
“El… Biarkan Luna istirahat dulu, Sayang.”
Renata kembali membujuk Elio yang tengah duduk di sisi ranjang pasien sambil menggenggam erat tangan Luna. Melihat Luna beberapa kali mengigau meminta maaf dan ampun padanya membuat hati Elio sakit. Sebegitu dalam Luna tertekan karena tindakannya semalam.
“Maafin aku. Aku yang salah. Aku yang bodoh.” Bisik Elio lirih seakan tidak peduli Renata memperhatikannya.
Meskipun belum tahu pasti duduk permasalahannya, melihat Elio terus meminta maaf sampai menangis, Renata paham anak menantunya memang punya masalah yang cukup berat. Untunglah Renata masih cukup waras mengerti waktu dan tempat untuk menyidang Elio saat ini.
“Mam…”
Gilang datang dengan wajah panik. Renata sudah bisa menebak. Pasti ini berhubungan dengan stok darah AB+ yang sulit dicari bahkan disitus pmidkijakarta.or.id stok darah UDD DKI Jakarta untuk AB+ hanya tersisa satu kantong dan ternyata sudah diambil oleh pasien lain.
“El… Dari pada kamu mengganggu Luna istirahat, lebih baik bantu Mamamu cari pendonor untuk Luna. Stok di PMI kosong, Luna butuh transfusi segera. Menangis di sana tidak akan bisa membantu apa-apa.” Tegas Gilang sedikit emosi.
Seketika Elio tersadar, dia larut dengan rasa sesal sampai melupakan perintah Mamanya untuk membantu mencari pendonor. Elio mengambil ponselnya dan mengirim pesan broadcast ke semua karyawan hotel.
Baik Renata dan Elio sama-sama mendapatkan banyak pesan dari rekan-rekan mereka. Meskipun ada yang ber golongan darah sama dengan Luna, sayang tidak ada yang memenuhi persyaratan sebagai pendonor saat ini. Sebagian dari mereka sedang tidak berada di Jakarta. Sebagian lagi tidak memenuhi persyaratan awal seperti dalam kondisi hamil, sakit, baru mengonsumsi obat dan baru mendonorkan darahnya bebarapa hari yang lalu.
Ditengah keputus-asaan itu, tiba-tiba Elio mendapat sebuah pesan dari Om Ardi. Satu harapan datang, namun bersamaan dengan itu rahangnya mengeras.
“Aku dapat pendonor.” Ucap Elio dengan mata yang sudah merah.
“Siapa..?”
“Om… Om Ardi, Ma.”
“Kamu yakin dia mau mendonorkan darah untuk Luna…?” Renata terlihat tidak percaya. Melihat keluarganya saja Ardi merasa jijik kononlah sampai mau membantu Luna.
“Lihat Mama pesannya.”
“Tidak perlu, Ma. El sudah setuju.” Jawab Elio memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
“Kemarikan HP kamu, El…!” Elio hanya diam dan mengalihkan pandangannya dari Renata.
“Kalau kamu masih menghargai Mama. Perlihatkan pesannya.” Tegas Renata. Renata tau pasti ada yang disembunyikan Elio.
“Saya bersedia menjadi pendonor, asal kamu menyerah dan mengaku kalah. Serahkan jabatan itu pada saya. Buat surat pengunduran diri sebelum rapat dewan direksi dan komisaris bulan depan.”
“Just take anything you want. Help me.” Balas Elio.
“Good. Om tahu kamu akan mengambil keputusan yang tepat. Karena tidak mungkin setelah kehilangan orang tua. Kamu memilih kehilangan istrimu.”
“Nggak El. Mama tidak izinkan kamu ambil keputusan ini.” Renata menarik ponsel Elio dan berusaha membatalkan.
“Ma… Luna istri El. Luna tanggung jawab El sekarang. Please kali ini biarkan El melindungi Luna. Kalau sampai ada apa-apa dengan Luna, El jauh lebih hancur dari pada sekedar kehilangan jabatan di hotel.” Elio menarik nafas panjang.
Plaaaak…!
Renata menampar pipi Elio. “Sampai kapan kamu seperti ini, El…? Mengambil keputusan dengan emosi lalu menyesal? Belum cukup kamu lihat Luna sampai masuk rumah sakit..? Belajar, Nak…!”
“Tapi Luna butuh transfusi sekarang, Ma. Aku nggak mau egois apalagi hanya soal jabatan hotel.”
“Kalau pun kamu mendapatkan darah dia. Apa kamu meizinkan orang seperti dia menjadi pendonor untuk Luna..?”
“Mama tidak rela dalam darah Luna mengalir darah orang yang membenci dia.” Renata mengusap air matanya.
“Lagi pula, Mama tidak mau kamu menyesal memberikan jabatan itu pada dia.”
“Kita masih bisa berusaha, Nak. Mama dokter. Mama tahu betul Luna masih bisa menunggu orang baik yang membantunya.” Ucapnya.
Elio pasrah dengan keputusan Renata. Akhirnya dia mengirimkan pesan pembatalan pada Ardi. Pesan yang akhirnya membuat Elio sadar bahwa di sedang memulai perperangan yang lebih besar dengan Ardi.
