Meira

Meira
Zaden dan Kara. 13



ZACKS dan Meira sudah menjadi pemandangan biasa bagi anak kampus yang mengenal mereka, meski banyak yang iri pada keberuntungan Meira tapi tidak ada satu pun yang berani mengusik apa lagi mencemooh keberadaan wanita muda yang kini sudah berstatus istri Alando.


Mungkin awal-awal mereka pacaran banyak yang menganggap Meira hanyalah gadis bodoh yang terus mengejar salah satu anggota ZACKS tersebut, dan begitu pun Alando yang cuma ingin bermain-main dengan gadis aneh itu. Tapi semua terbantahkan saat hubungan mereka menjadi lebih serius yaitu pernikahan.


Dan mereka para haters tidak terlalu bodoh untuk mengikuti jejak Olivia dan Rena yang memilih keluar kampus secara suka rela.


Begitu pun Kenny yang sering bergonta-ganti pasangan, namun ada yang berbeda dengan anggota yang mendapat julukan bule playboy tersebut. Kini hubungannya dengan gadis bernama Adelia terbilang cukup awet dibandingkan dengan pasangan-pasangan terdahulunya dan sepertinya Adelia mampu mengendalikan pacarnya tersebut.


Dan sekarang ada satu lagi cewek yang masuk dalam kelompok ZACKS, cewek yang sama sekali tidak masuk hitungan mereka, cewek miskin yang jauh dari kata populer dan sama sekali tidak sebanding dengan Zaden yang memiliki segalanya.


Mungkin Meira masih bisa dimaklumi karena Alando juga bukan dari kalangan atas, setidaknya mereka masih dalam satu status sosial yang sama, itu menurut pendapat mereka.


Kara nampak tidak nyaman dengan orang-orang di sekitarnya, tadi saat kelas bubar tiba-tiba Zaden membawanya untuk makan bersama, di kantin yang biasanya dikunjungi oleh ZACKS. Tapi sekali lagi Kara tidak memiliki cara untuk menolaknya, Zaden dengan santai merangkul bahunya dan membawanya serta duduk di sampingnya, di samping lelaki yang tidak ada rasa peduli pada sekitarnya itu.


Beruntung ada Meira yang selalu bersikap antusias mengajaknya bicara, entahlah ada saja yang selalu dia ucapkan dan utarakan dan dari sini Kara tau betapa sayangnya sang suami pada istrinya tersebut dan begitu pun Zaden yang terlihat dewasa dan lembut pada Meira yang selama ini bertolak belakang padanya, dan mungkin Kara sedikit iri.


'Oh Tuhan... apakah sekarang aku juga menjadi pengikut kaum yang iri pada keberuntungan Meira.'


Tidak boleh Kara! kamu jangan jatuh pada pesona Zaden, batin Kara.


"Kak Santan harus makan punya Meira, ini enak." Meira mendorong bekal makanan miliknya ke hadapan Kara.


"Aku kan juga sudah pesan makanan, Meira." sahut Kara lembut, tapi Kara tau apa maksudnya. Meira tidak menyukai makanan yang ada di kotak itu, dia cuma memakan kripik kentangnya sejak tadi tanpa mau melirik makanan sehat yang sudah disiapkan suaminya itu.


"Meira...!" tegur Alando, hanya dengan tatapan lembut mata suaminya itu saja bisa membuat Meira tersenyum ceria.


"Hihii... Meira kenyang kak Al Al." sahut Meira dengan gaya cengengesannya. "Kak Zad Zad mau nggak?" tawaran Meira kini beralih pada Zaden, lelaki yang sejak tadi tidak bosan-bosannya memandang gadis di sampingnya secara diam-diam.


Namun setelah melihat makanan yang ada di kotak bekal Meira yang penuh sayur-sayuran brokoli, bayam, ikan sarden, telur dan itu membuat Zaden mengerti betapa Meira berharap ada yang memakannya selain dia.


Zaden tersenyum lembut. "Enggak Meira, kakak juga sudah pesan." jawab Zaden sabar seperti seorang kakak pada adik kecilnya.


Meira cemberut, dan memandang ke seberang mejanya. "Kak Stip tip...?" tanya Meira penuh harap.


"Enggak." balas Steven cepat tanpa memandang Meira dan meneruskan makannya.


Kini pandangan Meira beralih lagi. "Kak Kris Kris...?" tanya Meira dengan senyum manisnya. Christ menoleh kearah Meira dan mengusap wajah ceria Meira itu dengan asal-asalan, sedikit gemas karena sudah mengganggu makannya.


"Tangan kak Kris Kris kotor, Meira nggak suka." ucap Meira dan membersihkan mukanya dengan tisu, serta Christ yang mendapat tatapan tajam dari Alando.


