
“Kak aku izin makan di bawah ya. Kasian anak-anak baru sarapan roti sama susu UHT aja dari pagi.” Luna kembali meminta izin pada Elio langsung di depan teman-temannya. Sebuah strategi agar tidak ada negosiasi menguntungkan sebelah pihak.
“Nggak usah. Aku sudah pesan nasi bebek di hotel sekalian ada kurir yang antar berkas. Paling sebentar lagi sampai. Kalian tunggu aja.” Titah Elio.
“Eh… harusnya nggak perlu Bang. Kita udah dizinkan kerja kelompok disini, ditraktir pizza sama sarapan aja udah seneng.” Satria mulai berbasa basi.
“Anggap aja jamuan terakhir sebelum pulang. Santai aja.” Elio berjalan ke sofa tengah dan bergabung bersama mereka. Semua langsung terasa cangung dan kikuk.
Lima menit mereka hanya saling lirik satu sama lain tanpa suara. kehadiran Elio seperti dementor berwajah tampan, dingin sekaligus mengerikan. Untung saja ada siaran berita pagi itu yang memecah suara jangkrik.
“Kakak usia berapa?” Felicia tiba-tiba saja berinisiatif basa basi.
“26” Jawab Elio singkat, padat dan jelas. Luna hanya tersenyum. Gundukan batu es bernapas ditanya, mana bisa menjawab banyak.
“Oh…” Jawab Felicia mendapat senyum cemooh dari teman-temannya. Umpan tidak berhasil dimakan ikan.
Untunglah tidak menunggu lama, apartemen diketuk oleh sesorang. Ternyata dari pihak Elios Hotel membawakan makan dan beberapa berkas untuk Elio.
“Kok banyak banget ini Kak?” Tanya Luna sambil memeriksa goodie bag.
“Sebagian bawan pulang aja, terutama buat orang tua teman kamu yang sakit.” Jawab Elio sambil melirik ke arah Robby.
“Bawa ya nanti. Pasti Ibu kamu nggak sempat masak.” Titah Elio.
“Waduh… Kok saya jadi enak gini ya. Heran, ini keluarga kenapa pada baik banget. Dulu waktu diciptakan dari emas apa dari tanah liat?” Kelakarnya. Tapi hanya dibalas senyuman saja oleh Elio. Abel dan Felicia kembali dibuat ternganga. Senyum tampan nan langka benar-benar membuat candu.
Mereka akhirnya makan bersama. Elio malah ikut bergangung karena sudah suntuk dari semalam di dalam kamar. Empat pria itu makan di sofa sambil menonton brita pagi, sedangkan Luna dan kedua temannya makan di meja makan.
“Weh… Bang Aries tampil lagi di TV Wahid lagi nih. Bangga banget nggak sih?” Satria menunjuk pria tampan dengan almamater kampusnya.
“Siapa dia?” Tanya Elio.
Luna langsung memasang wajah waspada. Jangan sampai Satria si baskom bocor. Bisa tamat riwayatnya kena omel Elio.
“Presbem kita Bang. Hits banget. Udah kaya idola kampus gitu. Sekarang malah wara-wiri televisi setelah debat sama Jubir Presiden bulan lalu.” Jawab Satria. Luna langsung bernafas lega.
“Tapi yang lebih penting dari itu, Bang Aries itu suka sama adik Abang. Beuuh… Ngejar-ngejarnya sampai suka datang ke fakultas kita.” Ternyata kalimat Satria yang tadi belum selesai.
“Ngapain?” Selidik Elio.
“Cari Luna lah. Ada aja alasannya dari mulai yang katanya urusan event kampus sampai ngobrol biasa.”
Elio langsung meletakkan tulang bebek kembali ke pirinya. “Terus gimana?”
“Apanya bang?”
“Ya dia bisa nggak dapatin Luna?” Elio melirik ke arah Luna dengan tatapan yang tidak terdefinisi.
“Ya nggak lah Bang. Orang adik Abang itu pakai jurus menghindar kalau udah ketemu Bang Aries. Ada aja caranya biar bisa kabur.” Kali ini Robby yang menjawab.
“Cowok tu kan makin menghindar makin penasaran ya. Jadi makin gigih aja tuh Presbem nyari si Luna.” David menimpali.
“Betul… Kemaren dia curhat sama saya. Katanya Luna nggak pernah balas chat dia. Haha… Sekelas Presbem dikacangin sama Luna.”
