
"Tolong... tolong... kak Bebi kecebur..." teriak Meira, dia ingin membantu tapi dia juga tidak bisa berenang. Dia juga takut kecebur.
"Apa yang kau lakukan hah?" teriak Radit dengan bentakannya dan segera meloncat ke kolam renang yang dalamnya sebatas kepalanya dan membantu Gaby sepupu kesayangan mereka untuk naik ke permukaan.
"Kau mau membunuhnya ya? Kenapa? Kau takut Alan lebih tertarik padanya, begitu...!" bentak Zody sepupu dari Alando yang juga merupakan anak dari tante Mia adik bungsu dari papa Alando.
Meira menggeleng kuat. "Meira tidak pernah mendorongnya," ucap Meira takut, dia tidak suka dibentak seperti itu.
"Dasar tukang bohong, bruuk..." dorongnya, hingga Meira tersungkur di lantai.
"Aww... sakit." Meira mengaduh kesakitan akibat kakinya membentur lantai keramik.
"Bruuk..." balas Rado, mendorong balik Zody yang sudah melukai kakaknya, dia tidak terima dengan perlakuannya, "Loe kalau berani lawan gue, jangan beraninya sama perempuan, dasar banc*!" teriak Rado. Untung tadi dia lewat sini, pikir Rado.
"Salahin tuh kakak loe! Tanyain apa yang sudah dia lakukan pada sepupu kami." sahut Zody tidak kalah sengit.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Om Rendrawan diikuti semua keluarga yang juga kaget mendengar keributan. Begitu pun Alando yang baru datang. Dari tadi dia mencari Meira ke setiap tempat dan ternyata dia berada di sini.
"Meira, kamu kenapa?" tanya Alando yang melihat Meira dipapah Rado dan mengambil alih Meira masuk ke dalam pelukannya. Seharusnya tadi dia membawa Meira bersamanya dan tidak meninggalkannya sendiri.
"Sebenarnya ada apa ini?" kali ini Papa Alando yang bertanya, dia melihat Gaby dan Radit di pinggir kolam dengan basah kuyup serta wajah yang sangat memerah.
"Om tanyain aja deh, sama tunangan Alan itu." Jawab Zody dengan muka kesalnya serta pandangan mencemooh.
"Eh... loe pikir kakak gue yang nyeburin tuh cewek gatal? Kakak gue nggak mungkin seperti itu ya!" sahut Rado.
"Apa loe bilang, cewek gatal, maksud lo apa?" seru Gaby merasa terhina dibilang cewek gatal.
"Cewek yang terus-terusan mendekati tunangan orang itu apa namanya?" sindirnya pada Gaby, "APA?" bentaknya tidak kalah sengit.
"Tapi kenyataannya begitu, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri!" jawab Zody tidak mau kalah.
"Berarti mata loe yang rabun," Rado jadi emosi melihat sepupu Alando yang mulutnya pengen dia cocol dengan sambal.
"CUKUP." Teriak Om Rendrawan yang sudah emosi melihat pertengkaran di depan matanya, tujuan mereka di sini adalah bersilaturahmi dan bersenang-senang tapi malah jadi seperti ini kejadiannya. "Om, mau kalian berdua menceritakan kejadiannya, di mulai dari kamu Gaby!" suruh Om Rendrawan.
"Tadi, Meira minta temani sama aku ke sini Om dan kita cuma ngobrol sebentar. Waktu aku bilang aku nggak bisa berenang tiba-tiba aku didorong ke kolam," dustanya, bahkan dia berakting jadi perempuan yang disakiti.
"Meira?" tanya Alando, dia tau Meira seperti apa. Dia hanya ingin Meira menjelaskan apa yang sudah terjadi, itu saja.
"Meira nggak tau, dia narik Meira ke sini. Meira diajak berenang, tapi kan Meira nggak bisa berenang terus tangan Meira ditarik. Lalu dia nyeburin dirinya sendiri dan minta tolong," cerita Meira sejujur-jujurnya. Apa yang dia alami semuanya dia ceritakan tanpa menambah atau mengurangi.
