My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Lamaran Romantis Versi Luna



Sendiri duduk di dangau, melihat lepas ke hamparah kebun dan sawah, Luna mengayunkan kedua kakinya bergantian. Perutnya sudah keroncongan, aroma ikan asin seperti berhasil membuat usus-ususnya berorkestra. Sepuluh menit yang dijanjikan Elio ternyata tidak bisa ia tepati, bahkan sudah lewat 30 menit semakin membuat perutnya perih.


“Dek…”


Luna terperanjat. Kaget tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang. Suaranya seperti suara Elio, tapi kenapa memanggilnya dengan panggilan berbeda. Sejak kapan Elio memanggilnya begitu?


“Kakak…”


Elio mematung, ujung matanya sedikit basah. Melihat Luna dari atas ke bawah membawa ingatannya pada puluhan tahun silam. Bundanya pernah menggunakan baju ini. Jika saja mereka sudah sah menikah, Elio pasti memeluk erat tubuh Luna untuk melepas rindu pada bundanya.


“Kakak kenapa? Ada masalah di hotel?”


“Eh nggak…” Elio gelagapan menghapus air matanya.


Sebanyak apa pun pertanyaan yang ia ingin tanyakan pada Elio tiba-tiba saja menguap. Nyalinya ciut begitu saja takut bahasan itu terlalu mencampuri urusan Elio.


“Ayo makan ih… Laper tau… Aku nungguin Kakak sampai digodain…”


“Heh… Sama siapa? Kasih tau aku..!” Elio langsung memasang badan.


“Sama ikan asin tuh. Baunya enak banget. Aku nggak tahan pengen makan.”


“Hahaha… Kamu kenapa nggak makan duluan?”


“Biar kaya Mbah Uti, nungguin Mbah Kung kalau makan…” Jawab Luna ketus, tapi Elio langsung semringah.


“Wah aku sering-sering ajak kamu ke Jogja ah. Biar kamu bisa makin pinter ngelayanin suami nanti. Apalagi kalau udah nikah, pasti aku menang banyak.” Celetuk Elio.


“Iih udah ah… LAPEEER…”


Luna langsung mengambil piring kosong dan menyajikan untuk Elio. Ternyata ilmu dari Mbah Uti langsung ia terapkan, membuat Elio senyum-senyum.


“Makasih ya, Dek… Maafin tadi aku lupa jalan ke sini. Jadi muter-muter. Pakai google maps malah mentok rumah orang, eh malah diajakin ngobrol dulu.”


“Kakak kenapa sih panggil aku Dek sekarang?” Luna bertanya dengan dahi mengkerut.


“Nggak pa pa. Kalau kamu pasti nggak mau ganti panggilan jadi yang lain. Biar aku aja yang ganti panggilan kamu biar kita lebih dekat.”


Luna berdecih. Sudah tidak ada orang lain tapi Elio masih saja menggodanya.


“Yang sopan sama aku, Dek.”


“Iya… Tapi kakak tuh becanda mulu.”


“Aku nggak becanda. Aku nggak mau selamanya kamu merasa aku adalah kakak kamu. Aku mau kamu ganti mindset kalau aku akan jadi suami kamu. Bisa ya?”


“Hemm…” Akhirnya Luna bungkam.


“Eh si mbah kayanya udah cerita kamu calon istri aku sama semua orang. Tiba-tiba kampung heboh ngomongin kita. Tanya nikah kapan, nikah dimana sama aku.”


“Haah???” Luna langsung menganga. “Kok gitu?”


“Ya udah biarin aja. Toh mereka bukan temen-temen kamu. Udah yuk makan…”


Tanpa fikir panjang Elio langsung mencuci tangan di air mancur yang tidak tau sumbernya dan bersiap makan dengan tangannya.


“Eeh… Kakak cuci tangan dulu sama air matang. Aku nggak bawa sabun jadi pakai hand sanitizer aja ya. Kita nggak biasa seperti ini, aku takut nanti kita sakit. Lebih baik mencegah dari pada mengobati. Ya kan?” Luna mengoceh sambil menungkan segelas air ke tangan Elio. Lalu ia semprotkan hand sanitizer sampai lengan.


Elio tersenyum ia lebih fokus melihat wajah Luna dari pada tangannya.


“Ih kakak mah… Jangan lihatin aku begitu. Dosa tau…!”


“Dosa mana dari yang nyolong cium pipi aku?”


“Ih aku kan nggak pakai nafsuu. Itu juga udah berapa bulan yang lalu. Sebelum kita sepakat nikah.”


“Aku juga nggak pakai nafsuu. Cuma kagum aja.”


“Cih… Biasanya juga bilang aku cerewet banget bikin kepala kakak pusing. Sekarang bilang kagum-kagum.”


“Iya ya…” Elio tersenyum. “Mungkin karena aku udah jatuh cinta sama kamu.” Elio terkekeh.


“Udah nggak usah banyak ngomong… Makan…! AKU LAPEEER..” Sentak Luna.


Selama makan, Luna dan Elio banyak membicarakan tentang kondisi di rumah Mbah. Terutama tentang pipa pompa air yang rusak. Tentang dispenser yang ternyata tidak dipasang karena listrik yang tidak cukup daya. Tentang lumbung padi yang katanya sudah bersarang rayap.


