
“Aduuuh…” El kembali meringis mengusap-usap kasar lututnya yang menghantam lantai kamar mandi. Pria itu tidak terpeleset, melainkan didorong kuat oleh Luna sampai tersungkur saat pintu kamar diketuk oleh staff hotel yang mengantarkan pesanan mereka.
“Asli… Aku bingung Kakak atlet taekwondo apa bukan sih? Kenapa sedikit-sedikit mengeluh cidera.” Bukannya merasa bersalah, gadis bar-bar itu malah menyalahkan Elio yang meringis kesakitan.
“Huft…” Elio kembali menghela nafas.
“Kamu bener-bener ya. Ini aku celaka dua kali gara-gara kamu.” Elio menatap Luna tajam. Tapi kali ini Luna memilih tidak panik seperti tadi.
“Habisnya Kakak maksa mau bayar sendiri.”
“Yang bener aja. Tadi aja katanya sungkan sama staff makan di resto, ini malah terang-terangan ngamar sama perempuan. Lebih malu mana coba?” Elio terdiam lalu cengengesan. Ada benarnya juga ucapan Luna.
“Mana aku salah kasih identitas lagi tadi waktu reservasi. Harusanya aku ngasih Kartu Tanda Mahasiswa atau SIM aja gitu ya.” Luna merutuki kebodohannya check in dengan menggunakan KTP.
“Kenapa emang?”
“KTP kita kan udah ganti status menikah. Mana mbak-mbaknya lirik aku beberapa kali. Kaya nggak percaya aja ABG tapi sudah menikah. Huuuuuft” Luna menghembuskan nafas panjang. Elio malah tertawa puas.
“Dah ah… Ayo makan.” Gadis itu langsung membawa nampan ke atas kasur tempat Elio bersandar.
“Ini pesto chicken bake Kakak.” Diletakkannya nampan tersebut di depan Elio. Lalu kembali mengambil minum dan meletakkan di nakas di sisi kanan suaminya.
“Ya Allah… Bener nasi goreng ini harga ya 105 ribu? Nasi gorengnya dikit banget. Pantas Kakak kaya kalau begini ceritanya.” Protes Luna.
“Aku fikir nasi goreng semahal ini bisa buat makan dua kali. Ternyata seimprit. Ya Salaaaaam… Benar-benar bikin saldo ATM ku menjerit.” Luna masih saja protes.
“Hemmm biar aku tebak, marginnya pasti 200%” otak cerdasnya mulai berhitung mengestimasikan modal sepiring nasi goreng yang ada di depannya lalu membandingkannya dengan harga jual produk.
“Kamu harus tau. Bagi sebagian orang makan itu bukan buat kenyang, tapi looking for experience.” Balas Elio.
“Gimana ceritanya? Dimana-mana makan itu urusan perut. Ya harus kenyang lah. Sia-sia makan cuma buat pengalaman aja tapi perut masih keroncongan.” Ucapnya sambil mematut-matut nasi goreng yang katanya kaya experience itu.
“Apanya yang kaya, miskin iya…” Celetuknya lagi.
“Eeeh nggak percaya. Buat orang yang sudah berada pada level High Net Worth Individuals, mereka tidak ragu intuk menghabiskan uangnya untuk fine-dining untuk mencari dining experience. Jadi makan bukan lagi buat kenyang, tapi ada value lain yang mereka harapkan.” Sebagai pebisnis kuliner tenyata ilmu Elio bukan kaleng-kaleng.
“Kamu tau black truffle masroom…? Itu harga satu porsinya bisa puluhan juta. Mana ada yang makan truffle sampai kenyang.” Elio mencoba membeberkan contoh.
“Tolak ukur kepuasan itu bukan lagi soal kuantitas, tapi kualitas.” Sambungnya.
“Haha… Berarti emang bukan aku target market resto hotel ini. Aku lebih suka makan seblak atau lumpia basah di food street alun-alun Bandung.” Jawab Luna.
