My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Heart-to-Heart



Kahanayya POV


Hari Minggu adalah hari aku harus part time untuk coaching junior chef di Teras Teduh. Awalnya hari ini aku berniat absen meminta waktu istirahat pada El karena efek persiapan audit membuat badan terasa lelah, belum lagi Senin besok aku harus berangkat ke Jogja urusan yang sama dengannya. Padahal perasaanku masih terluka dengan kenyataan bahwa El terang-terangan menolakku kemaren lusa.


Tapi belum sempat mengirimkan pesan, El sudah mengirim pesan di group chat cafe, bahwa dia akan datang berkunjung pagi ini ke Teras Teduh. Aku langsung tersenyum, kenapa lima hari dalam seminggu bertemu dengan El rasanya masih belum cukup untukku. Akhirnya aku putuskan tetap berangkat ke Teras Teduh pagi ini dengan semangat yang menggelora.


Pukul sepuluh lewat lima belas menit, El datang dengan adik angkatnya, Luna. Gadis itu langsung berlari ke arah Alea, sedangkan El hanya tersenyum melihat interaksi mereka yang terlihat akrab. Jelas sekali di mata El ada cinta yang besar untuk Luna. Belum lagi saat Luna akan tampil bernyanyi dengan tim akustik, El mengantarkan adiknya sampai ke panggung. Baru lah dia mengajak Langit dan Alea masuk ke ruang briefing.


Aku cemburu sekaligus merasa terbuang karena aku tidak lagi dilibatkan dalam meeting itu. Apa salahku El? Apa karena aku punya perasaan sama kamu, lalu kamu menghindar dariku?


Terbesit sedikit sesal kenapa memaksakan datang hari ini kalau hanya akan melihat pemandangan seperti ini. Tapi entah kenapa aku merasa belum kehilangan El sepenuhnya, karena aku masih meihat El tersenyum padaku sesaat sebelum masuk. Terlintas keinginan untuk memberikan pelayanan terbaik dengan mahakaryaku yang selalu ia puji cita rasanya.


Lima belas menit berlalu, aku melihat Luna masuk menuju kitchen, dari cara dia melihat para staff kitchen jelas dia kebingungan. Sampai akhirnya dia melihatku di ruang baking, dan bergegas menemuiku.


Anak ini… Ah… Harusnya aku cemburu. Harusnya aku marah. Tapi entah kenapa tidak bisa. Sikap humble-nya membuat aku merasa nyaman bercerita dengannya. Aku merasa tersanjung dengan pujian yang menurutku sedikit berlebihan. Secangkir minuman jahe saja bisa membuat memberikan label chef terbaik untukku. Pantas… Pantas saja Elio merasa nyaman. Dia pandai men-treat lawan bicaranya seperti yang aku rasakan sekarang.


Tiba-tiba saja aku ingin menjadi Luna. Yaa… Andai aku Luna, pasti hidupku sempurna. Wajah yang cantik, suara yang bagus, good attitude, punya banyak teman dan terakhir yang paling penting, Luna disukai oleh El, sahabat sekali gus orang yang selalu mengisi hatiku dari dulu.


Aku terhibur dengan kehadiran Luna yang terus saja mengajakku cerita. Dia antusias melihatku membuat minuman jahe yang katanya dia suka.


“Gampang kan?”


“Hehe iya ya. Gampang sebenarnya… Tapi masalahnya cuma satu, nggak bisa bedain mana jahe, mana lengkuas, mana yang kencur.”


Apa? Luna tidak bisa memasak? Aku cukup terkejut. Ini seperti di luar dugaanku.


Anak ini memang unik. Dia tidak butuh menjadi orang lain agar membuat orang tertarik, bahkan dengan mudahnya mengakui dia tidak bisa memasak. Tidak sepertiku yang selalu ingin dilihat oleh orang lain, terutama El.


Aku masih ingat belasan tahun lalu saat aku dan El masak omelet bersama di rumahnya. El bilang bahwa Ayah dan Bundanya selalu masak bersama untuk makan malam. Almarhum orang tuanya seperti rule model bagi El. Sehingga ia punya mimpi kelak ingin seperti orang tuanya. Memasak makan malam bersama dan bahkan membangun restoran di masa depan dengan pendamping hidupnya.


Di titik itu aku semakin yakin bahwa aku harus menjadi koki yang baik. Aku akan mewujudkan mimpi El masak bersama istrinya kelak. Sebuah keinginan yang bodohnya aku terjemahkan mentah-mentah diusiaku yang masih belasan tahun kala itu.


Tapi aku tidak menyesal, karena beberapa bulan yang lalu El membuka cafe ini. Kami seperti banyak melakukan kolaborasi untuk menciptakan menu yang enak dan unik. Kemampuannya bisa di bilang di atas rata-rata untuk seorang tidak mengikuti sekolah memasak sepertiku, bahkan melebih chef sungguhan. Aku semakin yakin dengan ucapannya belasan tahun lalu.


