Meira

Meira
BAB. 61



Sudah dua belas hari berlalu setelah pesta yang diberikan sahabat-sahabat Alando untuk mereka berdua, Alando dan Meira. Tinggal tiga hari lagi menuju hari pernikahan mereka, dan saat ini Meira maupun Alando masih menikmati masa-masa pingitan. Meira bahkan sudah tidak melihat Kak Al Al nya secara nyata selama satu minggu ini, mereka cuma berhubungan dan bertatap muka lewat pesan-pesan dan video call. Apalagi orang tua Meira merupakan orang tua yang masih sangat memegang tradisi. Bahkan hanya sekedar keluar rumah pun Meira tidak diberi izin oleh orang tuanya, beruntung masa pingit yang di jalani mereka tidak sampai dua bulan atau satu bulan seperti zaman dulu, orang-orang zaman sekarang mungkin lebih praktis apalagi mengingat Meira dan Alando yang kemarin masih mengikuti kuliah dan saat ini libur akhir semester pun baru dimulai.


Untuk sementara ini mau tidak mau Alando harus tinggal di rumah Papanya, dengan banyak pertimbangan serta paksaan dari Papa dan Omnya akhirnya Alando mengikuti kemauan mereka. Tentu saja untuk kelancaran prosesi pernikahan yang tinggal menghitung hari. Ada banyak pelayan dan orang-orang kepercayaan papanya yang bisa membantu dan disuruh-suruh untuk mengurus keperluan akad nikah mereka.


Tante dan Om Alando bahkan sering bolak-balik pergi ke rumah keluarga Meira untuk membicarakan acaranya nanti, karena sesuai kesepakatan akad memang akan di laksanakan di rumah keluarga Meira, meski rumahnya sederhana dan kecil tapi tidak terlalu masalah karena pernikahannya pun di gelar secara sederhana dan hanya akan dihadiri keluarga inti serta sahabat antara dua belah pihak apalagi dengan kondisi papa Alando yang semakin memburuk tiap harinya dan tidak memungkinkan untuk menggelar acara yang besar karena tentu akan membutuhkan waktu yang lama untuk persiapannya.


"Ting..."


"Ting..."


Dua buah notip muncul dari handphone Meira, dengan malas tangannya menggapai benda tersebut, di atas meja samping tempat tidurnya. Seminggu ini Meira memang menjadi sangat pemalas untuk melakukan apapun, alasannya tidak ada kak Al Al nya yang bisa dia lihat dan menjadi penyemangat harinya, padahal hampir setiap hari mereka masih video call'an namun katanya itu belum cukup.


Kak Al Al : buka jendela kamarmu.


Kak Al Al : Meira, aku di depan jendelamu.


Pesan dari kak Al Al nya yang masuk di hanphonenya membuat Meira kebingungan.


"Tok... tok..." seketika Meira menoleh ke jendelanya yang diketok tersebut. "Kak Al Al..." Meira langsung bergegas turun dari ranjangnya dan membuka jendela tersebut dan tampaklah sosok laki-laki yang sangat dia rindukan semingguan ini, meski wajahnya terlihat tidak jelas karena di luar jendelanya gelap apalagi kak Al Al nya menggunakan tutup kepala hoodie yang dia pakai meski begitu Meira tau itu adalah calon suaminya yang juga sangat merindukannya.


"Kak Al Al...!" sapa Meira dengan perasaan yang begitu bahagia, ingin rasanya Meira memeluk kak Al Al nya namun sayangnya terhalang oleh dinding-dinding tepi jendelanya.


"Pelankan suaramu, nanti ketahuan." perintah Alando, dia tau sudah melanggar aturan yang dibuat oleh orang tua mereka, tapi dia cuma ingin melihat Meira sebentar karena menunggu tiga hari lagi itu sangat membosankan.


"Oh iya... maaf kak Al Al, kak Al Al kenapa di sini? kata Ibukan tidak boleh ketemu dulu."


"Tidak apa-apa asal jangan ketahuan." sahutnya tak acuh, tidak peduli dengan aturan-aturan tersebut.


"Tapi kan Allah tau." takutnya.


