
"Hai... Pengantin baru. Kejutan...!!"
"Haahh... Loe kira, gue lagi ulang tahun. Ngapain di sini? Pulang sana, ganggu aja loe." masih dengan tampang kusutnya Alando hendak menutup pintu itu kembali. Dia kemari mau bulan madu, menikmati kebersamaan bersama istrinya tanpa ada gangguan tapi sekarang justru dia mendapat gangguan dari sahabat resenya itu.
"Tunggu dulu dong Lan, gue kan belum lihat Meira?" matanya berusaha menemukan keberadaan Meira namun sayang masih dihalangi oleh Alando. Jangankan untuk masuk, menyentuh pintunya saja sudah didorong kembali sama Alando.
"Ngapain mau lihat Meira segala?" Alando memandang tajam pada sahabat di depannya, sedikit menyelidik.
"Mau tau, Meira masih hidup nggak setelah loe terkam sepanjang malam? Hahaaa..."
"Pulang sana!" dasar manusia pervert, gara-gara siapa dia belum bisa menerkam istrinya. Ternyata untuk mendapatkan Meira seutuhnya membutuhkan banyak perjuangan, dia harus memiliki kesabaran segudang untuk menghadapi banyak rintangan.
"Kak Ken Ken kok bisa di sini juga. Kak Ken Ken juga mau bulan madu ya? Kalau begitu sama kak Adedel." tebak Meira, yang Meira tau pasangan Kenny saat ini ya cuma Adelia.
"Apa...?" Kenny sedikit Kaget dengan fitnahan yang dibuat Meira. Meski bisa dibilang dia adalah playboy tapi dia tidak seberengse* itu juga. Ada aturan-aturan yang dia tanamkan pada dirinya sendiri. Kurang ajar boleh tapi tidak dengan penjahat kelam**.
"Tapi kan kak Ken Ken belum nikah ya, Meira benar kan Kak Al Al?"
"Dia tidak perlu menikah hanya untuk bulan madu Meira." sahut Alando.
"Sembarangan loe Lan, kalau loe lupa gue di sini bersama Zaden untuk membahas perencanaan kedepannya dengan Malika, investor cantik perusahaan kita." jelas Kenny.
"Kebetulan gue nggak sengaja tadi lihat kalian berdua, ya udah gue samperin. Baik kan gue."
"Iya, Kak Ken Ken baik banget." sahut Meira, dia senang selalu bertemu dengan sahabat-sahabat kak Al Al nya karena mereka semua sangat baik pada Meira.
"Tuh..." Kenny bangga pada dirinya atas pujian Meira sambil menepuk dadanya.
"Memang hari ini pertemuannya?"
"Iyalah, seharusnya kan loe dan Zaden tapi berhubung loe lagi cuti, ya udah gue yang gantiin." sahut Kenny. Mereka memang cuma membicarakan kelanjutan dari kerjasama kemarin dan membuat kesepakatan baru antar kedua belah pihak.
"Kak Zad Zad juga ada ya?" tanya Meira senang.
"Hemm... Ada di bawah. Sudah kalian ikut saja, sekalian kita makan bersama." ajak Kenny, karena pembicaraan penting mereka juga sudah selesai.
"Kak Al Al Meira mau ikut." minta Meira dengan manjanya. "Lagi pula kan tadi kak Al Al sudah janji mau temanin Meira jalan-jalan di hotel ini."
"Hemm..." pasrah Alando, mungkin Tuhan belum merestui penyatuan mereka saat ini.
"Sip begitu dong, tapi Meira kamu kok berantakan gini? Emang ada tsunami ya di kamar kalian hahaa..." goda Kenny, padahal dia juga tau apa yang sudah terjadi di dalam sana, namanya juga pengantin baru. Tapi Kenny cukup senang bisa mengganggu kesenangan sahabatnya itu.
"Meira berantakan ya?" dengan tangannya Meira mencoba memperbaiki baju dan rambutnya.
"Jelas banget." angguk Kenny.
"Ya udah Meira ganti baju dulu, gara-gara kak Al Al sih mesumin Meira terus." omelnya sambil berlalu masuk kamar.
"Hahaa..." tawa Kenny pecah seketika. Nggak ada malu-malunya nih anak, tidak seperti kebanyakan perempuan-perempuan pada umumnya, batin Kenny.
"Meira...!" tegur Alando.
