
Tidak terasa matahari mulai terbit. David dan Satria akhirnya tidak kuasa menahan kantuk, mereka tertidur di ruang tamu. Sementara itu Abel dan Felicia yang sudah letih memilih tidur di kamar Luna. Mata mereka sudah tidak bisa lagi diajak bekerja sama.
Hanya Luna dan Robby yang masih berusaha bertahan. Itu pun Robby hanya bagian mengutip jurnal saja. Robby memilih bertahan karena ingin segera pulang mengingat Ibunya sedang sakit di rumah.
“By… Ibu lo nggak apa-apa ditinggal sendiri?” Tanya Luna kembali bersimpati.
“Ada adik gue, Rea. Gue udah titip dia sih biar jaga Ibu selama gue nggak ada.” Jawab Robby.
“Ya udah. Yuk semangat yuk. Biar cepat pulang. Oh iya ini vitamin jangan lupa diminum sehari sekali aja. Kasih juga adik adik lo. Siapa namanya tadi? Rea ya?”
“Iya. Namanya Rea. Thanks ya Lun. Boleh gue bawa pulang nih?”
“Bawa aja. Gue masih punya stock banyak kok.” Jawab Luna. Robby langsung tersenyum, Luna memang teman yang baik, bahkan sangat perhatian.
“Ehm…”
Elio keluar dari kamar sudah mendapati sang istri duduk di meja makan dengan seorang pria. Meja makan itu sudah beralih fungsi jadi meja belajar dadakan dari semalam.
“Kakak mau aku buatkan minum?” Luna langsung bangkit menghampiri Elio di dapur.
Entah sejak kapan dia bisa berubah sepeti itu. Yang jelas training di Jogja bersama Mbah Uti sukses membuat Luna mencoba menjadi istri yang baik.
“Kamu bisa?” Bisik Elio dari belakang.
“Ya kalau kopi doang bisa sih. Tuh aku bikinin anak-anak kopi sampai berkali-kali. Mereka suka tuh.” Luna terkekeh. Capaian luar biasa memang mengingat selama ini dia zonk untuk perkara dapur.
“Masih banyak?” Tanya Elio.
“Apanya?”
“Tugasnya.”
“Oh… Itu… Baru selesai 70% lah. Aku masih harus hitung-hitung product cost estimation. Perlu fokus… kus… kus….” Jawan Luna menunjuk kepalanya dengan jari telunjuknya.
“Emang susah banget apa? Sini aku bantu..!”
Elio yang lulusan S2 Ekonomi tentu mengerti cara membuat product cost estimation, bahkan bisa lebih mendalam tidak hanya terbatas pada masing-masing item namun juga mempertimbangkan aspek penunjang lain seperti utility, OEE dan lain sebagainya.
“Nggak perlu Kak. Aku bisa kok. Sebenarnya kalau dikerjain sendiri sih udah kelar dari tadi, tapi kan kata Pak Cipto harus kerja kelompok. Aku kudu pelan-pelan kasih tau yang lain cara ngerjainnya.” Sambung Luna sambil berbisik.
Elio mendesah. “Terus kenapa mereka pada tidur?” Elio melirik tidak suka ke arah ruang tamu yang terletak di tengah unit apartemen itu.”
“Oh biarin aja dulu. Gantian. Kasihan juga pada ngantuk kan.”
“Ini kopinya, aku tambahin susu full cream sama brown sugar. Jadi gurih gitu. Enak deh. Cobain aja.” Luna menyuguhkan kopi buatannya pada Elio
Elio mengambil cangkir kopi itu dan menyesapnya. Unik dan cukup nikmat dengan aroma khas brown sugar.
“Kalau siang bisa ditambah es batu. Robby bilang kopi aku kopi paling enak yang pernah dia minum, padahal ini resepnya dari dia loh.” Sambung Luna penuh rasa bangga.
Mendengar nama Robby, laki-laki yang duduk di meja makan bersama Luna, perasaan Elio langsung berubah nano-nano.
“Nggak enak. Aku mau bikin sendiri aja.” Elio kembali mengambil cangkir baru. Dia memilih meracik kembali kopi untuk dirinya sendiri.
“Ya udah. Kalau kakak nggak suka buat aku aja.” Luna dengan santainya mengambil cangkir kopi tadi dan membawanya kembali duduk di meja makan.
Kecewa? Tentu… Orang lain saja bisa menghargai kopi buatannya. Suami sendiri malah tidak bisa. Tapi ya sudah, dia tidak mau ambil pusing. Namanya juga selera.
“Beuh kopi lagi. Mau ya…?” Robby langsung menyesap kopi bekas Elio membuat Luna langsung terbelalak. Begitu pun Elio, dia langsung bergedik jijik karena bekasnya diminum orang lain.
“Makin jago kamu bikin kopinya, Lun. Buatnya pasti pakai cinta.” Puji Robby sambil mengacungkan dua jempolnya. Luna hanya tersenyum lalu melirik pada Elio yang justru tampak menikmati kopi hitam buatannya sendiri.
