
“Kakak duduk disini dulu ya. Aku mau tektokan dulu sama Satria biar kompak ngesih penjelasan sama Pak Cipto nanti.”
“Nggak mau. Aku ikut kamu aja.” Tolak Elio.
“Tapi jangan jutekin temen aku. Dia cuma teledor dikit aja.” Bela Luna menahan tangan Elio agar tidak mendahuluinya berjalan.
“Nggak janji.” Elio yang memang terkenal dingin jika dekat orang lain sering kali membuat teman-teman pria Luna merasa terintimidasi.
“Kakak… Jangan gitu dong. Aku nggak mau hubungan aku sama temen-temen rusak karena hal kecil semacam ini.” Protes Luna.
“Ini bukan hal kecil, Dek. Kalau ini hal kecil, kamu nggak bakal ninggalin pesta nikah kita. Jadi stop belain temen kamu terus. Kamu kebiasaan nggak enak sama orang. Ya begini jadinya, cuma dimanfaatin orang lain.” Ketus Elio.
Tuduhan Elio tidak sepenuhnya salah. Dia masih mengingat beberapa bulan yang lalu Luna pernah meminjamkan Bee pada seorang temannya. Namun sudah sampai malam menunggu di kampus, temannya itu lupa untuk menjemput Luna. Padahal kondisi cuaca hujan petir yang mambuat Luna ketakutan dan hampir pingsan. Untung Elio segera datang menjemputnya.
“Udah ih… Jangan marah terus. Aku nangis nih…” Ancam Luna sedikit merengek.
“Ya udah aku nggak ikut campur. Tapi kamu harus belajar tegas sama mereka. Aku selama ini belain kamu, bukan berarti kamu bisa mengulangi kesalahan yang sama. Kamu harus bisa evaluasi.” Tegas Elio.
“Iya…” Lirih Luna.
Berjalan bergegas ke arah salah satu bangku panjang di depan ruangan dosen, Luna langsung menghampiri Satria.
“Sat… Kita cuma berdua?” Luna mengalihkan pandangan pada seluruh ruangan.
“Yang lain mana?” Tanya Luna karena tidak meilhat Felicia, David, Robby dan Abel.
Satria menggeleng sambil mengedikkan bahunya. “Mereka belum jawab telfon gue.”
Luna mendesis. Baru kali ini ia berfikiran buruk tentang teman-temannya, lebih tepatnya merasa dicurangi. Apa teman-temannya benaran tidak peduli ia bisa ikut ujian atau tidak.
“Tega banget ya teman kamu.” Elio tidak tahan memberikan pendapat, saat itulah Satria sadar Luna datang bersama Elio.
“Bang…” Satria mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Elio yang ia tahu merupakan kakak Luna. Elio menjawab salam itu dingin.
“Maaf Bang. Bikin repot gini. Saya teledor.” Satria langsung berubah berbicara setengah formal.
“Itu kamu tau. Kalau sampai Luna nggak bisa ujian, kamu berurusan sama saya.” Tukas Elio.
“Iya. Saya janji, kalau nanti Luna nggak bisa ujian, saya juga nggak akan ikut ujian, Bang.” Bak pahlawan kesiangan, Satria pasang badan membela Luna. Dia cukup merasa bertanggung jawab atas kesalahan ini.
“Terus untungnya apa buat Luna? Saya nggak peduli kamu bisa ujian atau tidak. Yang penting Luna harus bisa ikut ujian. Kalau tidak saya yang turun tangan langsung, sudah pasti urusan akan panjang.” Ancam Elio.
“Kakak… Tadi kan udah janji.” Luna menarik tangan Elio agar menjauh dari Satria.
“Sorry ya Sat. Kakak gue lagi sensi.” Ucap Luna mendamaikan suasana. Satria hanya tersenyum pias.
Tidak lama keempat teman Luna yang lain datang dengan nafas tersengal-sengal. Sepertinya mereka habis berlari dari tempat yang jauh.
“Lunaaaa… Sorry banget gue baru datang.” Felicia dan Abel langsung berhambur memeluk Luna.
“Kalian belum ngadep Pak Cipto kan?” Tanya Abel. Mereka terlihat bersimpati. Sedangkan Robby dan David meskipun tidak banyak bicara sorot mata mereka juga terlihat khawatir.
“Kalian kemana aja sih? Gue panik sendiri. Tolong dong kerja samanya.” Sentak Satria gusar.
