Meira

Meira
BAB. 9



Cuaca mendung, langit tampak gelap tinggal menunggu waktu butiran air hujan akan menjatuhkan dirinya dan membasahi jalan yang tampak gersang. Sejak pagi tadi cuaca memang tampak cerah bahkan semakin siang semakin panas tapi sekarang tiba-tiba saja cuacanya berbalik arah, ingin melepaskan jutaan tetes air dalam sekejap.


Alando tidak masalah dirinya kehujanan, sejak SMA dirinya sudah terbiasa menerjang hujan. Buatnya itu adalah kesenangan tersendiri yang cuma beberapa orang yang bisa merasakannya atau orang yang sepemikiran dengannya. Namun sekarang dia tidak sendiri, ada seorang gadis bersamanya yang harus dia pikirkan kesehatan serta dia antar pulang dengan selamat. Bodohnya dia lupa membawa jas hujan yang biasanya selalu ada di bagasi motornya.


Tetes-tetes air mulai berjatuhan yang tadinya masih bisa dihitung sekarang berubah menjadi partikel-partikel kecil dengan kecepatan di atas rata-rata yang tak mampu dilihat sehingga menghitungnya pun mustahil. Mau tidak mau Alando mencari tempat berteduh yang tidak jauh darinya, untungnya ada sebuah ruko yang memiliki atap cukup lebar yang bisa dia singgahi.


Alando memarkirkan motornya di ruko tersebut, bukan cuma mereka berdua, ternyata ada beberapa orang juga ikut berteduh di tempat yang sama. Mereka, Alando dan Meira berdiri bersisian menghindari tempias air hujan yang menerpa.


Melihat sebagian kemeja Meira yang cukup basah dan parahnya mencetak jelas bagian dadanya membuat Alando salah tingkah, dan yang membuatnya kesal tidak jauh dari mereka tampak pria yang usianya hampir sama dengannya sedang memperhatikan ke arah Meira. Sontak Alando bergeser untuk menutupi Meira dari pria bermata mesum tersebut.


"Apa yang loe lihat?" tatapan tajam mengintimidasi dia arahkan pada pria tersebut namun mampu membuatnya gelagapan. "Lain kali arahkan mata loe dengan benar." Ketusnya, entah takut atau malu diperhatikan orang-orang yang ada di situ, pria tersebut memilih pergi menerobos hujan lebat. Alando segera melepas jaket yang dia kenakan, meski jaket itu juga basah setidaknya bisa menutupi tubuh Meira dari pandangan tak pantas.


"Pakai!" tanpa berbalik menghadap Meira yang ada di belakangnya, Alando menyerahkan jaket yang ada di tangannya.


"Nanti Kak Al Al kedinginan?" sepolos itulah Meira, dia bahkan tidak menyadari keadaannya sekarang bisa membuat pria manapun berfantasy liar karenanya bahkan mungkin dirinya sendiri.


"Pakai Meira! Kau mau aku tinggal di sini?" perintah Alando mutlak, tentu saja itu cuma ancaman, dia tidak mungkin meninggalkannya di sini begitu saja. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikannya.


Dan sadar tidak sadar Alando akan menggunakan kata loe-gue kalau dia sedang kesal sama Meira tapi akan menggunakan kata aku-kamu dalam kondisi tertentu.


"Jangan! Meira takut sendiri di sini." rengeknya dan langsung mengambil jaketnya dari tangan Alando kemudian memakainya.


"Sudah Meira pakai." Meira bergeser ke depan Alando untuk memberitahunya karena kak Al Alnya tidak melihat ke arahnya. Sekali lagi Alando salah tingkah dibuatnya bahkan tenggorokannya serasa tercekat.


"Ehemm..." Alando mengarahkan pandangannya ke arah lain mencoba menetralkan tubuhnya yang terasa panas.


"Kau lupa menarik resleting jaketmu." Ucapnya pelan.


"Oh iya." Meira menarik resleting jaketnya sampai ke atas dia tidak mau membuat kak Al Alnya marah lagi, "Sudah." seperti anak kecil yang selalu memberitahukan apapun saat dia sudah menyelesaikan setiap tugas.


