
"Meira jauhkan wajahmu!"
Meira bingung dengan perintah Alando, hingga ikut memandang wajah Alando yang rupanya memang sangat dekat dengan wajahnya sendiri. Namun bukan menjauh Meira malah terpesona dengan ketampanan wajah kak Al Al nya hingga membuatnya terpaku.
"Ehhemm... Jauhkan wajahmu Meira!" perintah Alando sekali lagi dengan suara yang terdengar sedikit serak serta jantung yang semakin berdetak kencang. Mungkin lagu A. Dhani yang berjudul 'Sedang Ingin Bercinta' paling cocok menggambarkan perasaannya saat ini.
Alando berusaha menetralkan jantungnya yang seakan mau meloncat tinggi dengan menarik napas panjang beberapa kali serta kembali membuat mukanya sedatar mungkin seakan tidak terjadi apa-apa pada dirinya namun seandainya Meira mampu mendengar detak jantungnya kini, dia pasti tau sekarang Alando tidaklah baik-baik saja. Yah... itu pun kalau Meira bisa mengerti, dan kini Alando memfokuskan pandangannya kembali beralih ke depan. Rupanya teman-teman mereka sudah jauh berada di ujung jalan.
"Oh... Muka Meira ya? tapi Meira suka lihat kak Al Al dan Meira juga suka dekat-dekat Kak Al Al." sahut Meira manja.
"Jangan mengatakan hal itu lagi!" tegur Alando kesal. 'Kau bisa membuatku hilang akal saat ini juga Meira.' dan Meira benar benar membuatnya tidak fokus. Takutnya pertahanan dirinya runtuh seketika.
"Kenapa...?"
"Diamlah, kamu berat!" potong Alando, sebelum Meira bertanya banyak hal. Buat Alando seberat apapun Meira dia tidak peduli, tapi tentu bukan itu masalahnya.
"Oh... Meira akan diam." kalau Meira diam maka badannya tidak akan berat lagi, pikirnya. Kasian kan Kak Al Al nya.
Perjalanan mereka kini sangat tenang cuma ada bunyi-bunyi suara burung, jangkrik dan suara langkah serta suara teman-teman mereka di depan yang saling mengobrol. Untungnya kali ini Meira mau mendengar perintahnya. Tidak terasa sekarang mereka sudah berada di tempat tujuan, tempat yang memang dipergunakan untuk memasang tenda dan di sekitarnya ada danau yang indah. Apalagi ternyata mereka tidak sendiri ada kelompok pecinta alam yang juga sudah memasang tendanya untuk berkemah di sini. Wajar sih pemandangan di sini sangat indah lagi pula tempat ini juga sering dikunjungi banyak orang. Katanya sih tempat ini terkenal dengan pemandangan matahari terbenam serta pemandangan matahari terbitnya, namun sebelum itu akan ada awan putih yang menyelimuti tempat tersebut yang kemungkinan sangat ditunggu banyak orang. Berarti untuk melihatnya mereka harus bangun subuh-subuh.
"Turunlah, kita sudah sampai!" teguran Alando membangunkan Meira dari lamunan-lamunannya yang terus berpusat pada kak Al Al nya.
"Ehh...? Oh iya. Kita sudah sampai ya." Meira turun dan melihat pemandangan sekitarnya yang sangat indah. Kemudian mengarahkan matanya mencari teman-temannya.
* * *
"Ya ampun di mana Meira? Apa kita meninggalkan Meira di jalan!" panik, Ami dan Mita mencari Meira ke sekeliling mereka yang tidak terlihat batang hidungnya.
"Tenang aja, lihat deh di sana." tunjuk Sany yang melihat Meira digendong Alando, rupanya mereka baru sampai tujuan.
"Oh... Sweet banget sih, jadi sekarang apa mereka sudah baikan?" tanya Mita pada kedua teman-temannya.
"Mungkin." jawab Sany dan Ami bersamaan tidak terlalu yakin, masih dugaan mereka sih karena sekarang Alando terlihat lagi menggendong Meira dan rasanya tidak mungkin kalau Alando masih marah sama Meira.
"Meira...!" panggil Ami saat Meira sudah turun dari punggung Alando dan terlihat lagi mencari mereka.
Meira menghampiri teman temannya, "Ihh Meira kok ditinggalin sih? kaki Meira kan sakit." ucap Meira dengan muka ditekuknya.
"Hihii... kan biar kamu bisa bersama-sama kak Alando." jawab Sany seadanya, padahal sih mereka memang lupa sama Meira, tapi di balik itu kan ada hikmahnya untuk Meira.
