
“Sayang… Kamu nggak keberatan kan kalau Kak El tinggal sama kita di sini.” Tanya Gilang pada putri tunggalnya yang kala itu berusia tujuh tahun.
Luna menatap ke arah kamar tamu. Ada Elio yang sedang ditenangkan oleh Renata di dalam sana. Setengah jam lalu remaja laki-laki itu mengamuk sampai menghancurkan gitar kecil pemberian Tante Riyana pada Luna.
“Papa tau, tidak mudah menerima orang baru secara tiba-tiba. Tapi Kak El butuh bantuan Mama. Kak El itu sama seperti Kak Bintang dulu. Dia sangat butuh pertolongan Mama agar bisa kembali sembuh.” Gilang mengusap lembut kepala putrinya.
“Aku nggak suka karena dia kasar. Dia menghancurkan hadiah dari Tante Riyana. Beda dengan Kak Bintang yang hanya menangis tiba-tiba.” Mata Luna sudah berkaca-kaca.
“Itu karena Kak El terpukul dengan orang tuanya yang pergi tiba-tiba. Luna mungkin akan merasakan hal yang sama kalau berada di posisi Kak El. Mulai sekarang kamu harus anggap Kak El sebagai Kakak kamu sendiri ya. Kita bantu Kakak sembuh ya.” Ucapan Gilang membuat Luna kecil harus berusaha memahi berbagai permasalahan psikologis pada anak.
Lebih dari setengah tahun Luna terbiasa melihat Elio mengamuk dan menangis dengan pandangan kosong. Lama-lama dia terbiasa dan lebih memilih tidak ambil pusing.
“Bunda… El kangen… Kenapa Bunda tega meninggalkan El sendiri…? Tolong kasih tau El harus seperti apa menjalani semuanya..?” Malam itu Elio yang akan mengikuti Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama kembali merasa depresi. Dia memukul-mukul kepalanya sendiri saat duduk di meja belajar.
“Kakak harus jadi anak kuat. Kakak harus jadi orang yang bisa membanggakan orang tua dan berhenti bersedih.” Suara Luna kecil membuatnya terkejut.
“Ngapain kamu kesini?” Sentak Elio.
“Nemenin Kakak.” Jawab Luna santai malah semakin berani masuk ke dalam kamar Elio. Lalu meletakkan satu gelas susu cokelat di atas meja.
“Aku nggak butuh kamu. Sana keluar..!”
“Kakak itu aneh. Kakak merasa sendiri padahal setiap hari ada kami di dekat Kakak. Coba belajar membuka diri biar nggak kesepian. Biar nggak seperti tadi bilang tidak punya siapa-siapa padahal ada kami yang selalu berusaha membantu.”
Luna kecil itu naik ke atas tempat tidur dan mulai memetik gitarnya. Elio mendekat ingin menarik Luna keluar kamarnya. Tapi gadis kecil itu malah balik menariknya hingga terduduk di kasur.
“Aku tau di dalam sini ada duka, ada marah, ada kecewa, ada rasa benci.” Luna menunjuk dada Elio. Elio isedikit memberi jarak.
“Tapi aku tau di dalam sini juga ada kedamaian kalau Kakak mau berdamai dan ikhlas. Aku memang belum pernah ada di posisi Kakak, tapi aku percaya pasti Kakak segera sembuh seperti Kak Bintang.”
Elio tidak percaya anak perempuan berusia delapan tahu bisa bicara sebijak itu. Ada berapa banyak anak seperti dia yang pernah dibantu keluarga ini, sampai-sampai Luna bisa sebijak ini menasehati.
“Udah jangan melamun aja. Kalau Kakak nilai UN nya bagus, Mama janji ajak kita ketemu Papa di Jerman. Jadi plis kali ini berjuang biar aku bisa ketemu Papa ya. Udah tiga bulan nggak ketemu Papa. Aku kangen banget.” Elio tersenyum melihat Luna merengek.
“Iya aku bakal bikin keinginan kamu terwujud.”
“Luna….”
“Luna….”
“Luna…”
“Mamaaaaaaa…”
“Mama… Luna takut….” Rintih Luna dengan mata masih terpejam.
“Luna bangun, Sayang.” Suara khas itu… Luna rindu. Andai mamanya ada di sini, pasti semua akan baik-baik saja.
“Luna….” Suara itu…
“MAAA…” Luna terduduk dan langsung berhambur kepelukan Renata. Dahinya penuh keringat seperti orang habis berlari jauh.
Renata dan Gilang saling berpandangan. Kondisi kamar itu sangat berantakan. Pakaian Elio dan Luna berserakan di lantai bahkan bebera kancing baju sepeti tercecer.
“Papa keluar dulu ya. Biar Mama bicara dengan Luna.” Gilang mengangguk. Dia tau ada yang tidak beres dengan anak perempuannya.
“Kamu kenapa, Sayang…?” Luna tersentak. Ini bukan mimpi. Renata benar-benar sudah di Indonesia. Satu hari lebih cepat dari renana.
“Ma… Mama… Kapan sampai?” Luna balik bertanya.
“Barusan. Mama udah pencet bel berkali-kali tapi kamu nggak keluar. Jadi Mama langsung masuk aja.” Luna tersenyum kembali memeluk Renata.
“Aku kangen…”
“Iya Mama juga.” Ibu dan anak itu saling berpelukan.
“Kamu demam, Sayang. Tadi juga tidurnya mengigau. Kamu sejak kapa sakit..?” Tanya Renata penuh selidik.
