My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Jalan-Jalan di Bandung



Banyak yang berubah dari kehidupan Luna setelah menikah, kehidupannya sebagai gadis single nan independen, terenggut secara tiba-tiba. Elio seolah-olah memiliki mata elang untuk mengamati seluruh aktivitas Luna, termasuk hal privasi seperti saat memainkan ponsel pintarnya.


“Kamu ngapain sih senyum-senyum gitu?” Tanya Elio melirik dengan tatapan curiga.


“Ini si Abel ngajakin aku tour sama club skuter week end besok. Aku boleh ikut ya Kak…?”


“NGGAK…!”


“Kakaaaak…. Plis plis plis…” Ucap Luna dengan nada memohon, perempuan itu menggoyang-goyangkan lengan Elio bak anak kecil yang minta dibelikan mainan.


“Aku cuma ke Bogor, dekat kok. Lagian ini cewek semua. Nggak ada yang bisa Kakak cemburuin.” Alasannya.


“Nggak boleh, Luna. Kamu ngapain sih harus gabung club begitu segala. Mending di rumah sama aku. Kita bisa mendayung nirwana sampai puas. Aku masih punya alternatif posisi yang lebih menanang nanti.”


“Ih… Mesum…!” Elio mencoba menahan senyum apalagi saat Luna mendelik kesal.


“Mesum… mesum… Kalau udah dikasih aja… Uuuh Kaaak… Hemmm Kaaak… Aaah Ampuuun… HAHAHAHA…”


Elio akhirnya terbahak apalagi membayangkan pertempuran panas mereka sore tadi sampai dua gelombang dan mengharuskan mereka mandi keramas untuk ketiga kalinya hari ini. Luna yang tampak kesal dan langsung membalikkan badan membelakangi Elio.


“Adindaaaa… Sini lihat Kakandamu…” Bujuk Elio mempererat pelukannya. Suaranya dibuat selembut mungkin.


“Aku tuh datang ke Bandung pingin jalan-jalan, tapi yang ada seharian cuma disandera di kamar ini. Mana aku dibolak-balik kaya jagung bakar sama Kakak. Sakit semua badan aku, apalagi bagian bawah.” Dengus Luna kesal.


“HAHAHA… Namanya stay cation sambil explorasi, Sayang.” Elio terbayang ekspresi bingung Luna saat diminta berganti posisi. Luna fikir kegiatan mereka sudah selesai, ternyata perjuangannya masih panjang karena Elio masih penasaran mencoba banyak gaya berenang lainnya.


“Lama-lama kamar ini udah kaya apartemen ke dua tau nggak sih.” Luna menggerutu.


“Emang. Kamar ini akan aku jadikan kamar pribadi. Jadi sudah tidak ada yang bisa menyewa mulai dari sekarang. Asal kamu tahu, kamar ini habis direnovasi minggu lalu, semua furniturnya baru. Jadi kita adalah pasangan pertama yang membuat ranjang ini bergoyang. HAHAHA.”


Lagi-lagi Elio tertawa renyah. Luna hanya menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. Obrolan yang sebelumnya tabu mereka bicarakan menjadi terdengar biasa ditelinganya saat ini.


“Kak… Kalau aku memang nggak boleh tour ke Bogor week end depan, Kakak bawa aku jalan-jalan kek. Aku pingin ke Tangkuban Perahu, ke Kawah Putih, Floating Market, atau Dusun Bambu. Mumpung di Bandung kita wisata alam gitu.” Rengek Luna.


“Aku beneran bosan di kamar seharian. Kita kan Jarang ke Bandung, jadi harus dimanfaatkan untuk jalan-jalan. Soal itu-itu an juga bisa di Jakarta nanti.” Elio tersenyum, Luna sudah bisa ikut frontal sekarang.


“Iyaaa boleh… Besok kita jalan-jalan…. Tapi ini lagi musim hujan. Aku lebih prefer kita wisata indoor aja ya. Ke PVJ atau Art Museum, Upside Down World, misalnya.” Ucap Elio memberikan pendapat.


“Hemmm… Not bad lah… Dari pada dijadikan jagung bakar seharian.” Jawab Luna.


Dari dulu setiap kali ke Bandung, Luna memang selalu menyempatkan wisata alam. Tahun lalu, saat terakhir ke Bandung bersama keluarga, mereka menginap di rumah Tante Tias di daerah Cimahi dan menyempatkan jalan-jalan ke Stone Garden di daerah Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Sesuai namanya, wisata alam di sana menyajikan barisan pemandangan batu-batu karst raksasa yang mempesona. Luna suka tempat seperti itu.


Keesokan harinya kedua anak manusia ini sudah siap untuk jalan-jalan. Meskipun jalan-jalan kali ini pilihan destinasinya adalah indoor, tidak mengurangi antusiasnya. Apalagi salah satu tujuannya adalah art space yang membuat jiwa seni seorang Luna kembali terpanggil.


