
Hari Selasa depan adalah hari terakhir Luna bekerja di Pasific Exporia, namun karena beberapa pekerjaan sempat ter-pending saat dirinya tiga hari izin tidak masuk kerja karena sakit, alhasil diperkirakan pengerjaan interior di lantai satu belum akan rampung dikerjakan nantinya.
Sebenarnya Kean dan Gara sudah pasrah jika memang Arbi dan team Arbista mengerjakan sendiri tanpa arahan Luna, tapi Elen bersikukuh bahwa tanpa Luna, pekerjaan Arbista tidak memusakan. Terbukti dari pemasangan wallpaper di Mushalla sedikit miring tidak memenuhi ekspektasinya. Belum lagi pemasangan credenza di ruang tamu tidak sesuai tempat yang dirancang Luna di awal.
“Udah lah, Elen. Gini juga udah bagus kok. Adik gue lagi sakit, kasian dong kalau harus mikirin kerjaan di sini”
Gara mencoba mengajak Elen berdamai dengan situasi. Lagi pula mereka butuh kantor segera selesai. Menunggu Luna sembuh untuk memulai pekerjaan pada lantai satu pasti akan mengulur waktu cukup lama.
“Idih… Sekarang udah berasa Kakak beneran aja lo. Kemaren lo ajak ribut mulu dia.” Cibir Elen.
“Hahaha… Namanya juga kakak adik, nggak selamanya akur lah. Tapi kalau soal hati kami saling menyayangi.” Gara beralasan.
“Halah… Gaya lo, Gar…! Baru kemaren juga tau Luna adik lo, udah belarasa puluhan tahun aja. Lagian lo sama Mas Kean tau adik kakak dari lahir perasaan gak pernah akur, ribut mulu kalian.”
“Hahaha… Bener juga ya…. Tapi nggak tau kenapa waktu tau Luna itu anak kandung Mama, rasa sayang gue langsung aja muncul. Setelah gue fikir-fikir Luna memang punya sifat seperti Mama Ren. Gue senang banget akhirnya punya adik perempuan secantik dan sepinter dia.” Gara tersenyum bangga.
“Cuma sayang nggak bisa gue sayang-sayang lagi karena dia udah nikah, kalau masih single langsung gue peluk tuh si Luna kemaren.” Ucapan Gara langsung mendapat tatapan tajam dari Kean.
“Masih cemburu aja, Mas..?” Tanya Elen pada Kean.
“Ngomongnya dijaga, Gara. Awas lu jadi macam-macam sama adik gue.” Ancam Kean.
“Hahaha kasihan banget lo, Gar…. Adik kandung rasa adik tiri. Kalah lo sama Luna.” Elen tidak kuasa menahan tawanya.
Saat mereka asik bersenda gurau, tiba-tiba Luna muncul di ambang pintu. Tanpa mereka duga Luna hari ini sudah memutuskan bekerja.
“Pagi semua… Maaf aku terlambat.”
“Loh kamu udah masuk…? Memangnya sudah sembuh?” Kean sampai berdiri berniat membantu Luna berjalan.
“Udah Mas. Dari kemaren udah enakan sebenarnya, cuma tau sendiri Mama kaya gimana.” Luna setengah mengomel.
“Oh iya… Di luar ada Kakak. Mas Kean atau Mas Gara boleh temuin sebentar nggak. Biasa dia suka khawatir, paling mau minta tolong nitip aku aja.” Ucap Luna.
“Hadeuuh… Punya adik ipar riweh banget. Kaya bakal diapain aja si Luna di sini.” Protes Gara mendalami perannya sebagai Kakak laki-laki sungguhan.
“Gih temuin adik ipar lo.” Titah Kean.
“Adik ipar gue. Adik ipar lo kali.” Tolak Gara
“Bareng aja. Malas gue sendiri.” Gara mendorong tubuh Kakak laki-lakinya agar keluar bersama untuk menemui El.
Setelah Gara dan Kean keluar. Elen langsung menghampiri Luna. Gadis itu seperti bersimpati sampai membuatkan Luna teh hangat untuk diminum.
“Duuh… Sumpah aku panik banget malam itu. Kamu kelihatan pucat udah kayak mayat hidup. Mana keluarga kamu nggak ada yang bisa dihubungi.” Mata Elen menerawang membayangkan kepanikan semua orang malam itu.
“Eh… Ngomong-ngomong si Elio itu Kakak kamu apa suami kamu sih?” Tanya Elen penasaran.
“Waktu aku bikin CV ya Kak El masih Kakak aku, Mbak Elen.” Jawab Luna. Elen terlihat makin bingung.
“Bingung ya?” Tanya Luna.
“Hemmm..” Eleng mengangguk.
