
Alando menghentikan motornya di taman kota di mana banyak orang yang juga sedang nongkrong atau sekedar menikmati panasnya hari di bawah rerindangan pohon yang memberi kesejukan pada semua pengunjung tersebut.
"Kak Al Al kok kita di sini sih?"
"Kenapa, kamu tidak suka di sini?" tanya Alando lembut dan mengajak Meira duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari mereka.
"Suka! Meira suka, tapi kan kak Al Al pernah bilang, pulang kuliah harus kerja." jawab Meira yang masih ingat kak Al Alnya pernah cerita kalau dia harus kerja jadi nggak bisa mampir untuk memenuhi ajakan ibu Meira untuk mampir sebentar.
"Tidak apa-apa, hari ini boleh telat lagi pula kita cuma sebentar di sini."
"Oh. Ya udah Meira senang." sahut Meira yang tidak bisa berhenti tersenyum.
"Kamu tunggu di sini! Jangan kemana-mana." suruh Alando yang cuma diangguki kepala oleh Meira, patuh.
Alando menghampiri penjual eskrim yang sedang berjualan di taman tersebut, kelihatan cukup rame banyak anak SMA dan anak-anak kecil bersama ibu mereka sedang membeli eskrim juga. Alando ingat kalau Meira sangat suka cokelat, jadi dia mengambil dua eskrim coklat yang untungnya harganya cuma enam ribu rupiah, maklum sekarang bulan tua. Uang dari perusahaan mereka juga belum keluar namun untungnya aplikasi yang mereka buat sudah dilirik beberapa investor besar atau sering di sebut Angel Investor serta Venture Capitalist Utama dan akan memberikan suntikan dana yang cukup besar agar bisa di pasarkan segera.
Anggap saja ini untuk menyenangkan hati Meira dan melupakan kesedihannya. Entah siapa gadis yang dimaksud Meira yang sudah melontarkan ejekan kejamnya untuk Meira, yang jelas, siapa pun itu dia tidak akan membiarkannya.
"Ambil!" Alando menyerahkan satu eskrim cokelat kesukaan Meira dan kembali duduk di sampingnya.
"Meira suka eskrim apalagi cokelat dan ini di kasih sama kak Al Al jadi tambah suka." senang Meira dengan mata berbinar seolah belum pernah makan eskrim. Bahkan rasa sedihnya Meira hilang dalam sekejap.
Pelan Meira menjilat eskrimnya seakan takut habis dan waktu kebersamaan mereka saat ini juga berakhir seiring eskrimnya lenyap di lahap olehnya.
"Kok belepotan gini sih Meira? Pelan-pelan makannya." Alando mengusap bibir Meira yang ada eskrimnya dengan jempolnya karena tidak ada tissue. Membuat jantung Meira dag dig dug namun seperti biasa dia cuma menganggap jantungnya lagi olah raga.
"Padahal Meira sudah sangat pelan kok." ucap Meira pelan sambil mengerucutkan bibirnya, dan untuk pertama kali Alando melengkungkan bibirnya ke atas.
Ini pertama kalinya Alando bisa tersenyum lepas lagi ketika menyaksikan tingkah lucu Meira. Namun sayang hanya sekilas yang mampu dilihat Meira.
"Jangan cemberut." suruh Alando. Takutnya dia tidak bisa menahan ketawanya lagi. Meira tampak lucu dengan bibir yang cemberut seperti itu.
"Meira nggak jadi cemberut, tadi kan Meira sudah lihat senyum kak Al Al."
"Siapa yang senyum." Alando terlihat masih gengsi untuk mengakui.
"Meira lihat kok."
"Matamu harus segera diperiksa ke dokter." ketus Alando.
"Oh. Kalau gitu Meira nggak lihat." Meira sangat takut dokter, selama satu tahun dia harus bertemu dengan dokter untuk terapi dan itu rasanya sangat sakit.
"Ya sudah kita pulang." Alando tidak bisa berlama-lama di sini bersama Meira karena dia sudah janji sama Zaden cuma izin sebentar dan segera kembali ke kantor namun setelah mengantarkan Meira terlebih dahulu pulang ke rumahnya.
Tepat di depan rumah, Alando menurunkan Meira dan membisikan sesuatu sebelum kembali melajukan motornya pergi dari sana, yang jelas itu membuat Meira bahagia sampai tidak menyadari sudah ada Rado di depan matanya.
"Dadah kak Al Al." Meira melambaikan tangannya untuk mengantar kepergian Alando.
"Jangan senyum-senyum terus entar dikira orang gila lagi." tiba-tiba Rado muncul di depannya dengan masih berada di atas motor. Kayaknya Rado baru pulang.
"Iih... Radodo gangguin Meira aja sih! Meira kan lagi senang." jawabnya polos, dia memang tidak bisa berbohong apa yang ada di otak dan hatinya langsung dia keluarkan tanpa rasa malu.
"Senang kenapa? Ale Ale sekarang lebih banyak rasanya...?"
"Enggak." Meira menggeleng bingung.
"Ale Ale punya kemasan baru?" tanyanya lagi, sengaja ingin membuat kakaknya kesal.
"Engggakk." Meira kayaknya benar-benar kesal, kadang-kadang Rado berubah menjadi menyebalkan di mata Meira.
"Terus...?" Rado makin penasaran dibuatnya. Apasih yang buat kakaknya makin halu gini.
