
Berjalan ke parkiran mobil berdua dengan Elio, Luna menceritakan bagaimana suasana mencekam yang baru saja ia dan teman-temannya alami saat tadi bertemu dengan Pak Cipto.
“Ampun deh Kak. Bapaknya tuh cuek-cuek nyebelin, tapi smart banget. Lulusan Jepang predikat cumlaude lagi. Aku suka cara dia ngajar karena suasana kelas berasa hidup dan penuh diskusi. Tapi nggak tau kenapa sebagian anak-anak nggak suka sama Pak Cipto. Pada takut aja gitu bawaannya. Aneh.” Jelas Luna sambil terus berjalan mengiringi langkah Elio yang memang lebih panjang dan cepat.
“Pernah ya dulu, si Arif anak NIM ganjil. Dia ngantuk banget pas di kelas, udah tinggal 5 watt tuh nyawanya, eh si Bapak langsung nunjuk dia. Kamuuuh,,,, yang akan berselancar di alam mimpi… Jadi bagaimana menurutmu konsep townhouse ini?” Luna memperagakan cara sang dosen sambil berjalan mundur di depan Elio.
“Terus gimana dia?”
“Di hukum lah. Disuruh bikin tugas review jurnal international. Mana jurnalnya harus maksimal 2 tahun terbaru. Hahaha…” Luna tertawa puas.
“You know lah, mata kuliah aku tuh nggak gampang ketemu jurnalnya. Umumnya lulusan arsitektur interor memilih jadi pebisnis dari pada jadi peneliti. Yaa… Pasti nyari jurnalnya juga susah, mana disuruh ngereview dalam sehari lagi.” Luna masih saja terkikik.
“Aku dulu malah diposisi teman kamu.” Kali ini Elio yang mulai bercerita.
“Oh ya? Kakak ngantuk di kelas?” Tebak Luna.
“Lebih dari itu. Kau tidur sampai mendengkur malah. Belajar di luar negeri emang banyak sistem pembelajaran yang beda sama di Indonesia. Aku begadang tiap malam biar bisa mengimbangi mahasiswa disana. Belum lagi aku masih belum fasih mendengar accent english Aussie waktu itu, jadi banyak roaming kalau dosen mulai pakai kecepatan tinggi dalam kalau ngajar.” Keluh Elio. Memang itulah perjuanagnnya saat awal menginjak negeri kangguru itu.
“Terus… terus?” Luna tampak penasaran.
“Aku ditanya sama dosennya, berapa kira-kira uang yang dihasilkan sama Mark Zuckerberg kalau dia tidur seperti aku tadi.” Elio tersenyum mengingat pengalamannya.
“Kakak jawab apa?”
“Aku ngitung beneran dong. Untung aku lagi bawa tablet tuh. Pas aku jawab berapa USD ya waktu itu. Terus dia langsung jawab ‘Big Wrong, Elio’. Aku bingung lah. Terus dosen aku malah bilang gini.” Elio melirik ke arah Luna yang antusias menunggu kelanjutan ceritanya.
“Mark Zuckerberg tidak akan menghabiskan waktu belajarnya untuk tidur seperti kamu. Makjleeeb…” Elio tergeleng-gelang. Luna langsung tertawa terbahak-bahak.
Elio hanya tersenyum tipis. Kadang sederhana membuat Luna bahagia. Mungkin ini lah yang selama ini membuat hubungan mereka terasa hangat. Saling mendengarkan dan bergurau, membuat semua menjadi terasa menyenagkan. Tapi Elio sadar, dia hanya satu dari ratusan orang yang nyaman bersama Luna. Apakah bagi Luna dia adalah satu-satunya?
“Kak… Beli minum dulu ya. Aku traktir…” Luna menarik tangan Elio berjalan cepat menuju cafe kampus. Cafe ini yang terlihat seperti food court dengan beberapa stand makanan. Salah satunya adalah stand kopi kekinian dengan berbagai macam toping.
“Kakak mau pesan apa?” Tanya Luna sambil memberi kertas menu di tempat itu.
“Sama kaya kamu aja. Aku nggak tau yang enak.” Jawab Elio sambil melirik sekilas kertas menu yang di laminating itu. Lalu ia kembali melihat wajah Luna yang terlihat manis dengan senyumnya.
“Ice caramel coffee dua ya, Mbak. Satu pakai boba, satu lagi… Hemmm… Pakai boba nggak Kak?” Tanya Luna pada Elio. Elio mengangguk sambil tersenyum malu karena ketahuan mencuri pandang pada Luna.
“Pakai boba dua-duanya berarti ya, Mbak.” Luna langsung menyerahkan pecahan seratus ribu pada penjaga cafe.
“Eh pakai ini aja.” Elio mengeluarkan dompetnya cepat-cepat. Luna langsung menahannya.
“Aku mau traktir Kakak yang udah baik sama aku hari ini. Jangan ditolak ya.” Luna mengangkat alisnya beberapa kali.
“Tapi Dek…”
“Udah…. Nggak pakai tapi-tapi.” Sanggah Luna. Ia mendekatkan wajahnya kemudian berbisik agar tidak ada yang mendengarkan ucapannya setelah ini.
