
Dengan perasaan yang sakit dan air mata yang tak mau berhenti keluar karena bentakan kak Al Al nya Meira terus berlari dari tempat itu, dia bahkan tidak sadar sudah berlari sangat jauh. Meira cuma ingin melupakan kemarahan kak Al Al nya saat ini makanya dia bertahan duduk di pinggir sungai kecil tanpa mengingat sekarang dia berada di sebuah hutan. Meira merenungkan semua kesalahannya saat ini, apa yang sudah dilakukannya tadi memang jahat.
Entah di mana Meira sekarang berada dia tidak mengingat jalan pulang lagi. Semua tampak sama pohon pinus mengelilinginya. Padahal hari sudah sore dan sebentar lagi hari semakin gelap dan sayangnya dia baru tersadar.
"Meira di mana..?" tanyanya pada diri sendiri, Meira memutar tubuhnya dan kepalanya menatap kesekelilingnya, tersadar dia berada di dalam hutan yang jauh dari tenda mereka. Meira kebingungan harus kemana, dia tidak tahu jalan pulang.
"Kak Al Al...? Meira takut!"
"Mimi, Sansan, Mimit... tolongin Meira."
"Kak Zad Zad di mana?" Meira berjalan terus mengelilingi tempat itu mengingat-ingat jalan yang dia lewati tadi tapi sulit, ingatannya sangat buruk lagi pula semua tampak sama.
"Kak Al Al Meira janji nggak akan jahat lagi, tolongin Meira." Meira terus berteriak memanggil kak Alando dan teman-temannya sambil terus berjalan menyusuri hutan. Namun sayang tidak ada jawaban sama sekali, dia sekarang sendirian di hutan yang sebentar lagi akan gelap.
"Hikss... Hikss... Meira takut."
* * *
Alando masih terpaku atas apa yang sudah dia lakukan pada Meira, dia membentaknya dan membuat Meira ketakutan.
"Gue akan mencari Meira!" ucap Zaden tanpa menunggu jawaban dari Alando atau pun teman-temannya yang lain, Zaden bergegas menyusul Meira.
Zaden sangat khawatir dengan keadaan Meira, dia pasti sangat sedih dan takut melihat kemarahan Alando, pikirnya. Buat Zaden dan teman-temannya melihat amarah Alando yang meluap adalah hal biasa, mereka paling akan mendiamkannya selama beberapa jam sampai amarah Alando stabil tapi buat Meira mungkin itu membuatnya sangat syok.
Perkataan Zaden menyadarkan Alando dari perasaan bersalahnya. Dia melupakan Meira yang pergi menjauh darinya, dan entah Meira pergi kemana.
"Dasar gadis gila." maki Karina yang masih kesal dengan gadis aneh yang sudah menaburi kepala dan wajahnya dengan garam sambil membersihkan muka dan rambutnya yang memang penuh garam dapur.
"Apa loe bilang?" marah Alando, dia tidak terima ada orang yang menghina gadis yang sangat dia cintai itu meski sampai saat ini dia belum menyatakannya secara langsung.
Alando ingin memukulnya saat ini, namun dia sadar yang di hadapannya sekarang adalah seorang perempuan dan pantang baginya untuk melakukannya. Seharusnya Karina sejak awal tidak ada di hadapannya, sehingga kejadian hari ini tidak perlu ada dan Alando juga tidak harus kelepasan sampai membentak Meira meski kesalahan tidak sepenuhnya ada pada Karina tetap saja dia merasa kesal.
"Gue..."
"Jangan pernah sekali pun berani menghina Meira, karena kalau tidak gue sendiri yang akan membuat loe menyesali atas ucapan loe itu!" ancam Alando dengan penuh tekanan serta mata tajam penuh amarah yang di tujukannya pada Karina.
"Dan setelah ini gue tidak mau melihat keberadaan loe lagi di sini, ingat itu!" tegas Alando, dia tidak mau berurusan dengan seseorang yang sudah membuatnya membentak Meira. Setelah puas mengatakan kemarahannya Alando pun juga ikut menyusul Zaden yang sudah beberapa menit yang lalu pergi menyusul Meira. Sementara Karina yang merasa terusir mau tidak mau dia pun harus pergi secepatnya dari sana tentunya dengan perasaan marah bercampur terhina.
"Sayang maafin aku, aku tidak tahu kejadiannya akan seperti ini?" ucap Adelia pelan setelah dia menghampiri Kenny yang juga bingung dengan kejadian barusan.
