
“Mampir dulu aja Mas. Kita makan di dalam.” Ajak Luna pada Kean. Malam itu, sesuai permintaan Elio, akhirnya Luna di antar oleh Kean ke Elios Hotel.
Kean tampak berfikir, sebenarnya dia ingin segera pulang. Tapi lebih baik Kean memastikan Luna bertemu dulu dengan suaminya sebelum mereka berpisah. Pria itu ternyata masih punya rasa khawatir pada kondisi kesehatan Luna meskipun secara fisik Luna sudah tampak sangat sehat.
“Elio masih meeting ya?” Tanya Kean pada Luna yang duduk di sebelahnya.
“Iya… Kata Kakak, tunggu di resto hotel dulu saja. Sekalian ajak Mas Kean makan malam.”
Mereka berdua jalan menuju restoran di rooftop. Restoran di rooftop memang sengaja buka mulai siang hingga malam hari, sedangkan restoran di lantai satu biasa digunakan untuk sarapan dan jasa private meeting.
“Tempat seperti ini lebih cocok digunakan untuk nge-date. Tapi Mas Kean malah perginya malah sama aku.” Luna terkekeh.
“Lain kali ke sini harus sama pacar, Mas. Biar bisa seperti mereka.” Luna menunjuk sepasang kekasih yang menikmati makan malam romantis sambil berpegangan tangan.
Kean tersenyum pias. “Perjalanan cinta aku tidak semulus yang kamu alami.” Keluh Kean. Rupanya Kean masih tidak percaya Luna menikah dengan Elio tanpa melalui proses pacaran dan hanya direncanakan dalam waktu dua minggu.
“Oh ya…? Jangan bilang Mas Kean tipe sadboy yang perjalanan cintanya penuh air mata..?” Tanya Luna sambil menyesap ice lychee tea miliknya.
“Kamu kenal Bintang kan?”
“Kak Bibi anak asuh Mama yang dari Jogja?” Luna memastikan. Kean mengangguk membenarkan.
“Dulu sebelum Kak El datang ke rumah, Kak Bibi tinggal sama aku di sini. Tapi semenjak Kak Bibi diangkat anak oleh tantenya, dia jadi ikut ke Jogja. Sekarang kata Mama Kak Bibi sudah jadi dokter dan sudah menikah juga.” Luna menjelaskan sosok Bintang yang dia tau.
“Dulu aku dan Bintang itu pernah bertemu saat dia masih kelas tiga SMA, sedangkan aku sudah lulus kuliah S1. Kami dekat dan hemmm… gitu lah.”
“Pacaran…?” Tanya Luna.
“Hemmm..” Kean membenarkan dengan senyum tipisnya. Sekarang Luna tahu, kenapa Mamanya sungkan memepertemukan antar anak asuh, karena kemungkinan mereka akan saling jatuh cinta seperti Kean dan Bintang.
“Terus kenapa berpisah….?”
“Seperti yang kamu bilang, Bintang ikut tantenya ke Jogja dan melanjutkan kuliah disana, sedangkan aku harus ke Buston ikut Kakek melanjutkan S2 sekaligus membantu bisnis keluarga. Tahu sendiri zaman dulu komunikasi tidak seperti sekarang. Jadi ya lost contact, dan entahlah bagaimana menceritakannya, rasanya hubungan kami rumit sekali.” Luna sampai menganga mendengarkan cerita Kean.
“Dua tahun yang lalu aku pulang ke Indonesia ternyata Bintang sudah punya tunangan. Tapi ya sudah… Namanya belum berjodoh. Aku turut bahagia untuk mereka.” Kean menjelaskan dengan senyum hambar.
“Mas Kean musti optimis. Mas Kean pasti segera menemukan cinta baru. Cinta yang lebih positif dan bisa menjadi labuhan terakhir ke jenjang pernikahan.” Ucap Luna meberi semangat.
“Seperti ini contohnya…..”
“Tanteee…”
Luna melambaikan tangan. Seseorang perempuan cantik elegan berdiri di ujung sana masih dengan pakaian kerja model jumpsuit khas smart casual wanita. Perempuan itu melambaikan tangan sambil bergegas ke arah mereka.
“Ya Tuhan… Kamu di sini. Apa kabar kamu, Sayang…? Udah sembuh belum…?” Luna mendapatkan pertanyaan bertubi-tubi dari perempuan yang ia panggil tante.
“Sudah sehat Alhamdulillah… Berkat bantuan Tante dan Mas Kean.” Mereka saling berpelukan satu sama lain.
“Duduk Tan.” Luna menarik kursi di sebelahnya.
“Tante Viara udah makan belum…?” Tanya Luna kemudian.
“Belum sih. Tadinya mau bungkus, makan di rumah aja.”
“Makan di sini aja sama aku dan Mas Kean ya.” Viara tampak berfikir, ia melihat Kean sekilas.
“Emang Tante nggak ganggu kalian?”
“Ya nggak mungkin lah. Yang ada Tante harus menemani aku di sini biar Kak El nggak cemburu lihat kami makan cuma berdua.” Kean hanya tersenyum sambil menunduk.
“Soalnya Kakak suka serem kalau udah cemburu.” Bisik Luna. Viara langsung terkekeh.
Mereka bertiga makan bersama sambil bercerita panjang lebar. Satu kesamaan Kean dan Viara, mereka ternyata pernah mengambil kuliah yang sama yaitu akutansi. Hanya saja Kean mengambil bisnis untuk studi S2-nya sedangkan Viara masih melanjutkan program studi yang sama.
