My Beloved One (Elio & Luna)

My Beloved One (Elio & Luna)
Pasific Exporia



Pasific Exporia


“Mas… Ini draft MoU dengan Paguyuban Petani Rempah Subang. Gue udah masukkan beberapa poin tambahan seperti pelatihan dan Quality Agreement di dalamnya.”


Elen meletakkan sebuah map kuning di depan Kean. Setelah kepergian mereka berdua ke Subang kemaren, hari ini Kean dan Elen disibukkan dengan berbagai persiapan kerja sama dengan para petani rempah tersebut.


“Duduk dulu, Len. Mau gue periksa langsung.” Ucap Kean menyuruh Elen duduk di kursi yang ada di depan mejanya.


Tiga minggu sudah pengerjaan interior di Pasific Exporia, ruangan office karyawan sudah ditempatkan terpisah dari ruangan kerja mereka bertiga plus Luna. Kondasi seperti ini membuat Kean merasa bisa bicara lebih leluasa tentang hal pribadi tanpa diketahui karyawan lainnya.


“Elen…”


“Ya…”


“Udah ada kabar dari Luna?” Tanya Kean sambil memeriksa draft MoU tersebut.


“Belum Mas. Bahkan pesan gue dari kemaren malam belum terkirim. Nomornya nggak aktif sama sekali.” Keluh Elen.


“Nomor keluarganya?”


“Di CV dia cuma info nomor handphone kakak laki-lakinya, si Elio - Elio itu. Tapi lo tau sendiri dari kemaren kita telfon orangnya nggak angkat sama sekali. Pesan dari gue juga nggak direspons sama dia.” Elen terlihat kesal karena Luna seperti orang yang misterius karena tidak ada kontak lain yang bisa mereka hubungi.


“Katanya dia sudah menikah. Nomor suaminya nggak ada ya..?” Tanya Kean. Elen menggeleng sambil mengangkat bahunya.


“Lo keliatan khawatir banget, Mas.” Elen tersenyum mengakatan hal itu pada Kean.


“Ya andai kita bisa datang lebih cepat ya, pasti dia udah bisa dapat transfusi darah dari gue.” Sesal Kean.


“Gue nggak habis fikir kelakuan Gara. Pake acara minum malam sebelumnya, akhirnya dia nggak bisa mendonorkan darahnya ke Luna. Padahal dia yang di sini sama Luna.” Kean mengusap kasar wajahnya.


“Ya udah lah, Mas. Berdoa aja...! Mungkin aja Luna sengaja tidak mengaktifkan handphonenya biar fokus istirahat. Lagi pula kan lo yang nyuruh dia istirahat dulu sampai sembuh baru masuk kerja.” Elen mencoba menenangkan bossnya tersebut.


“Gue khawatir dia kenapa-napa, Elen. Lihat laki-laki yang kemaren ngaku suaminya. Kasar banget sama Luna. Gue takut Luna—“


“Udah… Kalau dia sudah sama suaminya, harusnya aman. Jangan berfikiran buruk ah.” Sanggah Elan.


Di saat bersamaan Gara yang baru datang, langsung menuju meja Kean. Pria itu melihat sang Kakak tampak kusut seperti ada masalah berat.


“Kenapa? Ada masalah sama proyek baru di Subang?”


“Nopeee. All is well.” Jawab Elen.


“Terus kanapa dia kusut banget?” Tanya Gara melirik ke arah Kean sekilas lalu beralih lagi ke Elen.


“Biasa… Khawatir sama adeknya.” Elen menahan tawa.


“Gue…? Kenapa sama gue? Gue sehat walafiat kok.” Ucap Gara bingung.


“Bukan elo lah. Rugi Mas Kean khawatir sama lo. Dia khawatir sama adek ketemu gedenya.” Elen akhirnya terkekeh tidak tahan dari tadi menahan tawa.


“Si Luna…?” Tebak Gara. Langsung menadapat anggukan dari Elen.


“Susah emang kalau udah bucin gini.” Cicit Gara sambil menarik satu kursi agar duduk di sebelah Elen.


“Tapi jujur gue juga khawatir sih. Gue panik banget kemaren ngurus Luna semaput gitu sendirian. Mana kalian lama banget. Keluarganya nggak bisa dihubungi. Giliran udah datang langsung marah-marah. Kacaaau emang.” Gara mengingat-ingat kejadian yang menimpa Luna kemaren. Karena dia satu-satunya orang yang bersama Luna malam itu sampai akhirnya Kean dan Elen datang.


“Gimana sih ceritanya…? Gue penasaran.” Elan terlihat antusias ingin tahu cerita lengkap dari Gara.