“Sudah siap kamu rupanya” Elio baru selesai dari mandi paginya.


“Udah dong.”


Melihat tampilan Luna yang santai dengan celana kulot berwarna putih panjang 7/8, kaos gray strip berlengan panjang serta sepatu kets putih menjadi andalannya, Elio merasa dirinya menjadi pedofil sungguhan. Tampilan Luna lebih mirip seperti anak SMA yang sedang menikmati liburan sekolah akhir tahun.


“Aku udah siapkan pakaian untuk Kakak. Khusus hari ini aku akan buat Kakak kembali jadi ABG diusia 26 tahun.” Ucap Luna cengengesan.


Elio melirik sekilas pakaian yang disiapkan Luna, pria itu langsung mengerutkan dahi. Sudah berapa tahun dia tidak menggunakan outfit seperti itu. Apalagi semenjak menjabat GM hotel pakaian tersantai yang pernah dia gunakan ada polo shirt. Sekalinya menggunakan baju kaos, dia langsung kena omel oleh Om Rian. Jadilah semua baju kaos hanya digunakan di rumah saja untuk tidur, bahkan sebagian di pakai oleh Luna sehari-hari.


Tidak lama setelahnya Elio sudah berganti pakaian, sangat santai dengan celana blue jeans dengan kemeja yang tidak di kancing, di dalamnya ia menggunakan kaos putih. Untunglah di hotel ini Elio menyiapkan sepatu sport untuk olah raga pagi. Benar saja tampilan mereka terlihat seperti seusia.


“Ih gantengnya suami aku. Kaya oppa - oppa korea. Pilihan aku memang terbaik.” Saking gemasnya Luna mencubit pipi Elio dengan kedua tangannya. Elio tersenyum simpul.


Destinasi pertama adalah Lawangwangi Creative Space, letaknya masih sekitar Dago. Lima belas menit perjalanan dari hotel mereka sudah sampai ke tempat tujuan. Tempat ini seperti perpaduan epic antara alam, seni, dan kuliner. Tidak hanya menyajikan karya seni, interior design bangunan juga sangat memukau dengan dinding kaca yang membuat cahaya masuk dengan sempurna.


Seharian mereka benar-benar seperti wisatawan lokal. Luna antusias mencari object foto. Jika perempuan suka diambil fotonya, justru Luna kebalikannya. Dia lebih suka memantik lensa kameranya, menjadikan Elio bak model seharian. Hanya sesekali Elio yang berganti memegang kamera, itu pun harus dengan paksaan karena Elio juga ingin menjadikan Luna modelnya.


“Aku senang banget.” Luna menanggandeng tangan Elio mengajaknya masuk menyusuri setiap lukisan. Elio yang sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan seni, justru lebih fokus memandangi wajah istrinya yang sedari tadi tersenyum.


“Di atas ada cafe cozy. Kita makan di atas.” Elio menarik tangan Luna menaiki tangga.


Selama di cafe Luna tidak henti membidik lensa cameranya ke arah sekitar. Apalagi dinding kaca transparan yang di pasang sebagai pematas cafe membuat mereka bisa menikmati alam seperti tanpa pembatas.


“Aku mau nasi ayam penyet sama es teh manis.” Ucap Luna tanpa melihat buku menu.


“Mumpung di Bandung, aku pengen kuliner nusantara. Bosan banget makan western terus. Harusnya Elios Hotel itu menonjolkan keraifan lokal. Bukannya kebarat-baratan.” Ucap Luna.


“Yaa… Aneh aja gitu. Aku rasa target market hotel-hotel di Bandung lebih banyak wisatawan dari pada pebisnis. Jadi kenapa tidak diberikan pilihan untuk menu nusantara. Masa kalau ada pengunjung yang ingin makan nusantara dia milih makan ke luar seperti ini.” Luna terlihat serius memberikan pendapatnya.


“Berbeda halnya jika di Jakarta. Kebanyakan orang meninap di Jakarta memang untuk perjalanan bisnis. Jadi dibuat khusus saja, untuk menu Elios Hotel bandung dan Jogja dibuat lebih menyatu dengan tempat berdirinya hotel. Bisa jadi nanti di Jogja ada gudeg, di Bandung ada seblak.” Luna memberikan contoh.


“Benar juga kamu.” Elio selama ini selalu percaya dengan Ayya. Ayya memang handal untuk menu western. Background pendidikan yang ditempuhnya selama di Aussie membuat Ayya senang mengeksplorasi menu luar dari pada lokal.


Selesai makan, mereka sempat berfoto di anjungan. Elio sampai menyewa jasa forografer karena ingin sekali berfoto berdua dengan Luna. Berbagai fose mereka lakukan termasuk saat mereka diminta untuk menyatukan pucuk hidung layaknya pasangan yang sedang menjalankan foto prewedding.


Sesuai dugaan Elio, menjelang zuhur gerimis mulai menyelimuti kota Bandung. Setelah sholat zuhur di Lawangwangi, mereka akhirnya memutuskan melajukan kendaraan ke PVJ Mall.


