My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Elio Ngelunjak



Keesokan harinya, sepulang Luna kuliah, seperti biasa keluarga kecil ini sudah kembali sibuk bersenda gurau di ruangan tengah apartemen kecil dengan dua kamar tidur itu.


“Jadi si Alea udah tau kalian mau nikah?” Tanya Renata sambil menahan tawanya.


“Iya… Habisnya dia bilang aku sama kakak punya hubungan terlarang. Kan aku nggak terima.” Jawab Luna bersungut-sungut.


“Wajar dia mikir gitu… Jangan kan Alea, Mama aja udah lihat gelagat aneh kalian dari 6 tahun yang lalu, makanya mama ungsikan El dari kamu. Soalnya kamu udah kaya soang, suka nyosor.” Ucap Renata dengan nada menuding.


“Enak aja nuduh aku yang salah. Kakak tuh pake ngomong-ngomong ‘jaga hati kamu buat aku’ segala. Kedengeran deh sama Ale.” Ucap Luna masih dengan nada kesal.


Gilang dan Renata langsung kerbahak-bahak, sedangkan El hanya mengulum senyum menahan malu. Isi hatinya dibongkar oleh Luna di depan orang tuanya.


“Kamu so sweet ya El. Nggak nyangka loh Mama.”


“Cuma buat Luna kok, Ma.”


“Bener loh ya?” Kali ini Gilang bersuara.


“Insyaallah. Buktinya langsung El nikahin kan, Pa?” Pria itu kembali cengengesan.


Luna yang melihat kakaknya terus saja mendalami peran dengan baik, langsung mencibir. Bisa-bisanya makin berani di depan orang tua mereka. Kan malu.


“Iya deh percaya. Pokonya Papa minta kalian tetap bisa setia sama pernikahan kalian nanti. Godaan pasti akan ada, tapi yang penting fondasi rumah tangga kalian kokoh dan kuat.” Gilang kembali menyematkan nasehat-nasehat pernikahan di sela gurauan mereka.


“Inysaallah, Pa.” El bicara tampak serius mendengarkan nasehat papanya sementara Luna berusaha tampak sibuk dengan modul praktikumnya. Lebih tepatnya berpura-pura tidak mendengar.


“Terus siapa lagi yang tau?” Renata masih penasaran dengan rencana pernikahan backsteet kedua anaknya ini.


“Om Rian, Ma.” Jawab Elio membuat Luna langsung menegakkan badannya.


“Kok gitu? Kakak kan udah janji sama aku.” Protesnya dengan nada kesal.


“Om Rian harus tau semua tentang aku. Ini menyangkut surat-surat penting di kantor. KTP dan Kartu Keluarga kita kan juga akan berubah.”


Deg…!


Satu hal yang lupa Luna fikirkan. Perubahan status KTP dari lajang menjadi menikah dan mungkin banyak lagi terkait administrasi yang akan mengalihkan status walinya menjadi nama Elio.


“Duuuh Luna… Kenapa nggak kepikiran sih?” Luna merutuki kebodohannya dalam hati.


“Tenang aja. Hanya Om Rian. Aku juga udah pesan kalau Ayya nggak boleh tau.” Ucap Elio menenangkan Luna. Akhirnya Luna mengangguk pasrah. Mau diapakan lagi, memang harus begitu prosesnya.


Gilang dan Renata kembali cekikikan. Mereka tidak yakin rencana backstreet ini bisa berjalan lancar karena cerita seperti itu hanya akan ada di novel-novel. Pasti susah menyembunyikan identias pernikahan sah secara hukum dan agama di negeri berpenduduk +62 ini.


“Oh iya El. Keluargamu?” Tanya Renata mengingatkan.


“Hemmm… Aku udah ngasih tau keluarga Ayah, tapi…” Elio tertunduk lalu melihat ke arah Renata yang menunggu kelanjutan kalimatnya.


“Sampaikan aja. Biar Luna tau masalah yang mungkin akan kalian hadapi ke depannya.” Ucap Renata.


“Iya Ma. Oma sama Opa aku setuju, bahkan mereka senang banget waktu tau Luna bisa jadi cucu menantu mereka. Tapi beberapa om dan tante aku seperti biasa.” Jawab Elio cemas.


“Mereka pasti mikir aku bakal ngeruk harta kakak kan?” Serobot Luna.


Elio mengangguk lemah. “Aku sudah bantah kok. Aku juga udah jelasin kalau Papa dan Mama yang biayain kuliah dan hidup aku sampai sekarang. Harusnya itu sudah menjadi bukti yang kuat kalau kalian baik banget sama aku.”


Luna langsung mencibir. “Tenang aja. Aku nggak akan pakai uang kakak kok.” Gadis itu langsung tersulut emosi.


“Luna…” Tegur Gilang. “Jangan bicara kaya gitu. Kamu nggak boleh mengambil keputusan dalam keadaan emosi.”


“Maaf Pa. Habisnya aku kesel keluarga kita dituduh macam-macam dari dulu.” Luna kembali bersungut.


“Mereka cuma orang luar. Jadi kamu nggak perlu dengerin mereka. Aku udah dewasa dan bisa memituskan apa yang terbaik menurut aku. Kamu cukup tetap di samping aku ya. Biarkan mereka dengan pendapatnya.” Ucap Elio membuat Renata tersenyum. Bangga rasanya saat tau anak sahabatnya sudah berubah menjadi sedewasa ini.