Sampai akhirnya malam itu, aku mendengar tuduhan Alea pada Luna. Ternyata sampai sekarang tidak banyak yang tahu mereka bukan kakak adik sungguhan. Tapi sangat menyakitkan rasanya menerima kenyataan El telah jatuh cinta pada orang lain, dan orang itu Luna.


Tiba-tiba aku teringat pada janjinya akan segera kembali saat kondisi psikisnya sudah sembuh. Nyatanya… Dua belas tahun El seperti tersandra dengan keluarga angkatnya. Aku kecewa… Benat-benar kecewa.


“Kakak ada masalah dengan Kak El?”


Luna bertanya ke padaku saat di ruang baking. Cara dia bertanya jelas ada rasa simpati di sana. Lagi-lagi dia bisa mencuri hatiku untuk merasa nyaman. Perlahan aku raih tangannya, entah ini benar atau salah, aku harus mencoba bicara dari hati ke hati pada Luna.


“Luna… Aku pingin ngomong serius sama kamu.”


“Ha? Tentang?”


“Tentang El…” Jawabku. Wajahnya langsung berubah. Seperti gugup dan terlihat tidak nyaman.


“Kamu tau kan aku sahabat Elio dari kecil…?” Luna mengangguk. Pasti El sudah cerita panjang lebar tentangku, fikirku.


“Ya… Kami dari kecil sudah bersama. Umur kami hanya selisih tiga bulan, El lahir duluan dariku. Kebetulan papaku dan ayahnya El sudah bersahabat dari lama.” Aku tersenyum mengingat betapa dekat keluargaku dengan almarhum Om Arkan.


“Tapi saat itu El meyakinkanku bahwa dia akan segera kembali saat dia sudah sembuh. Sejak saat itu aku menunggu kepulangan El.”


“Tapi sekian tahun berlalu, El masih belum kembali, malah justru pergi ke Aussie.” Tidak terasa air mataku menetes. Aku menangis di depan Luna. Gadis itu langsung mengambil tisu di dalam tasnya dan memberikan padaku.


“Satu hal yang aku ingat, dia punya cita-cita bisa memasak dengan istrinya di masa depan. Ingin mebangun restoran bersama. And see… Here I am now, becoming a professional chef because of his dream.” Aku tertawa pilu. Luna langsung menggengam jari tanganku seperti menyalurkan kekuatan.


“Aku suka sama dia Luna. Udah lama, dan bodohnya sampai sekarang.” Aku lihat Luna menatapku cukup lama. Entah apa yang difikirkannya. Mungkin aku terlihat murahan karena berani mengakui perasaanku pada orang yang ia anggap sebagai Kakaknya.


“Kak El tau Kakak suka sama dia?” Setelah aku bicara banyak, ini adalah respons pertama Luna.


“Tau… Aku sudah ngasih tau dia kemaren malam. Tapi…” Aku kembali menatap Luna yang terlihat terkejut.


“Tapi dia bilang, dia suka sama kamu.”


Luna tertunduk, tangannya meremas ujung dress yang dia gunakan. Kelihatannya ia cukup tidak nyaman dengan pembicaraan kami. Sejujurnya aku pun demikian.


“Maaf ya Kak.”


“Hehe bukan salah kamu. Perasaan kan nggak bisa dipaksa.” Ucapku. Aduh… kenapa jadi merasa bersalah begini.


“Aku ingin bicara dari hati ke hati aja sebagai perempuan sama kamu.”


Dia mengangguk-angguk. Matanya masih belum lepas menatap wajahku. Entah kenapa aku melihat keceriaannya hilang begitu saja.


“Sekiranya kamu nggak punya perasaan sama El, mungkin kamu bisa kasih kesempatan untuk aku masuk.”


“Aku akan lebih bersyukur kalau kamu bisa bantu aku. Whathever… Asal El bisa kembali nyaman dan menganggap aku sahabatnya lagi atau mungkin lebih.”


“Jujur aku sedih merasa terbuang seperti ini.” Pilu rasanya melihat El sudah tidak melibatkanku dalam meeting hari ini. Ah… Air mataku menetes lagi.


“Nanti aku coba bicara sama Kak El. Kakak jangan sedih lagi.” Tidak aku sangka Luna memelukku. Mencoba menenangkanku sebisanya.


Anak ini memang baik. Aku masih terus memuji ketulusannya dalam hati.


“Terima kasih ya, Dek.” Dia memang lebih cocok dijadikan adikku. Semoga memang akan menjadi adik iparku kelak.


...🤭-[Bersambung]-🤭...


Author : Selamat hari Minggu guys…


Nitizen : Thor itu si Ayya… Hadeuh….


Author : Biarin aja. Namanya juga cinta pertama. Kenapa sih pada iri ya?


Nitizen : Terus Luna gimana?


Author : Biarin aja… Luna mah lagi belajar jatuh cinta. Tapi udah dapat serangan drakula. Haha…