“Tapi jangan salah… Itu juga bisa dibilang dining experience, tapi versi rakyat jelata seperti aku. Hahaha…” Luna terbahak-bahak.
“Emang kamu pernah kuliner di sana?” Tanya Elio.
“Pernah lah. Dulu pas selesai makrab kampus, aku ke Bandung. Kami kulineran street food.” Jawab Luna membawa nampannya miliknya dan duduk di sebelah Elio.
“Itu pengalaman menyenangkan sekaligus mengesalkan buat aku.” Sambung Luna.
“Kenapa emang?”
“Senang karena kita seharian itu keliling Bandung naik bus Bandros, kulineran, cari spot foto yang epic. Udah kaya wisatawan aja rasanya. Tapi kesel karena aku doang yang jomblo. Bahkan si Alea aja punya pacar waktu itu. Berasa kambing congek tau nggak.”
Luna jadi ingat dia sampai dibully teman-temannya karena jalan tanpa gandengan.
“Mana disuruh fotoin mulu. Aku bukan nggak suka fotografi, tapi objeknya itu loh. Geli lihat mereka rangkulan aja kemana-mana.” Keluh Luna.
“Ya udah… Nanti sama Aa kasep aja pacarannya ya Neng geulis. Aa antar kemana Neng Luna mau. Biar kita pacaran kayak orang-orang.” Elio terkekeh, Luna masang tampak geli mendengar Elio memanggil dirinya Aa.
“Haha mumpung di Bandung.” Sambung El.
“Enggak cocok. Kakak tuh cocok dipanggil Mamang.” Celetuk Luna.
“Ya udah, berarti kamu Bibinya. Haha…”
“Enak aja. Aku mah udah pasti eneng. Masih ABG…”
“Kata siapa?”
“Jelaaaas lah… Umur masih muda. Masih perawan lagi.” Jawab Luna.
“Eiiits… Kata siapa masih perawan. Habis makan mau aku unboxing kok.” Elio mengerling sambil menaik-turunkan kedua alisnya beberapa kali.
“Astagfirullah KAKAAAAAAAK…” Pekik Luna memberi jarak dengan Elio.
“Haha…” Elio kembali terbahak.
Hampir dua minggu mereka terpisah, selama itu Elio tidak tertawa selepas ini. Kadang kalau diingat-ingat sebenarnya yang ia rindukan bukan menyentuh Luna secara fisik, tapi obrolan mengalir yang tidak pernah ia dapatkan dari orang lain. Bahasannya bisa apa saja, seperti pagi ini mereka malah mengomentari harga makanan hotel yang mencekik kartu ATM Luna.
“Eh ngomong-ngomong, kamu kenapa pakai ATM kamu sih? Kan aku udah kasih kartu ATM aku sama kamu?” Ucap Elio melihat kartu ATM Luna yang masih tergeletak di bersamaan dengan struk resto.
“Oh… ATM Kakak nggak pernah aku bawa. Belum aku pakai juga.”
“Kenapa?”
“Lupa PIN-nya. Hahaha…”
“Astagfirullah… Tanggal nikah kita. Kan aku udah bilang beberapa kali.” Elio menatap heran Luna.
“Iya… Tanggal nikah itu kan formatnya banyak Kakak.” Ternyata kebiasannya memberikan negasi pada Elio tidak serta merta hilang meskipun statusnya sudah menjadi istri.
“YYMMDD, DDMMYY, MMDDYY atau DMYYYY. Apa lagi ya..?” Luna tampak berfikir mencari semua probability yang ada.
“211218. Puas?” Ucap Elio menatapnya tajam.
“Nggak tau bukannya tanya malah diam aja. Kamu mah alasan aja nolak uang dari aku kan?” Elio mendengus kesal.
“Hehe… peaceeee…” Luna mengacungkan tanda berdamaian.
