
Pukul sebelas malam, Luna terbangun karena perutnya merasa lapar. Akibat pertengkaran kecil dengan Elio tadi, Luna melewatkan makan malam begitu saja.
Biasanya setiap malam, jika Elio berada di apartemen, pria itu akan meyiapkan makan malam untuk mereka santap. Tapi apakah kali ini masih sama, terlebih melihat kemarahan Elio yang sampai mendiamkannya sepanjang perjalanan pulang, membuat Luna ragu Elio masih bersikap sama.
Luna berjalan ke arah dapur menuju lemari pendingin. Biasanya masih ada stok sereal dan susu UHT yang bisa ia makan. Namun Luna terkejut saat melihat meja makan yang sudah tersedia omelet daging dan sayur capcay yang tersaji di sana. Dapur pun masih terlihat berantakan dengan alat masak dan bumbu-bumbu yang masih bertebaran di berbagai tempat.
“Ternyata semarah apa pun Kakak, dia tidak lupa memikirkan makan malamku.” Lirih Luna merasa bersalah sempat berfikiran buruk pada suaminya.
Luna menghela napasnya. Terlalu banyak yang berubah dalam hidupnya sekarang. Jika dulu gadis bar-bar itu tidak peduli dengan kehidupan pribadi Elio, sekarang dia tidak bisa diam saja. Apalagi cara Elio memperlakukannya penuh perhatian membuat Luna semakin yakin bahwa hatinya telah terikat pada pria itu.
Tiba-tiba Luna teringat pesan Mbah Putri, bagaimana tanggung jawab seorang istri melayani suami, Luna masih jauh dari tanggung jawab itu. Selama ini Elio lah yang banyak melayani kebutuhan dia. Luna hanya merasa handal dalam merapikan rumah, menyiapkan pakaian dan mengurus urusan operasional apartemen, namun untuk urusan dapur Luna pasrah pada sang suami. Bahkan dia merasa tidak terlalu peduli Elio sudah makan atau belum. Luna fikir Elio tidak mungkin kelurangan makanan. Jika di hotel, Elio bisa langsung menelfon restoran hotel, jika di apartemen, Elio handal memasaknya sendiri.
Luna tertegun melihat westafel yang masih kosong. Malam ini ia lihat tidak ada bekas piring makan Elio. Semua masakan seperti belum tersentuh sama sekali. Apa mungkin Elio menunggu Luna untuk makan malam?
“Maaf ya Kak. Aku jadi merasa bersalah begini.” Lirih Luna kembali melirik meja makan yang sudah tersaji mahakarya Elio di atasnya.
Tidak mau berlama-lama, akhirnya Luna memberanikan diri menemui Elio di kamarnya. Tapi belum sempat berjalan ke arah kamar, matanya langsung tertuju pada TV yang masih menyala. Ternyata Elio tertidur pulas di sofa dengan pakaian kerja lengkap. Wajahnya terlihat acak-acakan, bahkan lengan kemejanya terlihat kotor terkena percikan kecap saat memasak tadi. Entah kenapa hati Luna merasa teremas. Apa dia sudah keterlaluan mengunci pintu kamar tadi?
Luna berjongkok mendekatkan wajahnya pada Elio. Perlahan ia mengecup dahi Elio. Rasa sayang yang entah dari kapan tumbuh sebesar ini membuat Luna takut mereka terlalu lama berselisih paham sehingga saling menyakiti seperti sekarang.
“Hmmmpp…” Elio menggeliat dan saat matanya terbuka sudah ada wajah Luna di dekatnya seperti habis menciumnya.
“Aku ganggu ya?” Luna tersipu malu karena jarak mereka terlalu dekat. Elio tersenyum tidak menanggapi tapi menarik sang istri kepelukannya.
“Maaf…” Lirih Elio.
Luna yang merasakan hawa panas dari tubuh Elio langsung memeberikan jarak lalu menempelkan punggung tangannya.
“Badan kakak panas. Kakak demam…?” Luna terlihat panik sambil memindahkan punggung tangannya di pipi dan leher Elio.