“Luna… Gue izin ke kamar mandi ya?” Tanya Robby.
“Sok By. Pakai aja.”
Elio kembali melirik pria itu dengan tatapan penuh arti. Tidak ada yang salah. Memang apartemen itu punya dua kamar mandi yang terletak di masing-masing kamar. Jadi tentu semua akan menggunakan kamar mandi Luna, terlepas pria atau wanita.
Saat masuk pintu di bantung oleh Elio membuat semua langsung terbangun. Bahkan Abel dan Felicia yang berada di kamar Luna pun ikut berhambur ke luar.
“Eeeh… Sorry-sorry… Gue ketiduran.” Ujar Satria dengan nyawa masih belum terkumpul. Disusul David yang terlihat menggerutu.
“Astagfirullah… Maaf guys. Nggak sengaja tadi tangan aku licin. Jadi pintunya kebanting. Lanjut tidur aja kalian.” Luna tentu merasa bersalah membuat teman-temannya tidak nyaman beristirahat.
Entah harus berterima kasih atau justru marah pada Elio, setelah kejadian bantingan pintu kamar Elio tadi, semua tampak fokus kembali mengerjakan tugas kelompok. Bahkan lebih cepat dari prediksi, tugas kelompok selesai pukul 10 pagi.
“Kita foto dulu kali ya. Kan Pak Cipto minta dokuementasi.” Satria meletakkan ponsel di salah satu nakes, lalu mereka mulai berfose untuk mendokumentasikan tugas.
“Sekali lagi lah. Nggak berasa.” Protes Abel.
“Sat… Sana… Atur timernya. Kan handphone lo.” Giliran Felicia yang bersuara.
“Capek gue mondar mandir ngatur timer.” Keluh Satria yang disuruh mengatur timer. Handphone milik mereka tidak ada satu pun yang canggih bisa mendeteksi kodak dari jarak jauh.
“Lun… bisa minta tolong kakak kamu nggak ya?” Abel yang dari siang mencuri-curi pandang pada Elio, tentu ingin melihat wajah pria itu sebelum pulang.
“Hemmm… Bentar ya… Kalau dia mau…”
Miminta tolong pada Elio bagi Luna bagaikan menambah daftar hutang pada rentenir. Elio setuju membantu dengan syarat yang tentu menguntungkannya.
“Aku bantu. Tapi habis ini istirahat di kamar aku. Kan tadi kamar kamu kan habis di pakai orang lain. Jadi harus dibersihkan dulu.” Ucap Elio dengan senyum kemenagan.
“Solusi yang tidak sepenuhnya solutif.” Gumam Luna dalam hatinya.
“Iya udah iyaaa. Tapi aku beneran mau tidur ya Kak. Aku capek banget.” Keluh Luna.
“Aku pijitin malah nanti.”
“Nggak perlu…!” Sentak Luna langsung menatap tajam pada Elio. Elio pun kembali terkekeh.
“Iya udah ayok. Aku fotoin.” Pria tampan itu keluar. Felicia dan Abel langsung ternganga. Ternyata ketampanan Elio menukik tajam jika bangun tidur dan rambut kusut.
“Yuk… Aku duduk di sini ya…” Luna duduk di salah satu kursi. Di belakangnya berdiri Satria dan Robby yang membungkukkan kepala dengan posisi berada di sela-sela para perempuan.
“Formasinya jelek. Ganti…!” Titah sang fotografer gadungan bernama Elio itu. Tentu bukan karena tidak layak secara estetika tapi karena perasaannya yang panas.
“Cowo-cowo duduk aja. Cewe pada berdiri.” Titah Elio lagi.
“Nah pasangan gini kan enak.” Satria langsung duduk tepat di depan Luna.
“Cieee gue dapat Luna lagi. Tolong di restuin sekalian ya Bang.” Seloroh Satria dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Elio.
“Masih jelek. Formasinya yang perempuan di tengah aja. Cowo di pinggir.” Sekali lagi Elio mengatur formasi.
“Luna kamu di tengah aja. Nggak boleh dekat cowok.” Elio berperan sebagai Kakak yang posesif.
“Aaah… Lama… Udah kita canded aja guys. Pakai timer aja.”
“Kalau nggak ikhlas balik ke kamar aja.” Ucap Luna kesal merebut handphonenya dari sang Kakak.
“Eeh.. Nggak-nggak. Yaudah terserah kalian aja.” Elio akhirnya pasrah. Setelah penuh pertimbangan, Elio lebih memilih menjalankan kesepakatan untuk tidur bersama Luna nanti di kamar.
...🌝-[Bersambung]-🌝...
Nitizen : Katanya Jumat. Ini udah lewat jam 12 malam.
Author : Jumat versi Luna guys. *alasan
Nitizen : Kena prank dong.
Author : Haha.. Maapin. Jadi cerita yang Mendadak Jadi Mommy & Daddy, 1 bab lagi akan aku tamatkan. Jadi aku masih ngegarap yang disana dulu ya. Biar fokus euy.