“Mama tahu ini akan jadi masalah suatu hari nanti, El. Mama harap kamu tetap bisa cari jalan tengah ya. Jangan merasa terasing di tengah keluarga besar. Bagaimana pun mereka keluarga kamu. Kalian harus berhubungan baik satu sama lainnya. Tapi Mama harap, jangan sampai masalah ini merusak rumah tangga kalian nantinya.” Timpal Renata.


Tuduhan ini sudah diterima Renata dan Gilang dari sejak awal membawa Elio ke rumahnya. Tapi mereka tidak pernah ambil pusing dan justru membuktikan dengan membiayai seluruh kebutuhan dan sekolah Elio hingga S2 tanpa menyentuh pendapatan hotel sedikit pun. Meskipun pasti tidak bisa semewah jika Elio menggunakan uang pribadinya, tapi bisa dikatakan apa yang Renata berikan untuk Elio cukup dan pantas untuk ukuran mahasiswa di luar negeri.


“Oh iya, El juga ingin meinta izin sama Papa sama Mama ngajak Luna weekend besok ketemu keluarga Bunda di Jogja. Boleh?”


“Ke Jogja?” Tanya Luna mempertegas pendengarannya.


“Iya. Di sana ada Mbah Uti dan Mbah Kung, orang tuanya Bunda.”


“Mama setuju… Luna harus dikenalkan dengan keluarga kamu El. Lagi pula kamu udah lama nggak lihat Mbah Uti dan Mbah Kung.” Ucap Renata yang sangat kenal dengan kakek nenek Elio dari Bundanya.


“Iya Ma. Elio izin weekend besok bawa Luna kalau begitu ya.”


“Sampaikan salam mama sama Mbah Uti dan Mbah Kungmu ya.”


“Eh tunggu… tunggu…! Kan aku belum jawab mau apa nggak?” Protes Luna.


“Harus mau dong. Kamu harus sungkem dulu sama mereka. Kan mau nikah sama cucunya.” Ucap Renata.


Luna langsung menelan ludahnya kasar. “Ini nggak ada dalam skenario ya.” Protes Luna kembali membuat mereka tertawa.


“Sebenarnya aku harus ke Jogja karena ada beberapa masalah hotel di sana. Jadi bisa sekalian mampir di rumah Mbah. Sabtu kita berangkat ya?”


Luna akhirnya mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi tetap saja dia harus ikut dengan perintah keluarganya.


“Kamu harus jaga sikap di sana ya Luna. Mbah Uti sama Mbah Kung El udah mama anggap seperti orang tua mama sendiri. Dulu setelah orang tua Mama meninggal, mereka yang bantu hidup Mama.” Terang Renata.


Luna yang baru tahu tentang kisah masa lalu sang mama, langsung memasang wajah semangat mendengarkan. “Mama tinggal di rumah Tante Riyana dulu?”


“Mama nggak tinggal di rumah tante Riyana. Yaa… kurang lebih seperti Alea sekarang lah. Mama dibiayain kuliah tapi mama ngekos sama Bundanya El berdua. Kami kan sama-sama kuliah kedokteran di UGM. Jadi harus ngekos di dekat kampus.” Mata Renata mengawang membayangkan kejadian 28 tahun silam.


“Cuma Riyana keburu dinikahin sama Ayahnya El, jadi setelah lulus nggak ambil profesi kedokteran. Sedangkan Mama masih lanjut sampai ambil spesialis baru nikah sama papa kamu. Makanya usia El terpaut jauh dari kamu.” Jelas Renata.


Akhirnya Luna dan Elio tahu, sifat dermawan Renata mungkin sebagai wujud rasa syukurnya dulu saat mengalami masa sulit.


“Kebaikan itu nular ya, Ma.” Cicit Luna.


Renata mengangguk. “Iya… Makanya kalian banyak-banyak berbuat baik sama orang lain, biar dunia ini indah dan penuh kebaikan.” Renata tersenyum.


“Satu lagi, jangan pernah lupa sama kebaikan yang kalian terima dari orang lain. Kalian harus balas minimal dengan medoakan mereka setiap habis sholat. Sebaliknya, tidak perlu mengingat semua kebaikan yang sudah kalian kasih pada orang lain. Ikhlasin semuanya, biar itu jadi tabungan amalan nantinya.” Ucap Renata memberikan nasehat pada kedua anaknya.


Luna mengangguk-angguk paham. Jarang sekali ia mau mendengarkan nasehat Renata. Tapi kali ini berbeda. Dia bangga sekali dengan sikap rendah hati Mamanya.


“Yuk tidur…!” Ajak Luna pada Renata dan Gilang.


“Yuk…!” El ikut bangkit.


“Eh… El kemana?” Tanya Renata cepat.


“Ke kamar, Ma.”


“Loh kamu kan tidur di ruang tengah.”


“Eh iya lupa. Belum halal ya?” Ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Sontak Renata melempar bantal sofa yang ia pegang pada Elio. “Ngelunjak kamu ya…!” Ucap Renata kesal memancing tawa Gilang dan Luna.


“Mama nggak mau tau, Pap. Besok kita pasang CCTV di apartemen ini.” Rengek Renata khawatir karena besok mereka sudah terbang kembali ke Aussie.


...😂-[Bersambung]-😂...


Extra Up untuk hari ini.


Jangan lupa like dan comments ya guys.


Typo revisi bertahap.