
“Nggak mungkin…!” Ayya menggelengkan kepalanya secara cepat.
“Sampai segitunya kamu mengarang cerita biar aku berhenti berharap sama kamu, El.” Ayya berusaha meyakinkan dirinya bahwa Elio sedang bercanda pagi ini.
Pagi itu Ayya sengaja dipanggil ke ruangan Elio untuk membicarakan ini. Ayya yang semula sangat bersemangat sampai membawakan secangkir kopi hitam dan berbagai macam cemilan kesukaan Elio, langsung kecewa saat mendengarkan penjelasan Elio terkait status pernikahannya dengan Luna.
“Aku serius, Ya.”
“Haha… Mana mungkin aku percaya sama cerita kamu. Luna belum genap 20 tahun. Dia pasti masih punya banyak mimpi. Mana mungkin kalian sudah menikah. Kalau pacaran, mungkin aku masih percaya.”
Meskipun hatinya berdenyut sakit, Ayya masih berusaha tertawa kecil menanggapi ucapan Elio yang ia anggap sebagai kebohongan.
“Justru karena usia Luna masih belum cukup, kami merahasiakannya dari publik. Kami beneran sudah menikah bulan lalu. Langit, Alea dan Om Rian juga sudah tau.”
Ayya terdiam. Matanya sudah berkaca-kaca. Bibirnya terasa kelu untuk berbicara. Sedangkan Elio hanya bisa menarik nafas panjang. Ternyata melihat sahabat kecilnya menangis dia merasa tidak tega. Tapi bersandiwara terlalu lama akan membuat Ayya semakin sakit.
“Kenapa…? Kenapa bukan aku, El…? Kenapa harus Luna…?” Lirih Ayya dengan tatapan kosong lurus ke depan.
“Lebih dari sepuluh tahun aku menunggu kamu kembali, El. Setelah semua mimpi aku sebagai dokter aku kubur demi menjadi chef seperti perempuan yang kamu mau, sekarang kamu memilih menikah dengan orang lain.”
“Maafkan aku. Aku nggak tau kamu punya perasaan dari dulu sama aku, Ya.” Ucap Elio merasa bersalah.
“Lalu… Jika kamu tahu dari dulu, apa kamu mau menikah dengan aku, El…?”
Elio bungkam. Sepanjang perjalanan hidupnya, Elio tidak pernah menyayangi perempuan seperti menyayangi adiknya, Luna. Bahkan satu hal terberat dalam hidupnya adalah membayangkan ia berjabat tangan dengan adik iparnya kelak. Tapi untunglah hal itu tidak akan terjadi, karena Elio berhasil menjadi suami Luna saat ini.
“Ayya… Kamu perempuan yang baik. Kamu pasti bisa menemukan laki-laki yang lebih baik dari aku.” Meskipun terdengar klise, tapi Elio mendoakan dengan tulus.
Ayya mengangguk, bibirnya tersenyum sinis.
“Ya… Itu kamu tau. Tapi sayangnya kamu terlalu bodoh menyia-nyiakannya.” Potongnya.
“Perempuan itu tidak bisa apa-apa. Tidak mengerti dapur sama sekali. Dia hanya anak kecil yang tidak akan bisa membahagiakan kamu. Dia hanya anak manja yang tidak akan pernah bisa mewujudkan mimpi kamu.” Sentak Ayya penuh emosi.
Elio mengepalkan jemarinya dengan kuat. Jika Ayya menyalahkan dirinya atas semua kejadian ini, Elio masih bisa menerima. Tapi jika harus menjelek-jelekkan Luna, maka Ayya sudah melewati batas kesabarannya.
“Cukup, Ya… Kamu sudah keterlaluan. Kamu bisa keluar sekarang.” Tegas Elio.
“BRENGSEEK KAMU, EL. Kamu tidak lebih dari pecundang.” Ayya bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari ruangan Elio sambil membanting pintu.