“Sini Aa Elio kasep. Neng Luna suapin…Aaaaak” Luna menyendokkan nasi gorengnya ke mulut Elio. Menyogok agar singa tidak jadi marah.
“Lagi Aaaak…” Elio kembali membuka mulutnya. Entah kenapa nasi goreng itu terasa berbeda padahal ini tergolong menu biasa di hotelnya.
“Lagi?” Elio mengangguk.
“Eheheeee… Keterusan si Kakak.” Luna kembali menyendokkan nasi goreng di piringnya beberapa kali lagi sampai Elio sadar setengah porsi sudah ia habiskan.
“Udah… udah kamu makan gih…” Elio menolak meskipun merasa belum cukup puas disuapkan oleh Luna, tapi kalau dilanjutkan bisa-bisa Luna tidak makan.
Pria itu meraih ponselnya, membuka mobile banking dan men-transfer sejumlah uang ke rekening Luna.
“Eh… HP aku bunyi.” Luna hendak bangkit, tapi tangannya dicekal oleh Elio.
“Notifikasi itu. Aku habis transfer uang ke rekening kamu.” Jawab Elio asik menyesap minumannya.
“Loh Kakak transfer?” Tanya Lune justru memilih tetap bangkit mengambil ponselnya yang di charger di dekat TV.
“Masyaallah… Kenapa banyak banget?” Luna menatap Elio lalu berpindah sekali lagi ke arah ponselnya.
“Cukup kan?”
“Ini mah kebayakan Kakak. Buat apa aku pegang uang seharga macbook begini.” Luna melihat saldo di rekeningnya bertambah 25juta.
“Anggap aja hadiah dari aku karena kamu udah nyusul aku kesini.” Jawab Elio.
“Aih lah… Ada begitu nyusul suami dapat reword segala? Berasa jadi perempuan panggilan akunya.” Celetuk Luna.
“Huuuusss… Kamu ngomongnya…” Elio memperingati.
“Hehe…Semalam Mama ceramah panjang. Katanya aku mesti nyusul Kakak. Biar Kakak nggak rungsing lagi.” Ucap Luna.
“Woaaaah… Jadi kamu kesini atas perintah Nyonya Besar? Aku fikir inisiatif kamu sendiri.”
“Eeeh… Enak aja. Aku udah order tiket sebelum Mama telfon ya. Ini liat… Aku payment KAI jam 7, Mama telfon jam 8.” Luna memperlihatkan bukti-bukti bahwa dia memang berangkat atas inisiatif sendiri.
“Neng Luna kangen banget ya sama Aa kasep ya?” Elio kembali jadi mode menggoda.
“Sini aku peluuuk…”
“Iiih… geli Kakaaaak.” Luna memalingkan wajahnya menjauhi tangan Elio entah kenapa jadi melingkar ditubuhnya.
“Suapin lagi dong. Tapi makanan aku aja.” Ucap Elio manja.
“Ya udah lepas dulu…” Luna menarik tangan Elio agar terlepas.
“Masih bisa nyuapin kan?” Luna menghela nafasnya. Akhirnya dia pasrah menyuapi makan sang suami meskipun Elio sudah bersandar di tubuhnya dengan tangan melingkar.
Beberapa saat kemudian, tidak terdengar lagi suara Elio. Pria itu tertidur ditubuh istrinya. Sekian hari tidak merasan ketenangan seperti ini ternyata membuat dia lupa waktu dan tempat. Apalagi perutnya sudah terisi kenyang karena 3/4 nasi goreng Luna, ia yang menghabiskannya.
“Kak… Udah zuhur. Ayok sholat.” Luna menepuk ringan lengan Elio agar bangun.
“Hemmm… El masih ngantuk Bunda.” Jawab Elio setengah bergumam. Luna langsung mengerutkan dahi. Kenapa dia dipanggil Bunda.
“Kak…”
“Aku kangen Bunda.” Elio kembali bergumam.