“Aku nggak tega Kak..” Luna terisak. “Apa lagi mbah nyuci pakai tangan. Kan capek seharian kerja keras kaya gini. Habis itu harus ngucek baju.”


“Iya iya… Ini aku udah minta Pak Sar hari ini cari tukang. Aku juga nanti langsung urus tambah daya di PLN. Sekarang udah bisa online ngurusnya. Mesin cuci juga aku ganti yang lebih gampang cara kerjanya.”


“Aku yang makasih sama kamu. Aku emang nggak peduli sama hal yang kaya gitu. Lain kali aku cek semua. Ada lagi nggak?”


“Kamar mandi bisa pindah ke dalam nggak ya? Masa harus ke luar kalau mau ke kamar mandi?”


“Nanti yang ini aku tanya Mbah dulu ya. Beliau mau atau nggak. Semoga aja mau ya.”


Luna mengangguk. “Kita nggak usah jalan-jalan. Disini aja sampai besok. Aku nggak mau jalan-jalan sampai ini semua beres. Aku bener-bener nggak tenang balik ke Jakarta kalau kondisi di sini belum aman untuk Mbah. Yang paling urgent itu pompa air. Aku takut banget Mbah Uti ketarik ke sumur.”


“Yaaaah…”


Elio kecewa karena sebenarnya dia punya satu kejutan untuk Luna. Bahkan dia sudah menyiapkannya semaksimal mungkin hari ini.


“Kok gitu sih…?”


“Nggak pa pa sih. Aku pengen ajak kamu ke kota aja malam ini sebenarnya. Mau nggak?”


“Aku capek banget, Kak.” Keluh Luna sambil memijit kakinya.


Elio menghela nafanya. “Ya udah deh… Yuk pulang. Istirahat di rumah.”


Luna hanya melirik Elio heran. Kenapa tiba-tiba Kakaknya tampak kecewa.


“Nggak mau ah. Aku suka di sini aja. Tempatnya enak, aku pasti nggak bisa lupain hari ini. Kapan lagi coba bisa nikmati hembusan angin aroma sawah gini. Kalau ke kota cuma ada macet, ramai sama bising.”


Luna tersenyum sambil memejamkan matanya. Tangannya terbentang seolah-olah ingin menyerap semua energi positif dari alam.


Mendengar kalimat Luna yang mengatakan dia tidak akan melupakan hari ini, otak cerdas Elio langsung berfikir. Rencana kejutan yang tadi ingin ia berikan di salah satu tempat wisata di Jogja, spertinya akan ia lakukan di sini.


“Dek…”


“Hemmm…” Jawab Luna dengan mata terpejam.


“Aku pinjam tangannya boleh ya?” Elio meraih tangan kiri Luna.


“He?”


Luna langsung membuka matanya dan melihat ke arah tangannya yang sedang dipasangkan cincin ke jari manis. Cincin itu sagat cantik dengan kilauan permata di tengahnya.


Luna menarik tangannya dan melepaskan cincin itu, Elio terkejut.


“Maaf Kak. Aku nggak bisa terima.” Ucap Luna sambil mengembalikan cincin itu ke tangan Elio.


Hancur sudah perasaan Elio. Apa Luna menolaknya? Tapi kenapa dia mau menandatangani surat pengajuan pernikahan ke KUA minggu lalu.


“Kenapa?” Elio tercekat, nafasnya sesak tiba-tiba


“Aku nggak boleh terima barang mahal dari Kakak. Pasti cincin itu mahal kan?”


“Hahaha… Kamu bikin aku meloncos aja. Aku fikir kamu nolak aku. Aku udah minta izin Mama mau ngasih cincin ini sama kamu.” Ucap Elio berusaha memasangkan lagi.


“Aku nggak percaya. Apa buktinya?”


“Ayok kita video call Mama sekarang. Kamu coba tanya sendiri nanti.” Ancam Elio sambil mengambil ponsel dalam saku celananya.


“Nggak usah video call Mama. Iya… Aku percaya…” Ucap Luna sambil menunduk pasrah saat tangannya di raih kembali oleh Elio.


“Aku pasangin lagi ya. Anggap aja aku lagi lamar kamu hari ini di tempat yang kamu suka. Sampai kapan pun tolong ingat-ingat hari ini ya.” Elio kembali memasangkan cincin itu pada jari manis Luna. “Sebelah kiri dulu. Minggu depan sebelah kanan.” Sambungnya lagi.


Luna tersenyum. “Makasih Kak…”


“Suka?” Tanya Elio mesih menggenggam tangan Luna.


Luna mengangguk. Mimpi apa dia dilamar seperti ini oleh Elio.


Cuiiit cuittttt…..


Tiba-tiba saja suara suitan terdengar bersahutan, mungkin dari pemuda yang mengintip mereka dari kejauhan.


Luna langsung menarik tangannya. “Udah ah, malu.”.


...😂-[Bersambung]-😂...


Extra up untuk hari ini….


Biar dapat poin koin lagi *eh