
Elio POV
“Bodoh kamu, El.”
Sekali lagi aku merutuki kebodohanku terutama jika harus mengingat kembali kejadian malam itu. Kenapa aku tidak memanfaatkan lima menit saja untuk mendengarkan alasan Luna, malah justru meluapkan rasa cemburuku dengan tindakan impulsif tidak berprikemanusiaan.
Mama bilang ada beberapa bagian tubuh Luna yang memar terutama di pergelangan tangan. Bahkan saat Luna belum sepenuhnya sadar, ia sempat mengeluhkan salah satu dadanya sakit. Bibir bawah Luna juga terdapat luka kecil dan terakhir saat Luna bangun ia meringis kesulitan berjalan. Aaakkh… Tangan ini begitu kotor. Rasanya aku tidak pantas dimaafkan oleh keluarga ini.
“Luna tidak mau cerita sama Mama. Dia cuma bilang dia insecure tidak bisa mendampingi kamu dengan baik.” Luna… Suamimu jahat, tapi masih kamu lindungi.
“Sebagai orang tua Luna, wajar Papa marah melihat kondisi Luna seperti itu. Tapi asal kamu tahu, El. Terlepas siapa pun istri kamu, Luna atau perempuan lain, rasa kecewa Papa jauh lebih besar karena Papa merasa telah gagal mendidik anak laki-laki Papa.” Suara Papa bergetar menahan tangis.
“Semalaman Papa berpikir, apa kira-kira kesalahan Papa dan Mama dimasa lalu sampai membuat kamu menjadi orang tidak terdidik seperti itu…?”
Aku tersentak, tubuhku terasa lemas dan langsung saja meluruh ke lantai. Aku berlutut di hadapan Papa. Laki-laki yang sudah menjadi pengganti sosok Ayah untukku. Laki-laki yang aku tahu betul selalu menahan rindunya untuk bertemu Mama dan Luna demi menyekolahkanku sampai ke Aussie sana, dan hari ini laki-laki hebat di depanku merasa rendah diri karena berpikiran dia telah gagal mendidikku.
“Pa… Tolong maafkan, El. Hukum El agar El bisa menabus rasa kecewa Papa.” Terluka rasanya melihat orang tua bersedih karena tingkah laku burukku.
“Jadilah laki-laki yang amanah sesuai janji kamu pada Papa untuk menjaga Luna. Karena sedikit pun Papa belum pernah mengotori tangan Papa dengan memukul Luna.” Aku mengangguk dengan kepala masih tertunduk. Aku meraung karena merasa malu sekali gus takut. Apa setelah ini aku akan dibuang oleh keluarga ini. Entahlah… Rasanya jika harus seperti itu pun, belum akan bisa menebus salahku.
“Bangun, Nak…!” Mama berjongkok di depanku merangkum tubuhku.
“Sudah menangisnya, nanti kepalamu sakit.” Senyum Mama selalu sama. Empat belas tahun yang lalu, Mama seperti mata air di tengah ladang gersang. Sejuk dan menenagkan. Begitu pun hari ini, padahal aku sudah siap mendapatkan tamparan kedua setelah kemaren.
“Maaf, Ma.” Aku ingin dapat kata maaf dari Mama.
“Mama tidak mungkin tidak memaafkan kamu, El. Karena Luna saja bisa memaafkan.” Sekali lagi aku merasa bodoh.
“Setelah ini minta maaf sama Luna. Mama minta tolong kembalikan kepercayaan dirinya. Jadilah suami yang bisa memberi rasa aman, bukan justru membuat dia merasa terancam.”
“Aku janji, Ma.”
Sore itu aku menceritakan semua yang menimpaku di kantor. Ternyata inilah akar masalahnya. Aku sudah tidak punya rasa percaya diri setelah kehilangan Om Rian. Lalu Luna, Tante Viara dan mungkin banyak orang lainnya telah menjadi korban kebodohanku.
“Kamu masih bisa cerita sama Mama, kalau memang butuh bantuan El. Meski pun sudah tidak bekerja di rumah sakit lagi, Mama masih masih seorang psikiater. Mama bisa memberi kamu advice.” Ah iya… Kenapa aku bisa lupa kalau aku bisa berkonsultasi gratis dengan Mama.
