
TING….!
Lift berbunyi, mereka sudah sampai di basement. Dua orang yang baru saja berganti status dari kakak adik menjadi calon suami istri itu keluar. Tidak ada gandengan tangan, tidak juga berdiri bersebalahan. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing.
Luna belok ke kiri, menuju parkiran skuter retro stylenya. Sedangkan Elio belok ke kanan menuju markiran mobil. Mobil Elio bukan termasuk mobil mewah hanya jenis city car yang sudah keluaran 5 tahun silam, tapi masih cukup terawat dan nyaman.
“Loh…? Si Luna mana?” Elio yang baru sadar Luna tidak lagi bersamanya mulai clingak-clinguk.
“Ish… Jangan bilang naik motor?” Elio menggaruk-garuk kepalanya yang entah kenapa jadi gatal membayangkan harus naik motor pukul 10 pagi. Apa lagi matahari cukup garang hari ini. Sudah pasti kepanasan.
“Lepek deh rambut gue.” keluhnya. Tapi demi calon istri yang baru saja dicintainya 15 menit yang lalu, apa boleh buat.
Malas-malasan Elio berjalan ke parkiran motor, ia mendengar si calon istri sedang menelfon dengan orang yang sudah ia kenal. Alea, sahabat Luna yang membantunya menjadi kasir cafe. Alea termasuk deretan karyawan yang ia percaya selain Kahanayya.
“Iya bawel. Gue udah di basement apartemen. Enggak bakal telat kok soalnya kita naik Bee.” Suara Luna terdengar menyalak, kemudian hening sepertinya Alea masih ingin berceramah panjang pada Luna.
“Iya iyaaa. Lama-lama kaya nyokap gue lo. Udah gue jalan dulu.” Tanpa salam Luna memutus panggilan telfon dan memasukkan benda pipih itu dalam ransel kecilnya.
Saat hendak berbalik badan tubuhnya terbentur dada pria yang aromanya sudah ia hafal di luar kepala.
“Astagfirullah… Ih… Bisa gak sih kak, gak ngagetin aku…?” Selaknya.
“Yang sopan ngomong sama calon suami.”
“Cih…”
“Kok cih sih. Emang bener kan?”
Luna memutar bola matanya. Malas. Elio terlalu serius mendalami peran.
“Awas ngomong seperti tadi di depan orang-orang.” Ancam Luna sambil mengarahkan telunjuknya membentuk garis di lehernya.
Elio hanya melengos tidak mau ambil pusing.
“Mana kuncinya?”
Elio mengulurkan tangannya ingin mengambil dari tangan Luna. Tapi Luna langsung menarik tangannya ke belakang tubuhnya untuk menyembunyikan kunci itu.
“Eh nggak bisa. Aku yang bawa. Kakak aku gonceng.”
Mata Elio membola. “Mana mungkin. Yang bener aja Luna.” Sungut Elio.
“Jangan Kak. Kakak nggak boleh bawa Bumblebee. Nanti kalau jatuh gimana? Bahaya kan?”
Elio tersenyum, Luna ternyata perhatian padanya. Lumayan istriable lah.
“Aku gak rela Bumblebee lecet sedikit pun. Mahal biaya perawatannya tau.”
Luna mengelus skuter retro berwarna kuning menyala yang sebut sebagai Bumblebee itu. Elio mengela nafas panjang. Ternyata Luna belum selesai bicara. Ia masih kalah telak dari si Bumblebee untuk mendapatkan perhatian Luna.
“Udah percaya sama aku. Kalau lecet aku ganti rugi.”
Elio mengambil kunci di belakang tubuh Luna dengan tubuh persis berhadapan dengan luna. Mata mereka bertemu. Sedikit canggung.
“Astagfirullah…” Elio mengelus-elus dadanya. Dari kapan melihat Luna saja darahnya berdesir hebat. Jantungnya pun berdenyut tidak menentu.
“Kenapa? Kok lihat aku kaya lihat setan.”
“Eng… nggak pa pa. Kamu yakin nggak mau naik mobil nih? Nanti hujan gimana?”
“Kan ada jas hujan, Kak.”
