
Luna masih tidak menyangka di daerah yang cukup panas seperti Jogja masih bisa menemukan kebun sayur seperti ini. Meskipun tidak berada di dataran terlalu tinggi seperti di Bandung, tapi berbagai sayuran hijau masih bisa tumbuh dengan subur. Pasti perlu teknologi dan pupuk yang berkualitas, fikirnya.
Tapi setelah dilihat-lihat adanya irigasi yang memanfaatkan aliran sungai sekitar membuat tanah di area ini menjadi subur. Pekerja juga tampak terlatih dan telaten mengurus semua sayur-sayur dengan baik.
“Yang itu masih belum bisa di panen nggih, Mba.” Ucap seorang ibu-ibu paruh baya bernama Jum yang ternyata adalah pekerja di kebun milik Mbah.
“Oh belum ya, Budhe?” Luna langsung mengangguk sambil cengengesan. Hampir saja dia mencabut lobak putih yang masih baru tumbuh.
Seharian Luna mengikuti Budhe Jum membantu memanen sayuran, dari mulai cabe, terong, daun bawang dan sekarang mereka sampai di area perlobakan. Semua ia kerjakan tanpa takut kotor. Bahkan Luna juga tidak protes saat harus mencuci tangan sementara dengan air dari parit yang belum tentu kualitas kebersihannya.
“Wes toh Nduk… Kamu duduk aja. Nggak usah bantu-bantu.” Mbah Kung yang dari tadi lebih sibuk mengatur pekerja akhirnya mengajak Luna duduk di pematang sawah yang posisinya rindang.
“Dari sini, sampai parit dekat dangau yang sana itu punya Mbah semua.” Ucap Mbah Kung menunjuk ke arah kanannya.
“Semua?” Luna masih menatapi tidak percaya. Hanya ada satu dangau yang searah dengan tujuk Mbah Kung dan itu letaknya jauh sekali, dan sepanjang itu berarti ada puluhan dan mungkin ratusan pekerja yang bekerja disana.
“Kaget toh?”
Luna langsung mengangguk. “Luas banget…” Ucapnya masih tidak percaya.
“Dulu almarhum Ayah Elio selalu memberi Mbahe hadiah setiap lebaran. Ya ini hadiahnya, tanah sudah sampai seluas ini padahal sudah Mbah tolak. Mbahe sampai bingung mau ditanami apa lagi. Terakhir Mbah coba-coba sayuran, sampai ikut pelatihan bercocok tanam dengan profesor pertanian di daerah Kulon Progo sana.” Mbah Kung yang irit bicara tampak bangga menceritakan pencapaiannya itu.
“Dulu almarhum Ayah sering kesini, Mbah.”
Mbah Kung mengangguk. “Persis calon suamimu sekarang. Meskipun dia ke Jogja hanya untuk urusan pekerjaan, nginepnya pasti di sini.” Mbah Kung tersenyum.
“Mantu mbah yang satu itu, sudah seperti anak sendiri. Tidak sungkan menginap di rumah reot ini, padahal Riyana tidak ikut ke Jogja karena mengurusi Elio yang masih kecil. Orangnya rendah hati tidak suka mewah-mewah.” Sambungnya lagi sambil terkekeh. Matanya Mbah Kung tampak menerawang jauh ke puluhan tahun silam.
“Oh ya? Berarti Mbah sering ngobrol kaya gini dengan almarhum Ayah?”
Mbah Kung mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Bahkan perhatiannya melebihi anak kandung. Tapi yo nasib, Allah lebih sayang. Anak mantu yang paling disayang sudah ndak ada lagi sekarang.”
Luna tidak berani bertanya lagi, takut Mbah Kung semakin sedih mengingat kepergian anak dan menantu kesayangannya itu.
“Si Arkan bilang, biar Mbahe ndak sepi ditinggal Riyana ke Jakarta, makanya dia belikan tanah seluas ini. Nanti biar ada pekerja yang ajak ngobrol, biar ada kegitan siang hari. Hanya itu…” Tegas Mbah Kung.
“Kebun ini tidak mengambil untung materi, tapi kepuasan batin. Sekarang harapan mbah cuma satu, supaya warga desa punya pilihan bekerja di kampung, tidak harus jadi TKI keluar negeri. Bisa ngasih nafkah keluarga masing-masing. Meskipun ndak banyak, tapi cukup, asal bersyukur.”
Luna tersenyum, mulia sekali hati pria yang sudah ia anggap seperti kakeknya sendiri. Jika semua berbaik seperti ini pasti tidak ada korupsi dimana-mana.
“Semoga Mbah Kung dan Mbah Putri nggak pernah merasa kesepian ya. Aku akan minta kakak sering-sering kesini.” Mbah Kung mengusap rambut Luna.
Belum sampai 10 menit Luna duduk istirahat dengan Mbah Kung, sudah ada saja yang datang menjoba menyapa Luna. Bahkan kali ini pemuda seperti bergerombol datang ingin berkenalan dengan Luna dengan berkedok tanya kabar Mbah Kung.