“Sesekali kamu juga bisa sharing dengan Luna. Mama rasa Luna tipe pendengar yang baik. Yaa meskipun dia suka berdebat dan banyak protes.” Aku tersenyum, Lunaku memang unik.
Ini kali kedua dalam hidupku merasa hampa setelah empat belas tahun silam. Aku takut sekaligus kecewa dengan diri sendiri. Masih dengan mata basah aku berdiskusi dengan Papa dan Mama. Mereka berdua memang orang tua terbaik setelah Ayah dan Bunda.
“Ada apa ini…?” Luna… Istriku bangun.
...***...
Bagi sebagian orang, malam pertama adalah malam yang mendebarkan untuk dilalui. Tapi bagiku malam ini jauh lebih mendebarkan apalagi mengingat malam pertamaku hanya dihabiskan di dalam kamar menunggu Luna mengerjakan tugas dengan teman-temannya. Sedangkan malam ini, aku masih khawatir jika Luna hanya berpura-pura sudah memaafkan di depan orang tua kami, lalu kembali hening jika hanya berdua denganku.
Masuk ke dalam kamar, suasana menjadi kaku. Baik aku dan Luna seperti bingung harus memulai obrolan. Aku lihat Luna masuk ke kamar mandi. Lima menit setelahnya ia keluar dengan wajah basah. Rupanya dia selesai berwudhu.
“Kita sholat jama’ah ya.” Tawarku. Luna mengangguk setuju.
Saat ke luar dari kamar mandi, aku lihat dua buah sajadah sudah terbentang. Luna duduk dipinggir kasur sudah lengkap menggunakan mukenah. Dia menungguku mengimami sholat kami.
Setelah sholat aku memutar tubuhku menghadap perempuan yang hampir dua bulan menjadi makmumku. Belum sempat mata kami beradu pandang, dia kembali menunduk. Ternyata Luna masih menyimpan rasa takut padaku. Respons tubuhnya masih belum bisa menerima kehadiranku secara intim.
“Maafin Kakak ya.”
Aku meraih tangannya sekali lagi, kecup cukup lama. Susah untuk tidak menangis karena rasanya aku saja susah memaafkan kesalahan sendiri, bagaimana dengan Luna.
“Kakak kenapa menangis tadi…? Kakak ceritain masalah kita ke Papa…?”
“Tanpa aku cerita pun Papa dan Mama pasti tau semua. Kamu nggak perlu melindungi orang yang salah. Aku memang harus dihukum. Aku suami yang buruk.” Dalam hati ingin menjerit meminta Luna membalas dengan memukul aku sebanyak yang dia mau.
“Kalau Kakak buruk, berarti aku juga buruk. Lebih baik kita sama-sama menutup aib keluarga kita.” Aku mengangguk ternyata hati Luna begitu luas.
“Boleh peluk..?” Aku merentangkan tangan.
Luna terdiam, aku lihat banyak keraguan di wajahnya. Tapi beberapa detik kemudian dia membenamkan dirinya pada tubuhku. Malam ini memeluknya erat, memejamkan mata dan menghirup aroma tubuh Luna yang entah mengapa membuat hatiku sangat tenang.
“Maaf… Maaf… Maaf…”
“Apa ini masih sakit..?” Aku usap luka itu dengan ibu jari, dia menghindar. Jika fisiknya saja terluka, bagaimana dengan hatinya.
“Kamu boleh hukum aku. Apa pun. Katakan apa yang kamu inginkan asal aku bisa mendapatkan maaf dari kamu.”
Aku tentunduk air mataku langsung terjatuh ke sajadah kami. Andai Luna malam ini mengatakan ingin berpisah karena dia tidak bahagia lagi denganku, aku akan melepaskannya. Aku siap karena level cintaku sudah begitu besar sampai-sampai aku hanya ingin Luna bahagia.
“Aku mau minta dibelikan HP baru.”
Aku langsung mendongak. Aku menatap Luna dengan tatapan tidak percaya. Dosaku cukup besar, tidak mungkin bisa ditebus hanya dengan membelikannya HP baru.
Aku kembali memastikan aku tidak salah dengar, tapi Luna langsung menyerocos menceritakan betapa ia kesal karena karena galeri fotonya hilang karena HP lama sudah tidak bisa dinyalakan lagi. Katanya disana banyak sekali foto-foto yang belum sempat dia pindahkan ke laptop.