“Padahal dia bela-belain habis rapat sama BEM-SI langsung ke cafe nemuin Luna, eh nggak taunya Luna ke Jogja.” Satria tergelak.
Elio kembali tersenyum. Setidaknya bukan ancaman yang berat untuknya. Karena justru Luna memilih menghindar. Itu sudah tepat. Tapi mau sampai kapan?
“Belum lah. Gimana mau nembak. Dikasih kesempatan ngobrol aja nggak.”
“Seorang laki-laki itu butuh ucapan biar makin yakin. Iya atau tidak bukan malah memberi kode.”
“Tuhan aja butuh doa yang jelas agar diijabah doanya.” Robby kembali memberi pendapat.
“Haha bingung juga ya. Lo jangan diam aja Lun. Semua lagi bahas lo juga.”
“Hemmm… Gue kepedesan. Minta minum.” Kilah Luna sambil melirik Elio.
“Nanti saya yang bilang anak itu.” Tiba-tiba Elio mengambil keputusan. Luna langsung tersedak.
“NGGAK USAH KAKAAAAAK….!!!” Pekik Luna. Semua langsung melongo. Kakak Luna ini benar-benar jenis posesif.
...***...
Elio POV
Ternyata bergabung bersama teman-teman Luna cukup asyik. Mereka seperti membaur meskipun aku tau tidak semua punya latar belakang yang sama. Semua bisa aku di tebak dari barang-barang mereka gunakan. Pembicaraan juga semuanya terbuka saja, tidak ada saling sakit hati. Apa ini nyaman versi Luna sampai-sampai dia tidak mau meninggalkan Indonesia?
“Bang Aries itu suka sama adik Abang.” Teman Luna bernama Satria itu agak mengejutkanku. Luna punya penggemar sudah biasa, tapi ini beda. Penggemarnya sampai selevel Presbem dengan kemampuan public speaking dengan analisa yang tajam seperti itu. Tentu saja ancaman buatku.
Ini bukan pesoalan aku tidak percaya dengan istri sendiri. So far apa yang dilakukan Luna dengan membuat benteng pertahanan agar tidak berada satu circle dengan anak itu, sudah bisa aku acungi jempol. Tapi tetap saja Luna masih remaja, dunianya masih dinamis. Apalagi cara komunikasi Luna yang baik pada semua orang mudah sekali untuk disalah artikan.
Tugasku adalah meyakinkan Luna, untuk segera publish pernikahan ini. Sudah banyak tuntutan yang berhasil aku negosiasikan dengan istri kecilku. Harusnya kali ini juga bisa berhasil. Sekarang bagaimana caranya? Mari kita fikirkan.
“Kita balik ya Lun, Bang. Makasih semua jamuannya.” Pamit mereka satu-satu.
“Lain kali kalau mau kerja kelompok di sini aja. Saya lebih senang kalian kerja di sini dari pada sampai tengah malam di kampus.” Ucapku. Ya not bed lah. Aku bisa mencair sedikit-sedikit dengan teman pria Luna. Awal yang bagus untuk menarik hati istri. Ya kan?
“Ya asal dapat makan enak lagi sih saya oke, Bang.” Entah siapa yang bicara.
“Makan doang mah bisa. Asal adik saya nggak ditinggal tidur kayak tadi.” Sindirku. Semua hanya tertawa kaku.
“Hati-hati kalian.”
“Eh iya… Sampaikan salam sama ibumu yang sakit. Semoga cepat sembuh.” Pesanku pada anak yang bernama Robby.
Luna melirik sambil tersenyum kagum padaku. Yess… Target masuk perangkap. Aku rangkul pundak Luna, tubuhnya terasa kaku. Biarkan saja. Toh temanya tahu kami hanya Kakak Adik. Setelah semua pergi, segera aku kunci apartemen dan menggiring istri kesayangan sealam semesta ini masuk ke dalam kamarku. Hehe…
...🤣-[Bersambung]-🤣...
Author : Aku sedih asli. Habis “end” novel sebelah nih. Terus itu perasaannya jadi hancur. Baper baca komennya dari kalian.
Nitizen : Sampai nangis nggak?
Author : Iyalah… Sempet netes juga haha.
Nitizen : Syukur looo thor. Kemaren ber episode-episode lo bikin gue nangis. Rasain sekarang…!
Author : Bubaaaaar kleaaan…!
Nitizen : (krik krik krik)
Author : Eh nggak jadi dink. Tinggalin jejak dulu disini. Ditunggu jejak petualangannya.