"Kamu kira aku bodoh, aku kan nggak bisa berenang juga," kilahnya, meminta perhatian.
"Kak Al Al, Meira enggak melakukan itu." Meira menatap Alando minta dukungannya.
"Iya, aku percaya," digenggamnya tangan Meira. "Maaf, Om tapi aku percaya sama Meira, dia bahkan nggak bisa membenci orang bagaimana mungkin Meira bisa mencelakai Gaby. Aku lebih kenal dengan Meira dari pada Gaby!" tegasnya, Meiranya menyakiti semut saja nggak bisa apalagi menyakiti orang, nggak mungkin banget, pasti Gaby hanya berusaha menjauhkannya dari dia, batinnya.
"Alan, tapi itu kenyataannya. Jangan tertipu sama muka lugunya," kesal Gaby, dia sudah hampir tenggelam masa Alan tetap tidak percaya sih padanya. Rencananya tidak boleh gagal, batin Gaby.
"Loe tuh muka penyihir, kena azab baru tau rasa loe!" sahut Rado, yang sudah hilang kesabarannya. Kakaknya adalah perempuan paling polos, di otaknya bahkan tidak mengenal kejahatan. Beda jauh sama si Gaby-Gaby itu, kesalnya.
"Sepertinya di sini ada CCTV." Alando melihat ke atas, di depan teras pintu masuk rumah di dekat kolam renangnya, "Pa, boleh aku lihat kan? Kalau memang Meira melakukannya, aku tidak akan pernah membawa Meira kesini lagi, tapi kalau Gaby yang melakukannya aku ingin mereka bertiga minta maaf pada tunanganku karena sudah menuduh seenaknya tanpa bukti."
"Iya, Papa akan membawamu ke sana." Ucap Papa Alando dan mengajak mereka semua ke ruang CCTV.
"Oke, gue setuju. Kita nggak mungkin salah lihat." sahut Radit, lagi pula Gaby tidak mungkin mencelakai dirinya sendiri, pikirnya.
"CCTV?" ucap Gaby pelan, gugup. Dia tidak tau kalau di tempat ini ada kameranya.
"Sebaiknya kamu ganti baju dulu deh di kamarku. Aku penasaran diantara kalian berdua siapa yang tukang bohong!" seru Dinda dan berlalu dengan santai di hadapan Gaby tanpa mau membantu membawa masuk ke kamarnya.
"Bagaimana ini?" Gaby takut untuk melihat keluarganya. Kalau ketahuan bisa-bisa semua keluarganya akan memusuhinya.
"Pa, Ma aku merasa nggak enak badan, bisa kah anterin aku ke rumah sakit aja," melasnya, Gaby berusaha mengalihkan perhatian mereka.
"Loe baik-baik aja. Kenapa? Takut kalau ketahuan?" Rado sudah hapal dengan perilaku orang ketakutan seperti itu.
"Apa loe bilang?" Rado makin emosi di buatnya.
"Kampungan!" sinis Zody.
"Stop! Kalau kalian mau bertengkar, silakan keluar sana." Mau tidak mau, Om Rendrawan turun tangan dengan perdebatan mereka.
Dua anak muda yang saling membela orang yang mereka kasihi. Namun tak pelak membuat mereka terdiam dan mengikuti perintah Om Rendrawan.
"Gaby, kamu bisa istirahat di kamar Dinda. Dokter yang akan datang kemari." Mutlak, tidak bisa diganggu gugat.
****
Sekarang mereka sudah berada di ruang CCTV dan Alando segera memeriksa rekamannya, di hari dan jam kejadian yang tidak sampai sepuluh menit lalu. Muncul lah pemandangan yang persis sama diceritakan Meira secara singkat. Bukan Gaby yang di tarik-tarik melainkan Meira yang terus di paksa menuju ke kolam renang, dan bukan Meira yang mendorong Gaby melainkan Gaby sendirilah yang menceburkan dirinya sendiri ke kolam itu dan memfitnah Meira sebagai pelakunya.