* * *
Kini mereka bertiga melangkah menuju restoran yang berada di area outdoor yang tentu saja langsung berhadapan dengan suasana pemandangan luar hotel tempat mereka menginap, dengan Meira yang harus selalu Alando pegangin. Istrinya itu selalu mudah terpesona dengan banyak hal yang ada di hotel tersebut, dia bisa berjam-jam hanya untuk memandangi benda yang dia lihat kalau saja Alando tidak segera menarik Meira. Untungnya Alando mau pun Kenny sama sekali tidak terganggu dengan tingkah Meira tersebut, mereka sudah terbiasa dan mengerti akan sifatnya.
"Lihat, mereka terlihat serasi kan?" ucap Kenny pada pemandangan yang ada tidak jauh dari mereka. Pemandangan akan dua manusia berbeda gender yang saling mengobrol akrab seakan dua sahabat yang lama tidak bertemu.
"Hemm... Mereka tampak akrab." ujar Alando menanggapi.
Tanggapan seperti apalagi yang bisa dia katakan, Zaden memang selalu bersikap ramah pada banyak perempuan. Entah perempuan itu baru dia kenal atau pun memang sudah lama berteman dengannya. Tapi yang pasti jangan pernah membuatnya marah akan kebaikan yang dia berikan sekali pun, karena Zaden bisa saja sangat mengerikan.
Alando bahkan sering mengingatkan pada Zaden untuk bersikap lebih keras minimal cuek seperti Steven terhadap perempuan, karena sikap ramahnya itu kadang-kadang membuat banyak perempuan salah paham, seakan Zaden memiliki perasaan yang sama pada mereka yang berharap dan ujung-ujungnya Zaden juga lah yang harus menyelesaikan kesalah pahaman tersebut.
Mungkin seandainya Meira bukanlah gadis istimewanya, bisa jadi saat ini istrinya itu lebih tertarik dengan Zaden dan bukan menjadi istrinya seperti saat ini melainkan kekasih dari sahabatnya itu. Karena dari awal sampai saat ini Zaden selalu bersikap baik bahkan terlalu baik pada Meira dan kadang-kadang ada sedikit kecemburuan pada dirinya untuk sahabatnya itu, meski Alando tahu sikap baik yang ditujukan untuk Meira hanyalah sikap seorang kakak pada adik perempuannya.
Alando justru bahagia memiliki Meira yang memiliki sifat tidak biasa, dia tidak pernah berharap Meira menjadi gadis yang berbeda seperti saat ini, bisa dibayangkan mungkin istrinya itu tidak akan pernah meliriknya apalagi sampai mengejarnya, dan tidak akan pernah ada cerita tentang mereka berdua saat ini karena sejak awal tidak ada pertemuan antara mereka. Alando hanya berharap kelak mereka bisa memiliki banyak anak dan kalau suatu saat nanti justru dialah yang lebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa maka akan ada anak-anak mereka yang menjaga istrinya nanti.
"Enggak, Meira dan kak Al Al lebih serasi. Iya kan kak Al Al?" tanya Meira dengan tangan memeluk pinggang suaminya serta pandangan memuja terarah pada wajah Alando yang memang lebih tinggi darinya, hingga Meira terlihat seperti menatap ke atas.
"Hemm..." jawab suaminya dengan sedikit senyum terulas dan kecupan yang mendarat di kening Meira tanpa mempedulikan tatapan iri dari orang-orang yang melihat mereka serta tatapan ingin muntah dari sahabatnya Kenny yang merasa tinggal di kontrakan. Karena dunia kini serasa milik mereka berdua, Alando dan Meira.
"Hihii..." Meira tertawa senang karena mendapat perhatian dan kasih sayang dari sang suami.
"Hehee... iya." jawab Meira yang tampak bahagia melihat wajah cemberut Kak Kenny yang lucu di mata Meira.
"Salahmu sendiri kenapa mengganggu bulan madu kami." cengir Alando, puas melihat tampang kusut sahabatnya tersebut.
"Makanya kak Ken Ken nggak boleh jadi lev-boy, nanti nggak ada yang mau nikah sama kak Ken ken dan nggak bisa bulan madu kayak Meira." ujar Meira mengejek, padahal dia sendiri tidak mengerti makna dari bulan madu sebenarnya, buat Meira bulan madu itu pergi liburan bersama kak Al All nya dan yang pasti dia senang-senang.
Alando bahkan hampir menumpahkan tawanya, apa yang dikatakan Meira memang benar-benar ajaib. Kesalnya atas gangguan yang membuat moodnya buruk kini terobati, setelah melihat wajah Kenny yang kusut.
"Lev-boy...? bukannya itu merk sabun ya?" tanya Kenny bingung.
"Otak loe memang perlu dicuci pakai sabun." ejek Alando dan kembali melangkah menuju meja di mana Zaden dan Malika si investor muda itu berada.
