia sudah sibuk mengurus semua perlengkan pernikahan kedua anaknya.
“Ya udah… Aku coba yang ini deh Mbak.” Luna menunjuk satu gaun yang pilihkan Sang Mama dan berjalan masuk ke fitting room.
Sepuluh menit berada di fitting room bersama seorang staff butik, akhirnya Luna keluar.
“Kak…” Panggil Luna pada Elio yang masih memainkan ponselnya.
“Gimana? Bagus nggak?”
Bukannya menjawab, Elio malah mematung. Luna sanggat cantik dan anggun dengan gaun tersebut.
“Eh si Masnya terkesima.”
“Sabar Mas. Sebentar lagi halal. Nggak cuma dipandang, tapi boleh disentuh.” Ucap si pemilik butik yang bernama Mba Marissa membuat Elio dan Luna salah tingkah.
“Kamu mau pakai baju ini waktu akad nikah?” Tanya Elio berusaha santai, matanya tapi tidak bisa putus memandang Luna.
“Aku nggak punya ide. Ikut Kakak aja.” Luna mengedikkan bahunya.
“Berarti aku boleh aku saran ya? Eh minta sih lebih tepatnya.”
“Kakak minta apa?”
“Kamu cantik pakai ini. Cantik banget malah. Aku suka.” Elio tersenyum, dia tidak bohong bahkan sampai memotret Luna dengan kamera ponselnya.
“Tapi aku mau pas akad nikah kita, kamu pakai kerudung. Boleh?”
“Pakai kerudung?”
“Hemmm… Aku belum siap pakai kerudung, Kak.” Luna terlihat tidak enak hati menolak.
“Iya… Nggak masalah. Ini cuma buat pas nikah aja. Biar kalau misalnya beberapa tahun lagi aku pengen upload foto nikah kita, terus kamu udah memutuskan pakai kerudung jadi nggak perlu edit-edit nutupin rambut.” Elio tersenyum.
“Mau kan?” Ucapnya dengan nada memohon.
“Iya udah.”
“Mbak… Sesuai perintah si boss ya..” Luna akhirnya berbalik badan kembali ke fitting room.
Tiga kali Luna berganti pakaian, akhirnya terpilihlah satu gaun yang cocok untuknya dan sesuai dengan selera Elio. Pernikahan yang rencanya hanya akan diadakan Mini Ballroom Elios Hotel, dengan konsep home wedding party sangat cocok dengan gaun simple khas melayu berwarna biru pastel.
“Nggak ada foto prewednya ya?” Tanya Mbak Marissa.
“Hehe.. Nggak ada Mbak.” Jawab Luna canggung.
“Kami nikah sederhana aja. Hanya ada keluarga dekat.” Mana mungkin ada prewed. Menikah saja serba dadakan dan buru-buru, fikirnya.
“Wah sayang banget. Kalau ada prewed, kita bisa kasih diskon buat sewa baju adat.”
“Coba lihat kesini sebentar.” Mbak Marissa menarik lengan Luna dan mau tidak mau Elio mengekor di belakang mereka.
“Lihat…! Kita lengkap loh baju adatnya. Sabang sampai Merauke ada.” Pemilik butik langsung membuka ruangan tersebut ternyata tempat dia menyimpan baju adat.
Bak seorang marketing profesional, Mbak Marissa mengeluarkan jurus jitunya dengan memperkenalkan baju adat yang paling hits saat ini.
“Luna asli mana?”
“Jakarta, tapi orang tua asli Minang dan Sunda.” Jawab Luna sambil melirik baju ada Minang dengan suntiang di sebelahnya.
“Kalau Masnya?”
“Saya juga Jakarta, tapi orang tua asli Jogja dan Palembang.” Ucap Elio ramah.
“Pas banget. Ini baju-baju kita menang festival budaya bulan lalu.” Mbak Marissa meminta asisten perancang busana untuk mengeluarkan pakaian adat Minang itu dari lemarinya.