Sudah hampir satu jam mereka duduk bersama, barulah Elio datang dengan wajah kusutnya. Sepertinya rapat tadi membuat pria itu banyak pikiran.
“Mas Kean, Tante… Aku izin bawa Luna dulu ya. Kalian nikmati saja kencan malam ini. Aku juga mau kencan dengan Luna di kamar.” Ucap Elio seraya menggulung lengan bajunya. Luna yang terkejut dengan ucapan Elio langsung melotot.
“Mas Kean. Sekali lagi aku minta tolong titip Tante Viara ya. Hari ini mobil dia rusak. Tolong antarkan pulang. Sebagai gantinya, Mas Kean bebas minta apa pun sama aku nanti.” Elio tersenyum lalu menarik tangan Luna meninggalkan Kean dan Viara begitu saja.
“El… Aduh… Ponakan yang satu itu.” Viara tampak salah tingkah.
“Mas Kean nggak usah dianggap serius omongan Elio tadi. Dia memang suka iseng sama aku… Aku bisa pulang sendiri saja nanti…” Tolak Viara.
“Saya antar juga tidak masalah.”
“Yakin…? Mas Kean mutar ke PI dulu loh.” Viara memastikan.
“Iya… Yakin. Ke Bandung pun saya antar. Saya laki-laki amanah. Kalau sudah dititipkan pasti saya antarkan.” Viara langsung terbahak.
“Wah ini benaran founder Pasific Exporia yang lagi ngomong sama aku. Kok berasa driver taxi online ya…?”
“Hahaha… Bisa aja kamu. Ayo pulang. Takut keburu malam. Saya nggak enak sama orang tua kamu dikira nyulik anak gadis orang sampai tengah malam gini.” Viara tersenyum mengangguk.
Malam itu, akhirnya Kean mengantarkan Viara untuk kedua kalinya. Jika sebelumnya mereka lebih banyak berbasa basi di mobil, malam ini keduanya lebih luwes bahkan sebelum terun keduanya sempat bertukar nomor telfon.
“Apa saya perlu pamit dengan orang tua kamu..?” Tanya Kean melirik ke arah pintu rumah yang baru terbuka.
“Apa…?”
“Itu siapa…?” Kean melihat laki-laki lanjut usia yang duduk di kursi roda, dan di dorong oleh sang istri.
“Itu… Itu… Mama dan Papa.”
“Ya sudah. Sekalian saja saya kenalan dengan Oma dan Opanya Elio.” Kean tersenyum melepaskan seatbelt lalu turun dari mobilnya. Viara yang masih terkejut hanya mematung di dalam mobil.
Kean duduk menyesap teh hangat yang baru saja disuguhkan oleh seorang IRT di rumah Viara.
“Maaf ya, Pak. Tadinya saya cuma diminta adik saya Elio mengantarkan Viara pulang. Tapi ternyata setelah melihat Bapak dan Ibu belum tidur, saya fikir sekalian saja berkenalan dengan Oma dan Opanya Elio.” Kean berbasa basi. Dia manahan tawa dalam hati karena muncul ide gila mengakui Elio sebagai adiknya.
“Renata dan Gilang dari dulu memang luar biasa. Dulu saya tahu betul mereka sampai kesulitan secara finansial menyekolahkan kalian satu-satu. Bayangkan saja mereka menyekolahkan enam anak sekali gus sampai ke luar negeri sana, termasuk Elio. Apalagi keduanya punya prinsip tidak mau dibantu. Tapi setelah dewasa, mereka sudah menuai hasil. Anak-anak saling menjaga dan seperti keluarga. Bukan kah itu sebuah kebahagiaan..?” Pria yang sudah tampak renta itu sampai meneteskan air mata.
“Iya Mama memang luar biasa. Bahkan dari Mama saya belajar menjadi bermanfaat untuk orang lain.” Puji Kean.
Tidak begitu lama Kean berbincang dengan orang tua Viara karena Kean melihat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Pak, Bu… Sudah larut, saya izin pamit pulang. Jika Bapak dan Ibu mengizinkan, besok pagi saya minta izin untuk jemput Viara untuk mengantar ke kantor.” Tawar Kean melirik ke arah Viara yang melotot seperti terkejut.
“Kami yang berterima kasih kalau Nak Kean mau membantu Viara. Jujur, sebagai orang tua yang sudah tidak lagi muda, rasanya kami sudah kesulitan menjaga Viara. Mungkin sudah saatnya Viara dijaga oleh orang lain.”
“Mamaaaa…” Rengek Viara.
Kean tersenyum melihat perempuan yang tampak classy itu merengek manja. Rupanya dimana-mana wanita selalu sama. Tampak kokoh di luar, tapi sangat manja jika sudah bersama keluarga.
Malam itu seperti kata adiknya, Luna. Kean mencoba meyakinkan dirinya bahwa cinta yang baru pasti akan segera ia temukan. Cinta yang lebih positif dan akan menjadi labuhan terakhirnya.
...-[Bersambung]-...
Monday is vote day.
Seperti biasa… Mungkin aku nggak akan setiap hari bisa update sampai tanggal 7. Tapi kalau sempat aku akan cicil-cicil aja nulisnya agar bisa menjaga kewarasan aku di reallife.
Kemana sih thor…?
Aku masih disini kok guys. Nggak punya tulisan juga di PF lain.
Terima kasih sudah setia sampai Bab ini. Terima kasih juga dukungannya. Love youuuu…