"Hemm... Allah tidak akan cerita. Ini ambil, makanlah yang banyak." suruh Alando, dan memberikan bungkusan makanan untuk Meira, dari cerita Meira lewat telepon semingguan ini dia malas makan karena itu Alando sedikit khawatir meski setiap kali dia sudah mengingatkannya untuk tidak lupa makan. Tidak masalah meski saat ini dia harus gelap-gelapan dan dikerubutin nyamuk yang penting dia bisa menemui Meira walau dari luar jendela.


"Ini apa kak Al Al..?" Meira menerima bungkusan tersebut dan memandangnya.


"Martabak manis kesukaanmu, kau harus menghabiskannya sendiri."


"Boleh Meira bagi buat Ayah, Ibu dan juga Radodo?"


"Nanti aku bisa ketahuan sudah datang kesini Meira." seru Alando. Hal seperti ini saja Meira tidak bisa mengerti, kalau tidak diajak kerja sama bisa-bisa Meira ngomong kesemua orang.


'Untung sayang kalau enggak, mungkin mulut Meira sudah dia lakban saat ini. Tapi sayangnya dia terlalu mencintai Meira hingga tidak mampu melakukan hal jahat yang ada di otaknya itu.'


"Oh. Kak Al Al mau masuk nggak...?" tanya Meira, kasihan melihat kak Al Al nya digigitin nyamuk dan berada di tempat gelap. Jendela kamar Meira cukup tinggi cuma memperlihatkan dirinya sebatas dada dan atas kepala.


"Tidak usah, aku cuma sebentar." Alando menarik tangan Meira agar mereka bisa lebih dekat, dan perlahan memajukan wajahnya mendekati wajah Meira yang bersemi merah merona hingga kini bibir mereka saling bersentuhan. Alando merindukan rasa ini, rasa manis dari bibir Meira. Bahkan satu tangannya kini berpindah pada tengkuk Meira untuk memperdalam ciumannya, satu minggu mungkin waktu yang cukup lama untuk membuat mereka saling merindukan.


"Cupp... Cupp... Cup..." Alando memberikan kecupan-kecupan terakhirnya di pipi chubby Meira yang semakin menggemaskan dan menambah kesan imut itu pada gadisnya secara bertubi-tubi.


"Hahaa... kak Al Al..." Meira tertawa geli menerima perlakuan manis dari calon suaminya yang selalu terlihat serius itu bahkan tersenyum padanya pun bisa dihitung dengan jari, namun Meira akan tetap selalu memuja kak Al Al nya itu.


"Tutup jendelanya, habiskan makananmu, pergilah tidur dan kita ketemu tiga hari lagi di rumah ini." perintah Alando dan sedikit menjauh dari jendela agar Meira bisa menutupnya.


"Kak Al Al mau pergi ya?" Meira tampak sedih, mereka baru ketemu tidak sampai satu jam tapi sudah harus berpisah lagi.


"Iya, ini sudah malam." sahutnya.


"Kak Al Al nggak boleh nggak datang ya nanti, Meira tunggu." ingatkan Meira, dengan muka cerianya karena mereka akan segera bertemu secepatnya. Meira bahkan sudah bisa membayangkan bagaimana indahnya nanti hari pernikahan mereka berdua.


"Iya, sekarang tutup jendelanya." perintahnya lagi. Setelah Meira benar-benar menutup rapat jendela itu barulah perlahan Alando menyelinap dari samping rumah Meira dan menuju halaman rumah di mana tidak jauh dari sana dia menyembunyikan motornya agar tidak ketahuan diam-diam sudah menemui Meira.


"Hai kak Ale Ale... kita sudah lama ya tidak bertemu? kak Ale Ale tidak menyapa Ayah Ibu dulu?" cengir setan Rado kini menghiasi wajah usilnya. Rado baru datang dari mini market depan kompleknya dan secara tidak sengaja melihat motor yang sangat dikenalinya sebagai milik calon kakak iparnya dan secara sengaja pula menunggunya di atas motor tersebut.