“Aku pusing aja. Seharian belum makan. Cuma sarapan sandwich bareng kamu tadi pagi.” Jawaban Elio membuat Luna terbelalak.
“Loh kenapa? Siang kenapa nggak makan…?” Elio hanya menggeleng. Terlalu pusing harus menjelaskan pada Luna kondisinya sekarang.
“Aku ambilkan makan ya. Kakak tunggu di sini sebentar…!” Titahnya seolah takut Elio pergi.
Luna bangkit ke dapur untuk membuatkan Elio teh manis hangat dan mengambil nasi lengkap dengan semua lauk dalam jumlah besar. Pelan-pelan Luna menyuapi Elio makan malam. Setelah satu piring nasi habis, Luna mengambilkan obat penurun panas. Untunglah Renata selalu cerewet meminta mereka berdua memastikan ketersediaan obat-obatan darurat di kotak P3K di apartemen.
“Kakak duduk dulu ya. Tunggu makanannya turun ke perut. Aku ambilkan waslap untuk membersihakn badan Kakak. Biar nanti malam nyaman tidurnya.” Elio hanya mengangguk. Matanya masih terpejam dengan tubuh bersandar pada kursi.
Sepuluh menit kenudian, Luna datang dengan satu baskom air hangat, beberapa lembar waslap, handuk dan juga baju tidur.
“Aku izin buka baju Kakak ya?” Tidak ada tanggapan dari Elio. Luna semkain dibuat khawatir, belum pernah ia melihat Elio sakit seperti ini. Perlahan dibukanya satu persatu kancing baju Elio begitu pun kaus dalamnya.
Dengan telaten Luna membersihkan wajah Elio, telinga leher, tengkuk, kemudian beralih badan, lipatan-lipatan seperti ketiak dan sela-sela jari tangan. Setelah semua dinggap sudah cukup bersih, Luna mengeringkan dengan handuk kering dan membantu memakaikan piyama kancing. Piyama seperti ini memang paling mudah dipakaikan untuk orang sakit.
“Kakak kedinginan?” Elio mengangguk.
“Sabar ya. Sedikit lagi. Aku bersihkan kaki Kakak setelah itu bisa tidur di kamar.” Luna berjongkok membersihkan telapak kaki dan sela-sela jari Elio, biasanya tempat itu paling kotor.
“Ganti celana di kamar aja. Nanti diintip Mama di CCTV.” Tidak banyak bicara, Elio mengulurkan tangan meminta dibantu untuk berdiri. Ternyata saat salit seperti ini kadar manja Elio menukik tajam. Luna tersenyum mengingat kemarahan Elio sudah mereda.
“Kak, aku tinggal bersih-bersih dapur sebentar. Kakak istirahat dulu.” Luna menyelimuti Elio, namun saat dirinya hendak pergi, lengannya dicengkram kuat oleh Elio.
“Please… Di sini aja. Temani aku.” Suara Elio terdengar serak. Luna terdiam sejenak dan akhirnya mengangguk. Sebenarnya dia merasa lapar karena belum sempat makan malam, tapi lebih baik ditunda dulu setidaknya sampai Elio tertidur.
Elio terbangun menyadari sudah tidak ada Luna di tempat tidur. Padahal seingatnya setelah sholat subuh, dia menahan Luna dengan memeluk perempuan itu dari belakang.
“Kakak udah bangun? Gimana udah enakan belum?” Tanya Luna membawa nampan berisi sarapan.
“Bubur sama teh hangat. Sarapan dulu ya. Biar nggak kelewat makan lagi.” Luna meletakkan makanan di atas nakas. Membuat sandaran di headboard kasur dengan beberapa bantal.
“Kata Mama, sementara hindari minum kopi dulu.” Elio tersenyum Luna terlihat manis dengan semua sikap dan perhatiannya.
“Kamu yang bikin buburnya?” Tanya Elio sambil melahap suapan pertama yang Luna berikan padanya.
