
Sekarang Alando dan Meira menikmati makan mereka, ayam kfc kesukaan Meira. Makanya Alando memilih tempat ini. Tapi Alando khawatir juga sama adik Meira dan teman-temannya, mereka juga ikut makan atau tidak. Ya sudahlah positif thinking aja, nggak mungkinlah mereka nggak bawa uang ke sini.
"Kak Al Al besok masih latihan basket nggak?" tanya Meira, dia ingat kata kak Zad Zad mereka cuma latihan sekitar dua mingguan lebih lah. Berarti sudah selesai dong sekarang.
"Enggak, kenapa?" tatapnya pada Meira. Akhir-akhir ini memandang Meira adalah hal paling menyenangkan buatnya. Meski jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.
"Berarti Meira nggak bisa lihatin kak Al Al latihan lagi dong?" sedih Meira, padahal moment paling dia suka saat berada di ruang basket adalah memberi semangat pada kak Al Alnya.
"Memang apa bedanya aku yang saat ini dan aku saat latihan?" tanya Alando penasaran sambil memakan-makanannya pelan dengan sabar menunggu jawaban Meira yang masih berpikir.
"Apa ya? Meira suka saat kak Al Al bermain basket tapi Meira juga suka lihat kak Al Al saat ini. Ehmm... Meira nggak tahu, Meira suka keduanya." Meira memang sulit menerjemahkannya dalam kata-kata tapi dia mengerti apa yang dia lihat dan apa yang dia rasakan dan pikirkan. Namun untuk mengolah menjadi kata-kata Meira bingung untuk merangkainya.
"Yang penting kamu tetap bisa melihatku kan?"
"Hehee... Iya. Meira tetap bisa lihat kak Al Al dan kak Al Al tetap antar Meira kan?" tanya Meira dengan senyumnya sambil meminum air mineralnya.
"Iya. Aku akan tetap mengantar kamu pulang kuliah setiap hari." ucap Alando dan mengusap bibir Meira yang sedikit belepotan minyak dengan tisu.
"Janji, biarpun Meira bikin kesal kak Al Al, biarpun Meira bikin salah, biarpun Meira aneh. Kak Al Al jangan tinggalin Meira ya?" Meira memberikan jari kelingkingnya seperti yang sering dilihatnya di film-film.
"Janji kelingking, ayoo..." minta Meira karena Alando sama sekali tidak mau ikut melakukannya.
"Huuhh..." Alando menarik napas pelan. ya sudahlah! meski kekanak-kanakan tidak apa-apa demi Meira. Lagi pula dia tidak akan berhenti kalau tidak dituruti.
"Janji." ucap Alando yakin, dan mengaitkan jari kelingking mereka.
"Kalau nanti kak Al Al tinggalin Meira, Meira bisa nangis." tambah Meira, dia takut hari ini akan menghilang begitu saja, entahlah perasaan Meira tidak nyaman.
"Kalau begitu, aku tidak akan tinggalin kamu." janji Alando, dia tidak akan membuat Meira menangis. Usapnya pada rambut Meira yang hitam dan lembut.
"Iya, nggak boleh." Meira menganggukkan kepalanya senang.
"Besok lusa tim basket kita akan bertanding dengan kampus lain, jadi kamu harus lihat kami bermain!" beritahunya, agar Meira bisa meluangkan waktunya untuk memberi dia semangat seperti saat mereka masih latihan.
"Iya, Meira akan melihat pertandingan besok lusa bersama Mimi, Sansan juga Mimit." semangat Meira.
"Meira akan memberi semangat buat kak Al Al, kak Zad Zad, oh iya kak Stip tip juga, kalau kak Ken ken dan kak Kris Kris biar di semangatin yang lain aja." sambil membayangkan apa yang akan Meira lakukan untuk memberi semangat mereka.
"Ya sudah, habiskan makanmu setelah itu kita pulang." suruh Alando, karena Meira makannya sangat lamban. Sedang dia sendiri sudah habis dari tadi. Tapi dia suka melihat Meira makan, ini moment di mana dia bisa terus menatap Meira tanpa ketahuan.
* * *
"Enak aja main asal tuduh, kami bukan mengintip tapi mengawasi kakak gue. Tuh lihat...!" tunjuk Rado pada kakaknya yang sedang makan dengan Ale Ale. Mau tidak mau orang itu juga ikut menolehkan kepalanya ke arah yang di tunjuk Rado.
"Wah mereka berkencan." takjubnya melihat kedekatan Alando dan Meira.
Sedangkan Rado dan kedua temannya saling memberi kode. Seperti yang biasa mereka lakukan, memanfaatkan apa yang bisa di manfaatkan dan orang di depan mereka sekarang adalah seseorang yang paling potensial untuk dimanfaatkan. Dilihat dari penampilannya saja mereka tahu, dia adalah salah satu kaum pemilik surga dunia.
"Om, lebih baik kita duduk di meja sana biar lebih leluasa mengawasi mereka." tarik Zaki ke arah tempat duduk yang tidak jauh dari mereka.
"Enak aja manggil gue om, gue bukan om loe!" tolaknya tidak suka dipanggil om, memangnya dia setua itu apa?
"Lah tadi om manggil kami apa?" tanya Rado.
"Bocah!" jawabnya.
"Ya sudah berarti bukan salah kami dong kalau kami memanggil om." balas mereka.
