My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Keluarga



Kedatangan orang tuanya ke Indonesia ternyata bisa mengembalikan dunia seorang Luna yang hilang. Seharian Luna memanfaatkan waktu untuk banyak bercerita dengan Renata dan Gilang bergantian. Gilang yang penasaran bagaimana Luna bisa mengenal Kean dan Gara meminta Luna menceritakan awal pertemuan mereka. Jadilah hari itu Gilang mengetahui sang putri ternyata selama ini sangat berprestasi.


“Kamu memang anak yang aneh. Kalau di depan Papa dan Mama bandelnya minta ampun. Tapi aslinya berprestasi gini.” Puji Gilang.


“Soalnya kalau aku nggak bandel emang Papa Mama mau peduli sama aku…?”


“Peduli dong. Kata siapa nggak…?”


“Habisnya kalau aku juara, Papa nggak pernah tuh bisa pulang ke Indonesia. Giliran aku ketangkap satpol PP besoknya Papa langsung terbang ke sini. Mama juga langsung cuti kerja. Kakak apa lagi langsung nyusul aku ke kantor Satpol PP malam itu.” Protes Luna.


“Makanya aku lebih milih jadi anak bandel aja. Biar bisa kumpul keluarga.” Gilang hanya bisa menggeleng-geleng mendengarkan alasan Luna.


Disaat Luna asik bercerita dengan Gilang, Renata mendapatkan telfon dari Elio. Ternyata dari tadi Elio menelfon Luna, namun ponsel sang istri masih belum aktif.


“Luna… El mau bicara nih. HP kamu nggak aktif katanya.” Renata mengulurkan benda pipih itu ketangan Luna. Luna melirik sekilas ke Renata, sedikit ragu untuk mengangkat telfon Elio.


“Holo Kak. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam. Gimana kondisi kamu? udah enakan belum badannya?”


“Udah.” Jawab Luna singkat.


“Syukurlah… Aku senang denger kamu udah membaik.” Elio berkata tulus.


“Setengah jam lagi aku mau pulang. Kamu lagi ingin makan sesuatu nggak? Mau makanan dari restoran hotel boleh, atau beli di luar juga boleh. Nanti aku belikan.” Elio tahu biasanya Luna suka sekali ditawari jajanan pinggir jalan. Biasanya Luna akan mengabsen semua jajanan yang ingin dia makan.


“Hemmm… Mau pempek.” Jawab Luna ragu. Rupanya meskipun kesal dengan Elio dia tetap tidak mau rugi.


Elio menahan senyum karena akhirnya Luna menyebutkan keinginannya. Padahal tebakan Elio, Luna akan gengsi menyebutkan keinginannya.


“Tanya Mama dulu. Boleh nggak makan pempek…? Kamu kan baru keluar dari rumah sakit.”


“Maaam… Aku boleh makan pempek nggak?” Luna setengah berteriak karena Renata sedang di dapur sedangkan Luna di kamarnya.


“Boleh. Goreng sendiri di rumah ya. Biar pakai minyak goreng baru.” Terdengar jawaban Renata dari seberang telfon.


“Boleh kata Mama.” Jawab Luna singkat.


“Sayang…. Aku kangen. Vcall sebentar yuk.”


“Nggak ah. Nggak enak pakai HP Mama.” Tolak Luna.


“HP kamu mana emangnya? Kok nggak aktif. Pesan aku dari kemaren lusa aja masih belum terkirim.”


“Rusak.”


“Kok nggak cerita…?” Tanya Elio


“Memang Kakak mau dengarin aku…? Bisanya kan cuma marah-marah.”


Tiba-tiba telfon terputus. Luna mematikan panggilan telfon mereka sepihak. Elio hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum. Luna memang masih marah, tapi entah kenapa Elio menjadi senang sekaligus gemas melihat Luna merajuk seperti anak kecil. Ini jauh lebih baik dari pada mendiamkannya begitu saja.


...***...


Luna terbangun mendapati Elio dan kedua orang tuanya duduk di ruang keluarga. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu yang serius. Luna yang merasakan hatinya tidak tenang langsung menyusul ke ruang keluarga.


“Ada apa ini…?” Tanya Luna panik, terutama melihat mata Elio merah seperti tengah menangis.


“Nggak apa-apa. Sini duduk.” Elio menarik tangan Luna agar duduk di sebelahnya.


“Papa marahin Kakak…?” Tanya Luna pada Gilang. Gilang hanya tersenyum.


“Kok senyum sih. Mam… Kenapa Kakak nangis?” Giliran Renata yang menjadi sasaran pertanyaan Luna.