“Lihat…! Cantik banget dipakai sama si Uni.” Ucapnya sambil mematut matut baju adat minang dengan rok songket ke tubuh Luna.
“Ya udah Mbak. Empat baju adat yang yang tadi aku sebut, tolong disiapkan ya. Setelah akad kami mau postwedding.” Elio menyeringai. Ia tatap Luna yang terkejut dengan mata membulat.
“Ashiiaaaap…” Ucap pemilik butik bersemangat.
“Kok nggak bilang-bilang dulu sih.” Bisik Luna.
“Biar kita punya banyak kenangan.”
“Yuk pulang…” Elio menarik tangan Luna meninggalkan butik.
“Kakak… Lain kali diskusi dulu dong. Aku belum tentu mau.” Ucap Luna saat mereka sampai di dalam mobil.
“Hehe iya maaf.” Elio cengengesan.
“Aku lihat kamu kagum kok sama baju adat tadi, makanya aku pesan langsung.” Bagi Elio apa pun yang bisa membuat Luna senang, akan ia lakukan. Apa lagi hanya sekedar menyewa empat baju adat.
“Bukan begitu. Kita harus bikin perhitungan yang jelas. Butuh atau tidaknya. Sesuai budget atau tidak. Kalau soal kepengen, aku mau semua, Kak.”
“Jangan karena semata-mata punya duit yang banyak, terus bisa sembarangan mengeluarkan uang. Harus ada hitungan matematis.”
“Aku punya prinsip kaya gitu. Tidak bisa menghamburkan uang sembarangan.” Ucap Luna meskipun dengan nada sopan tapi sangat menohok.
“Terus maunya gimana? Aku batalin aja?”
Luna menghela nafasnya. “Nggak mungkinlah. Sungkan sama Mbak Marissa.”
“Tau gitu kita nggak perlu keliling-keliling lihat baju adat tadi.” Sesal Luna.
“Loh kan tadi yang ngobrol sama Mbak Marissa kamu. Aku cuma ikut kalian aja.” Elio yang tidak mau disalahkan mulai menyela.
“Ya itu karena Kakak nggak ngasih tau aku kalau mau meeting.” Luna yang merasa tersudut langsung terpancinh berbicara agak keras.
“Harusnya tanpa aku kasih tau, kamu bisa menolak dia. Kan itu tidak ada dalam agenda kita.” Balas Elio.
“Aku cuma nggak enak aja sama Mba Marissa. Dia lagi semangat-semangatnya menjelaskan rancangan dia.” Jawab Luna cepat.
Elio menarik nafasnya dalam-dalam. “Okey fine… Ini salah kita karena kurang komunikasi. Yang penting urusan fitting udah selesai. Sekarang tinggal persiapan lahir batin untuk akad Jumat.” Elio berusaha menetralisir hatinya.
“Kamu siap kan?” Tanyanya kemudian.
Luna mengangguk kemudian memilih hening selama perjalanan. Ternyata benar kata orang, masa-masa sebelum menikah rentan perdebatan seperti ini. Mulai sekarang Luna harus hati-hati karena jika dulu Elio memperlakukannya layaknya adik kesayangan, ternyata hari ini Elio mulai memperlakukannya seperti partner dalam mengambil keputusan.
Keheningan terus berlanjut sampai akhirnya dering ponsel Luna berbunyi. Nama Satria terpampang di layar ponselnya. Luna langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Halo Sat…”
“Gue telfonin lo dari tadi kemana aja sih? Gue udah kirim ke Pak Cipto ya. Semoga udah bener semua.”
“Oh okey… Makasih ya. Tolong bilangin anak-anak sorry gue nggak bisa ikut sesuai jadwal. Ada perlu sama Kakak.”
“Udah… Semua pada ngerti kok. Lagian kan lo yang paling banyak ngerjain tugasnya.” Terdengar juga ucapan terima kasih dari beberapa rang teman kelompok Luna dari jauh.