Sudah hampir setengah jam mereka berteduh selama itu juga mereka cuma saling diam. Tapi diamnya Meira cuma di mulut doang. Tangannya selalu berusaha menggapai tangan Alando yang kemudian dilepaskan kembali olehnya atau sikap usil Meira yang suka mepet-mepet genit di sampingnya membuat seorang Alando menarik napas beberapa kali.


"Hachiss... Hachiis..." Meira bersin beberapa kali dan badannya juga terasa tidak enak. Meira memang gampang sakit kalau terkena hujan. Alando tampak khawatir dengan kondisi Meira.


"Kamu tidak apa-apa?" Alando menatap Meira yang mukanya kelihatan pucat.


"Meira kedinginan." tatapnya polos ke arah Alando seolah mengadu.


"Makanya tadi aku suruh kamu ikut mobil Zaden." tampang Alando terlihat kesal namun lebih dari itu rasa khawatir yang mendominasi.


"Hujannya mulai teduh." dilihatnya sekeliing tampak air hujan mulai menipis cuma menyisakan gerimis yang tidak terlalu berpengaruh, "Ayo." Alando menarik tangan Meira lembut menaiki motornya.


Meski kondisi badannya sakit, Meira tetaplah Meira yang akan kegirangan bila berdekatan dengan Alando, apalagi sekarang tangannya dipegang, membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum. Di tengah perjalanan Alando menghentikan motornya di depan apotik.


"Kak Al Al kok berhenti di sini?" Meira merasa bingung, ini kan bukan rumahnya.?


"Beli obat." Jawabnya singkat.


"Kak Al Al sakit?" Meira tampak khawatir.


"Kamu yang sakit!" Ketus Alando. "Tunggu di sini." perintahnya. Meira cuma mengangguk senang, itu artinya kak Al Al nya peduli sama Meira.


Alando membeli obat penurun panas dan minyak angin untuk Meira. Mungkin Meira masuk angin akibat kehujanan tadi. Apa lagi dia harus memakai baju yang basah cukup lama, berbeda dengan kondisi tubuhnya yang memiliki daya tahan tubuh yang cukup kuat bahkan Alando sangat jarang sakit. Padahal dia sering begadang, karena kerja sambilannya sebagai penjaga warnet pada malam hari bahkan kadang-kadang sampai dini hari.


Sekarang mereka sudah sampai di depan rumah Meira. Tampak warung pisang goreng ibu Meira sepi pembeli mungkin karena hujan lebat tadi, sehingga orang-orang pada malas ke luar rumah. Meira turun perlahan dari motor dengan tubuh yang lemas tidak seperti biasa ceria dan berisik.


"Ehh... nak Al Al, mengantar Meira lagi?" tampak ibu Meira senang melihat Alando yang menurutnya anak yang baik sejak awal ibu Meira melihatnya.


"Iya tante, maaf tadi kami kehujanan di jalan. Mungkin Meira sedikit demam." Alando mencoba menjelaskan kondisi Meira sekarang. Walau bagaimana pun dia merasa bertanggung jawab untuk Meira. Ibu menoleh ke arah putrinya dan baru sadar dengan kondisi Meira yang wajahnya sudah pucat.


"Meira kamu kenapa?" tatap ibunya dan memegang dahi anaknya yang lumayan panas.


"Meira panas tapi kedinginan juga." jawab Meira pelan.


"Ini tante, aku sudah belikan obat untuk Meira." Alando memberikan bungkusan plastik yang berisi obat-obatan untuk sakitnya Meira.


"Terima kasih ya nak Al, kamu sudah baik banget sama Meira." tulus ibunya. Putrinya beruntung bisa punya teman seperti Al, "Ya sudah bagaimana kalau nak Al mampir dulu sebentar?" tanya ibu Meira yang menggandeng tubuh lemah anaknya itu.


"Tidak usah tante, aku pulang saja. Mau ganti baju." baju Alando tampak masih basah juga.


"Oh. Ya sudah kamu hati hati di jalan ya." Ibu Meira tampak menghantar kepergian Alando yang sudah menaiki motornya.


"Dadah kak Al Al." Meira melambaikan tangannya ke arah Alando yang sudah berada di atas motornya. Meski wajahnya pucat tapi tetap senyum manis selalu mengiringi Wajah Meira untuk mengantar kepergian kak Al Al nya dan seperti biasa Alando tidak menanggapi dan berlalu begitu saja.


****


Vote, like dan koment ya...