“Kita ke toko elektronik dulu di lantai dua ya.” Elio menarik tangan Luna mengunjungi satu stand elektronik di lantai dua.


“Mau beli apa…?” Tanya Luna.


“Semacam mini travelling hair drayer. Kamu akan sering keramas mulai sekarang, jadi kalau pergi-pergi bisa dibawa ini di dalam tas.” Luna langsung cemberut, meskipun apa yang dikatakan Elio ada benarnya, tapi tetap saja belum terbiasa mandi keramas sesering ini.


Setelah memilih-milih benda yang dikatakan cukup worth it bagi pengantin baru itu, mereka menyusuri gedung mall. Bagi seorang yang terbiasa hidup di kota besar seperti Luna, tidak banyak yang bisa dinikmati di mall. Jalan-jalan sekedar cuci mata atau window shopping bukanlah style seorang Luna. Dia tidak suka berbelanja yang tidak perlu.


“Bosan ya..?” Elio melihat Luna yang hanya fokus berjalan ke depan. Tidak seperti saat di Lawangwangi Creative Space yang terlihat sangat berantusias sampai tidak sadar keberadaan Elio di sekitarnya.


“Sedikit.”


“Sini pegang tangan aku.” Elio mengulurkan tangannya, menautkan jemari tangan mereka.


“Long-last ya. Sampai ke surga.” Ucapnya. Luna yang mendongakkan wajahnya menatap Elio sambil tersenyum.


“Aamiin.” Meskipun tidak terdengar, Gerakan bibir Luna membuat Elio tersenyum.


Kebosanan yang tadi dirasakan Luna ternyata hanya sementara, karena setelahnya gadis itu bertemu dengan wahana permainan Game Master. Selama di dalam sana dia kembali pada mode fun. Luna mengabsen hampir semua permainan untuk dewasa seperti street basketball, air hockey dan berakhir dengan menantang Elio di arena maximum tune.


“Payah kamu…” Remeh Elio karena berhasil memenangkan games balap sampai tiga kali.


“Ih aku tuh ngalah aja sama Kakak. Sesekali bikin Kakak senang. Pahala.” Luna memalingkan wajahnya kesal karena selalu saja kalah. Padahal selama bertanding sesekali dia curang dengan menggelitik pinggang Elio agar gagal fokus.


“Mana mungkin mengalah sampai tiga kali. Mana curang lagi.” Elio kembali mencemooh.


“Ya udah sekarang kita coba yang itu.”


“Haaah?”


Elio menahan nafas saat Luna sudah memasukkan koin pada tempat battle dance. Tidak pakai ampun, Luna memilih music asal korea dengan kesulitan tertinggi.


“Kalau aku menang, Kakak harus mengabulkan permintaan aku.” Tantang Luna.


“Enak aja. Aku kan tadi juga menang tiga kali. Jadi aku juga berhak mengajukan tiga permintaan kalau gitu.” Sewot Elio.


“OKE. Deal…” Mereka berjabat tangan dan battle dance pun dimulai.


Selama bermain Luna bergerak mengikuti dancer di layar monitor. Gerakan yang awalnya kaku, lama kelamaan menjadi luwes bahkan Luna terlihat seperti dancer profesional. Elio yang tadinya berusaha mengimbangi menjadi gagal fokus saat Luna mulai meliuk-liuk memperlihatkan kelincahannya. Fikiran yang tadinya jernih menjadi kotor seketika terbayang bebagai adegan. Tapi kewarasannya kembali dengan cepat saat beberapa orang pria memerhatikan Luna dengan instens.


“Siyal…” Dengus Elio.


“STOOOOOP… Aku kalah aja. Ayo pulang.” Elio menarik Luna tanpa menyelesaikan games tersebut.


“Ehh belum kelar. Aku baru aja warming up.” Cicit Luna menarik tubuhnya kembali ke arena battle dance.


“Nggak ada acara warming up - warming up. Aku udah panas lihat kamu menari sensual gitu. Bikin horney tau nggak. Kalau mau di kamar aja nanti. Aku bebasin kamu dance sampai pagi.”


“Untung di Kakak, rugi di aku.” Luna mengalihkan tangannya dari genggaman Elio.


“Kesel aku tuh. Kakak egois banget. Tadi kan lagi seru.” Elio tersenyum melihat Luna merajuk.


Ternyata sekuat apa pun Luna mencoba menjadi dewasa setelah menikah, dia tetaplah gadis 19 tahun yang masih punya keinginan besar untuk bermain. Moodnya juga bisa berubah dengan cepat sesuai dengan keinginan hatinya. Tapi bagi Elio, tidak masalah jika harus mengasuh adik sekaligus memanjakan istrinya setiap harinya.


...🧐-[Bersambung]-🧐...


Jangan lupa like,lempar bunga, vote dan komennya ya.