Tadinya Rado menyangka kak Alando sengaja bertamu ke rumah, meski dia tau saat ini kak Alando tidak diizinkan bertemu dengan kakaknya dulu sebelum hari akad nikah mereka. Tapi setelah dia bertanya pada kedua orang tuanya apakah kak Alando bertamu? dan tentu saja jawabannya tidak, barulah Rado sadar ternyata mereka main kucing-kucingan.


"Haahh... Loe pasti sudah tau jawabannya kan?" ketusnya tanpa berbasa-basi, dan saat Alando sudah sangat dekat dengan keberadaan Rado tepatnya di samping motor maticnya "Plakk..." kepala Rado mendapat geplakan dari Alando, tentu saja bukan geplakan yang keras. Alando sama sekali tidak memiliki perasaan benci kepada Rado justru dia sudah menganggapnya seperti adik kandungnya sendiri, itu hanya semacam bentuk perhatian dari seorang kakak laki-laki yang tidak bisa bersikap manis, "Minggir...!" usir Alando pada calon adik iparnya tersebut.


"Ahh... Sakit tau. Ini kepala bukan kelapa, jahat banget sama adik ipar sendiri." omel Rado sambil mengusap kepalanya yang sakit, "Kak Ale Ale habis nyelinap ke kamar Meira kan?" tanya Rado sekaligus menuduh dengan mata menyelidik.


"Ralat! Bukan di kamar tapi di luar jendela kamar." jelasnya, sebelum Rado menyebarkan fitnah beracunnya pada kedua orang tuanya. Sebenarnya Alando tidak terlalu peduli toh apa pun yang dikatakan Rado nantinya, mereka berdua tetap akan menikah. Hanya saja dia tidak mau mendapat cap gagal amanah dari kedua orang tua Meira yang sangat dia hormati.


"Intinya kak Ale Ale tetap saja menyelinap menemui Meira secara diam-diam dan itu sangat salah!" ucap Rado, menggeleng-gelengkan kepalanya seolah-olah perbuatan Alando sangat berdosa.


'Iya... memang sangat berdosa seandainya Rado tau apa yang sudah Alando lakukan pada Meira yang kini kepolosannya sudah ternoda oleh ajaran sesat Alando.'


"Nggak perlu basa-basi, pasti ada yang loe mau kan?" ucapnya santai dengan menyilangkan kedua tangan di dadanya mempersilakan Rado mengungkapkan keinginannya saat ini.


"Hehee... Kak Ale Ale tau aja sih?" cengir Rado, tanpa ada sedikit pun rasa malu apalagi ada embel-embel kucing, "Gini nih kak, gue laper dan pengen banget makan di cafe seberang komplek itu loh kak Ale Ale... cafe Dua Dunia yang sekarang lagi viral. Mau ya kak Ale Ale? please." pinta Rado.


"Hemm... Ya sudah." Alando menggeser tubuh Rado yang menghalangi motornya.


"Ini serius?" kaget Rado, tidak menyangka keinginannya akan dipenuhi padahal dia cuma mau mencoba peruntungannya kali ini. Karena Rado tau, kak Alando itu tidak suka dipaksa apalagi diminta memenuhi keinginan seseorang tanpa kemauannya sendiri.


"Udah naik, mau gue tinggal." perintah Alando dengan gaya ketusnya. Tidak ada salahnya sekali-kali dia mengajak adiknya Meira hang out bareng.


"Ehh... Jangan dong kak!" Rado bergegas menaiki motor Alando di jok belakangnya. Berhubung motornya sudah masuk garasi jadi ya sudah dia mau-mau saja ikut boncengan dengan kak Alando dari pada ribet.


'Ternyata begini toh rasanya punya kakak laki laki? Ada teman untuk hang out bareng dan berantem, beda kalau sama Meira justru dia yang harus berusaha menjadi sosok dewasa dan pelindung bagi kakak perempuannya tersebut. Tapi meski begitu dia tidak akan pernah menukar Meira dengan apapun atau siapapun, karena Meira adalah saudara perempuan terbaik yang diberi Tuhan untuknya dan kedua orang tuanya. Dan Alando merupakan pelengkap dalam keluarga mereka.'


Vote, like dan koment ya..