Adelia tidak menyangka akan seperti ini, dia kira Alando akan membela Meira tapi nyatanya dia sangat marah.
"Maksud loe apa sih Del, gue nggak ngerti?" Kenny bingung dengan ucapan Adelia, dia tidak mengerti duduk masalahnya apa tiba-tiba Adelia malah minta maaf.
"I... Itu aku... aku yang menyuruh Meira menaburi garam ke rambut karina habisnya aku kesal sama Karina-Karina itu." Aku Adelia, meski takut Kenny akan marah padanya tapi dia juga harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perintahkan pada Meira.
"Apa...! apa tujuanmu sih melakukan itu?" kesal Kenny, ternyata pacarnya sendiri yang membuat masalah, membuat semua rencana mereka gagal. Bukan seperti ini hasil akhir yang diharapkannya bahkan semua temannya yang ikut membuat supaya rencana ini berhasil.
"Yaa... aku kesal sama cewek genit itu yang tiba-tiba datang mengganggu hubungan mereka, jadinya aku menyuruh Meira mengusirnya dengan garam, karena aku bilang dia itu setan genit." tidak semuanya salah, tapi juga ada yang kurang dari alasannya tersebut. Adelia memang tidak suka dengan Karina yang berusaha menggoda cowok orang, tapi selain itu dia juga tidak suka Karina dan teman-temannya itu mencoba menarik perhatian pacarnya, ya bisa dikatakan dia cemburu.
"Hahh... seharusnya loe tahu Meira itu terlalu lugu, mudah untuk dibohongi."
"Maaf, aku nggak tahu." sahut Adelia menyesal.
"Dari pada kalian terus berdebat tidak jelas di sini lebih baik kita ikut mencari Meira sekarang." Steven memberi usul, karena dia juga merasa khawatir sudah beberapa menit berlalu namun Zaden belum juga datang membawa Meira.
"Tidak semuanya, harus ada yang berjaga di sini!" perintah Steven.
"Kalau begitu biar Ami yang ikut, kami berdua yang akan menjaga tenda." karena diantara mereka bertiga Ami lah yang paling dekat sama Meira, mereka sudah bersahabat sejak SMA, meski khawatir mereka juga nggak bisa egois.
"Ya sudah. Ayo pergi!" ajak Christ.
***
Zaden terus mencari keberadaan Meira menyusuri setiap tempat yang mungkin telah dilewatinya. Seharusnya saat Meira pergi tadi dia langsung mengikutinya bukan malah berdiam diri terpaku pada apa yang dia lihat, buat Zaden apa pun yang dilakukan Meira pasti bukan secara sengaja, gadis itu sangat lugu bahkan pemikirannya masih seperti anak kecil mana bisa dia berbuat jahat secara terencana pastilah ada seseorang yang mendorongnya untuk melakukan itu. Sudah setengah jam dia mencari namun keberadaan Meira belum terlihat sama sekali padahal hari sudah mau gelap.
"MEIRA...!" teriak Zaden sepanjang jalan, bahkan sekarang dia sudah berada di air terjun yang sering Meira dan teman-temannya datangi. Namun nihil keberadaan Meira tetap tidak ditemukan bahkan sedikit petunjuk seperti di film-film pun semisal gelang atau jepit rambut yang jatuh tidak terlihat sama sekali. Seharusnya Alando memberikan pelacak pada gadis itu biar dalam keadaan seperti ini mudah untuk ditemukan. Lagi pula tidak sulit untuk Alando membuatnya karena sekarang perusahaan rintisan mereka juga lagi mengembangkan teknologi itu. Alando kadang-kadang memang bodoh dalam urusan seperti ini.
"Zaden... Bagaimana?" Alando kini berada di belakang Zaden, setelah dia juga berkeliling meneriakan nama Meira namun sayang tidak ada jawaban sama sekali.
"Nihil, gue sudah cari kemana-mana namun gue belum juga melihat keberadaanya!" jawabnya.
"Hei... kalian di sini rupanya, mana Meira...?" tanya Christ yang baru menyusul mereka dan diikuti Kenny, Adelia dan Sany, namun keberadaan Meira tidak terlihat diantara mereka berdua. Zaden cuma menggelengkan kepalanya, dia juga masih bingung harus apa. Bagaimana kalau Meira sampai tidak di temukan, bagaimana dia harus mempertanggung jawabkan pada keluarganya, bagaimana keadaan Meira saat ini.