“Kakak masih punya banyak kesempatan nafkahin aku kan? Bahkan seumur hidup. Hehe.” Luna tertawa.
Elio langsung tersenyum. Hatinya menghangat tiba-tiba. Kabur di acara pernikahan tidak sepenuhnya salah ternyata.
Mendinginkan tubuh dari terik sore itu sambil menyesap es kopi boba yang tadi mereka beli, Elio dan Luna duduk di dalam mobil dengan mesin menyala. Ala-ala car date, Luna sengaja menarik tuas di samping kursinya agar sandaran lebih turun. Ia butuh bersantai sesaat sebelum nanti malam harus bekerja lembur.
“Kakak beneran nggak apa-apa malam ini aku ngerjain tugas kelompok sama mereka?”
“Iya…. Nggak apa apa… Kamu bisa ikut ujian aja, aku udah seneng.” Ucap Elio sambil mengusap lembut rambut Luna.
Ternyata efek berwudhu dan menjalankan sholat ashar, membuat amarah Elio yang tadi sudah di ubun-ubun langsung meredam. Buktinya tadi saat Luna menjelaskan kalau nanti malam akan meninggalkannya, pria itu terlihat berlapang dada. Tentu saja Luna bisa bernafas lega.
“Kamu kenapa? Masih ada masalah lagi?”
“Enggak… Udah lama aja rasanya rambut aku nggak diusap kayak barusan. Seminggu ini Kakak marah-marah terus sama aku. Aku jadi takut sama Kakak.” Luna yang terbiasa ceplas ceplos akhirnya berani mengungkapkan kegundahan akhir-akhir ini.
“Tadi habis sholat aku juga mikir. Kenapa ya kamu tuh selama dua minggu ini berubah sama aku. Jadi lebih sering melawan rasanya.” Elio tersenyum melirik Luna. Ia ingin melihat reaksi istrinya saat itu.
“Ha? Emang aku melawan ya sama Kakak?”
“Tuh kan? Kamu juga nggak sadar.”
Luna langsung mengerucut. Ia berfikir apa benar dia suka melawan dengan Elio akhir-akhir ini?
“Hehe… Jangan cemberut gitu.” Elio kembali menyeruput minumannya. Luna langsung memalingkan wajahnya.
“Aku mikir bukan untuk nyalahin kamu, tapi justru mengevaluasi kesalahan diri aku sendiri. Aku baru tau perasaan sayang aku sekarang udah berubah jadi cinta yang banyak menuntut. Ya… Semacam egois menuntut kamu harus ikut kemauan aku. Mungkin bagian dari self security buat aku biar kamu nggak berpaling ke orang lain. Soalnya aku insecure, tidak percaya diri.” Elio menyunggingkan senyumnya. Memang itu yang dirasakannya.
“Makanya kamu nggak nyaman. Iya kan?” Tanya Elio
Luna mengangguk. “Aku lebih suka Kakak yang dulu. Tapi ya udah aku juga nggak mau menuntut ini itu. Aku lebih milih menyesuaikan diri aja. Sadar posisi sekarang udah jadi istri. Cuma aku butuh waktu menyesuaikan diri aja sama Kakak yang sekarang.” Sambil tetap bersender, Luna memiringkan kepalanya ke arah Elio.
“But don’t worry, aku gampang menyesuaikan diri kok. Cuma butuh sedikit waktu.” Sambung Luna mengacukan dua jempolnya.
“Ya udah kita jalani aja ya. Semoga bisa lebih dewasa.” Jawab Elio mulai menjalankan mobilnya.
Lima belas menit berada di jalan, mereka lebih banyak diam. Elio fokus untuk menyetir sedangkan Luna mulai sibuk dengan ponselnya untuk berkoordinasi tempat kerja kelompok nanti malam.
“Kak… “
“Hemmm…” Elio hanya berdehem.
“Hemmm… Anak-anak sepakat ngerjain tugas di tempat Abel.” Tampak keraguan di mata Luna saat mengatakan kalimat itu pada Elio. Benar saja Elio langsung mendesah.
“Kamu tawarin aja di apartemen kita.”
“Udah… Tapi mereka nggak mau.” Jawab Luna.
“Kenapa?” Elio menyeringit bingung.
“Bukannya malah enak ya? Apartemen kita letaknya di tengah-tenagah kota. Terus cuma ada kita berdua lagi yang nempatin. Mama sama semua saudara udah di hotel sekarang. Barusan aku juga udah pesan room cleaner biar nanti udah bersih semua.” Belas Elio.
“Hemmm… Mereka sungkan sama Kakak.” Sekali lagi Luna menatap Elio yang mencekram setir mobilnya agak kuat.
Elio hanya diam. Entah harus seperti apa dia menanggapi permintaan Luna.
“Gimana Kak ?” Tanya Luna sekali lagi.
“Ya kalau kamu tega ninggalin suami kamu sendiri malam ini, ya udah pergi aja…!”
...☺️-[Beraambung]-☺️...
Author : Gimana guys? Luna pergi apa nggak nih?
Nitizen : Terserah ajalah. Yang penting elu update.
Author : Huaaaa… Andaikan aku punya sayap..'. ku kan terbang jauh mengelilingi angkasa… #nyanyi
Nitizen : 🤦♀️
Typo revisi bertahap.