“Sorry Sat. Gue sama Feli tadi habis dari kantor pemasaran Ebis buat wawancara tugas metode perancangan. HP sengaja gue matiin takut ganggu.” Ucap David.
“Gue tadi rapat himpunan. HP harus gue silent, jadi nggak kedengeran lo nelfon.” Timpal Abel.
“Gue barusan dari rumah sakit. Nyokap gue asam lambungnya kumat euy.” Robby memberi alasan.
“Udah… Udah… Yang penting kita udah lengkap. Mending mikirin cara ngasih tau Pak Cipto nanti. Biar kompak ngasih alasannya.” Luna menengahi.
Akhirnya Luna mulai mengatur strategi bicara yang paling meyakinkan untuk meluluhkan hati sang dosen killer.
“Yakin gitu aja dia percaya sama penjelasan lo? Menurut gue kurang reasonable sih.” Satria tampaknya meragukan alasan Luna yang terdengar klise.
“Forget something, it's a bad reason, but honesty must be priority. Emang gue nggak hadir kan waktu itu, makanya kalian lupa masukin nama gue.” Jawab Luna putus asa.
“Ya udah ngikut deh.” Pasrah Satria.
“Kalau nggak bisa, lo kedipin aja nanti Lun. Dia kan pasti doyan sama yang cantik kaya lo. Pasti luluh lah.” Seloroh David sambil tertawa.
Elio yang merasa terusik dengan candaan teman pria Luna, langsung bangkit dan menarik tubuh David agar menghadapnya. Tangannya sudah siap mengepal.
David ternyata tidak tau keberadaan Elio disana. Dia fikir pria yang duduk di bangku mereka adalah kakak tingkat akhir yang akan melaksanakan bimbingan skripsi dengan dosen.
“Kakaaaaaak…” Pekik Luna. Ia langsung mendorong Elio menjauh dari teman-temannya.
Setelah posisi mereka cukup jauh. Luna menghela nafasnya beberapa saat. “Please Kak. Jangan bikin ini jadi lebih sulit ya. Ribut di kampus aku itu cuma bikin aku punya masalah baru.” Ucap Luna dengan nada menohon.
Elio memalingkan wajahnya. Sebenarnya dia juga bingung kenapa menjadi tempramen jika ada hal yang berhubungan dengan Luna. Padahal dari dulu dia juga posesif tapi tidak berlebihan seperti ini.
“Dia nggak sopan ngomongnya sama kamu. Terus kamu diem aja dibecandain kaya gitu?” Jawab Elio.
“Aku juga nggak suka kok. Tapi nggak gitu cara ngomongnya. Biarin aku selesain satu-satu masalah aku ya. Kakak mending duduk disini dulu deh.” Kali ini Luna yang meninggikan suaranya. Apa boleh buat akhirnya Elio mengikuti kemauan istrinya.
Lima menit menunggu akhirnya sang dosen killer datang. Dia menurunkan kaca matanya untuk melihat siapa saja yang datang menemuinya. Ternyata ada Luna disana. Dia sudah menebak pasti ini berkaitan dengan daftar black list mahasiswa untuk mengikuti UAS minggu depan.
“Masuk kalian…” Titah sang dosen. Keenam mahasiswa masuk ke dalam ruangan dosen tersebut.
Ruangannya kecil. Hanya ada dua bangku untuk tamu. Satu diduduki Luna dan yang satu Satria. Empat lainnya memelih berdiri di belakang.
“Saya kasih waktu sepuluh menit. Silakan yakinkan saya, bahwa saudari Athanya memang mengerjakan tugas kelompok ini.” Sang dosen menunjuk makalah yang sudah terjilid rapi.
Luna akhirnya mulai menjelaskan kronogi kenapa namanya bisa tidak masuk dalam daftar anggota karena saat finalisasi makalah harus absen karena kepentingan keluarga. Kelima temannya juga ikut membenarkan dan memberikan pembelaan.
“Apa buktinya kamu ikut mengerjakan?”
“Jika Bapak berkenan, saya bisa menjelaskan semua isi pembahasan Pak.” Jawab Luna.
“Coba jelaskan.” Ucap dosen itu sambil merapikan dokumennya yang akan dibawa pulang.