“Ini kayanya tas lo ketinggalan. Isi bakpia. Buat siapa nih? Rejeki gue bukan?” Satria terkekeh.
“Eh itu buat kalian. Ambil satu-satu ya. Rasanya cuma ada kacang hijau. Gue sampai lupa kasih tau tadi.”
“Rejeki kita ternyata guys…” Teriak Satria pada teman-temannya.
“Eh kok enam? Kan kita cuma berlima.” Suara Felicia terdengar dari jauh.
“Astagfirullah… Gue ngitung enam termasuk nama gue tadi. Haha… Nggak fokus.”
“Kebetulan… Disini ada Babang Presbem. Lagi sama kita nyariin Athanya Luna Gemilang katanya. Buat dia aja ya yang satunya?”
“Ha..?” Luna berfikir sejenak. Tidak mungkin dia bilang tidak boleh untuk Aries.
“Iya… Boleh… Buat anak-anak BEM aja kalau gitu.” Ucap Luna ragu-ragu.
“Siiip… Makasih oleh-olehnya. Dapat salam dari Babang Presbem katanya.”
“Udah dulu ya. Gue lagi di jalan. Nanti kalau ada apa-apa telfon lagi aja. Makasih udah maklumin gue nggak ikut hari ini.”
Luna langsung memutus sambungan telfonnya dan melirik ke arah Elio yang fokus menyetir dan kembali menunduk.
“Kamu kalau ngomong sama teman ramah banget ya. Kalau sama aku selalu ketus.” Ucap Elio terdengar seperti menyindir. Mungkin rasa kesal karena disalahkan menghamburkan uang masih ada dalam hatinya.
Ucapan Elio membuat Luna tertegun. Kenapa ada rasa bersalah dalam dirinya terutama setelah kalimat terakhir dari Satria soal Aries.
“Malah diam?” Protes Elio yang tidak mendapatkan tanggapan dari Luna.
“Kakak maunya aku gimana?” Lirih Luna. Efek mengantuk karena begadang mengerjakan tugas membuatnya malas untuk berdebat.
“Jaga jarak dan jangan terlalu dekat dengan mereka.” Tegas Elio.
“Aku laki-laki, aku bisa merasakan kalau kamu menarik. Nggak sekedar cantik tapi juga baik. Dan sekarang ditambah lagi ramah seperti itu kalau bicara. Orang lain bisa salah faham.” Tukas Elio.
Luna mengkerut kan dahinya. “Maksud Kakak aku nggak boleh ramah?”
“Membatasi interaksi. Ngerti nggak?” Ucapnya dengan penuh penekanan.
“Kan kita sudah mau nikah. Jadi bisa saling jaga perasaan.” Entah kemana kewarasan Elio hari ini. Tiba-tiba saja dia ingin menerapkan banyak aturan pada Luna.
“Tapi aku…”
Belum sempat Luna menyelesaikan omongannya, giliran ponsel Elio yang berbunyi. Pria itu langsung memasang earphone bluetooth pada satu telinganya dan menggeser layar ponselnya.
“Halo Ayya…”
“El… Kamu dimana? Jadi meeting persiapan audit kan?”
“Jadi. Setengah jam lagi aku sampai di hotel.”
“Segera ya. Ini kita sudah terhubung sama cabang Jogja dan Bandung.”
“Oke… Aku segera kesana. Sementara tolong kamu handle dulu. Aku habis jemput Luna ke kampusnya.”
“Luna?”
“Iya Luna… Adik aku.”
“Oh… Ya sudah. Aku tunggu ya. Bye…”
Elio langsung berpindah ke lajur kanan, kemudian berputar arah melajukan mobilnya menuju hotel. Luna yang terkejut karena tidak jadi ke apartment langsung bersuara.
“Kakak stop… Aku naik ojek online aja.”
“Ikut aku aja.” Ucapnya dengan suara lantang.
“Enggak mau… Turunin aku di halte depan..!” Pekik Luna, matanya sudah merah.
...🤭-[Bersambung]-🤭...
inhale exhale