My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Ungkapan Perasaan



Author POV


Total 32 jam Luna tidak tidur sejak subuh kemaren, tubuhnya sudah lemas dengan kepala berdenyut sakit. Setelah menumpang mandi di kamar Elio dan langsung berganti pakaian di dalam kamar mandi, akhirnya Luna pun mulai berbaring di atas kasur.


Beberapa kali gadis itu berganti posisi, tapi ia belum menemukan posisi yang nyaman untuk tidur. Padahal hanya dirinya yang berbaring di atas kasur, sedangkan Elio memilih bekerja di meja kerja kecil di kamarnya.


“Udah kamu tidur aja. Nggak perlu takut, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Kalau mau ngapa-ngapain pasti minta izin.” Elio memasangkan selimut di tubuh Luna lalu meletakkan guling sebagai pembatas di sisi ranjang, jaga-jaga agar Luna tidak terjatuh.


“Tapi nanti kalau ngantuk, aku ikut tidur di sana ya.” Sambungnya lagi sambil mendaratkan kecupan di pucuk kepala istrinya.


Luna hanya menatap Elio dengan mata yang sudah tidak bisa dikondisikan. Rasanya ngantuknya sudah di ubun-ubun, sampai-sampai dia tidak memberikan sanggahan apa pun atas sikap Elio barusan.


“Aku boleh pinjam HP kamu ya?” Tanya Elio mengambil handphone Luna yang ia letakkan sembarangan di atas meja nakes.


“Hemmm…” Jawab Luna dengan mata sudah terpejam. Entah sadar atau tidak tapi bagi Elio jawaban Luna sudah ia anggap sebagai persetujuan.


Ternyata istrinya memang manusia super teratur dan rapi. Semua aplikasi di kelompokkan menjadi satu sesuai jenisnya. Social Networking, Messages, Finance, Travel, Shopping, Payment Gateway, Music, Games semua dikolompokkan secara rapi pada masing-masing folder.


Elio mulai menginstall applikasi tracking location lalu menghubungkan kedua ponsel mereka. Dilanjutkan dengan mengecek sekilas pesan-pesan yang ada dalam kontak pesan.


Benar saja gelar the most wanted girl tepat dijulukkan untuk istrinya itu. Banyak pesan dari nomor tak bertuan seperti ingin berkenalan dengan Luna, tapi hanya berakhir pada tidak ada balasan sama sekali dari Luna.


Sebenarnya kalau tidak mengingat Luna yang tidak tidur dari kemaren subuh, Elio sudah ikut berbaring di sana, mengulang kembali memori dua minggu yang lalu saat mereka tidur berpelukan sampai pagi. Ekspresi Luna yang terlihat sangat kelelahan, membuat Elio semakin tidak tega mengganggunya. Jangan sampai Luna sakit hanya karena kurang istirahat.


Menyibukkan diri mungkin salah satu solusi yang bisa ia kerjakan sekarang. Mulai memesan jasa room cleaning service untuk membersihkan apartemen, memasak makan untuk nanti malam dan membeli multivitamin tambahan untuk Luna di apotik yang terletak di lantai satu apartemennya.


Untunglah Luna sedang kedatangan tamu bulanan sehingga dia tidak harus bangun saat zuhur dan ashar, hingga tidak terasa alarm adzan maghrib dari aplikasi handphonenya terdengar. Masih dengan mata yang mengerjap-ngerjap Luna baru sadar ia sedang berada di kamar Elio.


“Astagfirullah…”


Luna langsung terduduk. Kepalanya berputar-putar mencari Elio, tapi suaminya itu tidak ada di dalam kamar. Sampai akhirnya pandangannya tertuju pada ponsel yang terletak rapi di sebelah laptop milik Elio.


“Apa ini?”


Luna membuka satu aplikasi baru di handphonenya. Aplikasi itu dibiarkan di luar tidak dimasukkan dalam folder. Ternyata aplikasi tracking location yang bisa mendeteksi keberadaan mereka berdua.


Canggih juga aplikasi ini, dia baru tahu kalau ada aplikasi yang bisa melanggar privasinya seperti ini. Bisa-bisa Elio membuntutinya kalau sedang tour dengan club skuternya nanti. Fokusnya langsung tertuju pada posisi Elio yang ternyata sudah berada di Elios Hotel.


“Kakak di hotel? Kenapa nggak bangunin aku dulu? Aku bingung bangun nggak ada orang di rumah.” Luna mengirimkan pesan pada Elio.


Tidak menunggu lama, handphone Luna berbunyi tanda pesan masuk. Elio langsung mengirimkan balasan.


“Iya… Aku ada urusan mendadak di hotel untuk persiapan audit hari Senin, tapi udah mau selesai. Sebentar lagi aku pulang.”


“Aku udah masak. Kamu makan duluan aja. Nggak usah nungguin aku ya.”


Luna langsung menuju meja makan dan benar saja sudah ada beef teriyaki dan egg roll yang sudah disediakan Elio di atas meja makan. Ruangan apartemen juga terlihat bersih dan rapi tidak seperti sebelum Luna tidur tadi.


