
Yang puasa dan nggak suka bab ini di skip aja
Seharian ini Alando sudah menuruti keinginan Meira yang ingin berjalan-jalan di sekitaran hotel. Bahkan menikmati fasilitas yang disediakan oleh pihak mereka. Setelah kepergian sahabatnya, Meira bahkan tidak mau balik ke kamar dan justru menikmati pemandangan kolam renang dan duduk santai di lobi hotel.
Dan setelah puas barulah Meira mau kembali ke kamar, entah karena terlalu lelah dengan mudahnya dia malah tidur lelap tanpa memikirkan suaminya yang lagi frustasi menginginkan istrinya.
***
"Kak Al Al... Meira punya video." tiba-tiba Meira menghampiri Alando yang lagi berkutat dengan komputernya di atas ranjang mereka. Meira tampak segar setelah mandi dengan baju tidurnya yang hampir sama dengan kemarin malam hanya kali ini berbeda warna, warnanya tampak lebih menyala sama seperti jiwanya yang lagi menyala seperti api.
Meski Alando lagi cuti kerja tapi beberapa pekerjaan yang masih bisa dia kerjakan dari jauh tetap dia kerjakan setiap ada waktu luang.
"Video apa?" tanggapnya dan segera mematikan laptopnya dan menaruh di atas nakas samping tempat tidurnya. Dia tau saat seperti ini lah Meira akan membutuhkan perhatiannya begitu pun sebaliknya. Alando berencana malam ini juga dia akan menjadikan istrinya yang lugu ini seutuhnya bisa menjadi miliknya.
"Film romantis. Tadi kak Ken Ken kasih Meira video ini tapi Meira baru boleh melihatnya saat malam bersama kak Al Al, kalau enggak nanti Meira bisa kepanasan." tutur Meira seperti penjelasan Kenny.
"Sini...!" cepat Alando mengambil hanphone Meira. "Kapan dia memberikan video ini?" tanya Alando dan membuka videonya dengan sedikit menjauhkan dari pandangan Meira. Dia tau sifat kenny yang memang usil itu.
"Waktu kak Al Al ke toilet terus kak Zad Zad menyapa seseorang yang dia kenal." cerita Meira dengan muka serta mata yang juga ingin mengintip video yang dilihat kak Al Al nya. Tapi Alando justru terus menjauhkan Meira dari video tersebut.
"Kak Al Al Meira juga mau lihat." Meira semakin mendekat ke arah suaminya tersebut, tanpa jarak dengan muka yang sangat penasaran akan apa yang ada di dalam video tersebut.
"Nggak boleh, ini terlalu mengerikan. Nanti kamu bisa muntah." ujar Alando dan segera menghapus video tersebut, cukup dia yang melihatnya dan mempraktekan langsung pada istri manisnya tersebut, walau pun dia tidak akan melakukan hal seekstrim di video itu, mengingat Meira yang masih sangat polos.
"Kalau begitu Meira nggak mau lihat, takut." ngerinya, dengan mengedikkan bahunya.
"Kita langsung praktek saja." tariknya tubuh mungil Meira ke atas pangkuannya, memeluk dan mengurung dalam dekapannya agar istrinya itu tidak bisa berontak.
"Cupp...Cupp..." dikecupnya bibir Meira perlahan dan lembut dengan intens yang lama-kelamaan menjadi lumata*-lumata* panjang dan rakus, dia tidak bisa mengontrol dirinya lagi untuk memiliki Meira. Hanya saja Meira memang perlu bernafas mau tidak mau dia harus melepaskan nikmatnya itu.
Meira akhirnya bisa menghirup udara lagi dengan dada yang naik turun mengambil oksigen serta wajah yang memerah dan bibir yang membengkak, namun di mata Alando Meira justru tampak lebih menggoda.
"Kak Al Al kok gitu?" malu, itu yang dirasakan Meira.
Namun protesan dari Meira sama sekali tidak digubris Alando, dia akan terus melanjutkannya.
Perlahan Alando membaringkan tubuh Meira dan menimpanya, kembali mengecup bibir sekaligus seluruh permukaan wajah Meira bertubi-tubi, dia memuja istrinya dengan segala kesempurnaan yang cuma bisa dilihat Alando.
"Kak Al Al..."
"Aku sangat menginginkanmu Meira."
Setiap sudut leher putih Meira kini jadi sasaran bibirnya, menelusuri setiap centinya dengan meninggalkan banyak jejak serta basah dari salivanya sendiri.
"Ahhhh..." desa* dari mulut Meira menandakan kini dia pun terbuai oleh perbuatan suaminya.
"Kreek..." suara sobek kini terdengar di kamar itu, beberapa jahitan nampak telah terbuka akibat ulah Alando, untungnya Meira tidak terlalu menyadarinya sebab kini gadis itu terhanyut oleh kenikmatan dari bibir serta tangan dari suaminya yang terus meraba setiap inci dirinya. Wajar ini adalah pengalaman pertama yang dia dapat dari seorang yang sah menjadi suaminya, begitu pun sebaliknya dengan Alando.