“Kami mengambil tema urban art di gedung perkantoran, Pak. Graffity menjadi titik penting karena akan menjadi value dari ruangan itu sendiri. Saya merajuk dari…” Luna menjelaskan secara gamblang semua isi makalah hingga tidak terasa lebih dari lima belas menit dia bercerita.
“Hemmm… Sebenarnya saya cukup takjub dengan penjelasan kamu. Ya bisa dibilang dalam dan menguasi, tapi semua itu bisa saja kamu pelajari hari ini kan?” Tuding si dosen killer dengan tatapan sedikit mengintimidasi pada Luna. Sebenarnya ia hanya ingin mengetes mental Luna dalam menghadapi masalah.
“Saya bisa buktikan dengan email yang saya kirim pada Satria di hari Selasa kemaren Pak. Ini emailnya.” Luna menyerahkan ponselnya pada Pak Cipto.
“Saya mengirmkan Hari Selasa sebanyak dua kali. Pukul 7 pagi mengirimkan pembahasan, analisa biaya dan referensi, lalu siangnya saya kirimkan perbaikan technical layout.” Luna menunjuk email yang dia maksud.
Sang dosen mengangguk-angguk. “Sesuai dugaan saya. Kamu memang mengerjakan, bahkan nyaris semuanya. Tapi bukan berarti kamu bisa mengikuti ujian akhir begitu saja. Malah sebaliknya, kalian semua terancam tidak ikut ujian.” Ucap sang dosen dengan senyum yang sulit diartikan.
Luna dan teman-temannya langsung terbelalak. Mereka saling sikut karena bingung dengan ucapan Pak Cipto.
“Mak… Maksud Bapak?” Luna langsung gugup seketika.
“Ini namanya bukan tugas kelompok. Dimana-mana mengerjakan tugas kelompok itu bersama. Bukan mendominasi seperti ini. Kalau seperti ini kamu saja yang pintar yang lain tidak mengerti. Masa ada tugas kelompok 80% nya kamu yang mengerjakan. Yang lain kebagian cover sama kesimpulan. Terus nama kamu malah lupa dimasukkan lagi. Lucu sekali.” Sinis Pak Cipto.
“Education isn’t about a result, it’s a about process, right?”
Semua hanya diam tertunduk karena menyadari letak kesalahan mereka masing-masing
“Maafkan kesalahan saya Pak.” Suara Luna kembali terdengar.
“Sekarang apa yang bisa kami lakukan agar tetap bisa ujian?” Ia masih mau berusaha membujuk sang dosen sepertinya.
“Tidak ada. Saya akan update lagi list peserta gagal ujian dengan tambahan lima nama teman-teman kamu.” Tunjuk Pak Cipto.
“Ya Allah… Bapak saya mohon. Kasih kami kesempatan. Saya janji akan kerja sama dengan baik.” Mohon Luna.
Pak Cipto memandang ke arah Luna. Terbesit rasa kasihan pada anak didiknya itu. Sebenarnya Luna termasuk mahasiswi pintar yang akan andalkan mewakili kompotisi Interior Planner tahunan di Jepang. Jadi rasanya keterlaluan jika harus membuat anak berpotensi macam Luna, mengulang mata kuliah yang sama di tahun depan.
“Ya sudah. Saya kasih kesempatan satu kali lagi. Kalian kerjakan tugas kelompok dengan baik. Saya tunggu 1x24 jam dari sekarang. Besok tepat pukul 5 sore makalah sudah lengkap di email ke saya. Pastikan tidak ada nama yang tertinggal seperti hari ini. Dokumentasikan prosesnya agar saya percaya dqn lampirkan di belakang makalah.”
“Baik Pak… Baik Pak… Terima kasih untuk kesempatannya.”
Keluar dari ruangan Pak Cipto, perasaan Luna campur aduk, senang sekali gus bingung menjadi satu. Bagaimana dia harus bicara dengan Elio nanti. Pasti pria yang baru saja menjadi suaminya tiga jam yang lalu akan pundung jika tau malam ini dia dan teman-temannya berencana mengerjakan tugas kelompok sampai pagi.
...🤧-[Bersambung]-🤧...
Author : Aku bingung review nya kenapa lama? Bab yang sebelumnya belum rilis. Bab baru udah aku submit. Kalian masih nungguin gak sih? Haha
Nitizen : &/):!/&/*]^]%%]£ Serah elu tong.. Eh thoor..
Author : Vote kalau gitu.