"Sekarang kalian sudah lihat kan siapa yang salah di sini, ayo Meira kita pulang." Ajak Alando pada kekasihnya yang terlihat masih takut itu, dan baru disadarinya ternyata kaki Meira terlihat memar. "Kaki kamu kenapa?" Alando memeriksa kaki Meira yang bengkak sepertinya terbentur sesuatu benda yang keras.
"Meira jatuh," ucapnya pelan.
"Meira, didorong tuh sama sepupu loe!" sinis Rado pada Zody, sepertinya mereka tidak akan bisa akur.
"Maaf gue nggak sengaja." Ucap Zody, merasa bersalah tanpa mengetahui kebenarannya terlebih dahulu.
"Meira aku juga minta maaf." ucap Radit merasa malu.
Alando mengangguk, dia tidak mau membesar-besarkan masalah itu lagi. "Maaf Pa, aku akan membawa Meira pulang, dan aku minta Om dan Tante bilang sama Gaby! Jangan pernah mengganggu aku dan Meira lagi. Karena kalau sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan membuat dia tenggelam." Ancamnya, dia tidak peduli mereka adalah keluarganya. Alando rasa, dia tidak perlu bersopan santun lagi di hadapan mereka. Dia bukan lagi Alando yang dulu yang akan selalu menurut pada keluarga besarnya.
"Kami akan melakukannya." Jawab Om Fandy, Alando sekarang memang sangat berbeda, dia bukan anak yang manis seperti dulu lagi, pikirnya.
"Kami pulang Pa, aku akan tetap mengunjungi Papa nanti," pamit Alando.
"Dadah Papa, Om, Tante. Meira pulang dulu," pamitnya, tersenyum manis seolah tidak ada kejadian tidak mengenakan yang baru saja dia alami.
"Maafkan sikap anak kami ya, Meira," ucap Om Fandy merasa salah mendidik anaknya.
"Iya..." sahut Meira dan mengikuti langkah Alando yang membawanya keluar dari rumah itu.
"Awas kalian berdua, gue akan buat perhitungan buat kalian. Jangan cengeng loe nanti," bisik Rado saat melewati sepupu calon kakak iparnya, Zody dan Radit.
"Apa?" bingung mereka berdua, seandainya mereka tau sebadung apa Rado itu mungkin mereka berdua tidak akan cari masalah dengannya ditambah kedua teman-temannya yang juga badung yang siap membantu Rado membuat masalah.
"Panggil Gaby kemari!" tegas Papa Alando, selama ini dia sudah terlalu memanjakannya sampai-sampai sekarang hubungannya dengan anak lelaki satu-satunya kembali dingin.
Alando dan Meira sudah pergi duluan naik motor, namun Rado masih terpaku saat melihat mobil yang berderet di depannya.
"Hei kalian berdua kesini." Perintah Rado pada dua anak yang sedang bermain di halaman rumahnya. Sepertinya mereka juga sepupu-sepupu dari Alando.
"Iya Kak, ada apa?" tanya mereka.
"Kamu tau mobil Zody dan Radit yang mana?"
"Taulah, Om Radit kan Om aku, kak."
"Terus mobilnya yang mana? Soalnya kakak juga mau beli mobil seperti mereka," dustanya, boro-boro beli mobil motornya aja masih nyicil.
"Kalau Om Radit, mobilnya yang silver itu kak. Terus kalau kak Zody mobilnya yang hitam di pojokan sana," tunjuk anak kecil itu.
"Oh... ya sudah kalian masuk deh, tadi orang tua kalian sudah siapin es cream," cengirnya penuh kebohongan.
"Benarkah? Wah... ayo kita masuk Vin." Mereka masuk penuh bahagia karena akan memakan es cream. Sayangnya cuma tipuan.
"Oke, sekarang kalian tidak bisa menggunakan mobil ini dulu ya, jerk."
Satu-persatu ban mobil mereka di kempesin oleh Rado, bodo amat dengan CCTV. Lagi pula papa kak Ale Ale sudah menyukainya, kalau cuma ini tidak akan menjadi masalah besar. Puas mengerjai mobil mereka Rado langsung tancap gas dan pergi dari sana.
Vote, like dan koment yaa..