
Luna POV
Aku masih mematung berdiri di balik pintu kamar, mencoba mengatur nafas dan menahan air mata agar sebisa mungkin tidak menetes. Membiarkan pintu apartment kembali ditutup oleh Kakak dari luar.
Kakak pasti sangat marah karena sifat kekanak-kanakanku tadi yang minta turun di Halte. Padahal aku tau, semarah apa dia, pasti tidak akan pernah melakukan itu. Iya… Kakak memilih datang terlambat ke meetingnya dari pada menurunkan aku di jalan. Yes… He's still my iron man. At least until today.
“Sekarang kamu evalusi apa salah kamu.” Tegasnya sebelum aku menutup pintu kamar ini.
Masih sedikit pusing, aku mencoba berjalan ke meja belajar dan memilih duduk di sana. Mengingat-ingat bagian mana yang menjadi kesalahanku. Okey… Mari kita runut.
Tadi malam, Kakak menelfonku memberi kabar tidak bisa pulang karena akan ada operational audit di hotelnya minggu depan. Persiapan ini akan menuntut Kakak lebih banyak berada di hotel dari pada di apartment minggu ini. Aku cukup terkejut karena kakak memintaku mengosongkan jadwal dari jam 2 hingga jam 4 karena untuk keperluan fitting baju pernikahan esok harinya.
“Harus jam 2 ya Kak? Aku kebetulan ada janji ngerjain tugas kelompok. Tugasnya harus selesai jam 3. Jadi harus finalisasi makalah setelah sholat zuhur.” Aku mencoba memberi pengertian.
“Gimana ya Dek. Aku juga lagi sibuk banget sebenarnya. Kerja kelompoknya nggak bisa di reschedule ke pagi gitu?” Tanyanya.
“Kamu tau sendiri ini mepet banget. Apalagi nikahnya harus dimajuin satu hari.” Jelas terdengar helaan nafasnya.
“Ya udah, aku coba nego sama anggota kelompok dulu ya. Nanti aku kabari lagi.” Aku tutup telfon dan langsung menghubungi Satria sebagai ketua kelompok untuk tugas ini.
“Yah Lunaaa… Lo kan tau lo paling pinter dan paling menguasi materi ini Lun. Kalau nggak ada lo kita nggak akan ngerti ngerjain ini. Tau sendiri Pak Cipto kaya pesawat jet kalau ngajar.” Desis Satria membuatku terkekeh. Istilah pesawat jet ini sudah turun temurun dari kakak tingkat kami.
“Pagi nggak mungkin ya?”
“Abel sama David ada kelas. Felicia sama Robby juga masih ada jadwal praktikum. Yang free kita doang. Gimana?” Satria malah balik bertanya.
“Gimana kalau gue kerjain latar belakang dan pembahasannya. Nanti semua jurnal untuk referensi gue sediain. Kalian tinggal bikin tinjauan pustaka dari sana dan tarik kesipulan dari pembahasan gue. Kerangkanya gue bikinin deh.” Tawaran ini pasti menggiurkan bagi mereka karena berarti hampir 80% dari tugas kelompok aku yang mengerjakan sendirian.
“Hahaha ini yang gue suka dari lo. Okelah… Kalau gitu pagi setelah kuliah mabel kita ketemu dulu ya. Lo harus tetap brief gue biar nanti gue yang jelasin ke anak-anak. Gimana pun gue nggak mau lo doang yang pinter. Biar kalau ditanya Pak Cipto waktu presentasi, kita nggak bego-bego banget.” Akhirnya pembicaraan ditutup.
Malam itu aku benar-benar tidak tidur sampai pagi. Berkutat dengan tugas yang banyak menggunakan aplikasi design. Beberapa kali laptopku nge-lag seperti tidak kuat bekerja, tapi untungnya masih bisa aku akali dengan mengistirahatkannya beberapa saat.
Sehabis subuh aku mulai mengumpulkan jurnal dan memberi highlight untuk rujukan dan terakhir barulah aku menghitung analisis biaya yang ternyata membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Aku sampai meneguk tiga gelas pagi itu bahkan sebelum sarapan.
Aku baru tahu ternyata mengantuk bisa ditunda jika adrenalin sedang bekerja. Ini lah buktinya, hari ini aku masih bisa berdiskusi dari pagi hingga siangdengan Satria dan melakukan fitting baju nikah dengan Kakak dari siang hingga sore harinya.
Satu sifat yang ternyata dari dulu tidak bisa aku hindari adalah ‘worrying about what others think’ alias rasa khawatir tentang apa yang orang lain fikirkan. Termasuk salah satunya saat Mba Marissa mengajakku melihat baju adat. Aku tidak bisa menolak. Dia begitu pintar merayu kami untuk memperlihatkan hasil rancangannya. Aku pun ingin mengapresiasi dengan mengikutinya. Ternyata ini awal dari permasalahan kami.
Jujur aku feel excited saat melihat berbagai pakaian adat. Jiwa seniku seperti tiba-tiba saja bergejolak, apa lagi saat melihat baju adat Minang Kabau. Pakaian ini pernah aku pakai saat menari Pasambahan saat SMP. Suntiang berwarna emas yang terletak di etalase membuatku langsung tersenyum.