Christ mengedikkan bahunya cuek, "Kau tidak lihat mulutku penuh." jawab Christ ketus, dan memasukan bakso lagi ke mulutnya seolah mengejek Meira yang kini senyumnya hilang digantikan muka kesalnya pada Christ.


Tapi tetap dia berharap tidak memakan makanan itu, makanan sehat yang disiapkan ibunya dari rumah, dan Meira sangat bosan memakannya setiap hari."Kak Ken ken...?"


"APA..." ketusnya, bukan Kenny yang menjawab tapi Adelia disertai dengan pelototannya.


"Nggak jadi." geleng Meira takut dimarahi Adelia. Kenny hanya bisa tertawa maklum melihatnya, mereka berdua memang seperti itu setiap bersama.


Alando dengan sabar mengambil kotak bekal untuk menyuapi Meira. "Makanlah sedikit saja." minta Alando, karena ini memang makanan yang dianjurkan dokter padanya.


Meira masih sering mengalami sakit kepala yang tiba- tiba, tapi kata dokter itu tidak berbahaya Meira hanya mengalami trauma ringan pada kepalanya.


Kara sedikit terpana melihatnya, dia berharap bisa mendapat perhatian seperti itu dari seseorang yang akan menjadi jodohnya kelak.


"Kenapa, kau iri?" tanya Zaden berbisik di sampingnya.


"Hah? Ah, enggak kok, siapa yang iri." jawabnya pelan dan gugup. Ternyata Zaden memperhatikan gerak dan ekspresinya dari tadi, Kara merasa malu. Dan kini tangan lelaki itu meraih piring Kara dan menyendok nasinya dan itu tidak luput dari pandangan teman-temannya bahkan Kara yang merasa bingung sendiri.


"Ayo!" Zaden sudah hendak menyuapi Kara, tinggal Kara yang membuka mulutnya.


"A apa maksudmu?" tanya Kara heran dengan sikap Zaden yang sok ikut-ikutan romantis layaknya drama kesukaan Meira, sekaligus malu dengan tatapan menggoda teman-temannya Zaden.


"Oh kak Santan ingin disuapin kayak Meira juga ya?" tuduh Meira yang senang melihat keberadaan Kara di meja mereka. Dari awal melihat Kara, Meira sudah terpesona karena menurut Meira Kara itu seperti princess-princess di dunia disney yang sangat cantik.


"Enggak, siapa yang mau disuapin." elak Kara melotot pada Zaden, sepertinya lelaki di sampingnya ini sengaja ingin membuatnya baper dan terjatuh sangat dalam.


Meski kantin tidak penuh seperti biasa dan Kara tau apa penyebabnya itu, ZACKS tentu saja. Tapi tetap saja memalukan kalau mereka bermain suap-suapan seperti pasangan suami istri di sampingnya itu.


"Tidak usah malu Santan." goda Zaden dan kembali berusaha menyuapi Kara lagi.


"Iya, setiap hari kak Al Al suapin Meira tapi Meira nggak pernah malu kok." tutur Meira bercerita tentang kak Al Al nya lagi, bahkan teman-temannya sudah hapal apa yang ingin diceritakan Meira.


"Itu pasti kejadian yang sangat langka." timpal Kenny tertawa.


Alando sudah biasa mendengar mereka menggoda Meira mau pun dirinya, jadi bukan hal mencengangkan lagi, dan itu cuma sekedar candaan yang tidak akan membuatnya tersinggung apalagi Alando juga tau bagaimana mereka semua yang sudah menganggap Meira seperti keluarga dan adik sendiri.


Zaden masih berusaha menyuapi Kara yang terlihat malu untuk menyambutnya apalagi dengan pandangan sekitarnya, tapi yang namanya Zaden dia tidak akan berhenti sebelum mendapat apa yang dia mau, dan sahabat-sahabatnya pun sudah mengerti akan sifat bossy nya itu.


"Ayo!" perintah Zaden, mau tidak mau Kara menyambutnya dengan perasan malu campur kesal, karena kalau tidak dituruti Zaden akan terus-terusan memaksanya.


'Puas kau Zaden.' Kara menyuap makanannya dengan pipi memerah dan salah tingkah. Sedangkan laki-laki di sampingnya itu cuma tersenyum puas dan bahagia karena sangat penurut.


"Hai Zaden..." sapa Gina yang tiba-tiba menghampiri meja mereka dan pemandangan mesra Zaden dan Kara itu tidak luput darinya. Gina yakin, Kara di sana karena dia berteman dengan Meira, cara licik untuk mencari perhatian seorang Zaden.


Semua orang tau kalau Meira kini sudah menjadi bagian dari ZACKS sejak pernikahannya dengan Alando dan itu mungkin dimanfaatkan oleh Kara, batin Gina.


"Hai Kara, kau juga di sini rupanya?" senyumnya ramah, Gina memang selalu bersikap ramah pada banyak orang, hanya saja senyumnya kali ini terlihat tidak tulus.