“Mbaaah… Pripun kabare? (Gimana kabarnya)”
“Nggih, Sae (Baik)…” Jawab Mbah Kung singkat.
“Niki sinten, Mbah? Putunipun nggih? (Ini siapa, mbah? Cucunya ya?)” Seorang Pemuda mulai bertanya.
“Calon bojone El. Wes ojo mbok ganggu..! (Calon istri Elio. Udah jangan kamu ganggu..!).” Ucap Mbah Kung langsung mengejak Luna pergi.
“Pamit ya Mas.” Luna menundukkan kepalanya dan mengekor di belakang Mbah Kung.
“Nggih Mba… Hati-hati…” Balas mereka serentak.
“Masyaallah ayune calon bojone El…”
“Wong kota ayu ya?”
“Ho oh…”
Pemuda-pemuda itu bersahut-sahut memuji Luna. Kedatangan Luna ke kampung itu seperti topik hangat hari ini, bahkan mengalahkan topik kedatangan Elio bagi gadis-gadis desa, dan sepertinya akan menjadi semakin hangat karena Luna adalah calon istrinya Elio. Kumbang desa mereka sebentar lagi berstatus sold out.
Mbah Kung dan Luna akhirnya berjalan ke arah sebuah dangau yang dekat di area sana. Ternyata Mbah Uti sudah menunggu bersama beberapa orang pekerja di sana untuk makan siang. Dari jauh terlihat rantang sudah dihidangkan dengan makanan yang aromanya menggugah seperti baru dimasak.
“Yuk Pak, Makan siang dulu. Cucuku pasti sudah lapar.” Ujar Mbah Uti setengah berteriak.
“Yooo…” Teriak Mbah Kung bergegas ke dangau.
“Pamit nggih, Mbahe…” Semua pekerja langsung pamit saat Luna dan Mbah Kung datang.
“Kok Budhe-budhenya pada pergi Mbah? Sungkan sama aku ya?” Luna bertanya dengan dahi mengkerut.
“Haha.. Bukan Nduk. Mereka sudah pada makan. Mbah Uti aja yang belum, nungguin Mbah Kung.”
Luna terhayak, ternyata Mbah Uti menunggu suaminya dulu agar bisa makan siang bersama. Bahkan tidak kalah romantis dari anak muda, Mbah Uti dan Mbah Kung makan pada daun yang sama. Katanya lebih nikmat. Hal kecil tapi sangat berkesan. Pasti Mbah Kung sangat senang jika istrinya menunggunya makan, apalagi dalam wadah yang sama. Luna kembali dibuat melamun.
“Ndang hayo, Nduk. Mbah Uti masak ikan asin goreng, sayur bening bayam, orek tempe, sama sambel terasi. Seger ini…!” Mbah Uti menyodorkan piring kosong pada Luna. Agak aneh, Mbah Uti makan di daun pisang, kenapa dia di piring.
“Iya Mbah.”
Belum sempat Luna mengambil nasi, Elio sudah mengirim pesan meminta share location. Katanya dia sudah sampai di rumah mbah dan sedang berganti pakaian.
“Mbah, Luna makan nunggu Kakak ya.” Dia kembali meletakkan piringnya.
“Loh? Nggak usah ditungguin. Bisa jadi calon suamimu itu lama. Nanti malah kelaparan. Pusing.” Mbah Uti mulai cemas.
“Kakak udah sampai di rumah. Lagi ganti baju. Katanya sepuluh menit lagi sampai disini.”
“Oalah… Yo wes…” Mbah Uti tersenyum.
“Mbahe seneng, Nduk. Kalian di depan aja ribut terus. Kalau dibelakang gini kangen-kangenan.” Mbah Uti semakin tersenyum lebar.
“Kalau kalian sudah menikah, ribut itu wajar tapi jangan lama-lama. Bagaimana pun masalahnya, tetap sopan kalau bicara sama pasangan, tetap waras bertindak, maksudnya jangan kasar ya. Selesaikan dengan kepala dingin, fokus sama permasalahannya, bukan malah membahas yang lain-lain. Insyaallah cepat baikannya.” Kali ini Mbah Kung menimpali.
“Iya Mbah. Luna ingat-ingat pesan Mbah.”
Luna tersenyum, baginya datang ke Jogja seperti sedang menjalani kuliah pernikahan. Semua nasihat seperti terbukti di depan mata. Pelajaran yang mungkin tidak ia dapatkan karena orang tuanya menjalani long distance marriage. Luna hanya berharap ia dan Elio benar-benar akan menjalani pernikahan yang seperti ini. Long lasting istilahnya. Ah… Menikah? Seminggu lagi.
...🤭-[Bersambung]-🤭...
Nitizen : Thor… Kok seminggunya Luna lebih lama dari seminggu kita.
Author : (lihat kalender) Ho oh ya… Kok bisa gitu ya…
Nitizen : Buruan… Nggak sabar…
Author : Nungguin apaan sih?
Nitizen : Mau kasih kado nikah nih.
Author : (Kebayang dikasih poin, untung-untung koin). Iya iya… Aku nikahin nih… Eh tapi…Ya udah iya iya…