Luna melirik pada Elio. Memastikan bahwa suaminya memang tidak dimarahi orang tuanya. Bagi Luna sebesar apa pun masalah rumah tangganya jangan sampai orang tua mereka tahu. Keculai keduanya sepakat meminta minta pendapat. Menurut Luna mendengar dari salah satu pihak biasanya membuat penilaian kedua orangtuanya tidak berimbang.


“Aku nggak kenapa-napa, Sayang. Takut banget sih.” Elio merangkul tubuh Luna mengajak duduk di sofa. Sedangkan yang rangkul terkejut langsung menghindar.


“Katanya mau pempek. Aku udah gorengin tuh barusan.” Bukannya menjawab Luna justru fokus pada mata Elio yang merah.


“Aku mau tau kenapa Kakak menangis.”


“Papa cuma lagi diskusi sama anak Papa.” Luna menyeringit bingung.


“Anak Papa kan bukan cuma kamu. El anak Papa juga.” Jawab Gilang santai.


Merasa tidak puas dengan jawaban orang tuanya Luna menatap tajam pada Elio.


“Aku nggak mau maafin Kakak kalau nggak cerita sama aku.” Ketus Luna.


“Iya nanti aku cerita setelah kita makan.” Luna melirik kesal karena Elio kembali merangkulnya.


“Ceritanya di kamar biar asik. Kalau di sini digangguin mertua.” Bisik Elio ditelinga Luna dan langsung mendapat capitan dari Luna.


Elio bangkit merangkulkan satu tangannya pada bahu Luna lalu menyeret ke meja makan. Gilang dan Renata hanya bisa tersenyum melihat anak menantunya sudah mulai akrab kembali.


Makan berempat di meja makan kecil seperti ini menjadi momen yang paling Luna rindukan. Apa lagi melihat Mama dan Papanya makan dalam satu piring yang sama membuat Luna merasa hal sederhana terasa nikmat.


“Oh ya… Mumpung kumpul. Papa mau kasih tahu kamu dan El, mulai bulan depan Papa dipindah tugaskan ke Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo.”


“Papa dan Mama pindah ke Jepang?” Tanya Luna antusias.


“Iya… SK nya baru terbit lusa kemaren. Makanya Papa pulang ke Indonesia.”


Bagi seorang diplomat berpindah tugas dari satu negera ke negara lain sudah biasa. Saat sebelum menikah bahkan Gilang dipindahkan setiap tiga tahun sekali.


“Waw… Asik dong.” Luna tersenyum. Bagi Luna Jepang adalah negara artististik dan unik. Luna kagum dengan negara tersebut.


“Papa besok harus kembali ke Aussie. Papa akan mulai mengurus beberapa dokumen dan mungkin bisa juga langsung mengurus kepindahan ke Jepang.” Sambungnya.


“Ngomong-ngomong, memangnya Papa sudah bisa bahasa Jepang?” Tanya Luna.


“Belum sempurna. Papa sudah satu bulan ini ikut kelas bahasa Jepang. Sedikit banyaknya sudah bisa baca tulis Hiragana dan Katakana dan sekarang sedang proses memahami tulisan Kanji.” Jawab Gilang.


“Pelan-pelan pasti bisa lah. Apalagi kalau sudah di sana. Pasti jadi lancar.” Sambung Renata.


“Papa cepat juga ya belajar bahasa Jepang. Aku belajar Nihongo satu tahun masih belum ada progress berarti. Hiragana dan Katakana saja masih suka tertukar-tukar. Membuat kalimat juga masih belum sesuai aturan.” Keluh Luna.


“Kamu belajar bahasa Jepang juga..?” Tanya Gilang.


“Hemmm…” Luna mengangguk.


“Oh ya…? Buat apa?” Tanya Renata, setahunya Luna tidak suka belajar bahasa.


“Aku…” Luna terdiam, diliriknya Elio sekilas.


“Iseng aja sih. Nambah ilmu.” Jawab Luna.


“Ya udah kalau misal kamu mau latihan langsung, kalian berdua liburan ke Jepang aja. Di sana jarang yang mau berbahasa Ingris. Kita sebagai pendatang yang harus menyesuaikan dengan culture lokal.” Ucap Gilang, Luna hanya tersenyum mengangguk.


Elio yang mendengarkan Luna dan kedua orang tuanya berbicara hanya terdiam. Tiba-tiba Elio teringat Luna pernah mengatakan keinginannya untuk mengikuti kompetisi ke Jepang namun niat tersebut diurungkannya karena tidak mau meninggalkan Elio sendiri di Indonesia.


...-[Bersambung]-...