"Ahh pokoknya nggak bisa, panggil gue Kak Kenny!" suruh Kenny pada bocah-bocah badung di depannya ini.
Mereka bertiga saling pandang tampak seolah-olah mereka sedang melakukan telepati, dan hanya mereka yang tahu artinya.
"Siap kak Kenny." panggil mereka bertiga bersamaan, yang penting mereka bisa makan gratis, itu yang ada di dalam pikiran mereka.
"Hubungannya sama gue apa?" ketus Kenny.
"Kak Kenny nggak kasihan gitu sama kami?" tanya Dito memelas. Jangan heran sejak SMP urat malu mereka sudah putus.
"Kami belum makan kak, selama 3 jam." tambah Zaki dengan tampang sedih dibuat buat.
"Hahh... Untung gue dermawan." Kenny mengambil lima lembar uang ratusan ribu di dalam dompetnya. "Nih, cukup kan?" di serahkannya uang tersebut pada mereka yang kegirangan.
"Ini lebih dari cukup kak, kami pesan makanan dulu." seperti kilat mereka langsung menghilang, tidak berapa lama makanan sudah tersusun di atas meja.
"Mending kita makan kak sekarang baru lanjut awasin mereka." ajak Dito semangat dengan banyak makanan tersaji di depannya.
"Sayang kok kamu di sini sih? Kan aku bilang tungguin aku di depan toko." tiba-tiba seorang gadis cantik menghampiri meja mereka yang membuat dua bocah yang masih SMA yang juga duduk di situ terpesona kecuali Rado, cewek kayak gini bukan tipenya.
"Terus mereka siapa?" tanya gadis itu lagi menunjuk tiga orang di sebelah Kenny.
"Kenalin kak gue Dito cowok paling tampan se SMA Jaya Bhakti." bohongnya.
"Gue Zaki, anak Sultan paling terkenal di komplek gue." bangganya pada sang bapak.
"Kami ini adik-adik kak Kenny." aku mereka, sambil menyalami perempuan cantik itu. Kenny hendak protes namun Zaki sudah memasukan makanan ke dalam mulut Kenny hingga dia tidak mampu bicara lagi.
"Oh. Aku baru tahu kalau Kenny punya adik lucu seperti kalian. Kenalin aku Tissa pacar kakak kalian." sahut gadis itu ramah.
"Tapi kok nggak mirip ya?" gadis itu memperhatikan keduanya, masalahnya Kenny itu campuran bule dan mereka berdua Indonesia asli.
"Adik dari Hongkong? jelaslah nggak mirip." protes Kenny yang baru menghabiskan makanan di mulutnya.
"Sudah kak Kenny makan aja lagi." suruh mereka berdua. Kesal sih sama nih dua bocah, tapi ya sudahlah biar saja mereka mengurus nih cewek, lagi pula Kenny sudah cape menemani nih cewek shopping, keliling beli ini beli itu apa pun yang dia rasa sukai.
"Ken, ayo kita pulang, aku sudah selesai belanja kok." ucap gadis itu manja, dengan tas belanjaan yang penuh di tangannya hasil pemberian Kenny yang tak peduli sudah berapa banyak dia menghabiskan uangnya.
"Loe duluan deh, gue masih mau di sini. Pesan taxi online aja." suruh Kenny malas. Dia cape keliling mall hanya untuk mencari gaun dan tas yang sangat diinginkannya.
"Oh ya udah deh. aku pulang duluan ya? dah adik-adik."
"Dah kakak cantik." ucap mereka berdua dengan mata yang tak berkedip memandang gadis itu yang semakin menjauh.
"Dasar bocah zaman now." Kenny cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka yang absurd dan konyol.
"Kayak nggak pernah lihat cewek aja loe pada!" sindir Rado, kesal lihat tingkah buaya jelalatan teman-temannya.
"Lihat cewek mah sering tapi yang waw kayak gitu moment langka yang nggak boleh di lewatkan." sahut mereka.
"Kak Kenny angkat kami jadi muridmu!" mohon mereka berdua, layaknya sebuah perguruan silat. Membuat Rado menyumpahi mereka berdua.
"Oke. Panggil gue boss!" Kenny dengan bangga mengangkat dua orang di depannya menjadi muridnya atau mungkin lebih tepat anak buahnya.
"Baik boss" ucap mereka lantang. Teman-temannya sudah pada gak waras kayaknya pikir Rado, dan kembali fokus ke arah Meira dan Alando.
"Duh kakak gue sudah mau pergi, ayo cabut." perintah Rado pada teman-temannya, dan bergegas berdiri dari kursi untungnya mereka sudah selesai makan.
"Kak Kenny terima kasih sudah bayarin makan kami, lain kali kak Kenny harus traktir kami lagi!" ucap Rado tak tahu malu dan langsung menyusul kakaknya di belakang layaknya ninja sasuke.
"Boss kami pergi dulu, sampai jumpa lagi dan jangan lupakan kami boss." ucap mereka berdua dan ikut menyusul Rado.
"Ckkck... Mimpi apa gue semalam? kok bisa ketemu tiga bocah edan gitu." tak habis pikir kok bisa Meira punya adik kayak Rado plus dua temannya yang juga sengklek. Kenny cuma bisa geleng-geleng kepala.
Vote, like dan koment ya...