
Sesuai dengan prediksi Elio, banyak finding saat audit pertama ini. Adanya masalah-masalah di adiminstrasi hotel menjadikan banyak catatan bagi semua divisi. Tapi bisa dibilang semua menjadi pembelajaran bagi Elio yang baru saja menjadi GM Hotel agar bisa menata hotel lebih baik lagi.
Empat hari ini Elio hanya pulang satu kali ke apartemen. Itu pun di sudah mendapati Luna tertidur pulas dengan wajah yang tidak kalah lelah dari dirinya. Ya walaupun hanya bisa memeluk Luna sebentar, setidaknya semua menjadi obat rindunya beberapa hari ini. Entah berapa kali Elio mencolong kecupan tapi ia masih merasa belum puas, sampai akhirnya ia tertidur pulas.
“Kaak… Sholat subuh yuk.” Luna membangunkan sang suami untuk kesekian kalinya.
“Hemm…”
“Aku udah selesai mestruasi. Sholat jamaah yuk..!”
“Kita belum pernah sholat berjamaah loh setelah nikah…!” Ajak Luna. Elio langsung bangkit seperti punya semangat lebih.
“Kamu udah selesai datang bulannya?” Luna mengangguk. Elio langsung semringah.
Jadilah mereka sholat berjamaah pertama setelah menjadi suami istri subuh itu. Setelah selesai berdoa, Luna langsung mendekat lalu bersalaman dengan suaminya.
“Maaf ya aku nggak tau Kakak pulang semalam. Aku cuma bisa bikin susu sama roti. Jadi sarapannya itu aja ya. Kalau udah nggak sibuk aku kursus masak nanti. Biar Kakak nggak buang kopi aku kayak waktu itu.” Ucap Luna menunjuk nakas yang sudah terletak nampan berisi sarapan untuk Elio.
“Makasih ya, Sayang.” Ada perasaan hangat di hati Elio saat menerima perlakuan Luna pagi ini. Ia merangkum wajah Luna dan mengecup pucuk kepala berpindah sekilas bibir Luna lalu memeluk perlahan. Meskipun masih terasa kaku, Elio tetap ingin Luna terbiasa dengan kehidupan baru mereka.
“Habis ini aku langsung berangkat ke kampus. Soalnya ada kelas jam pertama.” Ucap Luna mencari alasan melepaskan diri dari suaminya itu tapi Elio justru enggan melepaskannya.
“Hari ini audit terakhir aku untuk site Jakarta. Jadi mungkin nggak bisa pulang lagi seperti kemaren. Kita baru ketemu besok. Nggak masalah kan?” Luna menggeleng.
“Tolong sabar ya sama pekerjaan aku. Aku masih harus banyak belajar soalnya. Jangan pernah befikir aku nggak perhatian sama kamu. Terus cari perhatian lain di luar sana.”
“Kamu jaga diri ya. Kita harus saling jujur dan percaya.”
“Hemmm..” Luna mengangguk.
Akhirnya pagi itu Elio melanjutkan tidurnya yang sudah ia tunda beberapa hari, sedangkan Luna memilih ke kampus dengan angkutan umum.
Ternyata menikah bisa mengubah banyak hal dari dirinya. Pelan-pelan Luna terbiasa dengan ritme mereka. Bertukar pesan, menelfon, video call, peluk, cium seperti satu hal yang baru. Tapi ya sudah dijalani saja toh bagi Luna dia dan Elio sama-sama bisa menjaga. Kenapa orang lain harus tau.
“Yes… I am a new Luna.” Gumamnya dalam hati sambil berdiri berdesak-desakan di KRL pagi itu.
...***...
“Akhirnya audit cabang Jakarta selesai.” Semua bertepuk tangan.
“Terima kasih kerja sama semua tim. Saya yakin banyak pelajaran yang kita dapat selama satu minggu ini. Semua finding harus segera kita follow up secepat dan sebaik mungkin.” Semua mengangguk tanda sepakat dengan ucapan Elio.
“Biar tidak tegang lagi seperti tadi, malam ini kita tutup acara audit secara fun ya. Silakan menikamti makan malam yang sudah disediakan Chef Kahanayya dan teman-teman kitchen lainnya. Setelah itu rekan-rekan semua bisa kembali ke pelukan keluarga masing-masing.” Tutup Elio setengah berkelakar saat memimpin rapat malam itu.
Akhirnya makan malam bersama semua staff dilakukan di cafe hotel tersebut. Semua seperti tampak menikmati hidangan yang sudah disiapkan Ayya. Barulah pukul 11 malam semua kembali ke kediaman masing-masing. Kecuali Elio yang masih harus menyelesaikan approval dokumen yang sudah menunpuk satu minggu ini.
Malam itu tiba-tiba ruangan di ketuk dari luar. Elio langsung menyeringit bingung, siapa yang hendak bertamu malam-malam seperti ini.
“Siapa?”
“El… Ini Ayya. Aku izin masuk ya.” Elio menghela nafasnya. Bukannya menyuruh masuk, Elio justru berjalan untuk membuka pintu lalu keluar dari ruangan kerjanya.
“Ada apa Ya?” Tanya Elio berusaha tetap ramah.
“Aku uma mau antar kopi dan pastry untuk menemani kerja kamu malam ini.”
“Taro di dalam aja Ayya.”
Ayya mengangguk dan masuk ke dalam ruangan sedangkan Elio masih berada di luar ruangan memainkan ponselnya.
“El… Bisa bicara sebentar?” Tanya Ayya yang masih berdiri di dalam ruangan.