“Pokoknya aku mau HP yang storage nya besar. Kameranya bagus terus harus anti banting. Kapok punya HP cina sekali jatoh rusak.” Aku tertawa kecil. Lunaku kembali. Sekali lagi aku tarik dia kepelukanku. Aku janji Luna, apapun yang bisa membuat kamu bahagia, pasti akan aku lakukan.
Malam itu, Luna memaksaku meminta izin ke Mama untuk ke Mall. Kami akan beli HP baru. Pasti sulit meminta izin pada seorang dokter Renata membawa anak perempuannya yang baru pulang tadi pagi dari rumah sakit keluar dari apartemen. Tapi dengan modal negosiasi, kami akhirnya berhasil sampai di iBox Kelapa Gading.
“Seumur-umur aku pertama kali pakai HP ini.” Luna membolak-balik ponsel baru yang di belakangnya terdapat gambar apel digigit tikus. Senyumnya mengembang seperti baru dapat warisan tanah satu hektar.
“Ini headsetnya, ini charger cadangan, ini casingnya.” Aku mengangguk.
“Saya ambil semua.” Semua aku beli agar Luna senang.
“Sekalian smart whatch-nya, Kakak?” Aku menatap Luna meminta persetujuan. Dia menggeleng. Rupanya dia hanya mau membeli barang yang dia butuhkan saja.
Malam itu aku kembali membawa istri yang kalau jalan suka melompat-lompat seperti kelinci. Dia bahkan berlari saat melihat pintu apartemen lalu meninggalkanku di belakang. Sudah ditebak pasti saat di kamar nanti Luna langsung unboxing HP barunya.
“Makasih ya, Kak.” Luna tersenyum sambil mendongakkan wajahnya ke arahku. Matanya menyipit. Oh God, she is so beautifull.
“Aku yang makasih. Makasih sudah memaafkan.” Luna hanya membalas dengan senyum tipis.
“Kamu mau aku ceritan sesuatu…?”
“Tentang…?”
“Tante Viara.” Balasku.
“Apa…?” Dia antusias sampai memutar tubuhnya agar kami berhadapan.
“Ternyata, Tante Viara itu…” Aku terdiam sebentar. Luna menunggu ceritaku sampai dahinya berkerut banyak.
“Aku mau cerita kalau sudah dapat ciuman dari kamu.” Aku menyeringai. Pasti Luna langsung kesal.
“Iiish… Buruaaan…!” Ternyata istriku selain cantik, dia juga ratu gosip. Haha.
“Buruan cium dulu, nanti aku langsung cerita.”
“Ya udah… Nggak usah cerita aja...!” Dia memutar tubuhnya membelakangiku. Ahahaha… Pundung ternyata.
“Jangan marah doong. Kalau kamu nggak mau cium aku, aku deh yang cium kamu.” Aku peluk Luna dari belakang. Aku selipkan kepalaku di di antara leher dan bahunya. Ternyata dia masih saja cemberut.
“Lihat sini dong. Aku beneran mau cerita sama kamu.” Luna menghela nafas lalu memutar tubunya kembali. Aku langsung tarik agar tubuh kami mendekat.
“Cium dulu… Satu aja... Biar aku punya energi lebih untuk cerita. Aku pasti sedih banget nanti kalau udah mulai cerita ini.” Luna diam sesaat lalu mengangguk. Yeeessss…!
Aku memiringkan kepala, mendekatkan wajahku pada wajah Luna. Mataku masih melihat dalam pada bibir mungil yang telah menjadi targetku. Saat bibir kami menyatu, aku menyesap rasa manisnya sampai di luar kendali lalu mengganti posisi hingga tubuhku berada di atas tubuh Luna.
“ELIOOOO… Astagfirulllah….” Satu bantal mendarat di kepalaku.
“Kamu tahu Luna baru pulang dari rumah sakit. Kasih waktu adikmu istirahat dong...!” Oh God… Mama kenapa bisa masuk.
...-[Bersambung]-...
Aduh Baaang… Kamu bener-bener nggak bisa lihat ikan segar.
Btw sampai ketemu tgl 7 guys. See yaah.. 😂