“Lihat…! Cantik banget dipakai sama si Uni.” Mbak Marissa melilitkan kain songket silungkang ke tubuhku, dan aku lihat Kakak tersenyum, sorot matanya terlihat sangat senang. Melihat dia tersenyum aku pun ikut tersenyum. Memang cantik sekali warna pakaian adat ini, warna merah maroonnya sangat memberikan kesan elegan.
Tapi senyumku memudar saat kakak tiba-tiba berniat menyewa dan ingin melakukan postwedding. Kenapa? Padahal semua tidak ada dalam rencana kami.
Tentu itu semua berimbas pada perekonomian keluargaku yang memang masuk kategori menengah. Aku dididik untuk bisa merasa cukup dengan apa yang aku butuhkan. Tidak usah jauh-jauh, contohnya saat aku ingin ke Jogja waktu itu, Mama tidak sanggup membiayaiku.
“Aku punya prinsip kaya gitu. Tidak bisa menghamburkan uang sembarangan.”
Akhirnya kata-kata itu keluar. Aku tidak tahan karena Kakak menilai kebahagiaanku dengan banyak barang. Tapi ternyata ini kalimat yang menyakiti hatinya, sehingga untuk petama kalinya dari dua belas tahun aku mengenalnya, Kakak melihatku dengan tatapan setajam itu.
“Kalau kamu nggak mau menghamburkan uang, aku nggak mau menghamburkan waktu. Itu prinsipku.” Jawab Kakak tak kalah menohok. Andai saja tadi aku bisa menolak ajakan Mba Marissa, pasti tidak akan salah paham seperti ini.
Setelah diam beberapa saat, kami akhirnya sadar ini semua karena kurangnya komunikasi. Fiks ini hanya salah paham saja dan kemudian aku memilih diam.
Tapi siapa sangka, kemarahan Kakak semakin menjadi-jadi saat aku menerima telfon dari Satria. Aku pastikan hanya suaraku yang terdengar karena aku mengecilkan volum ponselku, takut jika teman somplakku ini bicara sembarangan seperti tadi di cafentaria. Dan benar saja, di akhir kalimat Satria kembali membahas kembali Presbem hits itu membuatku merasa bersalah pada Kakak. Ya… Walaupun Kakak pasti tidak mendengarnya, tetap saja itu tidak boleh terjadi.
“Membatasi interaksi. Ngerti nggak?”
Kalimat itu seperti bentakan terdengar ditelingaku. Kenapa harus semarah itu? Aku hanya berusaha sopan dan ramah pada semua orang. And this is me, and being friendly and polite is me.
Aku ingin menjelaskan pada Kakak, “Tapi aku rasa apa pun alasannya aku tetap harus bersikap ramah. Ya kalau aku selalu ketus sama Kakak, itu justru karena aku udah merasa sangat deket banget sama Kakak. Kaya seorang adik yang suka rebutan kacang atau pun remot televisi sama kakaknya. Aku belum bisa merubah pola komunikasi kita.”
Tapi ucapanku terputus pada dua kata pertama. Kakak mendapatkan telfon dari koki cantik itu. Namanya sudah puluhan kali aku dengar, bahkan sampai di Jogja sana, orang mengenalnya mempunyai medekatan personal dengan Kakak.
Aku tidak mempermasalahkannya karena aku membangun kepercayaan pada Kakak. Aku meyakini itu dari saat Kakak menahan tanganku dan meminta aku menjaga hati untuknya, hingga puncaknya saat cincin ini tersemat dijari manisku. Aku tidak ingin menaruh rasa cemburu karena aku yakin jika Kakak menyukainya, pasti dari dulu mereka sudah menjalin hubungan serius. Tapi ternyata itu tidak berlaku bagiku. Kakak tidak percaya padaku.
Ini menjadi rumit seketika, saat aku mengingat pertanyaan Kakak tadi siang padaku. Apakah rasa sayangku padanya adalah sebagai calon suamiku atau sebagai kakakku? Maka sekarang aku sudah bisa menjawabannya.
“Aku menyayangi Kakak sebagai kakakku. Elio Sang Iron Man yang tidak pernah marah dan selalu membela Luna yang tertindas.”
“I'm afraid to lose MY IRON MAN if you turn into my husband. Please, keep being MY KAKAK. I don't want to change it.” Aku kirim pesan itu melalui whatsapp padanya, tidak ada balasan karena memang pesan itu belum terkirim.
Aku putuskan untuk membersihkan diri, sholat lalu berbaring di tempat tidur. Total 2x24 jam aku terjaga dan sudah saatnya tubuhku beristirahat. Ayo tidur Luna… bisar bisa bangun tepat waktu besok pagi.
...🌝-[Bersambung]-🌝...
Nitizen : Lah kok malah berantem?
Author : Biar kaya orang-orang. Hehe…
Nitizen : Ya udah yang penting cepetan thor. Lama amat… Kreziii aap…
Author : Malas kalau yang like sama komen dikit. Ahahaha 😂😂😂