Satu jam menunggu, masih belum ada kabar baik terkait pendonor. Luna sudah bangun dari tidurnya meski pun dalam keadaan lemah.
“Maaa…”
Suara Luna membangunkan Elio yang tertidur dengan posisi duduk menyandar pada ranjang pasien.
“Haus…”
“Sebentar…” Elio bergegas mengambilkan segelas air putih lalu membantu Luna duduk. Setelah menyesap satengahnya, Luna hanya diam mematung.
“Ada yang kamu butuhkan lagi?” Luna menggeleng tanpa menatap Elio.
“Maaf…” Elio memeluk Luna. Namun Luna segera mendorongnya.
“Aku nggak salah. Aku nggak pernah selingkuh.” Pekik Luna. Takut, itulah yang dia rasakan. Bayangan Elio yang penuh emosional saat menyentuhnya tadi malam terus saja melintas.
“Pergi…! Aku nggak salah…. Aaaahhh… Tolooong…” Luna menjerit. Renata dan Gilang yang baru datang dari luar terkejut dengan kehebohan di dalam ruangan.
“Luna… Kenapa, Sayang…?”
Elio yang berada di sana memberi jarak. Dia mengerti Luna ingin dirinya menjauh saat ini.
“Maaa… Aku takut... Tolong…!” Tubuh Luna bergetar bersembunyi pada tubuh Renata. Tangannya juga terasa dingin dan menggigil.
“Takut sama siapa? Kamu lihat apa…?” Renata berfikir Luna sedang berhalusinasi. Halusinasi biasanya biasa terjadi untuk pasien dengan kesadaran rendah. Mungkin Luna juga merasakan hal yang sama karena saat ini kondisi tubuhnya lemah.
“Please jangan tinggalin aku lagi. Aku takut, Ma. Aku mau sama Mama.” Luna memohon dengan suara rendah nyaris tidak terdengar.
“Iya… Mama di sini sama kamu. Tenang ya, Sayang.” Renata memberikan isyarat untuk Gilang dan Elio keluar.
Setelah di kamar pasien hanya tersisa dirinya dan Luna, Renata ikut berbaring di ranjang pasien. Ia memluk seraya mengusap lembut kepala Luna sambil memberikan banyak afirmasi positif.
Renata mulai menyesali keputusannya untuk ikut Gilang pindah ke Aussie dan meninggalkan Luna di Indonesia. Dalam hatinya ia mulai berandai-andai. Andai saja dulu dirinya tidak egois, mungkin Luna saat ini tidak akan seperti ini.
Setelah setengah jam berlalu akhirnya Luna tenang dan kembali terlelap. Renata beringsut turun dari ranjang pasien. Kondisi Luna yang lemah harus segera mendapat pertolongan. Namun sayang sampai saat ini dia belum berhasil mendapatkan pendonor.
“Bagaimana Luna, Ma? El boleh masuk..?” Elio mendekati Renata dengan wajah bersalah.
“Nanti saja. Sementara kamu jauhi dulu Luna.” Tegas Renata. Elio menarik narik nafas panjang dan mengangguk patuh.
“Bagaimana…? Kamu sudah ketemu dengan pendonor?” Tanya Renata. Elio menggeleng rasanya dia tidak punya harapan lain selain Om Ardi.
“Mama yakin tidak mau mempertimbangkan Om Ardi…?” Renata terdiam. Dia tidak boleh gegabah. Luna tidak bisa menunggu yang tidak pasti. Tapi menerima Ardi bukan satu hal yang mudah.
Di tengah kegalauan itu, tiba-tiba satu pesan masuk. Renata pangsung berucap syukur saat seseorang memenuhi syarat awal menjadi pendonor. Saking gembiranya Renata memeluk Elio.
“Alhamdulillah El. Ada yang bisa menjadi pendonor untuk Luna. Semoga saja nanti saat screening kesehatan disini, dia memenuhi syarat.” Elio mengucap syukur.
“Siapa Ma…?”
“Anak asuh Mama yang mama ceritakan dulu. Ternyata dia sudah pulang dari Amerika. Mungkin setengah jam lagi sampai di rumah sakit.”
“Sykurlah. Siapa namanya…?”
Renata menjawab bersamaan dengan satu telfon masuk di ponsel Elio. Viara menelfonnya. Tiba-tiba Elio ingat Viara sedang ditugaskan ke Bandung melakukan meeting financial review.
“Halo…”
“El… Aku baru baca pesan kamu. Golongan darah aku AB+. Kamu masih butuh pendonor…?”
“Masih. Aku masih butuh. Tante dimana..?” Elio sampai berdiri beranjak ke tempat yang sepi.
“Toll Cikarang arah Jakarta. Mungkin satu jam lagi sampai di Abrar Hospital. Bagaimana? Kamu masih bisa menunggu?”
“Aku tunggu. Tolong aku, Tan.” Suara Elio terdengar memohon.
“Ok El… Kamu yang tenang ya. Jangan panik. Tetap berdoa. Aku segera datang.”
...-[Bersambung]-...