"Besok kan hari minggu, kak Al Al ajak Meira main."
"Hahh... Main apa? Ular tangga, monopoli." tanya Rado berturut-turut.
"Main di Time Zone, kata kak Al Al biar Meira nggak sedih lagi."
"Nggak boleh."
"Boleh."
"Nggak boleh."
"Gak bole..."
"Ibuu... Radodo jahat." teriak Meira yang selalu mengadu pada ibunya kalau Rado lagi menyebalkan.
Jam 10 pagi Alando sampai di rumah Meira, hari ini Alando ingin mengajak Meira main di Time Zone untuk sekedar melepas kesedihan Meira dan kembali bersemangat lagi seperti biasanya. Lagi pula Alando tidak ingin Meira merasa diabaikan olehnya apalagi kalau sampai Meira bosan mengikutinya karena di cuekin Alando seperti kata Kenny, sahabat resenya itu. Kalau sampai itu terjadi maka akan sulit untuk menyembuhkan lukanya lagi, masalahnya dia sudah mulai membuka hatinya untuk gadis ini. Dia belum bisa menerima kehilangan untuk kedua kalinya setelah ibunya yang telah pergi.
Sedangkan bagi Meira ini adalah ajakan pertama kak Al Alnya dan mereka akan bersenang-senang dan menghabiskan waktu cukup lama pikir Meira, makanya sejak pagi tadi dia sudah siap-siap. Dandan-dandan cantik dengan celana jeans panjang dan kaos lengan pendek serta jaket ala anak basket untuk menyamai penampilan Alando dengan tas ransel kecil bertema Blackpink bertengger di bahunya.
"Kak Al Al..." sambut Meira yang sudah siap menunggu kak Al Alnya. Alando turun dari motornya dan menghampiri Meira di teras rumahnya.
"Mana ibu kamu...?" tanya Alando.
"Loh kok cari ibu? Kak Al Al mau ajak ibu bukan Meira ya?" cemberut Meira.
"Meira apaan sih, aku cuma mau minta izin sama ibu kamu. Nggak sopan kalau aku langsung ajak kamu pergi." kesal Alando.
"Hehee... Maaf, Meira kira kak Al Al nggak jadi ajak Meira." Meira masih cengengesan dengan tingkah malu-malunya.
"Ya sudah, Meira panggilin ibu dulu ya?" Meira masuk ke dalam namun posisinya di luar tergantikan oleh adiknya Rado yang songong menurut Alando.
"Awas loe yaa... kalau berani macam-macam sama kakak gue!" peringat Rado protectif menatap Alando dengan sikap songongnya.
"Kreek... habis loe di tangan gue." tambahnya dengan memperagakan tangan memenggal lehernya. Namun Alando cuma memandang tidak peduli dan tidak mau peduli.
"Eh Nak Al sudah datang, mau ajak Meira ya?" ibu Meira sangat senang melihat Alando mengajak Meira jalan apalagi dengan pertemanan mereka yang semakin dekat.
"Iya Tante, aku minta izin mengajak Meira jalan dan aku akan mengantar Meira sebelum sore." sahut Alando ramah, sama seperti saat dia berbicara sama ibunya.
"Iya, tante percaya kok sama nak Al."
"Lohh, kok ibu percaya saja sih?" kesal Rado yang protes sama ibunya karena bersikap lunak pada si Ale Ale di depannya.
"Yang sopan kalo ngomong, nak Al lebih tua dari kamu." tegur ibunya. Sedangkan Rado cuma menunjukkan wajah tidak sukanya.
"Radodo ngeselin." kesal Meira. Namun cuma dicuekin oleh Rado.
"Ya sudah, tante kami berangkat dulu." pamit Alando dan menggiring Meira ke motornya, melaju dan menghilang di balik perumahan komplek.
"Mau kemana kamu sudah rapi gini?" tanya ibu Meira yang melihat Rado sudah berpakaian rapi.
"Aku juga mau jalan sama teman bu. Assalamualaikum." pamit Rado tergesa-gesa menghampiri motornya setelah mencium tangan ibunya.
Rado memang sudah janjian sama teman-temannya, lebih tepatnya sahabat seperjuangan dari SMP sampai SMAnya. Dito, Zaki dan Rado, mereka selalu bersama seperti kembar triplet. Sama konyolnya, sama badungnya, dan sama songongnya. Makanya mereka cocok berteman, kadang juga ada perselisihan tapi ujung-ujungnya baikan lagi.
"Hallo...?"
"Kalian berdua di mana sih?"
"Ya udah, gue tunggu di pintu masuk."
"Buruan, jangan sampai gara-gara kalian gue kehilangan jejak kakak gue nih!"
"Klik." telpon dia tutup.
Rado memang janjian di sebuah mall tapi bukan untuk hang out bareng teman-temannya tetapi Rado mengajak mereka main detektif-detektifan alias menjadi stalker Meira dan Alando. Saking protectifnya sama sang kakak.
"Lama banget sih kalian?" akhirnya teman-temannya yang dia tunggu untuk ikut membantu hal konyolnya sudah datang.
"Gue udah lari nih." ucap Dito engap.
"Santai bro kita kan butuh napas." sambung Zaki. Mereka harus berlari dari parkir sampai sini.
"Lama! Ayo..." Rado langsung masuk ke dalam mall menyusul tempat tujuan Meira berada diikuti dua dayang-dayang setianya.
Vote, like dan koment ya...