“Kalau petir?”
“Mau naik mobil atau naik skuter tetap bakal kedengeran kak. Asal kakak di sebelah aku, aku mah nggak masalah.” Cicit Luna santai.
Elio si anak manis tersipu malu. Ternyata Elio benar-benar jatuh cinta. Tapi dari kapan? Ah iya 20 menit yang lalu.
Selama di perjalanan Luna tidak henti-hentinya mengomel. Elio memang payah urusan mengendarai kendaraan roda dua. Baru saja hampir menyerempet mobil, dia sudah diteriaki pengendara motor lain.
“Stop Kak. Aku yang aja bawa…!” Protes Luna. Untung saja gadis masih bisa berfikir waras, kalau tidak pasti tangannya sudah mencekik Elio agar berhenti.
“Jangan teriak-teriak Luna. Aku jadi nggak fokus.”
“Yee… Dasar kakak aja yang nggak bisa bawa.”
“Aku nggak bisa bisa bawa motor pelan-pelan.”
“Motor? SKUTER…” Koreksi Luna. Enak saja vespanya disamakan dengan motor. Menurut Luna beda. Beda kelas lebih tepatnya.
“Iya sama aja elah. Rodanya sama-sama dua. Kalau tiga baru beda.” Protes Elio.
“Aku mau ngebut. Pegangan…!”
“WHAAAAT…?”
Bawa pelan-pelan saja hampir meregang nyawa. Konon pula akan ngebut.
Ternyata Elio menaikkan kecepatan dari 40 km/jam menjadi 65 km/jam. Bumblebee yang tidak pernah membuat onar itu tiba-tiba terlihat kebut-kebutan bersaing dengan motor semi gede, sebut saja NMax namanya. Haha
Mau tidak mau, suka tidak suka. Luna melingkarkan tangannya di tubuh Elio. Melekatkan wajahnya pada punggung sang calon suami. Matanya terpejam. Nyaman. Eh…
“Udah nyampe. Yuk…!”
Motor sudah terparkir, tapi Luna masih setia memeluk tubuh Elio.
“Eh udah ya…?” Luna langsung turun dari motor dan melepaskan helm bogo miliknya. Lalu merapikan rambut hitamnya yang berantakan.
“Nyaman ya?”
“Nanti kalau udah nikah lebih nyaman lagi.” Gombal Elio sambil berlalu masuk terlebih dahulu ke dalam cafe.
“Lunaaaaa….” Alea langsung melambaikan tangan dari balik meja kasir. Melihat sahabat cerewet yang sudah tiga minggu tidak ia temui, wajah Luna langsung semringah dan bergegas masuk.
“Ale… Mau es teh.” Keluh gadis itu seraya mendaratkan tubuhnya di kursi kasir.
“Iya… Gue mintain waitress.” Jawab Alea lalu memberikan intruksi pada seorang pramusaji perempuan. “Es teh buat nyonya ya. Sedikit aja gulanya.” Alea sudah hafal kesukaan Luna.
“Jangan duduk disini ih. Duduk di meja briefing aja. Nggak enak dilihat pelanggan lu main HP, sementara pesanan mereka masih belum datang.” Oceh Alea yang ternyata yang sudah khatam praktik etika pelayanan konsumen.
“Ogah… Nggak ada temen di belakang.”
“Kan ada Kak El, sekalian kenalan sama kakak ipar lo sana.”
Luna menautkan kedua alisnya. Dua bulan cafe ini berdiri rasanya Elio belum pernah bercerita sedang punya hubungan spesial dengan gadis mana pun.
“Kakak ipar? Siapa?”
“Chef Hana. Tau kan?”
Luna menggeleng. Masa bodoh, dia meneguk habis es teh yang baru diletakkan seorang pramusaji di depannya.
“Executive Chef di hotel kakak lo, sekaligus merangkap kelapa koki disini.”
“Ooh…” Luna hanya ber-ooh-ria saja. Lupa-lupa ingat sebenarnya.
Paling juga salah satu dari puluhan penggemar Elio. Luna sudah terbiasa dengan fenomena itu.
