Meira

Meira
BAB. 12



Di sebuah kamar yang cukup kecil bernuansa pink dan hiasan dinding bunga-bunga cantik dan kupu-kupu yang cuma berisi satu ranjang dan lemari pakaian serta rak buku kecil di samping ranjangnya, terlihat seorang gadis berkulit putih, berwajah manis sedang duduk bersandar di kepala ranjangnya namun dengan muka yang ditekuk dan bibir yang mencebik serta mulut yang nggak berhenti mengomel.


"Iih kok ditutup sih telponnya? Meira kan belum selesai ngomong." Meira tampak cemberut dan sedih nggak bisa lihat kak Al Alnya dalam dua hari ini, dan sekalinya bisa ngomong di telpon cuma sebentar, kurang lima menit sudah ditutup. "Meira kan kangen." Meira merebahkan dirinya kembali ke kasur dan memikirkan rencana besok hari untuk menelpon kak Al Alnya lagi, "Kak Al Al kok gitu sih sama Meira?" tanyanya pada handphone yang ada di genggamannya seolah Meira masih berbicara sama Alando.


Pagi ini Meira merasa lebih baik, demamnya mulai turun, cuma butuh istirahat dan besok bisa kembali kuliah. Tentu saja mengejar kak Al Alnya lagi. Setelah menghabiskan makannya dan meminum obatnya, Meira berencana mengirimi pesan WA kepada kak Al Al.


Send to Pangeran Pemarah


08.07 Gadis berisik : kak Al Al sudah bangun belum?


08.11 Gadis berisik: kak Al Al makan apa?


08.15 Gadis berisik : kak Al Al sedang apa?


08.20 Gadis berisik : Kak Al Al Meira kangen


08.21 Gadis berisik : Kak Al Al Kangen Meira juga gak?


08.25 Gadis berisik : Kak Al Al bales dong pesan Meira


08.28 Gadis berisik : Kak Al Al ?


08.30 Gadis berisik : Kak Al Al ?


08.40 Gadis berisik : Meira sakit lagi!!


Karena bosan menunggu balesan akhirnya Meira mencoba menghubungi langsung kak Al Alnya. Siapa tahu dia sakit juga, atau kak Al Alnya nggak tau ada pesan dari Meira, pikirnya.


"Klik... tut... tut... tut..." tidak diangkat. Cobanya sekali lagi "klik... tut... tut..." tidak ada yang angkat. Meira terus mencoba beberapa kali namun tidak diangkat juga.


"Iih kok nggak diangkat sih?" gerutu Meira yang terus melihat ponselnya, yang lama-kelamaan akhirnya ketiduran juga, mungkin pengaruh obat yang baru diminumnya.


Sedangkan cowok yang dari tadi terus di kirimi pesan oleh Meira nampak masih tertidur lelap di pulau kasurnya yang empuk tanpa mengindahkan bunyi-bunyi notif yang terus bermunculan di ponselnya. Wajar setelah kedatangan orang yang sangat tidak ingin dia lihat itu, membuat Alando kesulitan tidur bahkan untuk memejamkan matanya saja dia kesusahan. Dia baru bisa memejamkan matanya dan terlelap saat jam menunjukkan pukul satu dini hari, itu pun setelah hampir dua jam bermain games di handphonenya. Untungnya hari ini adalah hari libur jadi dia bisa bermalas-malasan sepuasnya di kamar yang didominasi oleh warna hitam dan putih seperti kehidupannya.


"Aaghhhh..." Alando berusaha membuka matanya perlahan, mengumpulkan kesadarannya dan dilihatnya sedikit cahaya terang masuk lewat celah tirai jendelanya, yang menandakan hari sudah semakin siang. Tangannya meraih handphone yang ada di atas nakas sebelah kirinya dan mengaktifkan ponsel tersebut. Jam 10 siang, pantes udara di kamarnya sudah mulai terasa menghangat. Yang semakin membuatnya tercengang ternyata ada 9 pesan WA dan 7 panggilan tidak terjawab dari gadis berisiknya. Yah.. Mungkin dia sudah terbiasa dengan kehadiran gadis ini. Melihat pesan yang di kirim Meira membuat Alando hanya bisa geleng-geleng kepala. Dari pada cape-cape membalas satu persatu pesannya mungkin lebih baik Alando menghubungi Meira langsung.


"Derrrtt... derrrtttt... Klik..." tidak menunggu lama panggilannya diangkat.


"Ihh... Kak Al Al kok baru telpon Meira sih? Meira kan kirim pesan buat Kak Al Al tapi nggak dibalas." sahut Meira di seberang sana dengan cerewetnya, mungkin juga sekarang dia lagi senyum-senyum.


"Sekarang aku sudah telpon balik, ada apa?" balas Alando dengan galak.


"Apa kamu nggak malu mengatakan hal ini kepada cowok?" Alando jadi gemes sendiri dengan keluguan gadis ini. Seharusnya Meira tidak terlalu mengumbar perasaannya terhadap laki-laki. Tidak seharusnya Meira mengejar laki-laki dan dengan mudahnya mengungkapkan rasa suka kepadanya.