"Kak Zad Zad..." panggil Meira dan duduk di sebelah Zaden. "Meira seneng banget ketemu kak Zad Zad di sini." seru Meira dengan senyum yang tidak pernah pudar dari bibirnya sejak akad nikah.
"Hai Meira, kakak juga senang ketemu kamu di sini." senyum lembut selalu terukir di wajah Zaden apalagi setiap melihat tingkah Meira, entah kenapa Zaden selalu ingin bersikap manis seperti seorang kakak pada adiknya.
"Meetingnya sudah selesai?" tanya Alando penasaran.
"Yap... Kita cuma membicarakan kesepakatan waktu itu. Nanti deh gue beritahu saat loe masuk kantor lagi." sahut Zaden, memberi penjelasan. "Oh ya Meira, kenalin ini Malika teman bisnis kami." Zaden mengenalkan perempuan di sampingnya kepada Meira, sedangkan Alando memang sudah mengenalnya waktu pertama kali melakukan presentasi.
"Halo..." jawab Meira singkat dan melambaikan tangannya. Dia memang selalu seperti itu pada orang yang belum dikenalnya.
"Oh. Hai..." balas Malika canggung. Apalagi setelah melihat keakraban gadis itu dengan Zaden, pria yang mulai disukainya dan parahnya dia sedikit cemburu dengan keakraban itu. Saat ini dia ingin bertanya tentang siapa gadis itu bagi Zaden tapi rasanya terlalu lancang kalau dia mengajukan pertanyaan itu, sedangkan hubungan mereka saat ini cuma sebatas rekan bisnis.
"Ting..." bunyi notip pesan di hanphonenya Malika membuatnya tidak bisa berlama-lama bersama mereka. "Maaf ya... Saya ada urusan penting, jadi harus meninggalkan kalian."
"Oke. Tidak masalah." jawab Zaden ramah.
"Kalau begitu saya permisi dulu." pamitnya pada semua rekan bisnisnya.
"Kak Al Al... Meira boleh nggak pake baju kayak gitu?"
"Hahh...?"
"Uhuuk..."
"Hahaa..."
Mereka bertiga tidak bisa membayangkan kalau Meira yang polosnya melebihi anak SD zaman now mengenakan pakaian dewasa nan elegan seperti itu. Terutama Alando, dia memang ingin melihat Meira berpakaian terbuka dan sensual bahkan kalau perlu tanpa menggunakan pakaian sehelai benang pun tapi itu cuma di depannya dan dalam kamar mereka berdua tidak untuk dipamerkan pada banyak orang. Lagi pula istri manisnya itu lebih cantik tampil sederhana seperti saat ini.
"Nggak boleh! Aku lebih suka mengurungmu di kamar dari pada kamu memakai pakaian seperti itu." tegasnya, peringatan dari Alando tidak bisa diganggu gugat. Kalau dia bilang A berarti A.
"Alando tidak akan suka melihat kamu berpakaian seperti itu Meira, hahaa...." tambah Zaden, sedari SMA sahabatnya itu memang tampak ilfeel pada cewek berbusana kurang bahan apalagi ditambah dandanan full rainbow cake.
"Oh... Meira tidak akan memakainya kalau gitu."
"Lagi pula kalau Meira memakai pakaian seperti itu bisa-bisa tanda Merah cap Alando akan terlihat jelas nanti hahaaa..." goda Kenny makin menjadi. Kapan lagi bisa menggoda Alando sepuasnya, pikir Kenny.
"Otak loe memang perlu dicuci." kesal Alando, bahkan makanan yang tampak terlihat enak di piring atas mejanya kini terlihat tidak enak.
"Tanda merah cap kak Al Al?" tanya Meira bingung dengan pendengarannya.
"Meira habiskan makananmu."
"Iya, kiss mark." jawab kenny dengan bahasa yang sudah dia kenal.
"Oh ini, kata kak Al Al ini gigitan semut." Meira menunjuk merah-merah yang ada di lehernya yang dia tutupi dengan rambut panjangnya dan nyatanya masih terlihat jelas di pandangan Kenny manusia pervert.
"Hahaaa... Hahaa..." Kenny dan Zaden tidak bisa untuk tidak tertawa kali ini. Sungguh Meira mudah sekali dibodoh-bodohi oleh suaminya itu.
"Jangan-jangan kalian belum belah duren lagi." melihat dari gelagat Meira yang tampak tidak mengerti apa-apa Kenny dapat menyimpulkannya dari sana. Maklumlah selain pervert Kenny juga manusia paling kepo untuk urusan sahabat-sahabatnya.
"Diam loe."
"Meira nggak suka duren."
"Hahaa..."
Vote, like dan koment yaa..