“Kamu sudah buat proposal pengajuan renovasi kitchen?” Ucap Elio mencoba terlihat formal. Meskipun sebenarnya dia tahu persis kalau Ayya datang bukan untuk membicarakan pekerjaan.
“Bukan pekerjaan. Aku juga tau diri malam-malam nggak akan ajak ngobrol serius gitu.” Ayya terkikik melihat sahabatnya tegang seperti itu.
“Kita bicara di dalam aja ya El?” Ayya menunjuk masuk ke sofa dalam ruangan dengan jempolnya.
“Di cafe saja. Masih ada orang kan?”
“Masih ada beberapa tim kitchen sih. Tapi ini privasi, El. Aku kurang nyaman kalau didengarkan orang.”
“Yuk ke cafe aja. Cari tempat yang tidak banyak orang.”
Elio langsung berjalan ke lift menuju cafe rooftop. Mau tidak mau Ayya mengukuti. Jujur Ayya merasa kecewa dan kagum bersamaan. Zaman sekarang dimana mencari laki-laki yang memegang prinsip macam Elio.
“Aku bawa dokumen. Biar orang lain nggak nyebar gosip macam-macam.” Elio menunjuk satu map yang ia sambar begitu saja dari salah satu meja saff yang ia lewati.
Setelah sampai di rooftop hotel, mereka berdua akhirnya memesan minum hot cinnamon tea untuk menemani obrolan malam ini. Obrolan yang dari kemaren sudah diantisipasi oleh Elio, bahkan berhari-hari ini dia berusaha mencari cara yang tepat untuk menjelaskan ke Ayya kondisinya saat ini walaupun tanpa membongkar pernikahannya.
“El… Kapan kamu pulang?” Pertanyaan pertama sudah dilayankan Ayya.
“Pulang?”
“Iya. Pulang ke rumah kamu. Bukan ke rumah orang tua angkat.” Jawab Ayya.
“Hehe… Aku nggak akan pernah pulang ke sana lagi. Mungkin hanya berkunjung sesekali lihat Oma dan Opa.” Jawab Elio tegas walaupun diawali dengan tawa. Ada sorot kekecewaan san kemarahan tergambar di mata Elio. Ayya bisa memahami kondisi itu.
“Kenapa memangnya?” Tanya Elio.
“Dulu kamu janji sama aku cuma pergi setahun untuk berobat dengan Tante Renata. Tapi ternyata sudah dua belas tahun kamu masih betah di sana.” Ayya tertawa pilu.
“Aku kehilangan kamu El.” Lirih Ayya.
“Sampai-sampai waktu aku tau kamu sekolah ke Aussie, aku juga nyusul ke sana untuk sekolah chef. Tapi tetap aja kamu nggak bisa seperti dulu lagi sama aku.” Ayya kembali tersenyum tapi matanya seperti berkaca-kaca.
“Apa kamu lupa janji untuk kembali sama aku?”
“Ayya… Aku masih 14 tahun waktu itu.”
“Janji tetap janji kan El?” Ayya kembali bertanya dengan nada retoris.
“Aku rasa kita sudah sama-sama dewasa dalam bersikap. Aku justru merasa sakit kalau aku tinggal di rumah itu.” Ucap Elio. Ayya langsung mengangguk.
“Iya… Aku faham. Pasti kamu sudah nyaman di sana ya? Apa lagi sudah ada Luna.” Ada kecemburuan saat Ayya menyebut nama Luna.
“Ayya…”
“Luna bukan adik kamu El. Jadi bisa aja kan?” Ayya menghela nafasnya sesaat.
“Sebenarnya aku nggak sengaja mendengar Alea dan Luna ngomongin kamu waktu di cafe. Alea bilang kamu pernah dengar kamu minta jaga hati Luna buat kamu. Kamu ternyata udah jatuh cinta sama Luna ya?” Lagi-lagi Ayya tersenyum pilu. Elio langsung terbelalak.
“Apa aja yang kamu dengar?” Elio tampak panik.
“Aku cuma dengar itu aja. Hehe tadinya mau dengar pembicaraan mereka sampai selesai tapi adik kamu keburu curiga dan langsung mengecek ke luar. Haha…” Ayya tertawa.
“Kamu juga nggak usah panik juga kali, El. Biasa aja..! Namanya juga perasaan bisa muncul juga lenyap.”
Elio mengangguk. “Iya aku suka sama dia.”
“Aku yakin karena kalian terbiasa bareng. Makanya aku jadi berfikir kapan ya kamu pulang lagi ke rumah asli kamu. Tapi ternyata….” Ayya menghirup nafasnya dalam-dalam, lalu melepaskan perlahan.
“El… Cinta itu hadir karena terbiasa. Aku kan mencoba membuat kamu terbiasa sama aku seperti kamu terbiasa dengan Luna.” Ucap Ayya.
“Ya… Maaf aku nggak akan bisa.” Potong Elio.
“Kenapa?”
“Karena hanya akan ada Luna.” Jawab Elio.
“Maaf ini akan menyakiti kamu. Tapi lebih baik aku memberi tahu kamu sekarang dari pada kamu berharap lebih jauh sama aku. Masih banyak laki-laki lain yang jauh lebih baik dari aku.”
“Aku harap kita bisa profesional ke depan ya.” Elio akhirnya beranjak pergi membawa dokumen yang ada ditangannya kembali.
“Aku akan tetap berusaha, El.” Suara Ayya tidak terdengar lagi oleh Elio.
...😮-[Bersambung]-😮...
Duh gimana?