“Aku… Aku sakit?” Luna memegang dahinya sendiri. Suhu tubuhnya memang terasa panas. Badannya juga terasa nyeri.
“Aduuh Mama keluar dulu deh. Aku mau bersihin kamar.” Luna mendorong Renata untuk menjauh.
“Udah nggak usah. Kamu istirahat aja. Nanti biar Mama bantu.” Renata justru mendorong balik tubuh Luna agar berbaring. Luna menarik nafas panjang. Malu sekali rasanya tertangkap basah seperti ini.
“Lain kali kalau kamu memang kurang fit, kalian bisa menunda berhubungan dulu. Mama yakin El pasti ngerti kok. Kalau kamu sakit gini, kan kalian juga yang repot.” Renata melihat banyak tanda kemerahan di leher Luna lalau bangkit mengemasi pakaian anak-anaknya dan memasukkan ke keranjang kotor.
“Mama, Luna belum sarapan.”
“Ha…?” Ini udah jam 11 kamu belum sarapan gimana?” Tanya Renata terkejut.
“Mama fikir kalau menikah dengan El, makan kamu terjamin, ternyata sama aja seperti dulu.” Renata kembali mengomel.
“Kakak sibuk akhir-akhir ini. Jarang masak kalau pagi. Biasanya kami delivery order aja.” Jawab Luna.
Siang itu Renata tidak menemukan jawaban apa pun dari Luna. Setelah makan siang Luna di beri obat demam dan langsung kembali tidur di kamar.
“Mama benaran nggak tenang kemaren pengen cepat pulang ke Indonesia. Ternyata benar kan ada yang nggak beres sama mereka.” Adu Renata pada Gilang.
“Ya… Kalau mereka memang nggak mau cerita sama Mama jangan dipaksa ya. Mereka sudah dewasa. Sudah harusnya bisa mandiri menyelesaikan masalah rumah tangga sendiri.” Gilang mengusap kepala istrinya yang kesal karena CCTV aparteman mati dari semalam.
Sudah pukul tiga siang, Luna masih tertidur pulas. Renata yang ingin membangunkan Luna untuk sholat ashar, kembali masuk ke kamar Luna.
“Paaaa….” Pekik Renata
“Ya…”
“Paaaa… Tolong Paaa. Lunaaaa….” Suara Renata panik seperti ketakutan. Gilang langsung berlari masuk ke dalam kamar.
“Kenapa…?”
“Badannya panas banget. Mama bangunkan nggak bangun-bangun. Kita bawa ke rumah sakit aja.”
Sore itu Renata langsung membawa Luna ke Abrar Hospital. Sepanjang perjalanan Luna masih saja mengigau ketakutan dan minta ampun pada Elio. Renata merasa dadanya bergemuruh. Apa yang sebenarnya terjadi pada Luna dan Elio semalam.
“Infusnya di tangan kanan, sus?” Tanya Renata saat seorang perawat memasukkan jarum infus ke punggung tangan kanan Luna.
“Iya dok. Tangan kirinya sudah ada bekas infusan. Sebelumnya pasien sempat di rawat dimana?”
“Apa…?”
Renata tercengang, ia meraih tangan kiri Luna dan benar ada bekas infus baru di sana. Perasaan Renata semakin tidak karuan.
“Hasil lab nya keluar setengah jam lagi ya, dok. Nanti dokter Danu yang bertanggung jawab.” Ucap perawat pada Renata. Meskipun sudah tidak bekerja di Abrar Hospital, perawat tetap mengenali Renata karena sudah bekerja puluhan tahun di sana.
“Papa barusan telfon El. Elio juga tidak juga tidak tau Luna sempat diinfus sebelumnya. Malah dia balik bertanya Luna kenapa sama Papa.” Ucap Gilang. Renata hanya menatap Gilang dengan tatapan bingung.
Setengah jam menunggu, dokter Danu masuk memantau Luna. Dokter muda ini tampal sedikit canggung melihat Renata, sang dokter senior merupakan keluarga pasien.
“Luna Anemia, dokter Ren. Zat besinya hanya 12 mcg/L. HB nya juga rendah di angka 10 g/dL” Ucap dokter Danu pada Renata.
“Info perawat sebelumnya ada bekas infus. Ini bekas transfusi atau infus biasa ya? Bisa saya pinjam rekam mediknya..?” Tanya dokter Danu pada seniornya itu.
Renata menghela nafas panjang. “Saya baru sampai di Indonesia siang tadi. Jadi belum tau sama sekali, dok.” Jawabnya Renata terlihat frustasi.
“Tapi stok darah AB+ tersedia kan, dok..?” Tanya Renata memastikan.
“Kebetulan stok di rumah sakit sedang kosong, dok Ren. Saat ini perawat sedang memastikan ke PMI. Semoga saja tersedia di sana. Namun lebih baik keluarga berjaga-jaga mencari pendonor dari sekarang.” Renata mengangguk paham.
Melalui akun sosial medianya Renata mulai menyebar info butuh donor darah golongan AB+. Setidaknya lebih baik berjaga-jaga khawatir stok darah di PMI juga kosong.
“Maaaa… Paaaa…”
Elio datang dengan wajah panik. Renata mengepalkan tangannya entah harus seperti apa meredam amarah pada anak menantunya itu.
...-[Bersambung]-...
Pencet like dan ramaikan dengan komentarmu. 😊