Gaun tidur yang tidak terlihat indah itu lagi, kini telah meluncur jatuh dan terbuang entah kemana, Alando tidak peduli dengan itu sekarang pemandangan di depannya lah yang nampak indah di matanya. Dengan Meira yang setengah telanja** hanya ada kain yang menutupi dada padatnya serta kain yang menutupi bagian bawahnya mau tidak mau membuat Alando meneguk ludahnya berkali kali serta ada sesuatu yang harus dia kendalikan yang ingin berontak dari tadi.
Tangan Alando kini perlahan menenggelamkan dirinya pada dada kenyal istrinya, memijat lembut pada gumpalan besar yang masih terbungkus rapi itu, hingga tangannya menghampiri punggung Meira dan menyusup di baliknya dan "Klik..." kaitan penutup itu akhirnya terlepas dan nampaklah dua bulatan indah yang hanya dia lah yang boleh menikmatinya, dengan bibir yang kini berada di atas bukit tersebut perlahan memasukkannya, kini mulutnya penuh akan benda bulat tersebut dan sesekali giginya pun akan memberikan gigitan kecil yang nikmat pada Meira.
"Ahh... Kak Al Al" gumamnya, setengah sadar. Ingin menjauhkan Alando darinya tapi dia tidak mampu, rasa yang belum pernah dia terima selama hidupnya dan ini pertama kalinya. Ada nikmat bercampur malu sekaligus takut namun tidak ada niatan untuk menolak Kak Al Al nya.
"Ssttts... tenanglah." Alando tau mungkin istrinya sedikit takut namun untunglah kali ini Meira tidak menolaknya.
Puas dengan dua benda bulat tersebut, Alando pun ingin merasakan sensasi lainnya, menyusuri kulit lembut Meira perlahan dengan mulut serta tangan yang ikut meraba setiap lekuk siluet istrinya dan berhenti pada permukaan perut ramping Meira, memberikan kecupan-kecupan kecil hingga menimbulkan gelenyar-gelenyar gelombang kecil pada diri mereka masing-masing.
Meira tak mampu untuk menolak bahkan sekedar membuka matanya pun sulit, dia biarkan Alando yang mengendalikan dirinya kini. Membimbing dirinya yang buta akan hubungan antara suami dan istri.
Pertahanannya cukup sampai di sini, dengan tergesa-gesa Alando membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya saat ini, sebelum Meira mengeluarkan teriakan yang memekakkan telinganya karena kaget melihat dirinya yang tanpa sehelai benang pun, secepat itu juga Alando membungkam mulut Meira dengan bibirnya sendiri. Membuat gadisnya itu kembali terbuai bahkan kini tangannya pun dikaitkannya pada leher suaminya itu dan tanpa Meira sadari satu-satunya benda penutup yang tersisa di tubuhnya kini terlepas bebas dan tergeletak di lantai yang dingin.
"Meira..." Alando merasa istrinya sudah cukup siap dan basah untuk menerimanya hingga bisa mengurangi rasa sakit yang sebentar lagi akan diterimanya, perlahan namun pasti kini benda yang dimiliki suaminya itu mulai memasuki diri Meira. Sedikit kesulitan apalagi Meira yang berusaha berontak karena kesakitan namun akhirnya, "Jleb." usahanya tidak sia-sia.
"Hiks... hiks..., kak Al Al, Meira sakit."
"Maaf sayang." panggilan itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya, mungkin sisi romantisnya baru akan muncul pada saat-saat nikmat dunia yang kini dia rasakan.
"Cupp... cupp..." kecupan dia berikan di keningnya, Alando berusaha menenangkan Meira dan membuatnya rilex sebelum kembali menggerakan tubuhnya perlahan.
Gerakan yang tadi pelan kini semakin cepat hingga keduanya saling menikmati satu sama lain, sayangnya Alando masih menginginkan istrinya itu hingga beberapa kali dia menyemburkan lahar panasnya ke dalam diri Meira dan semburan ketiga yang memberi kenikmatan itu mengakhiri kegiatan malam panjang mereka.
Ini pertama untuk Meira begitu pun dirinya meski dia masih menginginkan istrinya, tapi Alando sadar istrinya memerlukan istirahat dan memulihkan dirinya, istrinya kini tertidur lelap namun lelah di wajahnya masih terlihat jelas. Dengan telaten Alando membersihkan tubuh istrinya dengan tisu basah agar tidurnya lebih nyaman sehingga besok pagi dia bisa kembali mengerjai istri lugunya itu.
***
"Tringg..." bunyi alarm terus berbunyi namun Alando bahkan Meira belum bisa membuka matanya. Tangannya terus menggapai handphonenya dan mematikan alarm jamnya. Pukul 06.00 pagi, mereka terlambat bangun, seharusnya mereka sudah bangun subuh tadi.
"Meira..." panggil Alando, sebelum pagi menjelang. "Heii... bangun Meira." dikecupnya bibir Meira beberapa kali untuk membangunkannya.
"Meira ngantuk, Meira cape." keluhnya dan merapat di pelukan Alando.
Mungkin Meira tidak sadar saat ini dirinya maupun Alando tengah tanpa busana hanya selimut tebal yang menyelimuti diri mereka. Dan itu tentu saja membuat Alando menginginkan istrinya kembali dengan bujukan dan rayuan serta dominasi Alando terjadilah ronde-ronde selanjutnya yang sama nikmatnya seperti tadi malam.
Vote, like dan koment yaa..
Yang puasa, yang tidak suka dengan bab ini cukup di skip😁