Luna yang tadinya mau membangunkan Elio, justru mengusap lembut rambut suaminya. Gadis itu tersenyum, mungkin alam bawah sadar Elio sedang bermimpi bersama Sang Bunda saat ini.
Sudah setengah dua siang, Luna tidak tubuh Luna sudah terasa kaku menyangga Elio dari tadi. Apalagi mereka belum sholat zuhur.
“Kaak… Ayo sholat dulu. Udah jam setengah dua…” Luna menegakkan tubuh Elio.
“Aaak…” Tapi ternyata tangannya sendiri yang kaku tidak bisa bergerak karena kesemutan.
“Astagfirullah… Aku ketiduran.” Elio terperanjat melihat jarum jam. Dia beralih lihat Luna meringis kesakitan.
“Kamu kenapa?” Diraihnya tangan Luna. Tapi gadis itu malah memekik.
“Aku kesemutan.”
“Eh… Gara-gara aku ya? Maaf maaf…”
“Udah ngga apa-apa. Sana wudhu. Takut Kakak dicariin orang.” Elio yang ingat sudah kabur selama empat jam langsung melompat turun kasur dan berwudhu.
Selesai sholat berjamaah dengan Luna siang itu, Elio tampak melamun seperti memikirkan sesuatu.
“Kakak salim…” Luna mengulurkan tangan mencium punggung tangan suaminya.
“Kak… Aku izin keluar ya. Aku mau ke indoalfa beli kabel USB. Kabel USB aku rusak tadi pagi. Ini punya mbak resepsionis.” Jelas Luna.
“Sama siapa?”
“Sendiri lah. Seingat aku di seberang jalan ada Indoalfa kan..?” Elio tanpak berfikir mengingat posisi persis minimarket yang dimaksud istrinya.
“Hemmm…” Barulah pria itu mengangguk.
“Hati-hati ya. Kabari aku kalau ada apa-apa.” Ucapnya.
“Aku balik kerja dulu. Nanti kamu ikut acara penutupan audit ya. Biasanya ada makan malam bersama.” Ajak Elio.
“Ha?” Luna terbelalak.
“Nggak mau ah. Aku kan bukan karyawan.” Bisa-bisa dia jadi kambing congek lagi.
“Kamu kan adik aku. Sekarang pemilik saham lagi.” Ujar Elio meyakinkan.
“Aku nggak punya baju bagus. Cuma punya kaos aja.” Luna beralasan.
“Di kamar aku ada pakaian Bunda. Dulu Bunda selalu menyimpan pakian cadangan di setiap site hotel. Jaga-jaga kalau harus menemani Ayah kunjungan, jadi tidak perlu membawa pakaian lagi.” Jelas Elio.
“Baru hari Senin kemaren aku laundry jadi pasti bersih.” Sambungnya.
Luna terdiam beberapa saat. Seketika dia berfikir semua pesan-pesan Renata tadi malam padanya. Barulah gadis itu mengangguk.
“Siiip… Makin cinta kalau punya istri patuh gini.” Elio mengusap lembut kepala Luna yang masih terbalut mukenah.
“Sini cium dulu.” Luna mengarahkan keningnya pada wajah Elio tapi pria itu justru menyambar bibir istrinya, melahap permen favoritnya sampai lupa waktu.
“Hemmppp… Udaaah…” Luna melepaskan diri.
“Harus dihentikan takut keterusan. Kakak mesum…!” Elio hanya bisa mengulum senyum.
“Terserah disebut mesum juga tidak masalah, asal aku bisa minta lagi.” Ucapnya sambil melipat sajadah. Bibir Luna langsung mengerucut.
“Hadeuh… Kenapa jadi malas bekerja gini sih.” Cicit Elio.
“Jangan malas. Biar Kakak bisa ajak aku dining experience. Mana tau kalau aku hamil nanti ngidamnya makan truffle tiga kali sehari.” Entah angin dari mana Luna bisa menyinggung-nyinggung kehamilan. Bibir Elio langsung melengkung ke atas.