"Oh iya... Meira senang bisa digendong kak Al Al lagi." cerita Meira, dia sangat senang bisa dekat sama kak Al Al nya walaupun dia masih marah sama Meira.
"Jadi sekarang kak Alando sudah tidak marah nih?" tanya Ami penasaran.
"Belum, kak Al Al masih marah sama Meira, tapi kak Al Al juga selalu baik sama Meira." Jelasnya, semarah apa pun kak Al Al padanya dia akan selalu baik di mata Meira.
"Yah penonton kecewa deh..." seru mereka bertiga, padahal mereka sudah berharap Kak Alando dan Meira sudah baikan tanpa harus mereka menjelaskan kesalah pahaman antara mereka, buat mereka bicara sama kak Alando itu seperti berbicara sama makhluk astral, menakutkan dan bikin merinding.
"Emang kita lagi ditonton ya, siapa yang nonton?" tanya Meira bingung dan melirik keselilingnya namun tidak ada satu pun yang melihat ke arah mereka, semua tampak sibuk masing-masing. Siapa orang yang sudah menonton mereka, pikir Meira.
"Tuh semut, burung, jangkrik, ulat, kupu-kupu." sahut Sany asal.
"Sekalian aja sebut semua hewan di kebun binatang hahaa..." tawa Mita mengejek Sany.
"Memang loe mau di sini ada buaya, harimau, dan beruang. Yang ada kita koid di sini!" ketus Sany, membuat mereka membayangkan bagaimana kalau di tempat itu memang ada hewan-hewan buas tersebut.
"Yah jangan dong." seru Ami dan Mita takut, membayangkannya saja ngeri apalagi kalau sampai kejadian.
"Iih takuuut... Meira nggak mau mati." Meira kabur menuju kak Al Al nya berada yang kini sedang menikmati keindahan alam sekaligus mengistirahatkan dirinya di atas rerumputan.
"Kak Al Al Meira nggak mau mati." Meira tiba-tiba datang dan memeluk Alando dari depan, padahal Alando lagi duduk-duduk santai bersama teman-temanya yang entah mereka sedang mengobrolkan apa. Namun pelukan Meira membuat Alando tidak siap dan terjengkang kemudian, "Bruuk..." Meira jatuh menindih Alando.
"Olalaa..." semua tercengang sekaligus kaget.
"Ehemm... ehemm... jangan sampai kalian melakukan adegan iya-iya di depan kami ya? Kasihan mereka bertiga nggak ada pasangan." timpal Kenny yang ditujukan untuk ketiga temannya yang pada jomblo, kemudian dia malah terbahak-bahak mentertawakan Alando yang mukanya berubah merah, sedangkan Meira jangan di tanya lagi, mukanya lugu tanpa dosa seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun dan terus memeluk Alando tanpa mempedulikan sekelilingnya.
"Siapa bilang gue nggak punya pasangan? tuh yang pake jaket biru dia yang akan jadi pasangan gue, tunggu aja loe!" tunjuk Christ pada teman Meira yang kelihatan tomboy.
Dari pertama Christ melihat Sany dia sudah tertarik dengan gadis itu. Cuek dan tidak banyak gaya dan tampil apa adanya tidak seperti kebanyakan perempuan yang selalu ribet dengan urusan bedaknya. Contohnya ya seperti pacar Kenny yang sekarang, sedikit pun tidak pernah berjauhan dengan yang namanya cermin dan bedak. Christ bahkan penasaran apakah pacar Kenny itu masih memiliki keturunan dengan ibu tirinya Snow White yang memiliki jargon 'Cermin katakan siapa perempuan yang paling cantik di antara kami semua?' hahaa.. Christ membayangkannya saja sudah mau ketawa. Sayangnya cuma ada di pikirannya.
Kalau Kenny sampai tahu apa yang dia pikirkan saat ini dapat dipastikan dia yang akan dibedakin balik oleh Kenny.
"Siapa yang berpikiran aneh-aneh sih boss." sahut Christ yang tidak terima.
"Meira sudah, cepat bangun!" perintah Alando, mencoba untuk menyingkirkan Meira dari atas tubuhnya namun Meira seakan tidak sadar dengan posisi mereka.
"Kalian cuma diam aja di sana?" omel Alando pada teman-temannya yang cuma menonton dengan cengiran mereka masing-masing. Tanpa mau repot-repot membantu menjauhkan Meira darinya.