Cinta memang bisa mengubah sifat orang, dari baik menjadi buruk begitu pun sebaliknya. Dan kali ini Gina hanya ingin bersikap egois, dia menyukai Zaden dari dulu dan sedihnya kenapa bisa-bisanya Kara yang mendapatkan perhatian lelaki itu dengan mudahnya.


"Iya." jawab Kara singkat dan membalas senyum basa-basinya, tidak mau meladeni Gina yang terlihat tidak menyukai Kara.


'Iya aku tau, kamu kan menyukai Zaden. Ya sudah, semangat ya Gina.' batin Kara.


"Ada apa?" tanya Zaden ramah seperti biasanya, walau bagaimana pun gadis itu adalah temannya waktu masih menjabat di organisasi kampus. Gina juga banyak membantunya membuat laporan setiap ada kegiatan kampus.


"Bisa kita bicara sebentar, ada yang ingin kutanyakan sih tentang kegiatan di kampus." sahut Gina masih menunggu jawaban Zaden.


"Oh ya sudah kita bicara di sana saja." Zaden beranjak dari duduknya, tapi sebelum itu Zaden memerintahkan Kara untuk menghabiskan makanannya.


Padahal ini yang diinginkan Kara, Zaden bersama perempuan yang lebih pantas untuknya dan melepaskan Kara secepatnya tapi entah kenapa perasaannya justru tidak nyaman, ada rasa kesal dan sesak saat Zaden berjalan dan kini berduaan dengan Gina di satu meja seolah pembicaraan mereka sangat rahasia dan hanya mereka berdua yang boleh tau.


Dan terlihat mereka membicarakan hal yang sangat serius dan Kara berharap dia memiliki telinga super panjang saat ini, agar bisa menjadi penguping profesional.


"Apa Zaden selingkuh?" seru Adelia, tanpa peduli ada Kara yang sedang duduk bersama mereka, meski Kara sedikit bingung dengan perasaannya saat ini, mau tidak mau dia merasa peduli dengan omongan itu karena status mereka adalah pasangan kekasih.


"Tidak mungkin lah, Zaden itu setia. Nggak kayak cowok di samping loe tuh." tunjuk Christ pada Kenny yang juga penasaran dengan dua orang tersebut.


Kenny melempar tisu bekasnya. "Sembarangan, gue sudah tobat." sahutnya tidak terima dengan tuduhan Christ.


"Iya, hari ini tobat, besok? Kita kan nggak tau." timpal Steven dan kini mereka malah bertos ria membully sahabatnya Kenny.


"Terserah kalian." pasrahnya, sudah biasa menjadi sasaran cacian dari para cewek apalagi kalau cuma ejekan teman-temannya, sudah kebal pikir Kenny.


"Awas kalau kamu berani melakukannya!" ancam Adelia dengan matanya yang melotot memberi peringatan.


"Kak Al Al tidak akan bersama cewek lain kan? Nanti Meira sedih." ujar Meira.


"Nggak akan Meira, kenapa kamu bertanya seperti itu sih?" Alando membelai rambut istrinya, dia tidak akan membayangkan keadaan Meira kalau sampai itu terjadi, karena itu Alando berusaha menjauhi yang namanya kata ramah pada perempuan selain istrinya, bagi Alando itulah awal dari segala godaan.


"Haahh... adegan romantis lagi." kesal Christ, sedikit iri dengan kebahagiaan sahabatnya itu. Sany belum memberikan respon berarti untuknya sampai saat ini.


"Zaden memang ramah pada banyak perempuan, tapi dia bukan playboy yang suka merayu banyak cewek." tutur Alando, seolah ingin mengatakannya untuk Kara tapi matanya malah menatap ke arah Kenny.


"Kenapa mata loe ke arah gue." tutur Kenny sedikit tidak terima, dia kan sudah berusaha tobat jadi playboy, takut kalau-kalau omongan Meira waktu itu jadi kenyataan.


Zaden menghampiri Meja teman-temannya dan juga Kara. "Gue duluan." pamit Zaden tanpa melihat apalagi bicara pada Kara.


Zaden seolah mengabaikan Kara, padahal dari tadi dialah yang memaksa Kara untuk ikut dengannya.


"Aku salah apa?" tanya Kara bingung, pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulutnya, entah dia tujukan untuk siapa! Karena kini lelaki itu sudah melangkah jauh dari tempat mereka. Dan dia, si laki-laki itu terlihat sangat kesal padanya, Kara.


"Meira nggak tau." geleng Meira, dan cuma perempuan manis itu yang mau menjawab pertanyaan Kara, sedangkan yang lainnya juga cuma bisa bengong melihat sahabatnya itu, melihat kekesalan yang tiba-tiba tanpa ada angin dan hujan.


Vote, like dan koment. Terima kasih.



Zaden Pramudya