“Ya… Ya… Siaaap calon ibu dari anak-anakku.” Elio mengecup kening Luna.
“Ayah kerja dulu ya, Sayang.” Tangannya terangkat mengelus perut Luna yang terisi nasi goreng. Setelah tindakan absurd itu mereka lakukan barulah ia bergegas menuju pintu.
“Bye Cintaku… Assalamu’alaikum.”
“Dah Kakak. Wa’alaikumussalam”
Dengan semangat membara Elio kembali mulai bekerja. Pipinya mengembang setelah dapat banyak amunisi hari ini.
...🌝-[Bersambung]-🌝...
Hehe… Pantes pegel ngetiknya udah 1600an kata.
Btw aku mau bikin menyempil satu sesi tambahan di bab ini. Namanya Sesi #KokCurhatSihThor.
Silakan di skip ya kalau malas baca.
Ada yang tanya di DM IG aku begini.
“Kenapa lama baget sih updatenya? Padahal dulu pas Qinan Ricqi lebih cepat up.”
“Masa sih…?” Jawabku.
Setelah aku lihat-lihat ternyata benar secara waktu update memang story pertama lebih disiplin. Haha pantas achievement Mendadak Jadi Mommy & Daddy emang lebih tinggi dari My Beloved One (Elio & Luna). Selain ceritanya memang lebih dramatis sesuai novel hits NT, aku juga lebih disiplin dalam menulis. Mungkin itu reasonnya ya.
Aku baca-baca comment ternyata minta double up atau crazy up. Haha aku jadi pengen sembunyi dalam kantong doraemon aja rasanya. Senang sekaligus was was nyari waktu kapan ya bisa update yang gila. Eh…
Jadi ceritanya aku hanyalah karyawan kantoran yang melepas stress dengan menulis. Mungkin saat di story pertama masih prima. Tapi bukan berarti story kedua nggak prima ya. Ini soal waktu aja. Pas banget aku ada di fase banyak pekerjaan aja di kantor. Yaaaa biasa lah, budak corporate wkwkwk.
Tapi tenang, aku akan menyelesaikan cerita ini sesuai alur yang udah aku buat. Do it slowly kata Luna.
Target aku menulis adalah mencari ilmu. Entah kenapa aku ngerasa menulis itu jadi lebih banyak membaca. Bukan maksudnya membaca karya orang ya terus mencontek. Bukaaan… Aku jadi baca jurnal kedokteran waktu zaman Qinan & Ricqi, baca artikel bisnis zaman Elio & Luna. Hahaha… Kok serius gitu sih? Memang…
I don't want to be a candle. Give light but melt. I want to be a tree, grow up, stronger and give coolness for others. Halah gayaaaa…
Mungkin karena aku aku nggak punya target popularity apalagi salary jadilah lebih nothing to lose aja dalam menulis. Eeh tapi kalau dikasih vote, like, hadiah mah sukaaaa 😂😂😂. Nah loh… Kumaha sih author labil…
Jadi intinya… Diperbolehkan sekali minta crazy up sering-sering di kolom komentar. Aku senang bacanya tapi maafkan kalau aku tidak bisa memenuhi ekspektasi sodara sekalian. Wkwkkw…
Jangan pundung kayak El ya. Sekarang aku nulis lebih panjang loh. Bisanya 1000 kata aku stop. Ini mah mau berapa aja asal aku puas aku jadiin 1 bab.
Apa lagi ya… Hemmm aku harap kalian bisa mendapat banyak hal dalam tulisan aku. Tidak hanya hiburan, tapi mungkin yang lainnya. Sering-sering yang panjang ya komennya biar aku bisa terinspirasi menambah bumbu-bumbu cerita. Biar makin lezatooos…
Sekian edisi #KokCurhatSihThor.
Silakan fokus pada cerita saja ya. Anggap aja edisi curhatnya tidak ada. Hahaha 😝