"Kan jarang-jarang nonton adegan romantis loe Lan." Sahut Zaden yang terus tertawa begitu pun dengan ketiga temannya.
"Sarap loe semua, Meira...!" tegur Alando setengah teriak. Akhirnya Meira mau mendengarkan perintah Alando dan segera bangun dari atas tubuh Alando yang kini mukanya terlihat kesal sekaligus merah. Meira pun mendudukan dirinya di samping Alando dan menunggu dia bangun tanpa mau menjauh sedikit pun.
"Sana menjauh." jari Alando mendorong dahinya Meira pelan karena sekarang muka mereka terlihat sangat dekat. Sedikit gerakan saja mereka bisa ehemm deh.
"Meira kan takut!" adunya pada Alando dan terpaksa menjauhkan wajahnya karena dorongan jari Alando.
"Memang Meira takut apa?" tanya Zaden, sebenernya dia masih ingin ketawa melihat muka pias Alando yang sangat langka di lihatnya itu ditambah muka Meira yang tidak merasa melakukan dosa apapun.
"Ada buaya dan harimau, Meira nggak mau mati." polosnya.
"Hah...?" tanya mereka saling berpandangan heran.
"Memang ada?" lanjut Adelia yang juga ikut ketakutan, ngeri juga kalau memang hewan buas tersebut berkeliaran di tempat ini.
"Kalau buaya di sini memang ada, tuh..."
tunjuk Christ pada Kenny yang dari tadi tidak bisa jauh dari pacarnya itu. Namun Kenny lagi malas meladeni Christ di depan pacarnya.
"Maksudnya buaya?" tanya Adelia pada Kenny, yang belum mengetahui sifat playboy pacarnya itu.
"Bukan apa-apa! biasalah dia iri karena masih jomblo." bohong Kenny pada Adelia.
"Oh..." tanggapnya.
'Syukurlah' bisik Kenny dalam hati karena Adelia percaya ucapannya.
"Harimau juga ada kok?" sambung Steven yang dari tadi cuma menonton teman temannya.
"Di mana kak Stip tip?" tanya Meira ketakutan.
"Di samping kamu Meira, hati-hati dia bisa menerkam rauw." sambung Kenny yang selalu senang mengerjai Alando dan menggoda Meira yang mukanya makin bingung.
"Hahaa... Sumpah gue sakit perut...! bruukk..." Kenny dapat lemparan buah salak di kepalanya dari Alando. Kebetulan Alando belum memakan buah salaknya.
"Aduuh, sakit dodol...! udah tahu gue nggak bisa buka nih buah, ngapain juga loe ngasihnya ini!" omelnya, sambil menggosok-gosok kepalanya.
"Biar loe tahu hidup itu keras." timpal Alando.
"Maaf ya kak tadi kami cuma bercanda kok tentang hewan di kebun binatang, eh Maira nya malah menanggapi benaran." jelas Sany yang berusaha berani berbicara di depan ZACKS.
"Oh, nggak apa-apa kok sayang, lagi pula berkat itu ada tontonan gratis di sini." sahut Christ ramah.
Namun membuat Sany bingung dengan orang yang bernama Christ tersebut. Seandainya dia bukan salah satu anggota ZACKS sudah dia tendang tuh kaki, seenaknya saja memanggilnya sayang. Pacar aja bukan sudah panggil sayang, pikir Sany.
"Oh karena itu. Ya sudah! Oh iya, kita dirikan tenda di sekitar sini saja terserah kalian mau di mana tapi jangan jauh-jauh dari sini!" perintah Zaden tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut lagi pula dia sudah mengerti sifat Meira seperti apa.
"Iya kak, ayo Meira." tarik Sany pada Meira yang masih duduk dekat-dekat Alando meski dari tadi Alando sudah berusaha menjauhkan Meira darinya.
"Sayang mau aku bantu nggak pasang tendanya?" tanya Christ namun cuma di abaikan Sany yang pura-pura tidak mendengarnya.
"Apaan sih Christ, loe malu-maluin aja tau nggak." tegur Zaden.
"Yah boss gue kan lagi usaha ini biar gelar pangeran jomblo gue hilang secepatnya." balas Christ, yang memang akhir-akhir ini suka memanggil Zaden dengan sebutan boss.
"Suka-suka loe deh, tapi jangan membuat mereka tidak nyaman di sini."
"Oke." Tidak ada salahnya mencoba kan, mungkin saja mereka berjodoh siapa yang tahu takdirnya, pikir Christ.
Vote. like dan coment yaa