“Kakak bersihin apartemen?” Luna kembali mengetik pesannya.


“Bukan aku lah, kamu tau sendiri aku malas bersih-bersih hehe.”


“Aku cuma pesan room cleaning service tadi. Aku nggak mau kamu bangun malah bersih-bersih nanti.” Begitu isi pesan Elio padanya.


“Udah ketebak mah. Kakak mana mungkin bisa bersih-bersih. Itu baju kotor ditumpuk aja di kamar mandi. Isshhhh bauk tau.”


“Gantung baju itu bikin nyamuk, Kakak. Jangan dibiasakan…!” Balas Luna.


“Iya istriku...”


“Tapi sementara ini standar kebersihan kamu diturunkan dulu ya. Kamu kurang tidur nanti kalau ditambah kerja fisik jadi sakit. Paham kan maksud aku..?” Balas Elio.


“IYAAAA PAHAM…”


Gadis itu langsung mengambil piring dan bersiap menyantap makan malamnya. Sebelum suapan mendarat dalam mulutnya, handphone Luna kembali berbunyi.


“Makan yang banyak. Biar kuat nanti malam. Hehe...” Luna langsung melemparkan handphonenya. Eh…


...***...


Sementara itu di Elios Hotel, setelah melakukan coordination meeting dengan beberapa staff hotel untuk persiapan audit hari Senin, Elio datang ke cafe untuk memesan beberapa roti yang akan dia bawa pulang.


“El…”


Tiba-tiba suara lembut seorang gadis terdengar memanggil Elio dari arah belakang.


“Kamu pesan pastry ya? Aku baru banget selesai manggang croissant butter almond kesukaan kamu.” Ucap gadis yang masih lengkap dengan chef series buttonlessnya itu. Ya gadis itu adalah Kahanayya, kepala koki di Elios Hotel.


“Eh Ayya…”


“Ya boleh deh… Tolong pilihin beberapa variant sweet ya. Vanilla puff dan choco ganache atau milk greentea lah.”


“Sweet? Kamu yakin mau yang manis-manis gitu?” Tanya Ayya memastikan. Sejak kapan Elio menyukai rasa manis?


“Iya take away ya. Aku pesan buat Luna. Akhir-akhir ini dia suka begadang ngerjain tugas. Butuh supply gula lebih lebih banyak.” Jelas Elio. Ayya hanya bisa mengangguk lemah.


“Sebentar aku siapin. Mau minum? Coffee or tea?”


Elio menggeleng. “Kenyang. Nanti aja di rumah.” Dia memegang perutnya agar terlihat meyakinkan. Padahal sebenarnya Elio tidak sabar ingin segera pulang dan menikmati hidangan itu dengan Luna.


“Tunggu sebentar ya… Aku minta tim koki menyiapkan dulu.” Ayya bergegas ke dapur dan mulai memberikan instruksi koki menyiapkan pesanan El. Sedangkan Elio sibuk berkirim pesan dengan Luna.


“El…” Ternyata Ayya kembali duduk menghampirinya.


“Eh… Kok cepat?” Elio langsung menyimpan handphone dalam saku celananya.


“Belum. Masih disiapkan tim koki. Aku nemenin kamu aja di sini ya. Kebetulan cafe tidak terlalu ramai.” Ayya memutar kepalanya melihat cafe yang sebenarnya cukup ramai pengunjung.


“Ada yang mau kamu laporkan?”


“Hemmm… A… ada…” Ayya terlihat sedikit gelagapan.


“Tentang?”


“Sepertinya kitchen kita butuh segera di renovasi, El. Lebih tepatnya di-relayout.” Jawab Ayya terkesan asal. Meskipun mereka memang punya keluhan dengan tata letak dapur yang sedikit tidak standar, namun sebenarnya bukan masalah serius bagi para koki.


“Oh… Nanti kamu coba issued dulu ya di monthly review kita bulan ini. Nanti aku pertimbangkan pengajuan divisi F&B. Sekaligus aku harus melihat ketersediaan budged renovasi tahun ini.” Balas Elio.


“Oh ba..baik…”


“Ada lagi?” Tanya Elio.


“El… Hemmm…” Ayya menatap Elio sebentar lalu menunduk kembali.


“Mungkin nggak ya hubungan kita lebih dari sekedar teman atau atasan dan bawahan?” Akhirnya ungkapan perasaan itu lolos dari mulut Ayya.


...🤭-[Bersambung]-🤭...


Dear Readers tercindtah…


Maafkan aku yang baru kembali hadir menyapa. Mungkin untuk seminggu ke depan aku akan slow update karena dunia nyataku akhir-akhir ini lebih kejam haha.


Sedikit informasi, biasanya dari tanggal 29-7 setiap bulannya, aku akan mengalami badai pekerjaan di real life, kalau dipaksakan menulis takut kurang sempurna. Mohon dimaklumi author remahan yang belum bisa multitasking.


Jangan rindu ya, karena kata Dilan rindu itu berat euy. Haha