“Jadi—“


...***...


Flashback On


Senin pagi itu, ruangan office utama hanya ada Gara dan Luna karena Kean dan Elen sedang berkunjung ke Subang untuk rapat bersama pengurus paguyuban petani rempah. Baik Gara maupun Luna, tampak canggung mengingat cekcok panas yang terjadi Jumat kemaren perihal pandangan Gara soal Luna yang memutuskan menikah muda.


“Mas, saya izin pagi ini meninggalkan kantor untuk memilih wallpaper sama Mas Arbi ya.”


Biasanya Luna langsung berkoordinasi dengan Kean. Berhubung yang bersangkutan tidak ada, jadilah Luna harus meminta izin pada Gara.


“Sama siapa aja?”


“Sama Mas Arbi aja sih. Tadinya mau sama Mbak Thalia, sekretarisnya Mas Arbi. Tapi infonya Mbak Thalia lagi sakit, jadi kemungkinan kita berdua.” Jawab Luna


“Gue antar aja ya. Gue lagi nggak banyak kerjaan.” Gara menawarkan diri. Dia ingat pesan Kean untuk jangan membiarkan Luna pergi dengan Arbi bedua, karena Kean beberapa kali pernah melihat Luna diganggu oleh Arbi.


“Hemmm… Boleh… Lebih baik kalau memang Mas Gara mau ikut.” Ucap Luna.


Pagi itu mereka berdua langsung berangkat ke lokasi. Selama di perjalanan, Gara mencoba memecah rasa canggung dengan banyak mengobrol dengan Luna.


“Btw, gue beneran minta maaf ya soal kemaren. Lama di Boston kadang bikin gue ceplas ceplos kalau ngomong. Mulut emang gak bisa dijaga kalau udah keasikan ngomong.” Gara memulai pembicaraan mereka.


“Haha iya Mas… Aku juga minta maaf. Kemaren aku memang ada masalah hormonal ternyata, jadi moodnya kacau banget. Efeknya jadi gampang tersulut emosi.” Ucap Luna mengingat efek pill penunda kehamilan yang tidak cocok untuk tubuhnya.


“But honestly, aku salut sama kamu bisa berpendapat seperti itu. More or less you can change my prepective.” Puji Gara. Luna ikut tersenyum.


Tepat pukul sebelas siang, urusan dengan Arbi sudah selesai. Namun di perjalanan Gara melihat sesuatu agak berubah dari Luna. Perempuan yang ada di sampingnya tampak tidak tenang saat perjalanan pulang.


“Are you OK, Luna?”


“Aku…?”


“Yes… You…” Tunjuk Gara.


“Something happened?” Tanya Gara khawatir.


“Aku baik-baik aja, Mas.” Ucap Luna berbohong. Langit yang gelap siap menumpahkan hujan membuat Luna takut petir dan kilat akan datang saat mereka belum sampai di kantor.


“Luna… Kamu kenapa…?” Gara panik melihat Luna sampai berjongkok di bawah.


“Don’t say that you are afraid of thunder?” Luna mengangguk.


“Oh God. It’s Ok, Luna. I am here.” Gara akhirnya menggenggam tangan Luna yang bergetar sambil fokus mengemudi.


Setengah jam perjalanan mereka sampai di kantor. Luna diminta istirahat di sofa ruangan office utama oleh Gara. Gara sengaja menutup semua gorden agar Luna tidak bisa melihat ke arah luar.


“Luna… Kamu kalau memang mau pulang lebih awal tidak masalah. Kamu bisa menghubungi keluarga untuk menjemput kamu di sini setelah hujan reda nanti.” Ucap Gara.


Siang itu Luna mencoba mengirim pesan pada Elio, berharap Elio bisa menjemputnya siang ini.


“Kak… Kakak lagi sibuk ya?” Pesan Luna pada Elio.


“Banget. Aku sampai belum sempat makan siang nih. Banyak laporan yang musti aku periksa.” Balas Elio sambil mengirim satu foto nampan makanan yang masih utuh.


“Jangan gitu. Nanti sakit lagi. Gih makan.”


“Istri aku perhatian banget. Kalau udah beres aku segera makan. Muah…”


Luna menarik nafas panjang. Sepertinya sulit untuk Elio menjemputnya sekarang.


“Gimana? Suami kamu nggak bisa jemput ya?” Tebak Gara.


“Kalau memang nggak bisa jemput, aku antar aja. Biar kamu bisa istirahat di rumah.” Tawarnya kemudian.


“Nggak usah mas. Aku udah baikan.” Akhirnya Luna menolak tawaran Gara.