Bagaimana kalau seandainya laki-laki itu bukan dia? Bagaimana kalau laki-laki itu cuma memanfaatkan kepolosan Meira. Dilihat seperti apa pun Meira bukanlah gadis yang jelek, Meira memiliki wajah yang manis cenderung imut, ukuran badannya tidak terlalu tinggi tapi juga tidak terlalu rendah sangat ideal buat kebanyakan perempuan, memiliki kulit yang putih dan berhidung mancung. Kekurangan Meira hanya ada di otaknya dia bukan gadis yang pintar, kelewat lugu cenderung stupid, sifatnya bahkan lebih mirip seperti anak kecil berumur 5 tahun, hanya beberapa orang yang tahan menghadapi Meira.


"Enggak, Meira kan mengatakannya sama kak Al Al?" bisa dibayangkan muka Meira sekarang seperti apa? Seandainya mereka saling berhadapan. Wajah lugu itu akan menatapnya seolah dia bertanya kebingungan.


"Haahh... deg..." Alando menarik napasnya dalam untuk mengatasi jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang, namun dia tidak mengerti kenapa? "Jangan pernah mengatakan hal seperti itu pada laki-laki lain!" Perintah Alando, seolah dia tidak rela Meira akan mengatakannya juga untuk lelaki di luar sana.


"Kenapa Meira harus mengatakannya pada laki-laki lain? Meira kan Sukanya cuma sama kak Al Al doang. Nggak mau yang lain." sahut Meira manja.


"Ya sudah! Kamu masih sakit?" tanya Alando lembut. Entahlah kenapa? Kali ini Alando hanya ingin mengikuti kata hatinya. Meira mungkin mulai memasuki hati dan otaknya.


"Sudah sembuh, Meira kan sudah mendengar suara kak Al Alnya Meira." jawabnya polos. "Besok Meira bisa kuliah lagi, ketemu kak Al Al lagi!" suara Meira terdengar riang.


"Ehhemm..." Alando mencoba membersihkan tenggorokannya yang tercekat. Walau bagaimanapun ini pertama kalinya Alando memiliki perasaan terhadap perempuan, meski belum 100 persen. Dan perempuan ini jelas-jelas suka padanya. Ada rasa gugup, salah tingkah, dan entahlah apa lagi, semuanya campur aduk. Tapi Alando tetaplah Alando, dia tidak akan bersikap seperti Kenny yang pandai menggombal atau pun Zaden yang romantis. Alando tetap akan menjadi Alando yang dingin, pemarah, ketus, irit bicara dan tertutup, yang belum bisa menunjukkan perasaannya kepada Meira.


"Baguslah! Besok ketemu di kampus." klik. Lagi-lagi sambungan ditutup sepihak sama Alando.


"Huuh... Ada apa dengan jantungku? Tanya Alando pada dirinya sendiri yang kini tangannya sudah berada di atas dadanya.


"Kenapa juga wajah Meira terus terbayang di otakku?" gadis itu kenapa mengganggu terus sih? Tidak di kampus, tidak di rumah?.


Alando bangkit dari ranjangnya, sedari tadi dia hanya berada di atas kasur malas-malasan dan memikirkan tentang perasaannya pada Meira yang masih abu-abu di matanya itu namun tidak dia pungkiri nama Meira dan wajahnya sudah melekat di pikirannya mungkin juga hatinya. Namun ketika cacing-cacing di perutnya terus berbunyi mungkin sekarang lagi demo karena mereka tidak diberi makan oleh tuannya. Mau tidak mau Alando bergegas mandi dan mencari makan di luar. Dia lagi malas untuk memasak, bisa-bisa masakannya gosong gara-gara Meira terus mengganggu pikirannya. Atau dia kerumah Zaden saja, biasanya juga Zaden menyuruhnya ke rumah untuk menemaninya makan. Alando menekan nomor telpon Zaden.


"Derrrttt... drrttt..."


"......"


"Loe ada di rumah? tanya Alando.


"....."


"Oke gue kesana! klik." telponnya terputus.


Alando bergegas menuju ke rumah Zaden, rumah Zaden memang sudah seperti rumah kedua bagi Alando. Dia bahkan sudah dekat dengan kedua orang tua Zaden serta para pekerja di rumahnya, jadi tidak masalah dia pergi ke rumahnya. Meskipun kedua orang tuanya Zaden sangat jarang berada di rumah, mungkin pertemuan mereka bisa dihitung dengan jari. Sebenarnya orang tua Zaden cukup baik, setidaknya mereka tidak pernah membatasi Zaden berteman dengan siapa pun. Mereka juga tidak membeda-bedakan kasta seseorang namun sikap mereka yang lebih mementingkan perusahaan dan pekerjaan itulah yang membuat Zaden menjauh dari kedua orang tuanya.


Vote, like dan koment yaa...