“Jadi Mama aku punya lima orang anak asuh. Seperti Mas Gara dan Mas Kean, Kak El juga anak asuh Mama. Bedanya Kakak beneran tinggal sama kami dari umur dia empat belas tahun. Tapi ya namanya jodoh mungkin, dua bulan yang lalu aku menikah sama Kakak.” Luna menjelaskan.
“Apa…?” Luna tidak bisa mendengar jelas.
“Nggak… Diminum tehnya. Ini gue juga punya cinnamon roll. Jangan sampai kelaparan terus semaput lagi.” Ucap Elen.
“Makasih Mbak Elen. Aku senang Mbak Elen sudah seperti kakak perempuan aku di sini.”
“Haha… Masih kurang ternyata kamu punya tambahan dua orang kakak. Masih minta aku jadi Kakak kamu.” Balas Elen terkekeh.
“Ya kalau nggak mau jadi Kakak aku, jadi Kakak ipar aku juga boleh…” Luna berseloroh.
Uhuk…! Uhuk….!
Elen terbatuk-baruk. Dia langsung meneguk satu gelas air putih sampai habis. Teringat dulu Gara pernah menyatakan perasaannya pada Elen. Namun sebagai wanita indepen, Elen merasa belum siap menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun dan memilih mengaku sudah menikah. Lambat laun penyamarannya terbongkar oleh Gara. Untunglah Gara dan Elen sampai sekarang tetap berteman dan bekerja profesional.
“Hadeuh…. Kamu ya…!” Protes Elen masih dengan nafas tersengal-sengal. Luna hanya berhehe ria saja.
“Oh iya… Kalau misal kamu udah kuat jalan-jalan. Tolong lihat pengerjaan mushalla dan ruang tamu dong. Hadeuh si Arbi bikin kesel gue. Katanya sih dia kerja sesuai konsep lo. Tapi pas gue cek di proposal beda banget. Tau ah… Nyesel gue pake jasa dia.” Elen mengomel lalu kembali ke tempat duduknya.
“Iya mbak. Nanti aku cek.”
Sementara di tempat berbeda, Elio masih menatap takjub dengan interior di dalam ruko. Dia masih tidak percaya Luna adalah orang dibalik ini semua.
“Hemmm… Aku mau minta tolong titip Luna aja sih Mas. Dia ngeyel mau masuk kerja tapi sebenarnya Mama masih belum izinin dia keluar apartemen hari ini. Dan kebetulan Mama dan Papa sudah berangkat ke Aussie tadi pagi, semakin ngeyel saja si Luna mau mulai kerja hari ini.” Ucap Elio menarik nafas panjang.
“Tanpa lo ngomong gue pasti jagain adik gue kok. Justru gue yang ragu adik gue bisa lo jaga dengan baik apa nggak.” Balas Gara.
“Iya, aku pasti berusaha menjaga adik Mas Gara dengan baik… Sekarang aku juga lebih tenang karena di sini juga ada kakak-kakak Luna yang lain yang bisa bantu menjaga dia.” Elio mencoba tidak terpancing dengan ucapan Gara.
“Sebenarnya kalau Mas Kean atau Mas Gara tidak keberatan, aku mau minta tolong antar Luna ke Elios Hotel kalau sudah selesai kerja. Kebetulan hari ini saya ada rapat penting mungkin baru selesai tengah malam. Saya belum berani membiarkan Luna sendiri di apartemen.”
Meskipun terasa berat bagi Elio membiarkan Luna satu mobil dengan laki-laki lain, tapi dia berusaha percaya terlebih saat ini Kean dan Gara merupakan anak asuh Mama Renata yang lain. Berarti harusnya mereka bersikap selayaknya saudara.
“Ya… Nanti saya atau Gara akan antar ke sana.”
“Terima kasih sebelumnya. Nanti aku minta nomor kontak kalian ke Luna.”
“Hemm…” Kean mengangguk.
“Jangan terlalu khawatir. Luna aman sama kami di sini. Kamu fokus aja bekerja di hotel.” Kean menepuk pundak Elio.
“Ya sudah. Aku permisi.”
Kean menghela nafas saat Elio ke luar dari ruko. Jika di tanya dalam hatinya ada rasa cemburu, tapi entah kenapa semakin ke sini dirinya merasa apa yang Gara ucapkan benar. Luna lebih seperti bagian dari keluarga yang harus dia jaga. Apalagi saat Mama Renata mengatakan bagaimana Elio sebenernya bernasib sama dengan mereka berdua. Jadilah Kean merasa memiliki tambahan dua adik secara tidak langsung.
“Nambah dua adik muka lo makin kusut, Mas” Celetuk Gara.
“Iya… Ngurus satu lo aja pusing banget gue. Tambah lagi ngurus dia.” Kean melirik mobil Elio yang sudah melaju meninggalkan ruko. Sontak mereka berdua tertawa.
...-[Bersambung]-...
Update nya pelan-pelan aja deh. Semampunya aja ya. Ternyata yang rindu bukan hanya kalian, aku juga 😂