Setelah Ayya pergi, seharian Elio tidak keluar dari ruangan kerjanya. Beberapa dokumen menumpuk di atas meja namun dia tidak bisa menyelesaikannya dengan tenang. Kemarahan Ayya membuat Elio memikirkan banyak kemungkinan-kemungkinan yang terjadi setelah ini.
Tepat pukul 16.15, menjelang pulang, Om Rian datang menemui Elio ke ruangannya. Wajah pria yang selalu terlihat bijaksana itu merah padam, seperti menahan amarah. Matanya juga sudah memerah. Elio yang terkejut dengan tampilan Rian yang jauh dari kata rapi sedikit terkejut.
“Ada apa, Om…? Ada masalah?” Elio mengerutkan dahinya saat bertanya.
“El… Ini surat pengunduran diri saya dan Ayya.”
“Om….” Elio yang tercekat langsung berdiri.
“Kamu sudah besar dan mandiri sekarang, El. Kamu pasti bisa menjalankan perusahaan dengan baik.”
“Om… Kita masih bisa bicarakan ini secara baik-baik. Aku harap Om dan Ayya masih mau bekerja di sini.” Suara Elio terdengar bergetar tidak menyangka perselisihannya dengan Ayya tadi pagi akan berbuntut panjang dan melibatkan Rian.
Rian menggeleng lemah, seutas senyum terpancar di bibirnya. “Nanti kalau kamu sudah lebih dewasa lagi dan sudah memiliki buah hati, pasti akan mengerti bahwa keluarga tetaplah yang utama. Family comes first.” Ucapnya.
“Tapi ini terlalu terburu-buru, Om.”
Rian menghapus jejak air mata di sudut matanya. Perusahaan yang dulu diperjuangkannya bersama sahabatnya Arkan harus ia tinggalkan semata-mata agar sang putri pulih dari rasa kecewanya.
Satu jam yang lalu Ayya menangis tersedu-sedu datang ke ruangannya. Rupanya pertemuannya dengan Elio tadi pagi membuat hatinya terluka dan menaruh dendam. Ayya mengancam akan pergi ke Italia jika Sang Ayah masih memilih bekerja dengan Elio. Gadis itu ingin memberi pelajaran pada Elio bagaimana rasanya ditinggal oleh satu-satunya orang kepercayaan yang dia punya. Menurut Ayya dengan seperti itu, Elio akan merasakan kehilangan yang sama dengan dirinya.
“Aku minta maaf, Om.” Elio memalingkan wajahnya. Pria itu ikut menangis.
“Tidak ada yang salah. Perasaan tidak bisa dipaksakan. Lagi pula Ayya terlambat memberitahu perasaannya padamu. It’s almost done. Kamu tidak perlu khawatir lagi mulai sekarang.”
Rian mendekat pada Elio dan menepuk lemah pundak anak almarhum sahabatnya itu. Pundak anak kecil yang dulu terasa rapuh, saat ini sudah sangat kokoh. Terbesit rasa bangga dan sedih bersamaan dalam hatinya.
“Apa rencana Om setelah ini…?” Tanya Elio.
“Ayya ingin mendirikan restoran sendiri. Om akan fokus membantunya.”
“Semoga dana pensiun dari hotel bisa membantu nantinya. Jika ada hal lain yang membutuhkan bantuanku, jangan sungkan. Apa pun pasti aku bantu.” Elio mencoba tersenyum meskipun hatinya merasakan kehilangan.
“Haha… Kamu tidak usah khawatir. Gaji di sini sangat besar El. Om bisa membuka cabang di lima kota besar hanya dengan mengandalkan bonus tahunan. Tapi niat baik pasti selalu Om terima.” Rian terkekeh mencoba memecah kecanggungan di antara mereka.
“Begitu pun dengan kamu, Om tidak akan mengganti nomor ponsel. Kalau kamu butuh advice, seperti biasa kamu masih bisa menghubungi Om.”Elio langsung mendekat pada Rian dan memeluk pria yang sudah ia anggap seperti orang tuanya itu.