“Luna… Tuh gebetan lo datang…!”
“Siapa?”
“Aries, Presbem hits.”
Luna langsung bangkit dari duduknya. Gadis itu malah kabur ke belakang.
Koreksi, Aries bukan gebetan Luna, karena sejatinya Aries adalah satu dari ratusan pria yang menaruh hati pada Luna. Bahkan sebenarnya mereka belum pernah berbicara langsung berdua. Jadi tidak mungkin statusnya adalah gebetan. Alea mengada-ngada.
Sambil mempercepat langkah, Luna berlari ke dapur, niatnya minta air jahe hangat sebelum bernyanyi nanti. Tapi matanya langsung tertuju pada Elio dan wanita cantik berpakaian koki bertuliskan Chef Hana di bajunya. Mereka berdua tengah bersenda gurau. Bahkan mereka terlihat makan dalam satu piring yang sama.
“Kamu cari apa?” Elio langsung mendekat ke Luna.
“Air jahe ada? Aku habis minum es. Takut suaranya nggak bagus nanti.” Keluhnya.
“Aku buatkan ya.” Koki cantik itu langsung dengan lincah membuatkan air jahe untuk Luna. Sedangkan Elio berjalan ke ruangan briefing.
“Eh iya makasih… Maaf ya Chef Hana. Aku jadi ngerepotin, padahal lagi rame.”
“Nggak kok. Sudah tugas aku. Kamu duduk dulu aja di ruang briefing sama El. Nanti aku antar ke sana.”
Luna mengangguk dan langsung menuju ruang briefing. Di sana sudah ada Elio yang sedang mengecek beberapa dokumen. Mereka menunggu sibuk dengan urusan masing-masing.
“Ini… Aku tambahkan sedikit perasan lemon sama madu. Biar lebih enak.” Koki cantik itu meletakkan cangkir di depan Luna dan Elio.
“Makasih Ayya.” Ucap Elio melihat seklias ke arah koki cantik itu.
“Ayya?”
“Oh nama aku Kahanayya Arumi. Ayya paggilan dari keluarga.” Chef Hana mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Athanya Luna Gemilang, panggil Luna saja ya.” Mereka akhirnya berjabatan tangan.
“Adik El kan? El sering cerita tentang kamu.”
Luna mengangguk ramah. “Iya, aku adiknya Kak El.” Ucap Luna lalu menyesap air jahe itu. Benar kata Hana, air jahe itu enak. Tenggorokannya langsung plong.
“Waw… Enak Chef…” Luna kembali menyesap air jahe itu sambil memejamkan matanya beberapa saat, enak sekali rasanya.
“Hemmm… Aku kasih rate lima bintang.” Luna mengacungkan lima jarinya pada Hana, membuat koki bernama Hana itu tersenyum bangga.
“Ayya memang koki terbaik.” Puji Elio tulus.
Luna mengangguk setuju. Meskipun dalam hatinya tetap masakan Elio adalah yang paling enak.
Saat mereka berbincang bertiga, tiba-tiba dari luar sudah terdengar keramaian, sudah ditebak sahabat-sahabat Luna mulai berdatangan.
“Luna… Udah pada pada datang tuh. Mereka nyariin lo.” Alea memanggil Luna dari pintu.
Luna semringah, ia langsung bangkit hendak bergeas meninggalkan dapur.
“Lain kali aku coba menu yang lain ya, Chef.” Ucap Luna sebelum benar-benar meninggalkan ruangan briefing.
Elio yang melihat Luna hendak menuju ke depan menemui teman-temannya, mengekor di belakang. Sampai di tempat yang cukup sepi, ia mencekal tangan Luna.
“Luna…”
“Ya..?”
Luna membalikkan badannya hingga tubuh mereka saling berhadapan. Elio menatap lekat manik mata hitam milik Luna.
“Kamu boleh dekat sama mereka, tapi tolong jaga hati kamu buat aku.”
...😂-[Bersambung]-😂...
Aku diteror sm miminya NT. Suruh Up katanya. Hehe. Udah ya min? Jangan diteror lagi ya min. Takut aku tuh…