“Ya sudah kamu makan dulu, biar ada energi. Kamu udah pucat gitu.” Siang itu Luna hanya memakan beberapa suap catringnya. Efek shock membuat selera makannya hilang.


Sore harinya tidak ada perubahan, hujan masih terus turun, bahkan di beberapa tempat sudah banjir. Dalam hatinya Luna berfikir untuk pulang dengan taxi online, tapi dia tidak cukup nyali apabila melihat kembali kilat atau petir secara langsung di jalan.


“Udah… Kamu tanang aja. Aku tungguin kamu kok.” Ucap Gara. Luna mengangguk sambil tersenyum tipis. Ternyata Gara tidak seburuk yang ia pikirkan.


“Makasih ya, Mas.”


Sudah pukul tujuh malam, belum ada tanda-tanda hujan berhenti. Tiba-tiba satu pesan masuk dari Elio, mengatakan kemungkinan besar pulang larut malam, bahkan bisa jadi tidak pulang karena banyak pekerjaan. Luna kembali menarik nafas panjang. Kesibukan Elio memang membuatnya harus lebih mandiri dan tidak lagi banyak bergantung pada suaminya itu.


“Gimana..? Kamu mau aku antar aja?”


“Nggak Mas. Aku pulang dengan taxi online aja. Lagi pula hujannya udah mulai reda.” Tolak Luna.


“Are you sure?” Gara menahan tangan Luna khawatir karena siang dia melihat Luna ketakutan di mobil.


“Pretty sure.” Luna mengangguk yakin.


Saat menuruni tangga lantai dua, tiba-tiba pandangan Luna kabur. Kepalanya berdenyut sakit. Sekejap tubuhnya terhayung dan jatuh. Beruntung Gara segera menangkap Luna, jika tidak mungkin Luna sudah terguling sampai bawah.


Gara membawa Luna ke rumah sakit terdekat. Dokter melakukan segenap pemeriksaan dan disimpulkan Luna mengalami anemia.


“Saya AB+, dok. Tapi saya sempat minum alkohol agak banyak semalam.” Gara memberi tahu.


“Maaf tidak bisa, Pak. Mohon cari pendonor lain.” Malam itu Gara menelfon Kean. Menceritakan kondisi Luna yang terbarung lemah di rumah sakit karena anemia.


“Shittt… Udah berapa kali gue bilang sama lo, jangan minum-minum lagi, Gar.”


Kean murka melihat tingkah adik semata wayangnya yang punya kebiasaan buruk jika bertemu teman kuliahnya saat di Boston.


“Kalau gue tau bakal kaya gini, gue nggak akan minum. Sekarang gimana caranya lo bisa sampai di sini segera. Luna butuh banget transfusi darah.” Kean menjadi harapan Gara satu-satunya karena sang Kakak juga bergolongan darah sama dengannya.


“Gue masih di Karawang. Kemungkinan baru sampai di Bekasi tiga jam lagi, macet banget soalnya. Lo hubungi keluarganya sekarang...!”


Titah Kean. Perintah yang sama juga ia tujukan pada Elen.


Malam itu Kean sampai pukul sebelas malam, Luna pun sudah sadar karena sudah mendapatkan bantuan infus.


“Kita transfusi darah sekarang ya.” Bujuk Kean.


“Aku mau pulang aja, Mas.”


“Tapi kamu butuh tambahan darah, Luna.” Kean mengusap rambut Luna, tapi Luna langsung memberi jarak.


“Aku belum ngabarin suami aku.” Kean terdiam, lalu mengangguk.


“Ya sudah. Kamu coba telfon dia sekarang.”


“Tas aku di kantor. Aku boleh minta tolong antar aku ke kantor aja, Mas?” Kean mengangguk.


Luna terdiam melihat handphonenya yang hancur. Ternyata saat terjatuh ditangga ponselnya terlepasdari tangan dan jatuh dari lantai dua ke lantai satu.


“Gimana?”


“Aku minta tolong antar pulang aja boleh?” Akhirnya Luna memberanikan diri mengambil keputusan itu. Pulang dengan taxi online malam hari bukanlah pilihan terbaik. Semoga nanti Elio paham jika Luna menceritakan alasannya.


Saat hendak masuk ke mobil Kean, Luna melihat city car putih milik Elio datang. Luna merasa lega, Elio memang selalu bisa menjadi ironman-nya di saat ia membutuhkan.


“PULANG…!”


Tidak seperti yang Luna bayangkan. Malam itu Elio sangat marah padanya.


Flashback Off


...-[Bersambung]-...


Voteeee guys. 😂