Sore itu Elio memilih mengendarai mobil ke Pasific Exporia. Bermodal maps yang ada di ponselnya ia berniat menjeput Luna meskipun Luna melarangnya. Macetnya perjalanan membuat Elio larut dalam pikirannya. Apa yang harus dia lakukan setelah ini. Apakah benar dia bisa mengelola perusahaan tanpa batuan Om Rian? Jika tidak, apakah dia harus memohon pada Ayya agar mengizinkan Om Rian kembali bekerja di hotel membantunya.
Benar kata Luna, memacu kendaraan pribadi ke arah Bekasi bukan pilihan yang tepat. Pukul 18.10, Elio baru sampai pada ruko empat lantai itu. Ruko terlihat sepi dengan minim penerangan. Hanya ada satu orang satpam yang duduk di depan sambil menyesap puntung rokoknya. Meskipun ragu, Elio memberanikan diri untuk bertanya.
“Oh Mbak Luna ada di dalam sama Pak Kean. Sebentar saya panggilkan.”
Tidak lama Luna datang bersama seorang laki-laki. Pria tampan berwajah blasteran dengan tampilan sangat santai namun berkelas. Elio pernah melihat orang ini, tapi ia lupa dimana. Meskipun masih penasaran Elio memilih berjalan duluan ke mobil tanpa berniat berkenalan terlebih dahulu meskipun sekedar berbasa-basi.
“Aku duluan pulang ya, Mas.” Luna membungkukkan badannya saat berpamitan.
“Ya… Hati-hati di jalan. Sampai ketemu besok pagi.” Ucap Kean mengangkat satu tangannya.
Luna mengangguk dan berlari masuk ke dalam mobil Elio. Saat tangannya terjulur untuk bersalaman, Elio diam dan membalas dengan tatapan tajam penuh kemarahan.
Tidak ada suara selama perjalanan pulang. Bahkan saat Elio menepi untuk sholat maghrib, pria itu keluar mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Luna yang bingung letak kesalahannya hanya bisa menghela napas.
Lewat pukul depalan malam, mereka baru sampai di apartemen. “Lain kali kalau Kakak capek nggak usah menjemput aku. Aku udah bilang, jalan ke Bekasi pasti macet.”
“Terus kalau kamu nggak aku jemput, kamu mau pulang sama laki-laki itu…? Iya…?” Sentak Elio melempar tas kerjanya ke sofa.
“Ha…? Maksud Kakak gimana…?”
“Hari pertama bekerja saja kamu sudah sedekat itu sama dia. Sampai menunggu berdua di kantor. Kalian sudah ngapain aja berdua di dalam sana, hah..?”
“Astagfirullah Kakak. Dia sengaja belum pulang karena tidak mungkin membiarkan aku sendiri menunggu Kakak di ruko. Pasific Exporia bukan Elios Hotel yang ramai 24 jam. Jam lima sore kantor sudah tutup dan hanya dijaga oleh satpam. Harusnya Kakak berterima kasih sama Mas Kean, bukan malah marah-marah.”
“Harusnya aku yang marah, karena Kakak memaksa menjemput aku, dan membuat dia harus ikut pulang malam. Coba sekali-kali mendengar alasan aku. Jangan egois dan menang sendiri seperti ini.” Suara Luna seperti tengah menahan tangis.
Luna merasa jengkel disalahkan karena sebenarnya dia sudah menolak dijemput dengan alasan macet dan pasti Elio akan sampai malam hari di sana. Sedangkan jika pulang dengan angkutan umum, pasti sebelum magrib Luna sudah sampai di apartemen.
“Serendah itu aku di mata Kakak, sampai menuduh berbuat macam-macam.” Luna masuk ke dalam kamar sambil mengunci pintu dari dalam.
Elio yang masih dengan perasaan kacau, langsung berjongkok meremas kuat rambutnya. Hari ini hari yang buruk untuknya.
...🤦♀️-[Bersambung]-🤦♀️...