"Kita sebaiknya pulang dulu!" ajak Zaden pada Alando dan keempat temannya, dia sangat tahu bagaimana perasaan sahabatnya itu saat ini, dia pasti kacau.
"Tidak, gue tetap akan mencari Meira. Pasti saat ini dia sangat ketakutan." jawabnya kalut.
"Hei, dengarkan gue. Sekarang sudah hampir gelap tidak mungkin kita terus mencari dengan tangan kosong, begini saja loe tetap di sini biar gue ambil sentar terlebih dahulu." usul Zaden dan diiyakan teman-temannya. Alando tidak mengiyakan atau pun menolak usul Zaden, dia hanya terus berdiam diri, hanya memikirkan bagaimana keadaan Meira saat ini apakah dia baik-baik saja. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Meira maka dia akan menyesal seumur hidupnya.
"Lan gue minta maaf atas nama Adelia, dia tidak bermaksud jahat. Adelia hanya tidak mengenal sifat Meira seperti apa." Kenny merasa ikut bertanggung jawab atas perginya Meira, walau bagaimana pun pacarnya ikut andil menyebabkan kemarahan Alando.
"Maksud loe apa?" tanya Alando tidak mengerti kenapa tiba-tiba Kenny meminta maaf atas nama Adelia. Apa masalahnya dengan kejadian tadi.
"Maaf, ituu... gue yang menyuruh Meira yang menaburkan garam ke kepala Karina." jawabnya gemetar, Adelia memejamkan matanya karena takut akan menerima kemarahan Alando.
"Kenapa loe lakuin itu?" tanya Alando dingin. Dia kesal tapi dia juga tau kesalahan ada pada dirinya, Alando bukan orang yang akan melemparkan kesalahannya pada orang lain dia hanya ingin tahu alasan Adelia melakukannya. Lagi pula dengan marah-marah di sini Meira tidak akan ketemu.
"Karena gue nggak mau loe tergoda sama Karina dan meninggalkan Meira nantinya, walau bagaimanapun Meira sudah jadi teman gue selama di sini!" jawab Adelia seadanya, meski tidak seratus persen alasannya itu benar.
"Pergilah, semakin cepat kita mencari Meira maka semakin cepat Meira ketemu!" tegas Alando, dia tidak mau memperpanjang masalah ini. Meira masih di luar sana menunggunya ketakutan, pikirnya. Meira itu penakut, apalagi dengan keadaan gelap dan di hutan seperti ini bahkan Alando yakin Christ saja yang seorang laki-laki pasti akan ketakutan apalagi seorang Meira.
"Baiklah, kita pergi ke tenda dulu mencari peralatan sekalian mencari bantuan di sana. Loe tunggu di sini, secepatnya kami akan kembali." kata Zaden menenangkan Alando.
"Hemm..."
"Ya sudah kami pergi dulu." Zaden beranjak dari sana dan diikuti teman-temannya yang lain, namun Ami menghentikan langkahnya dan kembali menghadap Alando.
"Kak Alando, tolong jangan pernah menyakiti Meira seperti tadi lagi. Meira sudah banyak mengalami hal buruk selama ini." Ami berusaha berani mengatakan apa yang ingin dia katakan dari tadi namun belum ada kesempatan dan dia pikir inilah waktunya.
"Gue ngerti." jawab Alando lesu.
"Mengenai cowok yang mengaku sebagai pacar Meira waktu itu. Dia bukanlah pacar Meira, dia hanya teman kami sewaktu SMA dulu. Kak Reno memang pernah mengatakan perasaan pada Meira waktu masih SMA dulu namun meira menolaknya karena dia hanya menganggap Kak Reno sebagai teman tidak lebih. Meira sangat menyukai kak Alando bahkan dia selalu menceritakan tentang kakak kepada kami setiap waktu jadi tolong jangan sakiti dia. Itu saja yang ingin aku katakan dan aku harap kak Alando bisa menemukan Meira secepatnya." setelah puas mengatakan semua uneg-unegnya Ami bergegas menyusul Zaden dan yang lainnya.
"Maafkan aku Meira..." Alando merasa kecewa pada dirinya sendiri karena sudah menyakiti gadis yang sangat berarti baginya dan tanpa mendengarkan perintah Zaden untuk menunggunya, Alando memilih mencarinya sendiri walau hanya dengan menggunakan nyala sentar hanphonenya saja. Untungnya handphonenya selalu berada di saku jaketnya.
Vote. like dan koment ya..