“Nggak mungkin lah. Ini bubur ayam perempatan depan. Aku bukan chef Ayya yang pintar masak. Zaman sekarang bisa delivery order. Tunggu sepuluh menit, sampai.” Luna terkekeh malu karena masih saja belum bisa memasak. Niat belajar memasak saja tidak ada.
“Tapi rasanya beda dari yang biasanya. Mungkin karena kamu yang nyuapin aku.”
“Halah… Nggak usah gombal Kakak. Aku masih marah karena dituduh macam-macam sama Mas Kean.” Sungut Luna. Ternyata istri Elio ini cukup pendendam.
Elio tersenyum pias. Rasanya kemaren hari buruk untuknya. Efek kekecewaannya pada Om Rian dan Ayya sampai menyakiti hati Luna.
Luna yang menyadari perubahan wajah Elio, langsung tertawa. “Aku becanda haha. Udah ih jangan keseringan marah. Malas berantem aku.” Luna kembali menyuapi Elio.
“Aku minta maaf. Kemaren aku kacau banget.” Desah Elio sambil tertunduk.
“Om Rian resign. Ayya juga.” Ucapnya.
“Re… Resign?”
“Hemmm… Ayya mengancam akan meninggalkan orang tuanya ke Italia jika Om Rian masih tetap kerja sama aku.” Luna tersentak, pantas saja Elio sampai sakit, ternyata ada masalah di hotel yang belum dia ketahui.
“Kamu tau, sejak kepergian Ayah dan Bunda empat belas tahun yang lalu, satu hal yang paling aku takutkan adalah sesendirian. Aku takut ditinggal banyak orang. Tapi kehadiran kalian, kamu, Mama, Papa, Om Rian menjadi harapan untuk aku, bahwa aku punya tempat bersandar.” Elio menarik napas panjang.
“Sekarang Om Rian sudah memilih pergi. Aku hanya takut kamu memilih hal yang sama. Pergi dari hidup aku dengan laki-laki itu.” Akhirnya Elio mengungkapkan kekhawatirannya.
“Kak…”
“Aku seperti ditarik lagi ke kejadian empat belas tahun lalu rasanya. Dalam sekejap semua pergi tanpa pamit.” Mata Elio berkaca-kaca. Luna meletakkan bubur kembali ke atas nakas dan menarik Elio dalam pelukannya.
“Aku sayang sama Kakak. Aku nggak akan ninggalin Kakak. Aku Janji.” Luna mengurai pelukannya beralih merangkum rahang tegas Elio.
“Mulai sekarang tolong percaya sama aku ya. Meskipun aku nggak bisa menghilangkan interaksi dengan lawan jenis, tapi aku janji akan membatasi dan menjaga diri.” Elio tersenyum. Sekarang Luna lebih ekspresif dalam mengungkapkan perasaanya.
Berjarak beberapa centimeter dengan Luna, membuat Elio sadar adik yang sudah menjadi istrinya memang sangat cantik. Dalam satu gerakan cepat Elio menarik tubuh Luna dan menggulingkannya di kasur.
“Kakak mau apa?”
“Kamu”
“A… Aku harus ke kantor.” Luna tergagap merasakan di bawah sudah ada yang mendesak.
“Masih ada waktu setengah jam lagi, Sayang. Aku janji cuma satu kali. Hehe.” Elio terkekeh saat Luna terbelalak.
Luna… Perempuan itu akhirnya pasrah. Mau bagaimana lagi. Kalau permintaan sudah datang, tidak boleh menolak. Bahkan saat janji tinggalah janji, yang tadinya hanya direncanakan satu kali terealisasi dua kali.
“Sekali lagi ya, Sayang…”
“NOOO… Aku udah telat… Ini sudah jam tujuh. Mana harus mandi lagi. Situ mah enak, yang punya perusahaan. Aku…? Cuma remahan rengginang.” Sungut Luna sambil menghentakkan kaki jalan ke kamar mandi.
Elio terbahak. Ternyata janji yang paling sulit untuk ditepatinya adalah melawan keinginan sang pedang pusaka yang suka minta tambah saat yang tidak tepat.
...☺️-[Bersambung]-☺️...
Ini masih ada yang baca gak sih? Wkwkwk